
"Sar, Sarah!" pekik Tante Arini, saat melihat Sarah baru hendak masuk ke dalam rumah.
Sarah menoleh. "Apa, Tante Arini?" tanya Sarah seraya menyampirkan tasnya ke bahu. Sarah baru saja pulang dari rumah sakit Meidika, tempat dimana ia bekerja saat ini.
"Itu ada Mbak Soraya, mau mengambil pesanan gaun pengantin."
"Oh ya sudah." Sarah belum sempat masuk ke rumah. Ia berjalan menuju toko butik yang ada di sebelah rumah. Sarah memang sengaja membuat butik di sebelah rumah, karena menurutnya lahan yang tersedia masih muat jika dibangun butik di sana. Awalnya itu hanya usaha kecil-kecilan, namun sekarang usaha butiknya sudah banyak dikenal khalayak ramai. Ini semua berkat partnernya, Tante Arini.
"Assalamu'alaikum, Mbak" sapa Sarah, saat mendapati Soraya sedang duduk di berada butik bersama dengan seorang pria di sebelahnya.
"Wa'alaikumsalam." Soraya berdiri sambil mengajak Sarah untuk bersalaman dilanjutkan dengan cipika-cipiki.
Sarah melihat ke pria yang ada di sebelahnya, yang diyakini itu adalah calon suami Soraya. "Mbak, itu calonnya?" tanya Sarah.
Soraya menggerakkan kepala menoleh pada pria di sebelahnya. "Iya. Dia calon suamiku."
"Perkenalkan Ali. Calon suami Soraya." Pria itu mengangsurkan tangannya.
Sarah menyambut. "Sarah."
"Baik kalau begitu mari ikut aku, Mbak Soraya, Mas Ali!" Sarah mengajak keduanya untuk masuk ke dalam butik.
"Ini gaunnya Mbak." Sarah memberikan gaun yang telah dipesan Soraya jauh-jauh hari. Setelahnya ia memberikan juga sestel pakaian pengantin untuk Ali.
"Iya, Sarah. Kalau gitu aku coba dulu, yah." Soraya pergi ke ruang ganti. Di sisi lain Tante Arini sedang melayani Ali untuk mencoba pakaian pengantinnya.
"Wah, Mas-nya ganteng sekali, setelan baju sangat pas dibadan," puji Tante Arini merasa puas dengan hasil kerjanya selama beberapa minggu ini. Komitmennya tidak lain adalah membuat customer-nya senang dan puas. Maka, ia akan memberikan pelayanan terbaiknya. Apalagi Sarah sudah mempercayakan dirinya untuk mengelola butik milik Sarah.
Ali tersenyum puas saat melihat penampilannya di pantulan cermin yang terpampang di depan. "Terima kasih ya. Tidak salah kita menjatuhkan pilihan untuk memesan baju pernikahan kami di sini."
"Gimana, Sarah?" tanya perempuan yang telah berdiri dihadapan Sarah dengan gaun cantik dan mewah sudah menempel di tubuhnya, sangat pas.
"Aku tinggal sebentar ya, Mas karena di sana masih ada customer yang menunggu." Tante Arini meninggalkan Ali yang masih sesekali merapikan pakaiannya.
Sarah melihat dengan tatapan memukau. "Masyallah mbak Soraya cantik sekali. Semangkin terlihat anggun dengan balutan gaun berwarna putih ini." Sarah sedikit merapikan bagian bawah gaun yang menjuntai.
"Sayang, gimana? Kamu suka?" tanya Soraya ketika Ali mendekatinya.
"Kamu begitu cantik sayang. Gaun mewah ini begitu pas dan selaras dengan wajah cantik kamu." Ali menatap kagum kecantikan calon istrinya itu.
"Kamu juga tambah gagah dan tampan sayang dengan kombinasi jasmu," ucap Soraya pada suaminya.
Sarah hanya menjadi penonton yang turut baper menyaksikan keduanya saling melempar pujian satu sama lain. Ia membayangkan bagaimana jika dirinya berada di posisi Soraya. Dipuji dan dicintai dengan laki-laki pilihannya.
"Sarah terima kasih ya, kita sangat suka sekali. Sumpah ini mewah sekali lho. Kita sangat puas, Sar. Ya kan sayang."
Ali mengiyakan pernyataan Soraya dengan raut bahagia.
"Oh iya, Mbak Sarah inikan teman akrabnya Azzam. Sekalian aku ingin mengajak Sarah dan Arini untuk datang ke acara penikahan kami," ujar Soraya. Kemudian meraih tas dan mengeluarkan surat undangan pernikahan keduanya.
