Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 92. Hadiah Spesial


__ADS_3

Sementara Rara tidak sedang berada di kamar. Ridho masih betah memainkan ponselnya, bukan sedang membalas pesan atau mencari kontak yang ingin dihubunginya. Tapi Ridho tengah memandangi wajah cantik istri Azzam dari layar ponsel pintarnya. Foto yang sengaja ia curi dari beranda facebook milik Dhanisa.


Berkali-kali ia mengigit bibirnya menahan sebuah rasa yang tak bisa ia lampiaskan begitu saja.


Tak lama Rara datang, masuk ke kamar. Ia tampil lebih segar dan harum. Rara segera mendekati Ridho yang tengah berbaring di kamar.


"Kamu sudah pulang, Mas?"


Ridho cepat menyingkirkan ponsel dari hadapannya ketika suara Rara telah datang menyapanya.


"Iya."


"Bagaimana tadi, apa jenazahnya akan dikemuikan juga malam ini, Mas?"


"Tidak. Besok baru akan dikebumikan Ra. Karena masih menunggu orang tua almarhum dulu dari sumatera barat malam ini. Jadi, keluarga akan memakamkannya esok."


"Semoga keluarga diberi ketabahan ya, Mas."


Rara sengaja semangkin mendekatkan tubuhnya pada Riho. Aroma wangi bunga tercium dari tubuh Rara.


Ridho memejamkan mata rapat-rapat menghirup aroma wangi bunga yang melekat di tubuh Rara sembari membayangkan Dhanisa tengah berada di depannya.


Ridho hampir saja sempat terbuai dengan sentuhan tangan Rara yang mendarat dipipinya. Ia masih membayangkan tangan Dhanisa yang membelainya. Seutas senyum akhirnya tersungging dari pipi Ridho malam itu.


"Dhanisa, sungguh tidak bisa menghalau hasratku. Bagaimana kamu supaya tahu bahwa sungguh aku tergila-gila padamu Dhanisa. Apa aku perlu menculikmu?" Batin Ridho, pikirannya berkelana kemana-mana. Dan isi otaknya hanya dipenuhi oleh bayang-bayang Dhanisa, yang menurutnya kian hari kian mempesona.


Rara tersenyum senang. Sudah lama sekali ia tak melihat Ridho menatapnya sedalam dan segairah ini.


Rara sangat merindukan suaminya. Telah lama Ridho tak membiarkan ia menyentuhnya. Rara tak mau melewatkan kesempatan untuk bermesraan dengan kekasih halalnya.


Ridho membuka kedua matanya dan betapa terkejutnya ia saat melihat wajah Rara yang terpejam menikmati sentuhannya.


Ridho segera bangkit, mendorong tubuh Rara. Napasnya memburu.


"Ada apa, Mas?"


"Hentikan, Ra. Kita tidak boleh seperti ini!" ucap Ridho.


"Kenapa, Mas. Aku berdandan cantik malam ini hanya untukmu. Bukankah kita sudah lama tidak melakukannya?" tanya Rara.


"Maaf Ra. Aku belum bisa mengikuti keinginanmu malam ini. Lagi pula percuma kamu melakukan ini, aku sungguh tak tertarik padamu." Jujur Ridho.


Bagai tersambar petir. Rara terkejut mendengar perkataan Ridho, hatinya terasa sakit. Kedua tangannya saat ini meremas dan menutup erat kancing bajunya. Ridho segera bangkit, beranjak dari ranjang dan pergi meninggalkan Rara sendiri. Tangis Rara pun pecah seketika. Ia sungguh merasa malu, suaminya tak menganggap apa-apa penjuangan Rara demi memuatnya senang. Tak tatkala sakit bagi Rara adalah karena menggoda laki-laki yang tak lagi mengharapkannya.


Hatinya merasa tercabik-cabik. Ini sudah kesekian kalinya, Ridho kembali menolak hasrat istrinya.


***


Sementara Azzam di luar tengah cemas bercampur panik, tengah mencariku. Aku di dalam kamar sedang cekikikan, tertawa puas.


"Maafin aku ya untuk kali ini." Tuturku memegang foto Azzam.


