Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 102. Kabar Duka


__ADS_3

Entah kenapa sejak keberangkatan Azzam perasaanku tidak tenang, ada rasa cemas, dan bahkan aku merasa kecemasanku ini mungkin berlebihan. Tapi entahlah bisa jadi itu bawaan bayinya yang tidak ingin jauh dari sang ayah.


"Daripada kamu cemas gitu dek, mending kita nonton sambil ngemil. Kita nonton film kesukaan. Drakor gitu," Kak Aya alias kak Soraya keluar dari arah dapur dengan membawa beberapa bungkus biskuit dan cemilan. Fikri dan Sarah sudah pulang tadi malam, karena harus kembali menjalankan tugas negara katanya.


Aku mengetuk-ngetuk ujung ibu jariku dengan jari kananku. Memain-mainkan kuku jempol. Pandanganku memang tertuju pada layar yang menayangkan wajah tampan Lee Seung Gi. Tetapi, sebenarnya fokusku bukanlah kesana. Aku sedang menunggu panggilan seseorang. Setiap beberapa menit sekali aku melirik ponsel. Namun panggilan yang kuharapkan belum jua datang.


"Aduh, dek. Apa kamu cemas mikiran Azzam sama perempuan yang berangkat bersamanya? Cemas, Azzam bakalan dirayu sama perempuan siapa itu namanya," tutur Kak Aya usai meneguk segelas minuman orange.


Apa yang dipikirkan Kak Aya sama sekali salah dan meleset. Aku bukan takut akan Kak Rara yang mengganggu atau menggoda atau bahkan sebaliknya.


"Kak Rara, maksudnya?" Aku tertawa pelan.


"Ya nggaklah kak. Kak Rara itu baik, lagipun aku meminta dia untuk berangkat dengan Azzam karena aku juga memikirkan suasana hati Kak Rara yang mungkin masih kalut dan sedih karena baru saja melalui masa sulit. Dan kebetulankan mereka tanpa sengaja satu tempat tujuan. Sama-sama mau ke ponpes Mambaul Ulum."


"Hm, iya-iya. Mungkin kamunya yang butuh istirahat. Maklumlah mood bumil sulit diprediksi" gelak Kak Soraya.


"Ah, Kak Aya bisa aja deh."


"Atagfirullah al'adzim kalian kenapa masih nonton sih. Itu abah sudah siap-siap mau sholat dzuhur jamaah lho. Kalian mau ketinggalan asharnya?" tegur umi ketika melihat kami masih betah menatap layar televisi.


"Emang sudah adzan ya umi?" tanyaku tak tahu, karena memang aku belum mendengar adzan.


"Iya, Mi. Kakak juga belum denger kirain belum masuk waktu dzuhur, makannya masih stay disini. "


"kalian ada-ada saja." Omel umi. "Coba tuh lihat sudah jam berapa?" mata umi mengekor pada jam dinding yang melekat di sebelah kanan kami, membuat aku dan kak Aya ikut mengekor melihat ke arah jam.


"Ya sudah. Tunggu ya umi. Kita ambil wudhu dulu." Kak Aya mematikan televisi menuju toilet begitupun dengan aku.


***


"Assalamualaikum sayang... "


Aku melenguh pelan ketika merasa sebuah tangan mendarat dan mengusap lembut kepalaku.


Ketika pertama kali mata terbuka, sosok laki-laki tengah tersenyum manis. Dengan kondisi setengah sadar, dan kelopak mata yang masih terasa berat aku berusaha bangun.


"Wa'alaikumsalam," kataku sambil masih mengusap kelopak mata. Saat pandangan mulai fokus. Aku menyadari Azzam telah duduk dengan tenang di sebelahku.


Menyadari itu, aku langsung mencium tangannya. "Sayang," ucapku mencerukan kepalaku di dadanya usai mencium tangan Azzam. "Akhirnya abang pulang." Akhirnya, suara itu aku dengar kembali. Mataku tiada leka menatap mata teduhnya.


Tanganku bergerak pelan, menyentuh area wajahnya. Hidung yang mancung, bibir merekah, rahang tegas. Janggot tipis, iris hitam pada matanya. Segalanya aku amati dengan intens. Sama apa yang aku lakukan, dia balik membalas. Kami sama-sama menikmati sentuhan itu.


