Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 107. Teman Berbagi


__ADS_3

Rumah ayah dan ibu menjadi saksi ikatan suci antara kami berdua, kenangan baik maupun buruk semua terekam di rumah ini. Di kamar ini pula, saat itu aku harus merelakan kegadisanku dengan niat beribadah, dan kini aku mengandung buah cinta kami. Awal mula aku begitu ingat bagaimana dan betapa sulitnya aku menerima lelaki ini, tapi aku salut dia mampu membalikkan semua perasaanku. Ia mampu membuatku menerimanya.


Sebelum berangkat tadi, aku ditemani saudara Azzam, menziarahi makam mendiang suamiku. Aku menatap nanar gundukan tanah yang dipenuhi bunga-bunga, dengan batu nisan yang terpahat nama almarhum suamiku di sana.


"Ya Allah ampuni hamba, bukan hamba menentang qodha dan qodar-Mu. Tapi entah mengapa hatiku mengatakan bahwa Azzam masih hidup Ya Allah dan keyakinan ini tertancap begitu kuat."


Hatiku masilah hancur saat aku saksikan gundukan tanah dengan taburan bunga di atasnya. Kematian mungkin merupakan satu stimulus terbesar yang mampu menyentakkan kita.


Air mata kembali berderai. Aku mencoba mengikhlaskan semuanya. Mungkin waktu dan kebersamaan kami berdua hanya dapat dinikmati dalam waktu yang sesingkat ini.


Abah telah banyak memberiku wejangan bahwa hidup tak perlu melulu tentang kebahagiaan karena suka. Tapi musibah pun jadikan sebagai sebagai rahmat terselubung yang mampu membuat manusia sadar dan semangkin mendekatkan diri pada Allah yang maha cinta.


Untuk mencari ketenangan aku memilih untuk tinggal sementara di rumah orang tuaku. Sementara rumah kami di Tangsel dihuni oleh Kang Harjo, orang yang dikirim Ayah untuk mengurus dan menjaga rumah kami sementara saja.


"Nisa ibu boleh masuk?"


"Boleh, Bu." Aku mengusap pipiku, menghapus jejak buliran bening tadi.


Ibu muncul dengan raut senyum mengembang di wajahnya.


"Ada seseorang yang mau bertemu dengan Nisa."


"Siapa, Bu?"


"Silahkan Nisa lihat sendiri. Ibu yakin Nisa pasti akan senang jika kembali bertemu dengan mereka."


"Yasudah, suruh mereka tunggu sebentar ya, Bu. Nisa mau ganti baju dulu."


Aku menghilang sebentar ke kamar mandi membasuh wajahku, dan berganti pakaian serta hijab. Aku sama sekali tidak tau siapa yang dimaksud ibu yang menemuiku sore ini.


"Haii, sahabatku... "


Aku meloncat kaget ketika pintu kamar pertama kali dibuka, seorang wanita berdiri menyapaku dengan raut bahagia.


Aku terperangah, mulutku terbuka meski tak terlalu lebar. Tentu aku serasa surprise dan bahagia ketika orang yang telah lama tak saling bersua secara langsung sekarang berdiri dihadapanku. Aku menatapnya dari ujung kaki sampai kepala.


"Aaaaa... Nisa... " Dia malah berteriak lebih dulu sambil merentangkan tangannya.


"Ji... Han... " Ia mengangguk, aku tertawa senang sambil memeluknya penuh bahagia.


"Iih, kamu tambah cantik. Hm, gadis sholehah banget kamu ya" gelakku. Penampilan Jihan semangkin syar'i saja. Ia mengenakan gamis dengan warna coklat membuatnya terlihat manis, serta khimar menjuntai.


"Umm, makasih sayang."


"Kamu kok tau, kalau aku sudah balik ke sini lagi, Jihan?"

__ADS_1


"Tau lah. Ibu kamu yang telepon aku Nisa," rautnya begitu senang, sama denganku. Namun, sedetik kemudian aku kembali murung.


"Jihan, aku baru saja kehilangan... "


"Sstt, aku tau semuanya. Kamu yang tabah dan kuat yang Nisa. Aku yakin kamu bisa melewati cobaan ini." Jihan menatapku iba.


