Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 52. 'Andai'


__ADS_3

Utamakan dia yang lebih bersungguh-sungguh mencintaimu yang ingin selalu membuatmu tersenyum bahagia. Yang hanya fokus pada dirimu bukan orang lain. Carilah lelaki yang cukup mencintai dengan satu wanita daripada orang yang katanya mencintaimu tapi lebih suka bermain dengan lebih dari satu wanita.


Pagi ini aku terbangun dengan kepala yang sangat berat, seakan ada jeratan tali yang mengekang di kepalaku.


Pukul 05.07 tidak ada yang membangunkan aku untuk menjalankan sholat subuh. Aku melirik ke sebelah ranjang. Kosong.


Kini aku merasa hampa. Aku ingat betapa kacaunya aku tadi malam. Semalaman sudah aku menangis, sekarang mataku masih bengkak.


Belum pernah aku menangis sampai seperti itu sebelumnya. Belum pernah aku menangis lalu terbangun dengan wajah dan kepala sesakit ini.


Aku menggulirkan layar ponsel menekan pin kunci, melihat pesan-pesan WhatsApp. Tidak ada pesan yang masuk. Yang ada hanya grup kelas yang sibuk mengulas tentang tugas sekolah dan isu ujian nasional.


Ponsel cepat-cepat aku letakkan kembali dan berjalan untuk mengambil air wudhu, menunaikan sholat subuh. Sendirian. Azzam tidak ada malam ini. Sungguh masih tersirat jelas dimataku, bagaimana kecewanya Azzam.


Aku mengakhiri sholatku dengan deraian air mata, usai bersimpuh memohon ampunan atas kelalaian dan dosa yang telah aku perbuat. Sesungguh, aku telah gagal memenuhi kewajiban sebagai seorang istri. Sebagai seorang istri yang seharusnya memberi apa yang menjadi hak seorang suami.


Setelah sholat, aku terdiam beberapa detik membayangkan saat aku mencium tangan Azzam, kemudian ia balik mengecup keningku.


Mataku berkaca-kaca. Ada rasa pedih dan perih yang perlahan-lahan menghinggapi diriku. Penyesalan itu kembali menyeruak dalam hati. Banyak pengandaian yang ingin aku lakukan. Banyak pengandaian yang ingin diulang hingga semua tak terjadi demikian.


Aku menghela berat. Pikiran masih terus berkecamuk.


Kenapa hatiku sampai sekaku ini untuk menyadari sebuah perasaan. Perasaan yang bernama 'cinta' dari sang Maha Mencintai.


***


Azzam memandangi foto dirinya yang sedang bersanding dengan istrinya. Binar mata Azzam menyiratkan masih ada kekecewaan, kesakitan dan luka. Semalam, ia memutuskan untuk tidur sementara di rumah. Azzam masih butuh waktu untuk menenangkan diri.


Terlebih semalam sakit uminya kambuh. Umi sudah lama mengidap penyakit asam lambung yang sudah sangat kronis, tapi semalam gejalanya lain lagi. Umi bilang kau dadanya sesak. Ia sulit bernapas.


Sekarang pun Azzam masih berusaha menata pikirannya. Baginya saat ini mungkin cinta adalah sebuah kebinasaan. Qorun mati karena kecintaannya kepada harta benda, begitupun Fir'aun yang ditenggelamkan oleh cintanya terhadap kedudukan. Hingga timbul kecemasan tentang cinta yang terlalu berlebihan pada dirinya.


Sang pencipta telah menyempurnakan separuh agamanya bersama seorang perempuan yang usianya jauh di bawah Azzam, dan lebihnya lagi perempuan itu masih masuk dalam keluarga dekat. Sebenarnya dunia tidak sesempit itu. Hanya bertemu dengan orang yang itu-itu saja.


Tapi perasaan membawa Azzam pada keadaan lain, terbiasa berdua dalam menjalani hari. Membuat perasaan yang lain tumbuh. Azzam telah menyukai saudaranya sendiri yang masih memiliki hubungan darah. Azzam mengingat kembali awal mulanya ia menyimpan perasaan itu dengan Dhanisa.


Katanya level tertinggi jatuh cinta adalah itu adalah mengikhlaskan. Tapi akan lebih tinggi lagi ujiannya apabila Allah telah menyatukan tapi saling ingin memisahkan. Seperti Azzam dengan Dhanisa, mungkin Allah memang mengabulkan permintaan Azzam untuk bersanding dengan wanita pilihannya.