Aku dan Umi tengah bersekongkol menyiapkan kejutan untuk Azzam yang tengah berulang tahun yang ke 28 tahun. Aku meminta umi supaya umi pura-pura panik, seolah-olah aku hilang diculik. Aku sendiri tidak tahu apa yang dilakukannya saat ini, yang jelas di kamar ini aku tengah mempersiapkan kue tart untuk Azzam dan menghiasnya dengan lilin kecil di atas kue. Tak lupa aku meletakkan foto Azzam, berukuran kecil di atas kuenya.


Aku tersenyum dan merasa puas. Semoga Azzam suka dengan kejutan ini. Meskipun aku tahu dia pasti cemas tidak ketulungan. Tapi tidak apa-apalah untuk kali ini.


"Azzam coba kamu cek dulu di kamar siapa tau ada sesuatu yang memberi bukti bahwa Nisa memang benar diculik atau malah Nisa sendiri yang kabur. Tapi sebelumnya, Umi ingin bertanya apa kalian bertengkar tadi sore?"


Terdengar samar-samar suara umi dan Azzam sedang bercakap di luar.


"Bertengkar, Umi?" suara Azzam.


"Iya, Nak. Siapa tau Nisa merasa sakit hati karena ucapan yang tanpa sengaja kau ucapkan, Nak. Atau kau pernah menuduhnya yang tidak-tidak."


"Umi, Azzam tidak pernah mengatakan sesuatu yang menurut Azzam bisa menyingung perasaannya. Apalagi aku tau, tadi siang Nisa tengah merasakan sakit diperutnya dan dia sangat membutuhkan istirahat untuk pemulihan kondisi tubuhnya."

__ADS_1


Azzam meremas tangannya yang mulai dingin. Matanya masih tampak bengkak dan memerah karena ketika dirinya tengah terlelap tiba-tiba ia menyadari kalau Nisa tidak ada di sebelahnya. Dan bertepatan di luar umi terpekik mendengar suara pecahan kaca dengan batu yang dibungkus sebuah kertas bertuliskan. "Aku membencimu." Hal itu tentu membuat Azzam semangkin binggung, apa maksud tulisan itu. Apa itu teror dari yang menculik Nisa. Atau??


"Umi, Azzam sangat takut terjadi sesuatu pada Nisa dan calon anak kami, Umi. Apalagi sekarang sudah tengah malam," panik Azzam.


"Sungguh, Umi. Azzam tidak akan bisa memaafkan diri sendiri sendiri kalau sesuatu yang buruk terjadinya padanya." Mata Azzam mulai berkaca-kaca. Sungguh ia sangat takut peristiwa buruk yang melintas dipikirannya benar terjadi.


"Kita berdoa saja, Nak. Sekarang cepat kamu masuk ke kamar, periksa barang-barang di kamar siapa tau ada yang bisa dijadikan petunjuk. Jika tidak ada, sebaiknya kamu segera mencari Nisa sebelum yang menculiknya itu pergi jauh dari wilayah ini"


Tanpa berkata lagi, Azzam masuk cepat ke dalam kamar. Bukan di kamar utama. Tetapi di kamar bawah yang sebenarnya diperuntukkan untuk tamu. Sejak sakitnya istrinya itu. Azzam meminta untuk sementara ini kami berdua pindah kamar ini.


Derap langkah kaki Azzam cepat menuju kamar dan pintu mulai berderit saat pintu dibuka. Aku mulai memasang ancang-ancang. Lampu kamar masih sengaja diredupkan hanya diterangi penerangan dari lampu tidur. Setelah, ia masuk baru lampu utama akan kembali dinyalakan.


"Taraaaa.... " ucapku ketika melihat wajah Azzam menyembul dari balik pintu kamar.


"Haha... Yeyeye... Sukses!" Aku tertawa puas karena berhasil membuatnya kesal. Usahaku untuk mengerjainya malam ini berhasil.


Sementara, di sisi lain Azzam diam sejenak menyaksikan apa yang terjadi dihadapannya saat ini. Aku tahu diamnya saat ini, pasti terkejut dan tak menyangka aku tiba-tiba hadir dihadapannya.


Aku mulai menyalakan lampu utama. Wajah Azzam sekarang tlah terlihat jelas. Terlihat jelas kalau dia sangat bingung dengan apa yang dilihatnya.


"Mabruk alfa mabruk alaika mabruk, sayang," kataku memberi ucapan selamat, lalu mencium keningnya.


