Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 37. Hilang


__ADS_3

Semilir angin menemani kepulangan guru-guru usai mengadakan rapat mingguan. Deru motor dan suara mesin mobil saling beradu di area parkir. Sementara di dalam ruang rapat tinggal beberapa guru saja.


Azzam terlihat sedang diskusi empat mata dengan Pak Anshori, Kepala Yayasan. Pak Anshori sedikit menyinggung masalah persiapan para guru-guru madrasah untuk keberangkatan kegiatan Pelatihan Kepemimpinan Sekolah dan Manajemen Pendidikan yang dilaksanakan di Balikpapan, yang disponsori BMH Balikpapan bekerja sama dengan Sekolah Islam Karang Bugis dan Pendidikan Gunung Tembak.


Di sisi lain Bu Lydia merapikan kertas laporan yang berserakan di mejanya, sambil sesekali mengawasi Azzam dari kejauhan. Bu Lydia, guru Matematika berpenampilan modis itu masih terus menaruh harapan dengan rekan kerja satu profesinya, meskipun sebelumnya Azzam telah menolak Bu Lydia untuk menjalin hubungan kedekatan yang lebih jauh. Tapi Bu Lydia sudah melupakan penolakan itu, dan mencoba membangun harapan baru lagi.


Usai Pak Anshori mendengar pemaparan singkat Azzam berkenaan dengan penyelenggaraan pelatihan yang diselenggarakan esok lusa. Pak Anshori semangkin yakin bahwa tidak salah baginya untuk memilih dan mengutus laki-laki berumur 27 tahun itu dalam keterlibatan sekolah pada kepelatihan kali ini.


Azzam melangkah keluar dari ruang rapat yayasan. Penat dan letihnya kegiatan KBM dan beberapa kegiatan tambahan sekolah hari ini, tidak menyurutkan semangat Azzam untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab yang di amanahkan padanya. Bagi Azzam ini suatu kepercayaan yang luar biasa bagaimana dia dilibatkan dalam kepanitiaan acara krusial yang menghadirkan para insan-insan islam yang cendikia. Sumbangan dan pemikiran yang diberikan tentunya akan menjadi suatu ilmu yang berkah.


Laki-laki yang memiliki tatapan teduh dan bewajah kharismatik itu dengan langkah gontai menuju area parkiran. Langkahnya semangkin dipercepat kalau dia ingat bahwa malam ini, dia akan melakukan dinner pertamanya dengan Dhanisa. Sebelum tiba di rumah dia berencana untuk singgah sebentar ke tukang pangkas.


Dari jarak yang hanya terpaut beberapa langkah, Azzam bisa melihat wajah Bu Lydia lebih jelas. Dia sedang berdiri tepat di samping mobilnya. Bu Lydia masih seperti biasa melemparkan senyum manis saat bertemu dengan Ustadz Azzam.


“Bu Lydia,” sapa Ustadz Azzam sambil melepas kacamatanya. Sepasang bola mata Azzam langsung fokus melihat wanita yang berdiri di depan. “Ada apa, Bu Lydia?” Azzam bertanya ketika langkah Bu Lydia mengarah ke dirinya.


Tanpa permisi tangan Bu Lydia meraih jari-jemari Azzam, lalu tersenyum usia memandangnya lekat.


Azzam tersentak. Dia benar-benar bergidik sekarang. Dengan bersikap sopan Azzam menyingkirkan genggaman tangan Bu Lydia.


“Maaf Bu, tidak enak dilihat orang."


Azzam mundur satu langkah, sedikit menjaga jarak dengan Bu Lydia.


Bu Lydia tersenyum samar.


“Maaf ustadz jangan salah paham dulu, saya hanya ingin memberikan ini.” Tangan Bu Lydia menyodorkan sebuah bungkusan mirip sejenis obat-obatan yang menggantung di tangan kanan. Dia maju satu langkah, tangan Bu Lydia meraih kembali jemari Ustadz Azzam. “Saya, tau ustadz pasti lelah sekali dengan kegiatan seharian ini. Maka saya memberikan suplemen, ekstrak bahan alami yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh.” Tangan Bu Lydia dengan pelan mendaratkan obat itu ke telapak tangan Azzam.


Azzam menyambut pemberian Bu Lydia.


“Saya rasa ibu tidak perlu terlalu berlebihan mengkhawatirkan saya,” balas Azzam dengan sopan dan halus supaya Bu Lydia tidak tersinggung. “Saya hanya takut sikap ibu yang demikian akan membuat orang lain terluka.”


“Terluka? Hati siapa yang akan terluka? Saya rasa sikap saya ini tidak akan melukai orang lain. Saya hanya terluka kalau orang itu selalu menghidar dari saya,” balas Bu Lydia langsung.