Jujur awal mula dirinya terlalu takut, membuat istrinya kecewa karena hadir bukan sebagai pria yang diharapkan menjadi pendamping hidup bagi Dhanisa. Ia pernah mengatakan itu.


Azzam tidak bisa menyalahkan istrinya sepenuhnya, atas keinginan untuk menjalin hubungan dengan teman sekelasnya, meski telah berstatus istri orang lain. Dirinya mengerti sekarang bahwa kehadiran dirinya tidak diharapkan oleh Dhanisa. Ia bukan pria yang diidam-idamkan istrinya. Dirinya pula menyadari belum bisa menjadi imam yang baik. Azzam meyakini sejatinya memang tidak ada laki-laki yang sempurna sebagai seorang suami setelah wafatnya Rasulullah. Jika seorang wanita mencari yang sempurna maka sampai kiamat pun tidak akan pernah berhenti membandingkannya.


Bukankah tugas suami itu mirip nakhoda pada sebuah kapal? Lalu kemana kapal itu akan berlayar ketika akan menghadapi badai kecil saja sudah tak kuasa.


Dari ambang pintu kamar, Umi sedikit mengintip apa yang dilakukan anak bungsunya di kamar. Ia masih memandangi foto yang berbalut bingkai berwarna gold.


Umi Salamah merasa bersalah atas semua ini, termasuk tentang pernikahannya karena ia meminta untuk memutuskan supaya Azzam bisa menikahi Dhanisa. Tapi saat umi mengetahui bahwa putranya saat ini sedang tersakiti. Ia jadi turut menanggung beban rasa bersalah. Seandainya permintaan Ahsan itu tidak terlalu ditanggapinya mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi.


Umi memegang dadanya yang terasa sesak, ia kembali sulit menghidup udara. Tangannya meraih dinding, berusaha untuk menyeimbangkan tubuh sambil memegang dada.


Kak Soraya yang baru ke luar kamar menangkap gelagat aneh uminya, langsung berlari dan mendekat. Berusaha menahan tubuh umi supaya tidak jatuh terhuyung ke belakang.


"Umi, umi kenapa?" tanya Soraya mengkhawatirkan uminya.


Umi Salamah merasa persendiannya lemah dan tidak mampu lagi menumpu badannya, hingga ia merosotkan tubuhnya ke bawah.


"Umi, umi..." Soraya berusaha menahan tubuh ibu. Hingga memaksanya untuk mendudukkan ibu di lantai. "Abah! Abah!" teriak Soraya dari luar.


Dari dalam kamar, telinga Azzam menangkap keributan dari arah luar. Ia beringsut dari tepian ranjang dan mendapati pintu kamarnya sedikit terbuka. Sementara di depan ambang pintu sudah ada tubuh umi yang terduduk lemas dipangkuan Kak Soraya.


"Umi kenapa, Kak?" tanya Azzam menjongkok memegangi tangan uminya.


"Nggak tau, Zam. Tadi itu umi tiba-tiba ambruk beruntung aku cepat manahan tubuhnya supaya tidak jatuh," singkat Kak Soraya.


"Kenapa, Soraya?" tanya Abah yang datang dari arah teras rumah. Setelahnya ekor mata abah dijatuhkan pada wanita yang dilihatnya lemah.


"Sebaiknya kita bawa umi ke rumah sakit saja, Abah," ujar Azzam, mengusap dahi ibunya.


Umi masih sadarkan diri, hanya dia merasa tubuhnya begitu lemah. Tapi bibirnya sangat pucat.


Abah menggendong tubuh istrinya. "Azzam siapkan mobil!" perintah Abah.


Azzam berjalan cepat mengambil kunci mobilnya dan menuju garasi mengeluarkan mobil sedan berwarna putih.


Kak Soraya membantu membukakan pintu mobil belakang untuk abah yang menggendong uminya.


Adik kakak itu tampak cemas dengan keadaan ibunya. Setelah pintu mobil tertutup rapat. Azzam menyalakan mesin dan menginjak pedal gas menuju rumah sakit.


Sesekali Azzam melihat kondisi ibunya lewat pantulan cermin mobil. Mata umi terpejam, dipangkuan abah.


Semoga umi tetap dalam kondisi baik, batinnya.


Perjalanan menuju rumah sakit, memerlukan waktu sekitar 18 menit.


