Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 39. Ada yang Beda


__ADS_3

Cermin besar di kamar memantulkan bayangan wajahnya yang terlihat fresh. Tersenyum. Ia melihat penampilan yang tidak biasa. Tanda ia menyukai apa yang ia kenakan saat ini. Tidak tinggal rambut hitam lurusnya juga di sisir dengan rapi.


“Abang, sebenarnya yang jadi peremuan Nisa apa Abang sih! Kenapa lama sekali di dalam.” Suara teriakan Dhanisa dari luar.


“Iya, sebentar!” sahut Azzam dengan suara baritonnya.


Ia meraup kacamata minus miliknya di nakas, dan bergegas ke luar. Dia tahu Dhanisa sudah menunggu dirinya sejak lima belas menit lalu.


Bagaimana tidak? Dia harus menyiapkan surprise terlebih dahulu untuk istrinya. Maka dari itu dia sedikit lama. Azzam tentu tidak ingin melewatkan momen indah malam ini.


Aku sudah berdiri di garasi rumah dengan wajah cemberut, sibuk memukuli nyamuk yang mengigit tanpa permisi. Sesekali aku mengecek handphone untuk membalas pesan-pesan grub WhatsApp.


Dengan sikapku yang demikian entah mengapa aku yang merasa lebih bersemangat untuk melakukan dinner ini. Sebenarnya aku rindu untuk dinner seperti ini.


Aku tersenyum, ketika aku mengingat kembali saat Fey mengajakku dinner. Dinner sekaligus ia mengungkapkan perasaan cintanya. Aku menengadah ke langit. Bintang-bintang yang bertaburan di kaki langit semangkin membuat malam selalu punya kisah yang menarik untuk disimpan.


Mataku meneliti objek yang letaknya tinggi di langit, adakah malam ini aku menemukan garis imajiner berbentuk heart. Refleks jari telunjuk terangkat ke atas mencari garis imajiner yang selama ini belum aku temukan.


“Mana sih? Nggak ada hatinya!” Aku berdecak sebal. Mata dan jari telunjukku tidak mampu menyatukan bintang-bintang itu untuk membentuk garis hati.


“Ini hatinya.”


Ada tangan menggapai jari-jemariku yang masih terangkat ke udara, mengacung ke langit. Sejurus mataku melihat tangan itu, pelan-pelan dia memindahkan ke dadanya yang bidang.


Mataku meneliti dengan saksama tanpa berkedip. Seorang laki-laki dalam balutan pakaian kemeja slimfit, berwarna biru. Mengenakan celana bahan berwarna dark grey. Kunaikkan tatapanku ke dadanya. Dia memiliki dada yang bidang, bahunya lebar. Ketika tatapanku mengarah ke wajahnya, ia memiliki rahang tegas, wajahnya bersih tidak ada lagi cambang yang tumbuh di sekitar area wajah, yang tersisa hanya jengot yang sangat tipis di bawah dagu. Mata hitam keabu-abuan tampak cemerlang dan mempesona. Tatapannya masih sama, teduh. Rambut hitam tebal disisir rapi ke belakang. Tampak semangkin berkarismatik.


Aku terkesiap sekaligus tidak paham, sebenarnya jantung siapa yang sedang berpacu cepat. Tangan kiri menyentuh dadaku sendiri. Sementara tangan kanan masih menempel di dada si pria. Aku bisa merasakan degup jantung si pemilik dada. Tubuh kaku sesaat, aku merasa wajahku memerah dan panas.


Aku baru bisa kembali fokus ketika mendengar deheman dari tenggorokannya.


“Bang Azzam!"


Sengaja ia ingin menyadarkanku tadi tatapan kosong yang tidak lepas dari mengamati wajahnya. Sedetik kemudian aku baru menyadari kalau tanganku masih melekat di dadanya. Dengan cepat aku menarik tanganku dan mundur satu langkah.


“Kenapa dilepas?” tanya Azzam ketika dia tahu kalau aku sedang gugup. Hal itu memang tidak bisa aku sembunyikan. Tangan meremas erat tali tas yang aku selempangkan ke tubuh bagian kanan.