"Ya ampun ada debay di sini ya. Yeay sebentar lagi akan ada teman buat mainin nih." Jihan mengusap area perutku.


Aku tersenyum melihatnya pula. "Sayang kenalin ya, ini tante Jihan."


"Emm, harus banget tante ya? Kakak aja dong haha," tawa Jihan pecah.


"Oh iya, kamu sendiri Jihan?"


"Nggak kok. Aku ke sini nggak sendiri, aku bersama dengan teman-teman. Teman and the genk kita dulu."


"Hah, yang benar."


Jihan mengangguk bersemangat. "Ayo, kita ke keluar. Mereka ada di luar."


Benar sekali mereka semua sudah menantiku dan duduk rapi dikursi ruang tamu. Ya ampun, meski belum genap setahun aku tak berjumpa langsung dengan mereka tapi sungguh mereka semua sangat berbeda. Mungkin efek mereka kuliah kali ya.


Laki-laki yang duduk di sebelah kanan, berdiri lebih dulu ketika melihatku keluar. Matanya berbinar-binar, senyum yang menampakkan ginsulnya semangkin membuat ia sangat manis saat tersenyum apalagi tertawa. Senyum itu dulu yang selalu menemaniku ketika aku belum bersama suamiku.


"Hay" sapa pria yang berdiri lebih dulu tadi, sapaannya sangat kaku.


Dia tersenyum sambil melangkah mendekatiku. "Ka-kamu, apa kabar?" tanyanya basa basi. Ia telah berdiri tepat di depanku.


"Baik, Fey," jawabku, meski sebenarnya aku masih menanggung luka dari musibah ini.


Lelaki yang bernama Fayzulen itu mengangguk kaku. Ia tersenyum rikuh ketika teman lelaki yang lainnya berdehem keras. Ada pula yang mengeluarkan bunyian mirip pluit yang dihasilkan dari tangannya.


"Masa lalu... Biarlah masa lalu.. Jangan kau ungkit jangan kau ingatkan lagi.. " Suara nyayian dari lelaki yang bernama Jovan menggema memecah kesunyian dan kekakuan saat itu.


Sesaat kemudian tawa diruangan menggema. Bukannya memuji mereka malah meledek suara fales Jovan yang menyayikan lagu dangdut milik Inul Daratista itu.


Sungguh candaan mereka sangat aku rindukan. Aku kembali mengumbar tawa dengan tingkah Jovan dan teman-teman.


Mereka semua berdiri dan menghambur mendekatiku. "Nisa, masih ingat kita-kita nggak?" Sadam bersuara.


"Ya iyalah. Aku masih ingat kalian semuanya. Lagian, digrup kita masih sering chatingan bareng dan VC an juga."


Sadam menabok kepala Jovan. "Ah, gimana sih Jo"


"Eh, Gila! Yang salah kamu yang ditabok aku. Emang ya nggam berperikemanusiaan."

__ADS_1


"Hm, mulai...mulai deh kalian kalau kumpul bareng!" Fey menengahi.


"Eh, sebentar ya. Sebelum kita lanjut ngobrolnya. Kita suruh bumilnya duduk. Entar ibunya kecapean lagi gara-gara ngeladenin kalian." Jihan menyingkirkan tubuh-tubuh temannya dengan merentangkan kedua tangan. Mempersilahkan aku untuk mengambil posisi duduk ternyaman.


"Makasih, Jihan."


Aku mengambil bantalan kursi dan meletakkannya di atas pahaku.


"Hm, kalian kok bisa kompakan gini datangnya. Memangnya nggak sibuk kerja atau kuliah gitu?"


"Nggak kok. Kita memang sengaja luangin waktu buat menjenguk kamu Nis." Fey lebih dulu menyahut.


"Sekali lagi, terima kasih ya, Fey dan teman-teman semuanya. Kalian ternyata sahabat yang sangat peduli dan bahkan sangat perhatian denganku."