***

__ADS_1


Di rumah sakit, dokter mulai memeriksa keadaan umi. Abah berada di dalam menemani umi. Azzam berdiri di luar kemudian mengarah duduk ke kursi tunggu. Ia menyandarkan punggung. Meremas kedua jarinya dengan kepala tertunduk. Bertumpuk-tumpuk perasaan khawatir yang menghinggapinya.


"Lho, Mas Azzam di sini?" suara wanita menyapa berhasil ditangkap telinganya.


Azzam mendongakkan kepala menatap wanita berhijab dan mengenakan jas putih di depannya. Ia tentu sangat mengenal wanita itu.


"Sarah," ucap Azzam.


Sarah duduk di sebelah Azzam. "Ada apa? Kamu ke sini dengan siapa?" Sarah melihat ke kiri dan ke kanan, lalu menatap kembali wajah Azzam yang tampak bingung.


"Aku ke sini bersama—"


"Bersama istrimu kan?" potong Sarah. "Kalian mau periksa?" tebak Sarah bahagia.


Azzam mengerut dahi. "Periksa?"


"Iya. Sudah positif atau belum." Sarah tertawa pelan sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.


Azzam ikut tertawa. Kalaupun begitu tentu itu hal yang sangat membahagiakan bagi Azzam. Membayangkan ketika istrinya sedang mengandung buah cinta mereka, tapi itu mungkin hanya angan-angan yang begitu tinggi.


Sarah memandangi Azzam yang memandang ke depan. Sarah menjadi risih takut apa yang diucapkannya tadi salah. Kenapa Azzam malah diam termenung.


"Maaf, Mas. Kamu kenapa?" tanya Sarah.


Azzam menarik napas. "Tidak. Aku ke sini dengan umi dan abah. Aku sedang menunggu bagaimana kondisi umi di dalam."


Sarah memandang ke arah ruang rawat Melati yang pintunya tertutup.


"Kamu, kenapa bisa di sini juga?" Azzam memandangi Sarah.


"Oh itu, aku balik bekerja sebagai dokter di sini sesuai profesi awalku."


"Jurusan kedokteran ya pantasnya kamu memang bekerja di rumah sakit, mengabdikan diri untuk masyarakat yang butuh penangananmu. Mengobati orang sakit tentu hal yang mulia. Lalu bagaimana dengan usaha butikmu?" tanya Azzam sambil sedikit membenarkan posisi kacamatanya.


"Usaha butik masih tetap berjalan, tapi bukan sepenuhnya aku lagi yang mengurus tapi Tante Arini. Menjadi dokter tentu sibuknya bukan main melayani pasien. Jadi, aku tidak akan mampu untuk turut andil dalam memantau butikku, jadi semuanya aku serahkan ke Tante Arini."


"Kamu gimana? Sehat?"


"Alhamdulillah" senyum Azzam.


Pria di depannya ini semangkin tampan. Iya, Sarah menyadari itu. Matanya masih mengamati wajah Azzam. Tanpa sadar Sarah tersenyum, semangkin lama dia memandang semangkin membawa ketenangan di hati Sarah.


Azzam sedikit menyerongkan posisi duduknya melihat Sarah. "Aku ingin tahu apa yang membuatmu ingin kembali menjadi dokter. Bukannya kamu bilang pernah menyimpan kenangan pahit tentang dokter."


Setelah lulus dari kuliah kedokterannya Sarah memang telah bekerja di rumah sakit selama beberapa bulan lamanya. Hingga ia bertemu dengan sosok laki-laki yang juga satu profesi dengannya. Ketika itu, Sarah masih magang sementara pria itu sudah menjadi dokter tetap di rumah sakit. Dia bernama Dr. Gabriel. Ia banyak belajar dan dibimbing oleh Dr. Gabriel selama praktiknya.


Awalnya Sarah menolak saat Dokter Gabriel mengajaknya pacaran, karena Sarah memang berkomitmen usai memantapkan niatnya untuk hijrah pasca tamat kuliah, ia berkomitmen untuk tidak berpacaran dan untuk saling mengenal ia memilih jalan ta'aruf. Dokter Gabriel paham, akhirmya dua minggu masa ta'aruf. Gabriel datang melamar Sarah.


Sarah begitu bahagia, semangkin yakin bahwa Gabriel memang tulus mencintainya dan akan segera menghalalkan Sarah menjadi istrinya. Tapi ternyata Sarah salah menduga. Tepat di hari H pernikahan itu Gabriel memang datang setelah 2 jam menunggu. Dia datang bersama dengan wanita yang dikatakan akan dinikahinya juga hari itu. Sungguh itu adalah hal paling menyakitkan saat dikhianati dihari pernikahan.