Hidung kami saling bertemu. Deru napas hangat dapat aku rasakan. Seperti setahun saja tak bertemu, kenapa perasaan ini, seolah lain. Seperti aku merasa dia akan pergi dalam waktu yang lama.


Aku membenamkan kepalaku di dada bidangnya, menikmati dekapan hangat, bau parfumnya selalu aku rindukan pula.


"Abang, kapan pulang? Kenapa Nisa nggak beritahu. Apa sekarang sudah malam." Aku memulainya, usai beberapa menit tak ada percakapan dari kita berdua.


"Belum, sayang, ini masih sore," sahutnya.


Aku merenggangkan pelukanku, dan melepasnya.


"Kok lebih cepat pulangnya?"


"Karena abang tidak bisa jauh-jauh dari anak dan istri abang, sayang"

__ADS_1


"Hem, mulai deh... "


"Abang kemari untuk mengucapkan terima kasih."


"Ucapan terima kasih? Untuk apa?"


"Iya, sayang. Terima kasih. Terima kasih karena dengan tulus mau menerima abang. Mau membuka hati ini untuk diisi oleh laki-laki yang telah melafadzkan ijab dan qobul pada hari baik itu. Meski abang mengakui selalu kalah tampan dengan laki-laki yang pernah menyukai Nisa." senyumnya.


Aku memukul lengannya pelan. "ih abang ngomong apa sih. Nisa gak suka!" tuturku dengan wajah masam.


Azzam malah tersenyum senang.


Tanganku mengunci erat jari-jemari Azzam. "Harusnya Nisa lah yang mesti berterima kasih karena abang telah sabar menghadapi keras hati Nisa. Tapi abang punya hati yang teguh dan juga pejuang sejati... Hehhe... " cengirku.


"Sayang" panggil Azzam penuh cinta.


"Iyaa"


"Jika hawa tercipta dari tulang rusuk Nabiyullah Adam alaihisalam, maka Nisa adalah tulang rusuk Azzam, bukan laki-laki yang lain," tutur Azzam.


Aku kembali tersenyum senang usai mendengar kalimatnya. Rambut hitam lurusnya aku usap pelan.


"Boleh abang peluk sebentar sayang?"


"Boleh dong sayang"


Kepala Azzam dijatuhkan dipundakku, begitu pula denganku. Lenganku kembali melingkar dengan erat, memeluk pria yang selalu membuatku kesem-sem saat ini.


"Sayang, maaf ya abang harus pergi saat ini. Abang titip anak kita ini," ucap Azzam setelah melepaskan rengkuhannya.


Tentu saja aku kaget mendengar kalimat Azzam. Memang dia mau kemana lagi. Apa dia masih memiliki urusan lain, sehingga mengharuskannya pergi saat ini juga, padahal ia baru juga sampai.


"Tidak Nisa, waktu abang telah sampai. Abang harus pergi saat ini juga. Maaf kan abang. Jangan lupa untuk selalu menjaga dan mendoakan anak kita ya..." Azzam mendaratkan kecupan yang lama ke keningku.


Aku menangis tersedu-sedu. Sama sekali aku tidak memahami apa yang dikatakan Azzam. Kenapa dia berucap demikian.


Genggaman tanganku semangkin aku eratkan. Saat Azzam mulai beranjak. Aku semangkin takut. Tentu aku tak mau berpisah dan membiarkan Azzam pergi. Bagiku Azzam adalah satu-satunya yang selalu setia berada di sampingku. Menenangkan aku jika aku sedih, cemas atau panik. Harapanku sangat besar untuk senantiasa bersamanya.


"Nggak! Abang nggak boleh pergi. Abang harus tetal di sini dengan Nisa"


Aku mau mencoba untuk mencegah Azzam.


"Tidak bisa, sayang."


"Kenapa tidak bisa! Atau gak Nisa ikut!"


"Nisa harus tetap di sini temani abah dan umi bersama Kak Soraya dan saudara abang lainnya," ucap Azzam dengan lemah lembut.


"Tap... Tapi... " Pandanganku melihat tubuh Azzam semangkin memudar. "Abang Azzam!"


"Bang! Abang!" teriakku berkali-kali dengan air mata jatuh membasahi pipi. Tanganku sudah tak mampu lagi menggapai tubuh Azzam.


"Nisa! Nisa bangun Nak.... " samar-samar dan setengah sadar aku mendengar suara wanita yang nada suaranya sering aku dengar.


