
Matahari semangkin merangkak turun, merubah warna menjadi senja kekuningan. Sebentar lagi sore akan dijemput malam. Aku mengambil beberapa baju dan menjejalnya ke dalam tas ransel berukuran sedang. Bersiap mengungsi ke rumah umi malam ini selama tiga malam saja, sesuai permintaan Azzam.
Notifikasi panggilan video call via skype masuk.
"Assalamu'alaikum anak ibu," suara ibu menyapa dari seberang sana.
"Wa'alaikumsalam," kataku menyapa ibu Hamidah dengan raut tidak kalah berbahagia. Sudah hampir tiga minggu aku baru bisa melihat wajah ibu lagi. Biasanya ibu hanya meneleponku via telepon biasa.
"Ibu kenapa baru menghubungi Nisa lagi sih. Nisa kangen," nadaku dengan sedikit bermanja dengan mereka. Jujur aku sangat merindukan mereka. Meskipun hanya sebagai orang tua angkat tapi mereka tetap memperlakukan aku seperti anak kandungnya.
"Aduh, maaf sayang. Ibu sama ayah masih sibuk," suara ibu terdengar sedikit kecewa saat menuturkan alasannya.
Aku merengut. "Ibu dan ayah kapan bisa pulang?"
"Belum tau sayang," sahut Ibu.
"Nisa?" suara ayah Ahsan memanggilku. "Nisa sehat, Nak?"
Mendengar sapaan ayah Ahsan muka merengutku seketika sirna. Aku balik tersenyum senang, melihat wajah ayah Ahsan dari ponsel. Dia tampak sangat senang bisa melihat aku lagi meskipun via skype.
"Sehat, ayah. Ayah kapan pulang ke Indonesia. Nisa ngerasa sepi nggak ada ayah," kataku merengek.
Aku memang suka sekali bermanja dengan ayah Ahsan. Dia ayah yang baik dan lembut pembawaannya. Ayah Ahsan memiliki paras yang hampir mirip dengan ayah kandungku, maklum saja mereka kan memang adik beradik, jadi kalau aku rindu dengan ayah aku tinggal melihat wajah paman Ahsan karena aku merasa seperti melihat ayahku sendiri.
"Ayah belum bisa pulang ke Indonesia, anak ayah sayang. Bagaimana rumah tangga Nisa baik-baik saja kan?"
Aku mengangguk. "Iya"
"Alhamdulillah. Gimana enakkan tinggal berdua dengan Azzam?"
Aku tersenyum lebar. "Iya sih, cuman Nisa sebel dengan abang!"
"Kenapa?" tanya ayah.
"Nisa, selalu kena ceramah, Ayah," kataku mengeluh dengan ayah, yang dibalasnya dengan kekehan dari ibu.
"Itulah makannya Nisa sebagai seorang istri harus patuh dan taat dengan suami, jangan suka negbantah," suara ibu menyahut.
Aku mendengus. "Ish! Ibu senang liat Nisa begini ya! Ibu Azzam itu benar-benar ngeselin. Sumpah! Bosen Nisa disuruh di rumah terus. Nisa mau cari laki-laki lain ah yang seru!" kataku memprovokasi.
Aku yakin setelah mendengar kalimatku. Ibu pasti akan berceloteh geram. Sudah menjadi kebiasaannya kalau aku bercakap aneh-aneh.
"Hust, kamu ngomong apasih? Syukurilah apa yang sudah kamu miliki sekarang. Dalam hidup, orang-orang sangat mengharapkan bisa menempuh masa sakral pernikahan hanya dengan sekali saja Nisa! Ini kamu mau cari laki-laki lain." Ibu menggeleng-geleng sebal.
Sudah aku duga he-he. Aku menahan sedikit tergelakku saat ibu berceloteh.
"Nisa?" Ayah Ahsan mengambil alih handphone yang dipegang ibu.
"Iya, Yah."
"Walaupun Nisa sudah 18 tahun dan sudah bersuami tapi ayah lihat Nisa masih seperti putri kecil paman dulu. Masih melekat sifat manjanya."
Aku balik menyengir lebar, merasa malu.
"Nak, ayah ingin tanya apa Nisa marah dengan ayah dan ibu setelah kami memutuskan untuk menikahkan Nisa dengan Azzam?"
"Dulu iya, tapi sekarang enggak he-he," cengirku sambil membuka lembaran-lembaran buku yang ada di atas meja kerja Azzam.
Aku lihat dari layar ponsel ayah menoleh menatap ibu sambil memperbaiki letak kacamatanya.