Jihan menggengam kedua tanganku, mengunci jemariku dengan rapat. "Nisa, aku dan teman-teman yang lain turut berduka cita ya untuk musibah yang menimpamu. Kita semua di sini mendoakan semoga, guru kita, ustadz kita diberikan tempat terbaik di sisi-Nya, diampuni dosa dan diterima segala amal kebajikan beliau semasa hidup." Doa Jihan.


"Ammiin," ucap mereka semua mengaminkan doa Jihan.


"Amiin, terimakasih banget kalian sudah datang ke sini. Meluangkan waktu kalian semua," Aku melihat mereka berlima satu per satu, mentapnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku sebagai istri, memohon maaf bila dulu ada kata-kata ustadz Azzam yang kurang berkenan dihati kalian, baik ketika mengajar di kelas ataupun di luar"


"Bagi kita-kita semua tidak ada kata-kata ataupun ucapan yang dilontakan Azzam, suatu kata yang membuat kita tersinggung atau sakit hati. Beliau malah kerap memberi kita nasehat-nasehat baik atau wejangan. Jujur, sikap dan tata kelakuannya dapat menjadi contoh bagi anak-anak muda, seperti kami."


Aku sangat bersyukur Allah menghadirkan aku teman-teman sebaik mereka. Keluarga yang juga peduli satu sama lain. Hidup rukun dan damai. Sungguh ini sudah sangat membuatku bahagia.


"Nisa, ini ada sedikit parcel dari aku." Fayzulen mengangsurkan parcel yang dibawanya. "Aku harap kamu cepat bangkit, karena hidup kita masih berlanjut Nisa. Kita tidak bisa berhenti hanya dititik ini saja. Tapi kita harus keluar dari keterpurukan dan kesedihan yang mengungkung diri kita."


"Iya, kamu benar Fey. Aku akan berusaha untuk merelakan semuanya. Meski sangat berat untuk melepas orang yang kita cintai. Terlebih anak ini, yang akan lahir tanpa adanya seorang ayah di sisinya."


Mereka semua tertunduk dalam diam. Turut merasakan dan meresapi keadaan. Dalam beberapa menit tak ada obrolan yang terjadi. Sampai ibu keluar membawakan toples berisi kue dan minuman dari belakang.


"Hayo, ayo diminum di makan kue buatan Ibu"


"Tante jangan repot-repot tante." Sadam membantu ibu menaruh menata minuman di atas meja.


"Gaklah, Nak. Kaliankan kamu tuh, jadi harus di jamu dengan baik. Oh iya ngomong-ngomong kalian semua sudah pada kuliah nih?"


"Sudah tante. Alhamdulillah."


"Alhamdulillah syukurlah." Ibu membuka tutup toples dan menyuruh teman-temanku untuk mencicipinya sebelum pergi kembali meninggalkan kami untuk mengobrol di sini.


"Maaf ya Tante, kalau kehadiran kami buat rumah Tante jadi gaduh," ujar Jihan


"Ya ampun nggak papa lah. Malah bagus, kan rumah tante jadi meriah gak sunyi-sunyi amat. Dan yang paling buat Ibu senang akhirnya anak Ibu yang paling cantin ini tertawa lagi karena kalian semua, beberapa minggu ini dia murung terus. Sedih terus bawaannya. Tolong kalian nasehati dia ya... " kata Ibu dengan nada lembut, dibarengi dengan rangkulan tangannya yang diletakkan dipundakku.


"Siap tante!" Jovan memberi hormat dengan posisi badan ditegapkan.

__ADS_1


"Kalau gitu tante tinggal dulu ya, kalian lanjutin aja mengobrolnya."


Setelah obrolan basa-basi membuka awal pembicaraan kita, entah itu tentang sekolah dulu, kuliah dan rencana di masa depan. Akhirnya obrolan demi obrolan yang kami perbincangkan membuat suasan kian mencair. Kita semua hanyut dalam gelak tawa pada guyon yang sesekali di buat Jovan dan Sadam bergantin. Kita berlima tengah berbagi kisah entah itu tentang motivasi dan semangat pantang menyerah dalam melalui kehidupan.


__ADS_2