Netra Azzam sibuk memperhatikan apa saja yang ada sekitar supaya tidak harus menatap wajah perempuan yang diajaknya berbicara. “Apa maksud Bu Lydia?”


“Saya hanya minta dengan Ustadz supaya beri saya ruang untuk lebih dekat dalam mengenal Ustadz.” Bu Lydia melayangkan tatapan penuh serius dan penuh kehati-hatian pada apa yang diucapkan barusan.


Azzam mengangkat tangan kirinya, melirik arloji yang melekat.


“Maaf Bu, saya harus pulang duluan. Terima kasih untuk obatnya.” Azzam sudah siap memasang jurus langkah panjang, tapi Bu Lydia lebih sigap meraih pergelangan tangannya.


“Tunggu dulu.”


Azzam tidak punya pilihan lain selain berdiam di tempat semula.


“Apa besok Ustadz berkenan kalau saya antar ke bandara?”


Azzam berbalik. “Tidak perlu repot-repot Bu, besok saya akan berangkat dengan Marvin,” tolak Azzam, dengan melempar senyum sebelum dia pergi berlalu.


Bu Lydia hanya tersenyum getir, menerima penolakan itu.


“Saya pamit dulu. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam”


Azzam masuk ke dalam mobil, meninggalkan Bu Lydia yang masih belum beranjak dari tempatnya. Sampai mobil Azzam berbelok keluar gerbang sekolah.


***


Cahaya tembaga kekuning-kuningan sudah menyapa langit. Aku masih berkeliaran di area taman rumah ditemani Mouzine yang setia mengikut di belakang.


“Mou, lapar nggak kita ngemil dulu. Mou tunggu sebentar, jangan kemana-mana!” ucapku sebelum meninggalkan Mouzine.


Tiga menit kemudian, aku kembali dengan menenteng beberapa cemilan untuk mengisi waktu santai di sore hari. Untuk Mouzine aku hanya memberikannya sosis karena dia sangat mengemari cemilan yang satu ini, malah tampaknya Mouzine lebih menyukai sosis ketimbang ikan.


Netra mataku memutar ke sekitar taman. Sebelumnya aku ingat, kalau Mouzine aku tinggal di kursi taman ini. Namun ketika aku kembali Mouzine sudah tidak ada di tempat.


“Mou!”


“Mou!”


Aku berteriak seraya berjalan ke sekitaran area taman.


Setelah lima belas menit aku mengitari taman kecil ini, tetap aku belum juga menemukan keberadaan Mouzine. Tidak biasanya Mou seperti ini. Biasanya jika ditinggal sebentar kucing itu pasti tidak akan kemana-mana.

__ADS_1


Aku berlari cepat masuk ke dalam rumah. Mengecek siapa tahu dia menyelinap lebih dulu masuk ke dalam rumah menyusulku. Tapi sudah aku susuri setiap sudut ruangan, tetap nihil. Mouzine tidak ada di dalam.


“Assalamu’alaikum,” suara orang mengucap salam dari luar.


“Iya sebentar,” pekikku dari dalam. Dengan langkah yang panjang aku langsung menghambur ke luar.


Sambil membuka pintu, aku menjawab salam.


“Ada Azzam?” tanya pria itu langsung, ketika pintu pertama kali di buka.


“Belum, dia belum pulang. Katanya ada rapat sekolah makanya pulang agak kesorean,” balasku pada laki-laki yang berdiri di depan pintu. Aku tahu kalau dia adalah Marvin, teman Abang Azzam.


“Masih lama nggak kira-kira?”


Aku melirik jam dinding. Pukul 16.20 WIB.


"Kayaknya sih sebentar lagi dia bakalan pulang. Abang masuk aja dulu, sambil menunggu Azzam pulang." Aku menawarkan.


“Gitu ya? Yaudah aku tunggu dia sebentar,” balas Marvin. Dia berjalan ke sisi kursi yang tersedia di teras rumah.


“Mau dibuatin minum nggak?” Aku bertanya ketika melihat dia sudah duduk, namun di atas meja belum tersedia minuman.


“Boleh,” sahut Marvin cepat.


“Mau apa? Kopi, susu, teh, jus, air putih?” Aku memberikan opsi supaya dia bisa memilihnya.


Marvin menggeleng. Cerewetnya belum hilang memang! guman Marvin lirih.


“Hah!? Apa?” Aku tahu kalau Marvin barusan mengeluarkan kalimat. Tapi kalimat itu tidak berhasil ditangkap jelas gendang telingaku.


“Nggak ada, angin lewat barusan,” kilah Marvin.


Aku mengerucutkan bibir. “Yaudah, minum apa nih? Aku masih ada kerjaan.”