"Sejujurnya kita berdua hanya ingin Nisa menjadi perempuan yang lebih baik, bisa mengenal dan paham akan agama, lebih mendekatkan diri pada Allah. Dan kita yakin Azzam akan mampu membimbing Nisa. Nisa maukan menjadi anak sholeh?"
Aku diam, belum menyahuti pertanyaan ayah.
"Bagi orang tua tentu begitu senang memiliki anak yang sholeh dan sholehah karena itu adalah dambaan dan harapan setiap orang tua. Mempunyai anak yang sholeh dan sholehah mereka akan didoakan oleh anaknya dan itu menjadi bekal bagi orang tua agar mendapatkan amalan yang tidak pernah putus walau sudah meninggal."
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
"Apabila seseorang mati, seluruh amalnya akan terputus kecuali 3 hal: sedekah jariyah, ilmu yang manfaat, dan anak sholeh yang mendoakannya.” (HR. Muslim 1631, Nasai 3651, dan yang lainnya).
Selain itu, Allah juga berfirman dalam surah At-Thur ayat 21, yang artinya:
"Orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.” (QS. At-Thur: 21).
"Begitu ya Ayah?" Aku duduk sambil bertopang dagu dengan satu tanganku. Ada satu pikiran yang muncul bergelayut. Aku merasa belum menjadi anak yang berbakti sebelum ayah dan ibu meninggal.
"Halo, Nisa?"
"Ayah, Nisa mau jadi anak yang berbakti. Nisa mau jadi anak sholeh yang bisa mendoakan ayah dan ibu Nisa di sana."
"Tapi ayah, apa Nisa masih bisa berbakti dengan orang tua Nisa?" sambungku lagi.
__ADS_1
Ayah menarik sudut bibirnya membentuk senyum, dan kembali berujar lembut, "Nisa masih bisa menjalankan bakti kepada mereka. Meskipun orang tua Nisa sudah meninggal dunia. Cara berbakti kepada orang tua yang telah meninggal adalah senantiasa mendoakan serta memohonkan ampun atas dosa-dosanya."
Aku mengangguk, mendengar penuturan ayah.
"Tambahan dari Ibu ya, selain berbakti dengan orang tua Nisa juga perlu berbakti dengan suami ya." Ibu yang duduk di sebelah ikut menimpali perkataan ayah.
"Hm" balasku singkat.
"Jangan hm...hm aja, Nisa. Dengar apa yang kita katakan!" ketus ibu.
Aku mendengus. "Iya Ibu tiri Nisa yang bawel," guyonku sesaat.
"Ham, bagus."
"Hanya satu pesan ayah, Nak. Berbaktilah pada suamimu. Jadikan dirimu surga untuk suamimu. Sayangi dan hormatilah suami Nisa seperti Nisa menyayangi kedua orang tua. Ingat! Murka suami adalah murkanya Allah jadi hormatilah dia dalam ketaatan dan kebaikan. Ya Nak?" lembut ayah menasehati.
Aku mengangguk singkat, kemudian beranjak dari duduk saat mendengar teriakan dari luar yang memanggilku. Aku merapatkan diri ke sisi jendela. Mengintip dari balik gorden yang semula sudah aku tutup rapat.
*Fey!
Ngapain lagi sih tu anak*? kataku bergumam.
"Kenapa, Nisa?" tanya ayah saat mendengar aku bergumam.
"Ahm, ada orang di luar ayah."
"Siapa? Fey?" tanya ayah, dan sepertinya ayah mendengar gumamanku.
"Iya,"
"Nisa? Kamu masih sering jalan dengan Fey!?" suara ibu bertanya dari seberang.
"Ih, Ibu nuduh-nuduh aja!" kataku mengelak tuduhan ibu.
"Ya, apalagi. Jangan mentang-mentang Azzam tidak ada di rumah kamu bisa seenaknya keluar dengan teman laki-lakimu, Nisa!" suara ibu meninggi, saat ibu tahu aku masih sering bertemu Fey.
"Bu, kan Fey cuman temen Nisa. Dia mungkin ada perlu," kataku menyangkal pernyataan ibu. Meskipun sebenarnya aku berdusta.
Nisa, aku mohon kamu keluar sekarang! Aku mau jelasin semuanya, kalau aku nggak ada hubungan apa-apa dengan Requeen karena aku cuman suka dan cinta sama kamu!! Kamu akan selalu jadi pacar aku!
Teriak Fey dari luar dengan begitu keras. Aku memejamkan mata rapat-rapat, sambil mengertapkan gigi. Kelakuan Fey benar-benar membuat aku kesal. Dengan begini ibu dan ayah tentu dengar teriakan itu dan aku bahkan yakin sebentar lagi ibu akan lebih murka dari sebelumnya.