Sarah menyambutnya. "Terima kasih, Mbak. Sebenarnya waktu itu di rumah sakit, Fikri juga sudah mengajakku untuk hadir ke pernikahan Mbak Soraya katanya."
"Begitu ya. Syukurlah. Tapi undangan ini setidaknya meyakinkan Mbak Sarah kalau kita benar-benar mengharapkan kehadiranmu dan Arini." Harap Soraya.
"Jangan lupa bawa pasangan ya, Sar." goda Soraya pada wanita berkhimar di depannya.
"Betul itu." Ali ikut menyahut.
Sarah hanya menanggapinya dengan senyuman kecil.
__ADS_1
"Hum, mbak dan masnya nggak usah khawatir kita bakalan datang kok." Suara Tante Arini tiba-tiba hadir. Tante Arini mencubit gemas lengan Sarah. "Kamu datang dengan laki-laki yang sering ke sinikan?" bisik Tante Arini.
"Histt, dia bukan siapa-siapa" balas Sarah mencubit balik lengan Tante Arini.
***
Sambil memainkan rubik, aku melihat Azzam yang masih sibuk mengetik di laptop.
"Bang, teman-teman Nisa besok kau ke sini. Boleh?"
"Ada apa?" tanyanya dengan mata masih leka menatap barisan tulisan di layar monitor.
"Mereka mau belajar kelompok."
"Boleh. Abang tidak masalah. Lagipula kaliankan belajar di sini bukan di tempat lain yang abang tidak tau."
Aku menyeret kursi turut duduk di meja kerja Azzam. "Tapi abang nggak masalahkan. Nisa, takut nanti kedatangan mereka malah membuat abang terganggu." Aku duduk bertopang dagu. Sebenarnya alasan terbesarku adalah aku takut Azzam malah cemburu atau tidak suka karena ia tahu jika ada teman-temanku pasti ada Fey juga disana.
Azzam berhenti dan menatapku. "Nisa, sungguh abang tidak masalah. Bukannya teman-teman Nisa datang untuk belajarkan? Bukan untuk party. Mereka mau di sini sampai malam pun, abang tak masalah. Kalau mereka mau sholat, masjidkan dekat sini. Sementara Jihan bisa menggunakan kamar kita untuk sholat."
"Kenapa memangnya? Kenapa abang lihat malah Nisa yang terlihat tidak mau kalau mereka datang ke sini," lanjut Azzam.
Tanganku memain-main kan ujung buku. "Bukan. Nisa takut aja nanti abang tidak enak hati karena ada Fey di sana."
Azzam tertawa pelan. "Tidaklah. Abang tidak masalah. Sayang tidak perlu memikirkan hal yang lain-lain. Lagian lebih bagus kalau mereka ajak belajar di sini. Setidaknya abang bisa memantau Nisa kalau berbuat yang macam-macam dengan Fey," usik Azzam.
"Aish, tu kan?" Aku mencebik.
"Haha iyaiya." Azzam menempatkan tangannya di pipiku. "Abang percaya Nisa akan jaga mata dan hati Nisa untuk tidak melirik pria lain. Selain suamimu ini."
"Kalau Nisa khilaf?"
"Iya-iya, ampun! Udah ah geli."
"Awas ya!" delik Azzam mengerjaiku.
"Abang, nggak usah khawatirlah. Nisa nggak akan begitulah!" Kataku meyakinkan Azzam.
***
"Sarah! Sarah" Fikri berteriak mengejar Sarah yang menghindar dari kejarannya.
"Sarah dengarin aku dulu." Fikri menahan langkah Sarah, dengan berdiri tepat dihadapannya.
"Fikri, harus berapa kali aku bilang. Kalau aku nggak bisa!" tekan Sarah dengan mantap.
"Tapi Sar, aku mohon beri aku kesempatan untuk meyakinkan kamu bahwa aku benar-benar tulus dan yakin untuk melamar, Sar!"
"Tidak bisa secepat itu Fikri. Dan hati aku ini sudah diisi oleh pria lain. Aku kira kau salah paham. Laki-laki itu bukan dirimu, Fikri," jujur Sarah.
Fikri diam. Dirinya tak menampik bahwa ia memang bukan laki-laki yang diharapkan untuk menjadi bagian dari hati Sarah yang sekarang sudah diisi oleh nama pria yang tidak ia ketahui namanya.
Fikri masih mencoba tegar. "Sarah, kalau suatu saat kamu tau bahwa aku berkorban lebih besar untukmu daripada pria itu, apa kau akan mau menerima aku dikehidupanmu?" tanya Fikri serius.