"Nak... " Kali ini ia menepuk pelan pipi, berusaha membangunku.

__ADS_1


Aku meloncat kaget, bahkan saat ini aku merasa tubuhku sangat lengket dipenuhi peluh. Bangun tidur, aku seperti orang linglung. Dengan cepat aku menarik tubuhku untuk segera beringsut bangun. Napasku tersengal dan dadaku terasa sesak. Yang semangkin membuat aku bingung dihadapanku saat ini sudah berkumpul abah, dan saudara-saudara Azzam yang lain.


Umi menatapku nanar. Matanya merah seperti habis menangis. Sementara yang lain tertunduk dalam-dalam. Mereka semua membisu, belum ada yang berbicara.


"Ada apa ini? Kenapa semuanya berkumpul di kamar Nisa? Memang ada sesuatu yang terjadi dengan Nisa tadi?"


Aku memegangi wajahku sampai turun ke bagian perut. Berlanjut menyingkap selimut memeriksa kakiku. Aku bahkan merasa baik-baik saja. Tidak ada sakit dibadanku.


"Umi, ada apa ini? Jangan buat Nisa binggung," Umi pula tertunduk diam, kala duduk ditepian ranjangku.


"Abang mana? Kalian semua ada di sini, tapi abang azzam kenapa nggak ada?"


Air mata Umi berderai, ketika aku menyebut nama anak bungsunya itu.


"Azzam sudah pergi, Nak," kata Umi sambil memegang dadanya.


"Nggak Umi. Tadi abang ada di sini. Duduk dengan Nisa barusan. Beneran," ucapku penuh yakin.


Kak Soraya melangkah, mendekat ke arahku. Sama dengan apa yang dilakukan Umi padaku matanya berkaca-kaca.


"Kamu yang sabar, dek." Kak Soraya memelukku dengan erat, mengusap punggungku naik turun.


"Kak Aya, kenapa? Kenapa Nisa harus bersabar."


"Azzam... " Kak aya melepas pelukan dan melihatku dengan tatapan serius. Aku lihat dia menarik napas panjang. Seperti ada kepayahan yang dirasakan Kak Soraya.


"Azzam sudah pergi meninggalkan kita, dek. Meninggalkan kita selama-lamanya."


DEG.


Ucapan kak Soraya seperti sebuah bom, yang menghancurkan gedung dan segala isinya. Seperti itulah pula perasaanku saat ini. Berita itu, seperti sedang meruntuhkan kehidupanku. Tubuhku bergetar hebat. Jantungku memompa tak beraturan.


Perlahan cairan bening telah tertumpuk penuh dipelupuk mata dan siap tumpah kapan saja.


"Ba... Bagaimana bisa Kak?"


"Azzam mengalami kecelakaan beruntun di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD). Mobil yang di kendarai Azzam dan Rara hilang kendali sampai menabrak mobil tronton besar di depan. Setelah itu, mobil bus pariwisata juga datang dengan kecepatan yang tinggi sama menabrak mobil Azzam. Itu cerita yang kakak tau tapi kita tunggu tindak lanjut dari polisi."


"Apa mbak Rara juga mengalami nasib yang sama, kak?"


"Menurut informasi iya dek. Rara turut menjadi korban kemelut kecelakaan naas itu."


Air mata semangkin tak terbendung, bahuku bergetar. Semangkin berusaha untuk menahannya semangkin pula air mata itu tiada henti menghujani pipiku.


Sungguh kematian telah memisahkan manusia dengan keluarga yang dicintai.


"Kak Nisa mau ketemu dengan abang, Nisa ingin melihat wajahnya untuk terakhir kali."


"Nak, tim dokter akan mengantarkan jenazah kemari. Kita tunggu saja ya."


Saat ini, aku merasa kepalaku semangkin berat karena terus menangis tersedu-sedu.


"Umi... " Aku memanggil Umi Salamah dengan lirih dan lemah. Tubuhku mulai lemas.


"Ya, Nak?" Umi merapikan rambutku, mengusapnya dengan tenang. Meski aku tahu hatinya sendiri juga sakit melihat putra bungsunya harus pergi lebih dulu meninggalkannya.

__ADS_1


"Umi, kepala Nisa sekali." Pandanganku mulai menghitam secara keseluruhan.


_________________


__ADS_2