"Nisa?" Aku lihat dari layar ponsel kalau ibu menatap dengan melotot, aku tak berani menatap ponselku sendiri. "Nisa jangan kamu kira Ibu tidak dengar apa yang Fey bilang! Sekarang Ibu mau tanya"
"Apa Nisa ada hubungan dengan Fey?"
Kan sudah aku duga
Aku mengigit ujung kuku. Aku harus jawab apa?
"Hubungan apa sih ibu? Nisa memang ada hubungan dengan Fey, hubungan sahabat," dustaku.
Ibu menggeleng. "Bohong! " potong ibu cepat. "Kamu kira ibu tidak tau. Kamu ada hubungan dengan Fey lebih dari itu kan?"
"Kamu pacaran dengan Fey, Nisa!?" sambung ibu lagi dengan suara meledak-ledak. Sampai-sampai aku melompat kaget dan mata terbuka lebar. Aku tergeragap.
Aku memejamkan mata sepersekian detik. Menetralkan pikiran dan perasaan cemasku. Aku tidak tahu harus bilang apa dan menjelaskan apa ke ibu.
"Kenapa diam!? Kamu mau cari alasan!?"
Ayah memberi kode supaya ibu bisa berbicara dengan tenang dan pelan. Tak lama setelah itu, ayah lagi yang berbicara.
"Nak, apa benar yang Ibu kamu duga?" pelan ayah bertanya. "Bilang kau itu salah, Nak!"
Aku menarik napas dalam-dalam, memasang keberanian penuh untuk mengakui semuanya. "Ayah, maafin Nisa karena yang ibu bilang itu benar."
Ayah memegang kedua pelipisnya. "Astagfirullah Nisa. Apa yang kamu lakukan, Nak. Nisa tau itu dosa Nisa."
Aku mengigit bawah bibir, saat melihat ekspresi ayah begitu kecewa dengan sikapku.
"Apa Azzam tau?"
Aku menggeleng cepat.
Ayah menggeleng berkali-kali, aku mendengar ayah beristigfar selepas mendengar pengakuanku.
"Bu, Ayah maaf," kataku merasa bersalah.
"Nisa, jangan minta maaf ke ayah dan ibu. Tapi minta maaflah dengan suamimu dan mohon ampun pada Allah."
"Nisa, kalau ayah tidak pernah melarang Nisa untuk berteman dengan siapapun termasuk Fey. Tapi sekarang Nisa itu harus tau status Nisa sudah menjadi seorang istri. Seharusnya Nisa tahu bagaimana menjaga marwah seorang istri. Kenapa Nisa malah melakukan kesalahan itu? Apa kurangnya Azzam."
__ADS_1
Ayah menelan salivanya dan lanjut berujar, "Ayah sengaja memilihkan Azzam sebagai suami Nisa karena ayah tau Azzam laki-laki sholeh. Dia akan memuliakan istrinya dengan cinta yang dimiliki. Jika tidak cinta pun, ayah yakin Azzam akan tetap memuliakan kamu dan bersikap adil. Dan ayah percayakan itu pada Azzam. Tapi malah kamu yang tidak menjaga kepercayaan suamimu, Nisa."
Aku tertunduk diam. Sementara Ibu masih terus mengoceh tidak jelas. Entah apa yang mereka berdua bicarakan di sana. Mereka berdua seperti sedang berunding dengan suara yang dipelankan.
Ayah mendehem mencoba menetralkan suaranya kembali. Ahsan berusaha untuk sabar dan tidak emosi seperti Bu Hamidah.
"Nisa, sekarang temui Fey dan suruh dia pulang. Kalau sudah pergilah berkemas barang dan pergi ke rumah umi," pinta ayah kemudian. "Kalau gitu ayah tutup skype-nya dulu. Assalamu'alaikum."
Ayah pasti kecewa sekali karena perbuatanku. Saat menutup telepon pun raut wajahnya tak sedap, dan Ibu seketika pergi. Ibu mungkin yang paling murka. "Wa'alaikumsalam"
Aku mengepalkan tangan seraya mengertapkan gigi. Fey! geramku menyebut namanya.
Dengan langkah cepat, aku keluar menemui Fey. Tepat di ambang pintu langkahku terhenti. Fey tiba-tiba hadir dengan menyodorkan sebuah buket bunga.
"Nis, aku minta maaf," katanya sambil berlutut di depan. "Aku ngaku salah, aku mohon kamu jangan bersikap dingin seperti itu. Sudah berapa hari ini kamu nggak mau angkat telpon aku."