“Mi...” Belum selesai Marvin menuntaskan kalimatnya. Dhanisa sudah memotong.


“Oh. Atau nggak air putih aja. Yaudah sebentar ya!” ujarku, kemudian berlalu menuju dapur.


Marvin hanya mendengus, ketika melihat istri Azzam itu sudah menghilang masuk ke dalam rumah.


Tidak sampai satu menit, aku kembali dengan membawa nampan yang di atasnya bertengger segelas air mineral untuk tamu Abang Azzam.


“Silahkan diminum?” Aku mempersilahkan.


Dengan muka pasrah Marvin menyeruput minuman hambar yang diberikan Dhanisa.


“Kamu kenapa?” Tanya Marvin saat melihat aku sibuk mondar-mandir di depan teras.


“Aku kehilangan anak!” balasku asal-asalan, dengan wajah masih gusar. “Aku sudah mencari-cari Mou kesana kemari tapi belum juga ketemu.”


Aku mengecek ke beberapa bagian tanaman bunga yang cukup rapat dan rimbun, siapa tahu Mouzine ada di sana.


Mouzine? Anak?


Marvin sedang berpikir tentang dua kata itu.


"Anak kalian berdua?” tanya Marvin polos.


“Iya,” sahutku tanpa fokus penuh, menyimak pertanyaan Marvin.


Marvin menghela berat, sambil menggaruk kepalanya tanda ia bingung dengan pengakuan Dhanisa.


Bagaimana mereka bisa punya anak? Azzam bilang Dhanisa saja masih belum bisa menerima kehadirannya sebagai suami. Apa Dhanisa sendiri sudah membuka hatinya untuk menerima Azzam, Marvin membatin. Sedetik kemudian dia tersenyum puas. Syukurlah kalau mamang begitu setidaknya dia tidak mencintai satu pihak. Mereka sudah bisa menerima satu sama lain, pikir Marvin.


Melihat istri Azzam itu kebingungan. Akhirnya Marvin berinisiatif untuk membantu mencari Mouzine.


“Aku bantu cari ke sekitaran belakang rumah ya, siapa tau ada di sana.” Marvin bangkit dari kursi hingga terdengar deritan kecil dari kursi yang baru ia duduki.


Aku mengiyakan tawaran Marvin untuk membantuku mencarikan Mou.


Sementara Marvin mencari ke bagian belakang rumah. Aku berjalan keluar pintu gerbang. Mataku memperhatikan jalanan sekitar komplek. Melihat ke kiri dan ke kanan badan jalan. Yang tampak hanya berberapa anak komplek yang bersliweran dengan menggunakan sepeda sedang bermain di pinggir jalan.


Tin!


Tin!

__ADS_1


Aku mengelus dada. Bunyi klakson mobil yang nyaring cukup membuatku kaget.


Mobil berwarna hitam itu berhenti tepat di depanku berdiri saat ini. Aku harap-harap cemas. Takut orang ini akan berniat jahat. Aku hanya berusaha belajar dari kejadian buruk yang menimpaku malam itu.


Ketika pintu mobil mulai terbuka. Aku mundur


beberapa langkah ke belakang, sambil mengambil ancang-ancang siap belari.


“Kenapa?” tanya orang itu yang baru keluar dari balik kemudi mobil. Sepertinya suara bariton itu tidak asing ditelingaku. Aku mendongakkan wajah demi melihat si pemilik suara.


“Hanan." Aku mendapati dirinya sedang berdiri di depan dengan tangan kanan memegang beberapa tumpukan kertas serta beberapa buku yang mirip majalah.


“Aku mau mengantarkan ini." Dia mengangsurkan apa yang aku amati. “Ini sesuai dengan yang kamu minta,” lanjut Hanan.


Tanganku menyambut beberapa kertas yang disodorkan Hanan. “Ya ampun, makasih banget Hanan. Padahal waktu di telepon itu aku cuman iseng-iseng cerita aja lho,”


Sehari lalu aku memang menelepon Hanan untuk meminta pendapatnya tentang topik apa yang bagus untuk dijadikan topik pengisian redaksi mading sekolah, dia cukup banyak memberiku referensi sampai dia menawarkan diri untuk membantu memberikan hasil-hasil tulisannya yang sudah dia buat. Aku tidak menyangka kalau Hanan sebaik ini.


“Ahm, masuk aja dulu yuk. Kebetulan di dalam juga ada Abang Marvin. Dia juga sedang menunggu Azzam.”


Kami berdua berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.


Setiba di ruang tamu aku mempersilahkannya duduk, sambil membawa masuk beberapa lembar buletin dan majalah yang dibawa Hanan.