Sarah tidak menjawab, ia menyingkir dan kembali melangkah terburu-buru manjauh dari Fikri.
Cincin yang masih digenggamannya digenggam dengan sekuat tenaga. Ia sangat kecewa, saat Sarah tidak mengiyakan permintaannya.
"Tunggu Sarah, lihat apa yang akan aku lakukan untukmu!"
__ADS_1
Fikri menatap kepergian Sarah dengan perasaan kacau. Mengejar perempuan bernama Sarah menjadi tantangan tersendiri bagi Fikri.
***
Hujan deras tiba-tiba mengguyur, aku yang tadinya terlelap segera bangun dan berlari keluar menuju tempat di mana aku menjemur semua pakaian termasuk barang-barang milik pribadi.
Ketika sudah sampai, aku terkejut sesaat mendapati kawat jemuran sudah kosong tak ada satu jemuran pun yang tersisa. Aku segera melangkah menuju tempat khusus dimana aku menjemur under wear milikku. Sama tidak ada aku temukan apapun di sana.
Aku menutup mulutku dengan kedua tangan. "Ya ampun siapa yang sudah mencuri pakaian di sini!" gumamku terkaget.
Aku kembali masuk ke dalam. Mataku terbuka lebar saat mendapati sudah ada Azzam yang melipat beberapa pakaian di ruang khusus setrika pakaian. Pakaian pribadiku juga sudah ada di sana. Berada tidak jauh dari tempat Azzam duduk. Ia bahkan sudah melipat sebagiannya.
Aku menepuk jidat. Wajahku seketika berubah memerah tak kuasa menahan malu.
"Sudah bangun sayang?" ucap Azzam, merapikan beberapa helai pakaian yang telah berhasil dilipatnya.
Aku segera mendekat dan segera membereskan barang-barang milikku. "Kok abang sih yang angkat jemuran?"
"Maaf ya, abang cuman mau bantu menyelamatkan pakaian sebelum benar-benar basah terguyur hujan deras."
"Kenapa nggak bangunin Nisa aja sih?" protesku.
"Abang tidak tega membangunkan Nisa yang yang tidurnya nyenyak sekali. Tidak apa-apalah sayang cuman angkat jemuran aja."
"Iya tapikan itu ada... "
"Ada apa sayang?" tanya Azzam heran.
Aku menatap pakaian pribadi yang ada di sebelahnya.
Azzam menoleh melihat apa yang sedang aku pandang. Setelahnya Azzam tergelak memahami apa yang aku maksud.
"Maaf sayang, ya masak abang hanya menyelamatkan baju-bajunya saja. Tentu pakaian pribadi juga dong." Azzam kembali tertawa.
Aku benar-benar tak kuasa menahan malu.
"Ya udah sini biar Nisa!" Aku meraih helaian pakaian yang ada di tangan Azzam.
Azzam menahannya. "Biar abang bantu."
"Ih, nggak usah!" tolakku.
"Udah. Biarlah. Abang cuman mau meringankan pekerjaan istri. Bolehkan, sayang?"
Aku tersenyum kikuk. "Hem. Ya sudahlah!"
Kami berdua bekerja sama melipat pakaian yang menumpuk seperti gunung. Aku bersyukur memiliki suami seperti Azzam yang selalu berusaha membuat aku senang berada di sisinya.
"Bang!"
"Hm"
"Makasih ya, karena selalu mengerti Nisa. Ya meskipun kadang abang juga sesekali nyebelin."
"Iya. Diriku akan selalu berusaha membuat hati istriku yang satu ini selalu bahagia. Supaya rizki juga senantiasa dilimpahkan oleh Allah subhanallah wa Ta'ala," tutur Azzam lirih.
Kebahagian istri akan berpengaruh terhadap mudahnya suami mendapat rezeki.
Dalam Hadist Nabi yang diriwayatkan HR Ahmad dan At-Tarmidzi menyebutkan Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.
__ADS_1
Rasulullah SAW adalah figur teladan yang sangat memuliakan istri-istrinya. Ia senantiasa membuat istrinya bahagia dan gembira. Ia pun selalu memanggil istri-istrinya dengan panggilan terbaik yang membuat perasaan istri-istrinya amat dihargai, dihormati dan dimuliakan. Kepada Siti Aisyah, ia memanggilnya “Humairah” yang artinya kemerah-merahan. Ini karena pipi Siti Aisyah yang selalu memerah. Panggilan ini membuat siti Aisyah senantiasa merasa amat berharga berada di samping Rasulullah.