“Kenapa memangnya?” Aku bertanya balik tanpa menoleh.


“Sebenarnya abang ingin tangan Nisa terus melekat ke dada abang. Supaya Nisa juga bisa merasakan perasaan cinta yang abang rasakan saat ini.”


Keningku bertaut. “Cinta? Apa abang masih menaruh cinta untuk Nisa?”


Azzam tersenyum penuh arti.


“Ayo berangkat!” Azzam dengan cepat menarik tanganku untuk segera masuk ke dalam mobil.


“Abang jawab dulu!” pintaku segera. Sementara dia tengah membukakan pintu dan mendudukkan aku di kursi depan bersamanya.


“Nanti abang akan jawab,” balasnya sambil menutup pintu mobil, dan berjalan ke pintu kemudi mobil.


Aku menatap Azzam yang sibuk mengaitkan seat bealt ke tubuhnya. Setelah mesin mobil menyala. Ia mulai mengendalikan kemudi stir dan memutar arah mobil keluar dari pekarangan rumah menuju jalan raya.


“Abang kita mau kemana?”


“Dinner”


Aku menghela napas, dan memutar bola mata malas. “Iya Nisa tau, memangnya mau ke kuburan!” Aku membuang muka dengan perasaan jengkel


“Terus kenapa nanya?”


Rasanya tidak akan selesai kalau terus berdebat tentang masalah kecil. Aku menyandarkan tubuh mungilku di sandaran mobil. Mataku memilih memandang ke luar jendela mobil, mengamati setiap keramaian lalu lintas jalan. Tidak heran malam ini memang malam minggu, banyak anak muda yang mejeng di kafe-kafe, warung, yang jelas tepat favorit mereka lah.


Tanganku bergerak membuka kaca mobil, lalu menghidup dalam-dalam udara malam yang dingin.


“Tutup kaca mobilnya, tidak bagus udara malam hanya akan membuat tubuh masuk angin.” Azzam menegur.


Sesuai perintah. Aku menuruti keinginannya, lalu melirik ke arah Azzam yang menatap datar ke depan. Melihat wajah fokus Azzam yang sedang serius menyetir mobil membuat pipiku seketika merona. Tidak bisa dipungkiri, sosok laki-laki berumur 27 tahun dengan style kemeja slimfit dan celana berwarna dark grey membuat aku terkesima. Aku baru menyadari ternyata suamiku bukan hanya sosok pribadi yang sabar tapi juga lelaki tampan. Pantes saja seorang Bu Lydia yang berpenampilan gaul dan modis tergila-gila dengannya. Itu baru Bu Lydia, entah perempuan lainnya yang sudah kenal dan menjumpai Azzam.


Aku menepuk jidatku berkali-kali. Ya ampun Dhanisa, apa yang sedang kau pikirkan? Apa kau mulai menyukai pria di sampingmu ini?


“Kenapa? Nisa baru sadar ya kalau abang ganteng?”


Aku gelagapan. Dari mana dia bisa tahu apa yang aku pikirkan? Apa dia memiliki ilmu membaca mata batin. Masalahnya dari awal aku menikah dengannya, dia selalu tau tentang apa yang aku pikirkan, pikirku.


“Ish! Abang kepedean!”


Seketika aku langsung memalingkan muka. Merasa malu karena ketangkap basah sedang memandangi wajah Azzam dengan leluasa.


Azzam memandang sekilas ke arah istrinya yang menatap lurus ke depan.


“Hati-hati nanti Nisa jatuh cinta dengan abang!” usik Azzam ketika melihat wajah istrinya sudah jutek.

__ADS_1


Aku Mengernyitkan dahi. Spontan menoleh memandang Azzam.


“Jatuh cinta? Memangnya kenapa kalau seorang istri jatuh cinta dengan suaminya?”


Azzam tiba-tiba memperlambat laju kecepatan mobilnya. Ia terkesiap mendengar ucapan itu, dan menoleh sebentar ke arah istrinya.


“Jadi Nisa jatuh cinta dengan abang?” tanya Azzam langsung.