"Iya. Aku pikir dengan keluar dari profesi itu aku bisa melupakan hal menyakitkan itu. Tapi, aku berpikir tentang ilmu yang sudah aku dapatkan selama menempuh kuliah tidak aku amalkan."


Sarah diam setelahnya, Andai kamu tau Mas, siapa yang membuat saya memilih mengambil bidang kedokteran ini setelah tamat S-1. Kamu. Kamu yang meyakinkan aku. Sarah membatin.


Flashback on....


Teringat kejadian dan percakapan masa itu, empat tahun lalu. Allah seolah menjatuhkan bumi beserta isinya dia atas kepala Sarah sebagai hukuman. Harusnya malam itu mengatakan semuanya. Mengatakan bahwa dia juga satu-satunya yang aku miliki.


Hari itu, Forum Study Islamic Campus, yang diketuai Azzam sedang mangadakan Tafakur Alam bersama anggota forum study islamic lainnya.


"Bagaimana semuanya sudah dimasukkan ke dalam bus?" tanya Azzam pada anggotanya.


"Sudah. Semuanya sudah siap," sahut Enggar salah satu anggota.


Dinar datang setelahnya menghampiri ketua forum mereka. "Kak, sopir bilang sudah mau berangkat karena kejar jam malam juga."


Azzam melihat jam. "Ya sudah kita naik sekarang."


Satu per satu mahasiswa masuk ke dalam bus. Mengisi setiap kursi.


"Lah Sarah mana?" Dinar menanyai Sarah pada Rani yang duduk berdampingan.


"Mana aku tau. Dia bilang sih ikut."


Mesin mobil mulai menyeringai, mobil akan segera berangkat.


Dinar berdiri dan menghampiri sopir bus. "Pak! Pak tunggu sebentar, teman kita satu ketinggalan."


"Tapi, harus kita sudah berangkat sekarang mbak, ini saja sudah telah 30 menit kita menunda keberangkatan."


"Sebentar aja, Pak. Saya yakin teman saya sebentar lagi datang," pinta Dinar memohon.


"Ada apa?" Azzam datang menghampiri Dinar, saat mendengar Dinar dan sopir bus berdebat.


"Ahm ini Kak. Sarah belum datang," jawab Dinar, saat Kakak ketuanya datang menghampiri. "Kak, bilang dengan bapak sopirnya supaya jangan berangkat dulu." Mohon Dinar pada Azzam.

__ADS_1


"Iya, biar saya bicara. Kamu boleh duduk lagi."


Dinar pergi menjauh dan balik duduk di kursi semula, ia sedikit tenang, setidaknya Azzam bisa membantunya siapa bisa bermediasi dengan si sopir.


"Pak, boleh beri waktu 3 menit lagi. Setelahnya kita bisa berangkat."


Si sopir mengangguk.


Belum genap semenit, usai Azzam berbicara. Sarah datang menaiki bus dengan napas ngos-ngosan. "Assalamu'alaikum. Maaf Kak, aku telat."


Azzam mengernyit setelahnya mengeleng. "Wa'alaikumsalam. Hampir kamu kita tinggal. Dua menit lagi bus akan berangkat."


"Iya Kak."


"Ya sekarang kamu silahkan duduk. Masih banyak kursi yang tersedia."


Sarah berjalan duduk di kursi nomor lima dari depan. Setelah semua mahasiswa dipastikan lengkap 15 orang bus mulai berjalan meninggalkan kampus.


Azzam berjalan menuju kursinya. Ia duduk tepat di sebelah Sarah. Kegugupan yang luar biasa bagi Sarah bisa dekat dengan Kakak ketuanya itu. Sarah duduk dengan posisi tegang. Kalau dia tahu di sebelahnya adalah Azzam, ia pasti tidak akan memilih kursi itu.


Mobil sudah berjalan lumayan jauh. Azzam mengeluarkan bungkusan roti dari tasnya.


"Ambil ini." Azzam menyodorkan satu bungkus roti untuk Sarah.


Sarah diam menatap Azzam beberapa detik, setelahnya menggeleng. "Tidak usah, Kak"


Azzam meraih tangannyanya dan meletakkan roti itu di telapak tangan Sarah. "Tidak usah malu-malu."


Sarah tersenyum malu.