"Ya Allah sayang ini sungguh tidak lucu. Sungguh abang benar-banar panik tadi." Azzam melayangkan protes.


Aku tegelak puas. "Iya, sorry...sorry, abang. Kalau nggak gini kan nggak seru. Hahaha."


"Nggak seru sih nggak seru, tapi jantung abang seperti mau copot tau Nisa hilang. Abang pun takut kehilangan istri dan anak abi ini"


"Tapi nama Nisa di hati abang nggak pernah hilangkan?" cengirku.


"Bisa saja kamu." Azzam mencoel hidungku.


Azzam menghembuskan napasnya. "Tapi, bersyukurlah ini cuman sandiwara. Terima kasih sayang dan anak abi untuk kejutannya."


Sebelum Azzam mematikan lilin yang menyala di atas kue tart. Ia mengajakku untuk berdoa bersama. Kami berdua lalu menengadah tangan, bedoa dengan khusyuk. Aku turut mengaminkan doa yang dilisankan Azzam. Beru kemudian lanjutkan meniup habis lilin yang menyala di atas kue.


Tidak aku sangka Azzam meneteskan air mata harunya. Aku mengusap wajahnya yang berseri. Luapan bahagia tentu dapat terpancar dari wajahnya.


"Sekali lagi terima kasih banyak sayang untuk semuanya. Abang sangat mencintai kalian," ujar Azzam sembari memelukku erat dan mengecup keningku.


Azzam tersenyum bahagia.


"Selamat ulang tahun anak umi, calon abi sekarang ya. Semoga Azzam tetap menjadi pemimpin yang baik bagi keluarga, bagi istri dan anakmu."


"Terima kasih banyak, umi." Azzam memeluk dan mencium pipi umi.


"Jangan bilang umi juga ikut andil dalam rencana Nisa ini ya?"


Umi tersenyum. "Umi, sekali kali nggak apa ya, Nak," guyon Umi.


"Abang, ini ayo potongin dong kuenya. Ini buatan Nisa sendiri lho tadi siang. Cuman Nisa nggak batuin Umi sampai selesai karena tiba-tiba perut Nisa sakit."


"Ya Allah sayang, jadi buat kue ini yang buat kontraksi di perutmu. Harus Nisa tidak perlu repot-repot begini sayang untuk tidak terjadi apa-apa dengan calon anak kita."


"Syukurlah, Allah masih melindungi kami," ucapku.


Azzam mulai memotong kue yang aku buat bersama Umi kemudian menyuapkan ke mulutku dan umi secara bergantian.


Usai memberi kejutan itu, umi kembali beristirahat karena umi juga tidak boleh tidur terlalu larut dan tetap menjaga kondisi tubuhnya.


Di kamar, tinggal kami berdua. Kejutan belum sampai di sini. Aku masih menyediakan kado spesial untuknya. Kalau di ulang tahunku beberapa bulan lalu Azzam menghadiahiku kado kalung liontin. Meski saat itu, aku sangat ingat betul kalau aku belum menerimanya dengan ikhlas sebagai suamiku. Tapi seperti batu yang terus ditetesi air. Lambat laun, kasih sayang dan cinta yang senantiasa tercurah bisa membuat celah dihatiku, untuk dia masuk mengisi hatiku yang sebelumnya aku peruntukkan untuk laki-laki lain.


"Sayang, sekali lagi selamat ulang tahun. Semoga senantiasa mendapatkan keberkahan dari Allah. Senantiasa diberi kesehatan. Dab ini ada kado untuk abang dari kita, Nisa dan anak kita." Aku mengambil kotak kado yang aku simpan di dalam lemari. Jauh-jauh hari sebenarnya aku telah mempersiapkan itu untuknya.


"Apa ini?" tanya Azzam, usai menerimanya.

__ADS_1


"Buka saja sayang. Semoga abang suka ya."


Pita yang melingkar di atas box dibukanya. Isinya sebuah Al-Qur'an dan tasbih, hadiah itu aku persembahkan untuknya.


"Abang, Nisa memberikan itu maksud Nisa supaya abang tidak pernah bosan mengajari dan membimbing Nisa untuk senantiasa mengaji dan membenarkan makhrijul huruf Nisa yang masih salah. Begitu juga dengan tasbih ini, supaya kita berdua bisa memenuhi rumah ini dengan Dzikir-dzikir Allah yang senantiasa abang lantunkan."


