Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 73. Kenalan Tetangga Baru


__ADS_3

Aku bergegas keluar kamar. Menuruni anak tangga demi anak tangga, dan melangkahkan kaki menuju dapur. Tentunya aku ingin mempersiapkan sarapan pagi, dan aku mencoba untuk belajar menikmati peranku sebagai seorang istri.


"Hmm... Mau masak apa ya?" Gumamku sendiri.


Aku mengecek rak-rak lemari yang ada di dapur. Hanya da telur dan bawang di sana. Tampaknya, pagi-pagi ini aku harus keluar dulu. Untuk membeli bahan masakan dan beberapa bumbu.


Melangkah keluar rumah, melihat keadaan sekitar. Udara dingin pagi ini benar benar masih terasa. Embun di luar juga masih belum mencair. Sementara mentari pelahan mulai memancarkan kemilau hangatnya. Aku melihat ke kiri dan ke kanan. Satu dua orang di komplek perumahan ini terlihat sedang joging pagi. Jam masih menunjukkan pukul 06.15 pagi. Aku harus cepat membeli bahan, untuk segera di olah. Supaya Azzam tidak perlu lama menunggu aku menuntaskan masak di dapur, karena dia perlu kerja pula pagi-pagi ini.


Di ujung tikungan, mataku mendapati pedagang sayur keliling yang sedang menjajakan dagangannya dengan mobil bak terbuka. Dengan langkah cepat dan sedikit berlari aku menyusul si pedagang sayur, sebelum dia semangkin menjauh.


Dua meter lagi jarak aku mendekat ke pedagang sayur, tiba-tiba... BRUKK!!!


Seseorang yang sedang berlari menabrakku dengan keras. Mambuat tubuhku terhantam jatuh ke aspal. Aku sempat melihat, ia datang dari arah gang Mahoni 3. Sekarang yang aku rasakan adalah lututku perih sama halnya dengan telapak tanganku.


"Aww... " kataku meringis perih sambil memijat tanganku.


"Ya ampun, kamu jalan nggak pakai mata ya!" hardik pemilik suara yang juga terjerembab jatuh, meski tak separah diriku.


Siapa sih dia yang main marah-marah aja pagi-pagi gini, nggak tau diri banget, emang dia kira aku yang salah. Batinku menggerutu.


Aku mendongak, dan menatapnya dengan tatapan geram. Perlahan aku mencoba berdiri. Meskipun kesusahan.


Huft! Dasar tidak ada niat sedikit pun dia mau membantuku. Ya setidaknya minta maaflah!


Aku menatap dia dengan geram. "Eh, kamu cowok kasar banget ya jadi orang. Pernah diajarin buat minta maaf nggak sih!" balasku juga dengan suara meninggi.


Dia malah tertawa meringis. "Apa minta maaf? Apa itu maaf? Nggak ada dikamus aku kata maaf."


"Huh! Benar-benar kamu ya dasar cowok nyebelin."


"Heh, yang ada kamu yang nyebelin. Jangan main asal jalan aja, nggak liat kiri kanan apa? Liat nih aerphone aku sama handphone rusak gara-gara kamu!"


"Kok nyalahin aku sih! Ya salah sendiri, jalan nggak liat dulu ke depan. Main HP mulu, emang tuh handphone bisa nolongin kamu kalau mati. Nggak kan?"


Lelaki itu memutar bola mata malas. "Ya elahh... Pagi-pagi aku mau olahraga ya, bukan buat dengerin khubat singkat kamu pagi-pagi. Dasar cewek tenggil."


"Lha, siapa juga yang khutbah." Aku mengupat kesal. "Kamu dasar cowok resek, arogan," balasku geram.


Pria itu balik menatap tajam dengan mata melotot. Sekarang aku bisa melihat bola mata cokelat keabu-abuannya.


"Dasar kamu ya... " Tampaknya dia ingin mengeluarkan kata-kata kasar.


Aku melipat kedua tanganku di depan dada. "Apa? Kamu mau menghardik aku lagi dengan kata-kata sarkasmu? Silahkan kalau kamu nggak malu dikatain BANCI beraninya menghina cewek. Aku yakin pasti dengan karakter kamu yang arogan pasti nggak bakalan ada cewek yang mau dekat-dekat sama kamu!"


"Kamu jangan sotoy deh," tuturnya sambil mengarahkan jari telunjuknya ke wajahku. "Asal kamu tau aku udah punya istri ya!"


"Oh!" balasku dengan muka malas.


"Sayang kamu cepet banget larinya. Ketinggalan tau." Wanita itu berbicara dengan napas tersengal. Ia tiba-tiba datang dari belakang dengan menyusul berlari pelan.


Matanya nampak mengekor ke arahku, lalu balik melihat laki-laki di sebelahnya.


"Sayang, kenapa kamu kayak habis marah gitu?" tanya wanita yang rambutnya diikat cepol itu.


Sayang? Hm, aku menduga dia pasti istrinya.


"Dia, udah buat aku kesal pagi-pagi sayang. Dia yang salah aku yang suruh minta maaf."


"Eh, emang kamu yang salah!" kataku nyolot, tidak hendak kalah.