Aku mengangkat sebelah alisku. "Kamu nggak usah dramatis gitu. Buruan bangun!" ujarku acuh tak acuh. "Aku rasa nggak ada yang perlu dibicarakan lagi. Mending kamu pulang! Karena aku harus pergi," kataku tanpa melihat sedikitpun ke arah Fey.
"Nggak! Aku nggak akan pergi sampe kamu maafin aku!" kata Fey ngotot.
Aku membuang napas berat. Fey membuat aku semangkin geram, dia sangat keras kepala. Tidak ada pilihan lain selain mengiyakan permintaan Fey. Jika tidak masalahnya dia tidak akan pergi dari hadapanku. Aku muak.
"Iya. Sekarang kamu bangun dan pulang."
Fey bangun seketika. Menatap kedua manik mataku dengan intens. Aku tak membalas tatapan itu, aku lebih memilih melihat objek lain selain harus menatap muka Fey.
"Ini bunga kesukaanmu." Menyodorkan bunga yang berada dipangkuannya. "Terima kasih ya" ujarnya tersenyum.
Aku memaksakan senyum tersungging di wajahku.
Tanganku yang masih berada di samping di raihnya dan menaruh buket itu dipangkuan tangan. Aku diam saja melihat apa yang dilakukannya. Beruntung tak lama setelah itu, aku lihat Abang Fikri datang menjemputku. Setidaknya aku punya alasan untuk mengusir dia.
"Mending kamu pulang sekarang. Aku sudah dijemput!" Aku melihat ke arah abang Fikri yang baru saja memarkirkan motor di garasi samping. Fey turut menggerakkan kepalanya ke samping.
"Kamu mau kemana?" tanya Fey kemudian.
"Aku mau nginap di rumah tante."
Fey hanya membalasnya dengan mengangguk singkat. "Ya udah, aku pulang dulu. Assalamu'alaikum," ucapnya sebelum berlalu menunggapi motor miliknya.
Aku baru balik ke dalam, setelah motor Fey keluar pekarangan dan menghilang dari balik pagar rumah.
"Nisa ayo," seru Abang Fikri dari atas motornya.
"Iya sebentar Bang."
Bunga pemberian Fey aku simpan di meja belajar dan pergi mengambil tasku yang bersadar di samping nakas. Setelah memastikan setiap bagian terkunci rapat mulai dari pintu kamar dan jendela. Aku berjalan keluar.
"Semuanya sudah dikunci?" tanya Abang Fikri, melihat aku sudah muncul dari balik pintu dengan tas ransel sedang.
***
"Ayah bagaimana kalau kita bawa saja Nisa ke sini, dan lupakan tentang pernikahan mereka," ucap Ibu sambil memberikan ayah segelas kopi hangat.
"Ibu tidak tahu harus bagaimana menyampaikan ini ke keluarga Hamzah. Padahal niatan baik kita hanya ingin merekatkan kembali hubungan keluarga dengan menikahkan mereka. Bahkan kita sampai memohon. Alhamdulillah-nya mereka setuju. Tapi apa yang akan mereka rasakan saat tau anaknya dipermainkan. Coba ayah pikir," lanjut ibu semangkin frustasi.
"Bisa-bisanya anak itu bermain dengan laki-laki lain," gumam ibu, dengan menggerutu kesal.
Ayah menarik napas sabar. "Maksud ibu kita minta mereka berdua untuk berpisah?"
"Iya."
"Tapi, apa yakin? Apa hanya ini satu-satunya jalan Bu?"
"Untuk apa dipertahankan kalau salah satu dari mereka tidak bisa menjaga kepercayaan. Lagian ibu tau kenapa Nisa melakukan itu karena dia tidak suka pernikahan ini."
"Iya ayah tau. Kita memaksa Nisa untuk menerima perjodohan, dan Nisa sama sekali tidak mencintai Azzam. Namun, bukannya seiring berjalannya waktu rasa itu akan ada. Karena mereka selalu bersama bukan?"
"Iya, Yah. Tapi liat buktinya sekarang. Itu semua tidak terjadi. Nisa malah melukai hati suaminya. Bagaimana kalau Azzam tau."
Ayah Ahsan semangkin pelik, bingung dengan keadaan ini.
"Ayah jangan diam"
"Iya Ayah sedang berpikir ini!"
Ibu menatap ayah dengan raut wajah yang serius. Ia mendekatkan wajahnya dan berujar pelan. "Apa besok lusa kita ke Indonesia untuk menjemput Nisa dan menemui keluarga Hamzah. Kita jelaskan semuanya," cetus ibu seketika.
"Tapi bagaimana ceritanya. Sekoyong-koyong kita datang meminta supaya mereka berdua bercerai. Lebih baik kita dengar dulu keputusan Azzam."
***
__ADS_1
SKIP