"Kenapa tadi kamu bisa telat?"


"Itu Kak, aku dapat undangan dari sekolah untuk menghadiri rapat sekolah adikku, jadi telat," cengir Sarah.


"Kenapa harus kamu?"


"Iya, memang harus karena tidak mungkin orang tuaku yang datang karena mereka jauh di kampung. Kami hanya merantau di sini," jelas Sarah singkat, padat dan jelas.


Azzam tahu siapa-siapa anggota forumnya. Nama-namanya juga dia hafal hanya saja dia tidak tahu latar belakang masing-masingnya. Tentu saja. Tidak mungkin ia menanyai satu-satu anggotanya itu tentang kehidupan mereka.


Kegiatan yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi mimpi buruk. Ketika ditikungan tajam bus pariwisata berusaha menghindari tabrakan dengan motor dari arah berlawanan. Bus tidak bisa menahan lajunya, akhirnya menabrak pohon, beruntung bus tidak terjun ke jurang. Beberapa penumpang tidak ada yang mengalami luka serius hanya lecet-lecet.


Azzam yang duduk di dekat jendela mobil, membuat kepalanya terbentur keras hingga menimbulkan luka di kepalanya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Azzam saat melihat Sarah ketakutan. Ia benar-benar syok, jantung seperti berhenti berdetak. Sarah bahkan berpikir kalau dirinya sudah di alam lain. Tapi suara Azzam menegurnya, menyadarkan Sarah kalau dia masih di alam dunia.


Sarah menoleh. "Ti.. Tidak apa-apa." Sarah melihat darah mengalir di kening Azzam.


"Kak, keningnya berdarah. Sebentar aku ambil obat merah dulu." Dengan tangan gemetar Sarah membuka tasnya dan mencari obat merah, sebenarnya ia masih syok.


Sarah mulai mengobati luka Azzam, yang tidak terlalu parah. Tapi tetap saja itu mengkhawatirkan karena itu mengeluarkan darah.


Azzam menyaksikan setiap apa yang dilakukan Sarah. "Kamu cocok jadi dokter"


"Apa iya, Kak?" tanya Sarah saat menempelkan plester di kening Azzam.


"Karena kamu cekatan, seorang dokterkan memang begitu harus sigap menangani pasiennya," ucap Azzam.


"Kalau aku jadi dokter. Berarti Kakak adalah pasien pertama aku," imbuh Sarah.


Flashback of....


Dokter selalu kerap kali dituntut untuk untuk berpikir logis dan kritis dalam mendiagnosa berdasarkan hasil pemeriksaan dan gejala-gelaja yang pasti. Tapi apakah dia mampu mendiagnosis keadaannya saat ini.


"Bagaimana kehidupan Mas. Baik-baik saja kan?"


Azzam tidak mengiyakan tidak pula menidakkan. Ia hanya tersenyum getir. Mungkin tidak asing bagi Azzam untuk menceritakan semuanya dengan Sarah.


"Mas, baikkan?" tanya Sarah kembali.


Azzam menghela keras-keras.


"Sebenarnya aku sedang ada masalah dengan istriku. Mungkin kisah kita sedikit mirip, tapi aku tahu tentang luka yang kau rasakan, saat kau bercerita di butik waktu itu tentang calon suamimu yang memilih menikahi wanita lain."


"Lalu apa kaitannya kisahku dengan masalahmu?"


"Dua bulan pernikahan kami, ternyata istriku masih menjalin hubungan kedekatan dengan laki-laki lain, yang disebutnya sebagai pacar. Aku juga kaget dan aku baru mengetahui setelah rekan kerjaku memberitahu."


Sarah turut bersimpati mendengar cerita Azzam. Sarah paham tentang apa yang dirasakan kakak tingkatnya itu.


"Aku paham perasaan Mas saat ini," ujar Sarah menatap pria itu lemah. Selemah batinnya saat ini, kenapa dia dulu menjadi wanita yang penakut dan lemah. Kenapa dia tidak berterus terang kalau dulu dia mulai menyimpan satu perasaan. Tapi satu yang Sarah sesalkan takut ia salah menanggapi perasaannya.


Tapi apa mungkin Tuhan memiliki cara lain untuknya. Lima tahun lebih mereka terpisah dan takdir membawa Sarah bertemu kembali dengan Azzam.


Apa ini kesempatan kedua yang diberikan Allah untuknya??

__ADS_1


***


SKIP


__ADS_2