Wanita itu menutup telinganya. "Aduh, pagi-pagi kok udah ribut aja sih. Yang jelas aku nggak tau siapa yang salah. Kalian maafan aja," pinta si wanita.


"Nggaklah sayang!" tolak keras pria itu.


"Aku juga ogah," balasku.

__ADS_1


Perempuan yang aku kira istrinya itu mengeleng kepala. "Aku atas nama suamiku minta maaf ya, dia memang gitu orangnya."


"Oh iya, kenalkan aku Rara dan dia Ridho, suamiku." Perempuan itu menangsurkan tangannya.


"Dhanisa," sambutku.


"Kamu warga baru sini ya? Sebelumnya aku belum pernah liat wajah kamu di sekitaran kompleks ini." Ia menyelidik wajahku.


"Iya, aku baru pindah kemarin."


"Hm, begitu. Rumah kamu dimana, siapa tau kita bisa saling bersilaturahmi."


"Rumah aku di komplek ini ko, nomor 35."


"Ouh, iyaiya kalau sempat kita berdua bakalan mampir deh, kenalan dengan tetangga baru."


Wanita ini tampak ramah dan bersahabat tapi tidak dengan suaminya yang super jutek, galak dan mengesalkan.


Aku tersenyum tipis. "Iya boleh kok. Silahkan aja mbak Rara kalau mau mampir kapan aja aku senang, sekaligus mendapat kenalan alias tetangga baru."


"Gimana setuju kan sayang?" Rara menyenggol lengan suaminya.


Dia tak menyahut masih menatap tak suka padaku.


"Males banget sayang!" Ia membuang muka malas.


Aku mengehela napas sabar. "Aku sih nggak pernah maksa buat orang singgah ke rumah. Kalau mau mampir ya mampir... " Kataku menyindirnya.


Dia kembali melotot. Giginya mengertap kesal. Sedetik kemudian dia mendehem.


Aku sadar telah menghabiskan banyak waktuku hanya untuk marah-marah tidak jelas dengan pria menyebalkan itu. Akhirnya, aku meminta pamit undur diri kepada wanitanya.


Laki-laki itu masih menatap tajam dan geram. Sesekali ia masih mengupat tak jelas.


Sementara aku sudah tak memperdulikannya dan lanjut memilah bahan yang ingin aku beli, kemudian membayarnya.


"Oh iya itu tadi kenapa Neng? Pagi-pagi udah gaduh aja?" tanya si tukang sayur sambil mengeluarkan pecahan uang receh sebagai kembaliannya.


"Alah, biasalah. Orang nggak waras. Pagi-pagi udah ngegas aja. Pemanasan tuh kali, Pak," kataku yang dibalas tawaan oleh pedagang sayur. Tak lama setelah aku hendak selesai berbelanja. Ibu-ibu mengenakan daster rumahan mulai turut juga berdatangan.


"Duh, kayaknya mbak orang baru ya di kompleks ini?" tanya salah satu ibu dengan raut ramahnya.


"He-he... Iya Bu. Baru pindahan kemarin dari Jakarta ke sini."


"Oh, semoga betah di sini ya, Mbak," jawab emak-emak tadi.


"Mbak, gelis pisan uy, kenalkan saya Ajeng." Wanita di sebelah akhirnya turut juga bergabung.


Aku juga menyambutnya dengan ramah. "Dhanisa."


"Tinggal di sini dengan siapa, mbak?" tanya ibu itu lagi.


"Ya pasti sama orang tuanya lah. Lihat masih muda gitu orangnya. Kulitnya masih kencang. Nggak kayak kita," canda si ibu pada ibu di sebelahnya.


Aku turut tegelak mendengar perbualan mereka. "Aku di sini tinggal dengan suami, Bu. Kalau orang tua masih di Jakarta."


"Ouh. Sudah menikah ya rupanya. Masih muda sekali lho mbaknya."


Aku cuma tersenyum tipis.


"Yah, menikah muda itu pilihan ce, dan rasanya mungkin sedikit berbeda," katanya wanita paruh bayah sembari memilah sayuran.


"Iya sih, hanya khawatir aja gitu, sama yang muda-muda karena usia muda itu biasanya masih labil gimana gitu. Takut goyah aja, dalam menjalani kehidupan rumah tangga di usia dini. Karena salah satu kekurangan menikah muda adalah mental dan psikologis kadang belum matang sepenuhnya. Seringkali, gara-gara itu banyak pasangan yang terjebak dalam situasi. Alhasil, rumah tangga pun jadi penuh konflik dan tidak stabil, akhirnya berujung pada perceraian."


"Hust! Kok ngomong gitu sih ce." Ibu yang bernama Ajeng terlihat melihat tak enak ke arahku.

__ADS_1


Aku menggaruk kening. "Ahm, ibu-ibu, aku duluan ya. Nggak enak lama-lama. Ntar nggak jadi aku masaknya. Permisi ya Bu," tuturku segera pamit undur diri.


***


Aku mengambil pisau dan mengambil beberapa bawang, kemudian mengirisnya tipis-tipis. Sesekali aku mengibas-ngibaskan tanganku yang masih terasa perih akibat luka lecet kecil di telapak tanganku. Semua karena laki-laki menyebalkan tadi.