Aku mengerjap-ngerjapkan mata berkali-kali. Aku rasa aku sudah salah dalam berucap tadi.


“Bu... Bu... Bukan. Maksud Nisa ......”


Husttt!! potong Azzam seketika. “Cinta itu memang sulit untuk dijelaskan, maka Nisa tidak perlu bersusah payah untuk menjelaskan itu. Abang tau!” ujarnya dengan penuh yakin.


Azzam menyunggingkan senyum. Sebelum akhirnya ia menginjak pedal gas, dan menambah kecepatan laju mobil untuk segera sampai di RESTO yang dituju.


Setelah dua puluh lima menit perjalanan. Mobil alphart putih telah terparkir dengan sempurna di area parkir RESTO. Azzam melepas seat bealt-nya dan memintaku untuk menunggu. Tidak tahu apalagi yang akan dilakukan Azzam. Laki-laki itu keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk aku. Yang anehnya lagi dia meminta aku supaya menggandeng tangannya.


Aku menautkan kening dan mendesis. “Kenapa harus begitu sih?”


“Abang mau malam ini kita seperti mereka.” Sorot matanya melempar pandangan pada sepasang kekasih, berpenampilan modis dan gaul. Wanita itu tampak manja menggandeng tangan dan menyandarkan kapalanya ke pundak si pria sembari melangkah masuk ke dalam resto.


“Bang, nggak usah ikut-ikut orang lain!” Aku memanyunkan bibir.


“Kenapa? Kita sah dan tidak berdosa untuk melakukan itu kan?" komentar Azzam.


Aku menimbang-nimbang permintaannya. Ah! rasanya tidak masalah menyenangkan hati abangku sebentar, dia kan besok akan berangkat juga! Jadi aku akan terbebas darinya. Aku tersenyum puas.


“Gimana mau?” Tanya Azzam ketika melihatku bengong sambil senyum-senyum sendiri.


“Ya sudah. Ayo!” Aku menyeret lebih dulu langkahnya sambil mengeratkan pegangan ke lengan kiri Azzam.


Azzam tersenyum senang, tanpa menyia-nyiakan kesempatan paling berharga itu, Azzam mengeratkan pegangannya. Mereka berdua dengan langkah gontai memasuki RESTO. Keadaan sekitar sangat ramai, ada meja dan kursi yang disediakan outdoor juga.


Mereka ada yang datang bersama dengan pasangannya, ada yang datang bersama dengan keluarganya, demi bisa berkumpul. Mungkin inilah momen weekend berharga bagi mereka untuk meluangkan waktu kumpul bersama keluarga.


Azzam mengarahkan aku ke meja bernomor dua belas. Kami duduk berhadapan satu sama lain. Dari raut wajahnya, aku tahu Azzam saat ini sangat bahagia. Aku jadi merasa bersalah, harusnya aku melakukan ini dengan ikhlas untuk menyenangkan hati suamiku.


“Abang, kenapa mesti jauh-jauh cari tempat makannya?” Aku duduk dengan tenang sambil menaruh tas ke kursi di sebelah.


Azzam melepas kacamata minusnya. “Bukannya Nisa selalu menginginkan tempat yang jauh-jauh kalau keluar dengan abang? Supaya tidak bertemu dengan teman-teman sekolah.”


Aku menggaruk keningku. Iya juga sih, kenapa aku jadi linglung sendiri!


Azzam meraih daftar menu yang diberikan. Sementara diam-diam aku tidak leka memandang penampilan barunya. Wajah Azzam benar-benar berbeda malam ini. Kenapa aku baru sadar tenyata dia rupawan dan sangat karismatik. Wajahnya bersinar, mungkin bawaan dari air wudhu yang selalu membalut wajahnya. Azzam pernah mengatakan bahwa jika kita bepergian kemana pun alangkah bagusnya kalau kita selalu menjaga wudhu kita.