Di dapur, aku membuatkan Hanan minuman dingin. Beruntung di kulkas masih ada sirup. Aku menuangkannya ke dalam secangkir gelas, dan memberi sedikit batu es supaya segar ketika mendarat di tenggorokan. Setelah kurasa siap, aku membawanya keluar.


“Kamu ngapain di luar pagar tadi?” Tanya Hanan, ketika melihatku sudah muncul dari arah dapur.


“Aku mencari kucingku, Mouzine,” jawabku sembari meletakkan secangkir minuman berwarna merah di hadapannya. “Tapi ya sudahlah, nanti aku cari Mou lagi. Lagian sudah ada Abang Marvin yang membantu mencarikan tadi. Semoga saja dia berhasil menemukan Mou.”


Aku ikut merapatkan duduk di kursi sofa berhadapan dengan Hanan.


“Ayo diminum, mumpung masih seger” seruku melihat Hanan belum juga meraih minum yang aku buat.


“Iya,” jawab Hanan sungkan.


“Ciri-ciri gimana?” Hanan menyoal ketika mulutnya usai mengecup manisnya sirup buatan Dhanisa. Semanis senyuman yang dia lemparkan ketika menyambut Hanan di depan tadi.


“Bulunya mendominasi warna putih, namun di bagian kepala tepat di dekat sisi kupingnya ada loreng-loreng hitam keabu-abuan, dan ekornya panjang.”


Hanan mengangguk paham pada deskripsi Mouzine yang aku buat.


“Ya ampun!” kataku sambil menepuk jidat. “Kira-kira Abang Marvin tau nggak ya ciri-ciri Mou, kan dia sebelumnya juga belum pernah bertemu dengan Mou!”


Hanan mengendikkan bahu. “Mana aku tahu.”


“Etts Hanan, kamu diam dulu! Jangan bergerak.” Aku memberi komando kemudian berpindah temat duduk ke sisi Hanan, ketika melihat nyamuk menempel di pelipisnya. Dengan penuh kehati-hatian aku mendaratkan tangan ke bagian wajahnya. Supaya nyamuk itu mati di tanganku dan tepukan yang mendarat tidak begitu sakit.


Dia tampak memejamkan mata rapat-rapat ketika tangan sudah mendarat di mukanya yang mulus.


“Assalamualaikum” salam Azzam memelan, ketika melihat istrinya duduk berdua dengan laki-laki lain yang bukan muhrimnya di dalam rumah. Yang membuat hati Azzam tersengat adalah tangan Dhanisa yang memegangi wajah Hanan.


“Wa’alaikumsalam." Kami berdua menjawab salam bersamaan.


Aku kaget bukan kepalang saat aku tahu yang datang adalah Azzam. Aku segera menyingkirkan tanganku yang masih melekat di wajah Hanan. Tiba-tiba jantung berdesir, ada rasa takut yang tersirat di hati. Takut Azzam marah dan salah paham.


Hanan langsung bangkit untuk menyambut laki-laki yang disebutnya “Om” itu.


“Om,” sapa Hanan seperti biasa, sambil meraih tangan Azzam untuk disalami.


Azzam masih diam tak bergeming. Netra matanya menatap kami berdua secara bergantian. Azzam menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Lalu berjalan mendekati istrinya tanpa memperdulikan Hanan masih berdiri di samping.


“Apa yang kalian lakukan di sini?” Pandangan Azzam silih berganti meneliti wajah istrinya, dan Hanan yang masih berdiri di ujung pintu.


Azzam terus beristigfar dalam hati, agar setan tidak menguasai dirinya dengan emosi sesaat. Dia menarik napas dalam-dalam berusaha untuk tenang.


Hanan menyampaikan apa yang memang mestinya ia jelaskan. “Om, aku ke sini cuman mau mengan ....”


“Maaf, saya bertanya dengan istri saya,” balas Azzam seketika, tanpa menunggu Hanan menyelesaikan kalimatnya.


Aku merunduk dengan mata yang terpejam.


Aduh, ini benar-benar salah paham! Dan dengan kesalahpahaman ini statusku terbongkar di hadapan Hanan. Tapi sebenarnya tidak masalah jika hanya dengan Hanan. Mengingat Hanan juga bukan siapa-siapa. Bia bukan sahabatku. Bukan teman sekolah. Dia laki-laki yang baru aku kenal dua minggu ini. Tapi meskipun baru dua minggu, aku merasa seperti sudah lama kenal dengan dia, apalagi dengan semangkin intensnya kami bertemu tanpa sengaja. Hingga saling berkirim pesan via chat WhatsApp. Tapi jujur aku tidak menaruh perasaan sedikit pun dengan Hanan, mudah-mudahan Hanan juga begitu. Aku membatin.


____

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir, jangan lupa buat comen, kritik dan sarannya. Kalau berkenan vote ya😍 biar semangat up nya.


__ADS_2