Setelah selesai, potongan bawang tadi aku masukkan ke dalam panci dengan air yang sudah mendidih sebelumnya. Lalu memasukkan beberapa sayuran. Sembari menunggu, aku mencuci beberapa potong ayam.


Hari ini, aku ingin mencoba menyajikan hidangan ayam goreng, sayur asem dan tempe goreng.


Satu jam berlalu. Aku mengidangkan olahan hasil tanganku sendiri. Sayur asam yang masih hangat aku masukkan mangkuk besar. Lalu menyusul ayam goreng yang telah ditata dalam piring besar yang terbuat dari kaca. Pinggirnya terlihat gambar bunga mawar yang cantik.


Aku tersenyum senang ketika melihat semuanya sudah terhidang di atas meja makan dengan tatanan apik. Bersamaan setelah itu, Azzam dengan kemeja dongkernya terlihat menuruni tangga. Ia sudah rapi dengan pakaiannya dan senyum tampak di wajah pria itu ketika melihat aku tengah menyiapkan piring makan.


"Selamat pagi, sayang." Aku menoleh bibirnya mengembang membentuk senyuman.


"Pagi, sayang." Aku menghambur menyambutnya dengan membimbing ia ke meja makan. "Ayo, pak dosen. Makan dulu. Pak dosen kan mengajarnya mahasiswa tuh, dan jam tatap mukanya juga pasti panjang. Jadi pasti butuh energi ekstrakan." Senyumku, sambil menyedok nasi untuknya.


"Ah, bisa saja sayang." Azzam mencubit gemas pipiku. "Masak sendiri nih, sayang?" Azzam melihat setiap apa yang aku lakukan untuknya.


Aku mengangguk. "Iya, coba liat di rumah ini ada siapa? Hanya ada aku dan abang kan?" kataku lalu mengitari meja, duduk berhadapan dengan Azzam.


Azzam menatap sajian yang sederhana yang terhidang. Aku mengusap mengusap tangannya. "Kalau setelah abang cicip makanannya dan ternyata tidak enak Nisa minta maaf ya."


Azzam mengulas senyum lembut. "Tidak masalah sayang, apapun yang Nisa buat, abang makan. Dan kalau abang bilang lezat dan itu pasti lezat."


Aku menyengir saja mendengar tuturnya.


"Kalau gitu, ayo kita makan."


Suara dentingan piring dan sendok yang bertabrakan setelah membaca doa sebelum makan terdengar. Aku memperhatikan raut wajah Azzam setiap menyuapkan menyendok makanan. Ia mengulas senyum.


"Hmm... Sedap kok sayang. Makasih ya."


Aku turut membalasnya. "Iya, makasih juga. Ini karena resep abang juga kan?"


Beberapa menit setelahnya. Aku membereskan beberapa piring di dapur. Namun, Azzam tidak tinggal diam. Tanpa diminta ia meraih piring berada di tanganku, dan dalam hitungan detik piring-piring kotor itu sudah berpindah ke tangan Azzam.


"Biar abang bantu."


"Apa sih, cuman sedikit juga. Udah biar Nisa aja." Aku hendak meraih kembali piring itu, namun di singkirkan cepat oleh Azzam. Tanganku tak berhasil meraihnya.


Raut wajahnya yang semula senyum berubah seketika saat aku tahu ia sedang memperhatikan telapak tanganku.


"Kenapa itu?" Azzam mengendikkan dagu, dengan tatapan menyorot ke telapak tanganku yang memerah.


"Nggak papa." Aku menyembunyikan cepat telapak tanganku ke belakang.


Azzam memilih untuk meletakkan kembali piring kotor itu di atas meja.


"Coba abang liat." Ia meraih tanganku dan mengusap pelan bagian telapak tangan. Aku diam saja.


"Kenapa bisa begini? Apa karena di dapur tadi."


"Bukan. Ini karena ulah pria menyebalkan tadi ketika Nisa pergi membeli bahan-bahan masakan di depan, trus ada laki-laki yang menabrak Nisa dengan keras. Dan yang lebih mengesalkan dia nggak mau minta maaf!" tuturku dengan muka tak bersahabat. "Tapi abang nggak usah khawatir nanti Nisa obati kok," kataku meyakinkannya.


"Ya sudah."


Azzam kembali mengambil piring kotor tadi dan membawanya ke dapur.


Tak beberapa lama ia keluar dan menghambur ke ruang tamu. Meraih sepatunya, bersiap untuk berangkat.


"Abang berangkat dulu." Azzam mengecup kening. "Assalamu'alaikum"


Aku balas mencium tangannya. "Iya. Wa'alaikumsalam."

__ADS_1


Aku turut menemaninya sampai ke depan teras rumah. Ia mulai menghilang masuk ke dalam balik kemudi mobil. Deru mesin mobil menyala halus, meninggalkan perkarangan rumah, sampai menghilang di balik pintu gerbang. Aku berjalan ke depan untuk menutup pintu gerbang.


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


__ADS_2