Orang-orang yang senantiasa menjaga wudhunya akan senantiasa terjaga pula dari maksiat. Selain itu, orang yang selalu menjaga wudhu akan selalu dijaga oleh Allah SWT dari segala bentuk maksiat. Dalam firman-Nya, Allah SWT menyebut kecintaannya kepada orang-orang yang senantiasa bersuci dan menjaga kesucian. “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” [QS. Al-Baqarah: 222]


“Nisa, kamu yang pilih menunya ya?” Seru Azzam, seraya menyingkir dari kursi.


Mataku mengerjap-ngerjap terkejut. Akhirnya aku menyadahi untuk memandang wajah Azzam.


“Mau kemana?”


“Ke mobil sebentar. Abang baru ingat kalau dompet abang tertinggal di dalam,” kilah Azzam. Padahal ia sedang mengambil surprise yang sudah disiapkannya.


Aku mengiyakan permintaannya, dan meraih daftar menu. Netraku menyisir nama-nama menu yang disediakan. Sebenarnya aku sedikit tahu makanan kesukaan Azzam dari umi. Katanya ia menggemari ayam panggang dan aku memilihkan menu itu untuknya.


“Mas, saya pesan bakar ayam, bistik shanghai, fu yung hay ayam, iga bakar lada hitam. Minumnya lemon tea, juice alpukat sama ice cream vanila. Semuanya satu satu ya, Mas?”


“Iya, mbak. Mohon sabar menunggu.”


“Terima kasih.”


Aku mengeluarkan ponsel untuk menyibukkan diri agar tidak bosan menunggu pesanan datang. Azzam juga belum muncul-muncul daritadi. Aku tidak suka sendirian kalau di tempat ramai seperti ini. Rasanya mirip anak hilang.


“DHANISA!” panggil suara itu dengan melengking dan hampir membuat beberapa pengunjung terkejut.


Aku mengangkat kepala, mencari sumber suara.


Mataku sedikit menyipit, berusaha mengenali pria yang melambaikan tangan ke arahku. Aku membelalakkan mata terkejut bukan main. Dia berjalan cepat ke arahku dengan senyum yang sangat merekah.


“FEY!” ujarku kaget seraya berdiri dari kursi. “Kok kamu bisa di sini juga?” Mataku masih terbuka lebar menyaksikan Fey sudah ada di depan.


“Ya ampun Nisa kamu cantik sekali malam ini,” sahut Fey sembari ngeluyur memeluk aku dengan erat. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain diam tak bergerak. Aku bingung harus mengekspresikan situasi ini bagaimana. Ini situasi yang telalu mendadak dan begitu mengejutkan bagiku. Aku menarik diri dari pelukan Fey, dan tersenyum kaku.


“Kamu dengan siapa ke sini?” tanya Fey sambil melirik ke kiri dan ke kanan. Fey menarik kursi yang ada di sebelah dan mengambil posisi duduk tepat di sampingku.


Aku mulai panik. Apa yang harus aku jelaskan ketika Azzam datang?


“Nisa....” Panggil Fey lagi.

__ADS_1


“Apa?” sahutku yang masih gugup dan cemas.


“Kamu sama siapa di sini? Dengan Jihan?” tanya Fey memperjelas.


Aku menghela napas pelan, mencoba rileks.


“Nggak, Jihan sibuk!” balasku singkat.


“Pasti dia sibuk belajarkan? Dia memang perempuan yang rajin. Rajin belajar, rajin memasak, nggak neko-neko,” jelas Fey, menerangkan sikap sahabat perempuannya itum


Aku terkekeh pelan. “Iya Fey.”


“Oh iya, kamu belum jawab pertanyaan aku. Kamu sama siapa ke sini?” Fey mengulang pertanyaan tadi.


Aku mengigit bibir, berpikir keras harus menjawab apa? Aku begitu sulit menelan saliva, sekarang aku butuh minum untuk melegakan tenggorokan.


“Aku dengan abang sepupuku,” jawabku kaku.


“Cuman berdua?”


Aku menyengir menutupi kekakuan yang aku rasakan. “Iya, cuman berdua.”


“FEY!” suara teriakan kembali terdengar.


Dari kejauhan aku melihat dua laki-laki berjalan cepat ke arah kami.


“Jovan”


“Sadam!”


Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan apakah ada teman-temanku yang lain selain dua orang ini.


Tanpa permisi Jovan langsung nyelosor ingin memeluk sahabatnya.


Dengan sigap Sadam menarik kerah baju Jovan, hingga membuat tubuhnya tertahan. “Apaan, mau meluk-meluk. Haraam tau!”


“Siapa yang mau meluk, orang aku mau cepaka-cepiki dengan Nisa. Huh!” Jovan membantah pemikiran Sadam. “Lagian sejak kapan kamu tau tentang halal dan haram!” bantah Jovan terkekeh.


“Sejak aku menonton tausiyah singkat ustadz di tv-tv.”


“Terus kalau gitu, kenapa kamu masih mau berharap buat jadi pacar Khariza, padahal pacaran itukan nggak boleh. Yang boleh itu pacaran setelah menikah,” protes Jovan tidak mau kalah.


Sadam menggaruk kepala, merasa yang dikatakan Jovan memang tepat. “Heh! kok kamu tau masalah begituan!”


“Iyalah. Kan aku belajar dari Jihan.” Jovan menaikkan sebelah alisnya. “Liat tuh sampai sekarang dia belum pacaran karena dia nggak mau dosa.”


Aku menggebrak meja pelan. “Aduh! Kalian kalau mau beradu argumen jangan di sini! Sono di pengadilan atau ikut lomba debat sekalian.” Aku mencebik kesal. Kedatangan mereka benar-benar mengganggu.


Aku menatap Fey. “Fey, kamu ke sini dengan dua curut ini?”


Fey menggaruk keningnya. “I-Iya.” Fey tampak menjawab dengan kaku pertanyaanku. Aku sedikit merasa aneh.


“Kami ke sini makan, sekaligus memastikan dinner pertama Fey deng ...” Sadam menutup mulut Jovan rapat-rapat. Dia tahu temannya yang satu ini keceplosan mengucapkan kalimat barusan.


“Dinner?” Dahiku bertaut, tidak paham maksud mereka. “Fey dinner?”


Aku melotot ke arah Fey. “Kamu dinner dengan siapa?”


Fey diam membeku. Tidak menjawab pertanyaan. Aku mencoba membaca raut wajahnya yang menegang. Dia mengulum bibir, tampak cemas.


Fey memberanikan diri memegang tanganku. Aku bisa merasakan tangan Fey yang dingin. “Nisa maaf, kalau aku dinner tanpa memberi tau kamu,” Fey merasa bersalah.


Aku melepaskan pegangan tangan Fey. “Lupain kata maaf itu. Sekarang aku mau tau kamu dinner dengan siapa?”


Aku melihat-lihat sekitar. Siapa tahu aku mengenali orang lain di sekitar sini. Dari bilik utara perempuan itu muncul, sama arahnya dari awal mula Fey keluar. Aku tersenyum sinis, sekarang aku sudah tahu siapa teman dinner Fey. Dia berjalan dengan penuh percaya diri.


“Fey kamu kok ninggalin aku sendiri sih, aku masih di toilet tau! Tega banget!” gerutu perempuan itu sambil menghentakkan kakinya berkali kali.


Fey memejamkan matanya rapat-rapat.


Aku mengangguk paham. “Oh, dengan perempuan ini!” Perempuan yang aku maksud adalah Requeensha. “Ternyata semua laki-laki sama, mudah sekali dirayu dan akhirnya berpaling pada wanita lain.” Aku tersenyum sinis, dan membuang muka ke arah lain.


Dari arah pintu masuk RESTO terlihat Azzam berjalan melangkah masuk kembali. Aku diam mematung. Tapi aku sudah punya alasan, kalau Azzam bertanya.


Dan akhirnya..... Azzam sudah berdiri di hadapan kami dengan tatapan binggung. Aku tahu dia pasti binggung kenapa teman-teman and the genk ku bisa kumpul di sini.


***


SKIP


______

__ADS_1


Terima kasih sudah menyempat untuk mampir, boleh beri kritik dan sarannya ya. Plus vote boleh juga.


__ADS_2