"Sayang sungguh ini hadiah yang berharga buat abang. Sungguh abang merasa senang sekali hari ini. Terlebih kebahagian semangkin bertambah ketika Allah menganugrahkan janin ini." Azzam mengusap lembut dan penuh cinta di area perut yang masih datar. "Sehat terus anak abi dan bunda." kemudian Azzam menciumnya.


Aku menyungging senyum dan mengurai air mata. "Semoga Allah senantiasa melindungi keluarga kita sayang."


"Amiin"


Perasaanku bergitu tiada terbendung. Kebahagiaan Azzam malam ini, tentu juga menjadi bahagiaku. Aku hanya sedang mengingat bagaimana buruk aku dulu mengacuhkan cinta pria dihadapanku. Harusnya sejak awal aku tidak boleh memperlakukannya demikian, dengan mangacuhkan dia begitu. Namun, aku masih berlaku seperti anak kecil, pendek akal.


"Sayang maafkan Nisa, untuk kesalahan Nisa dulu. Maaf jika cinta ini terlambat hadir untuk abang." Aku menggelengkan kepala, dan balik mencium tangan Azzam berulang kali.


Azzam mendekapku dengan erat. "Sayang, itu masa lalu. Tidak penting membahas itu kembali. Yang penting saat ini kita bisa hidup berdampingan, bahagia bersama, memadu kasih bersama."


Aku kian mengeratkan pelukan untuknya. Sungguh aku benar-benar takut bila harus berpisah dengannya. Bagiku Azzam adalah laki-laki yang sangat aku cintai dan berharap akan terus bersamanya untuk meraih cinta-Nya.


"Jika Hawa tercipta dari tulang rusuk nabiyatullah Adam, maka sayang adalah tulang rusukku bukan milik yang lain," tutur Azzam.


Aku tersenyum usai mendengar kata-kata Azzam. Memegang wajah Azzam dengan kedua tanganku.


"Percayalah sayang sampai saat ini dan sampai kapanpun itu, cinta Nisa cuma untuk abang. Tidak akan ada lelaki lain yang mampu mengoyahkan perasaan dan cinta ini. Nisa cuman mau Abang yang jadi imam buat Nisa."


Azzam tersenyum merekah dan mencium tanganku.


"Terima kasih, sayang."


"Kadang Nisa minta sama Allah, agar kelak Nisa aja yang diambil duluan karena Nisa bahkan mungkin tidak sanggup bila harus ditinggal abang lebih dulu. Jadi biarlah Nisa."


"Sstt... Kenapa bicara begitu sih. Tidak boleh," ucap Azzam. "Kalau Nisa pergi lebih dulu siapa yang akan menemani abang."


"Hamm... Kalau Nisa yang pergi duluan kan abang bisa nikah lagi. Yang penting bukan abang duluan."


"Ahm, sepertinya ide yang bagus."


"Hah? Jadi abang mau nikah lagi kalau Nisa yang mati duluan?" tanyaku sedih bercampur agak kesal.


Azzam tertawa melihat ekspresiku tadi.


"Ih, abang bercanda trus!" kesalku.


Azzam menatapku serius. "Tidaklah sayang, kalau Nisa pergi lebih dulu abang pun tidak akan menikah lagi. Seperti sejak awal janji abang dulu." Ia mengarahkan tangan mengusap kepalaku. "Apapun yang terjadi, siapapun dari kita yang akan mati lebih dulu. Kita hanya bisa berdoa semoga Allah kelak bisa mempertemukan kita kembali sebagai pasangan suami istri yang kekal di syurganya Allah."


Bukan hanya jomblo yang akan diberikan pasangan di surga tetapi juga mereka dari pasangan suami istri di dunia. Pasangan suami istri yang beriman, kelak akan dipertemukan kembali di syurga dan menjadi pasangan yang kekal dan abadi.


Allah swt berfirman:


Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan. (QS. Az-Zukhruf: 70)


Sangat jelas bahwa di akhirat nanti, suami istri akan dipersatukan kembali. Akan tetapi bagaimana dengan salah satu dari istri atau suami tidak masuk surga?


Syaikh Muhammad bin Shalih menjelaskan. "Seorang wanita penduduk surga yang belum menikah di dunia atau suaminya bukan penduduk surga. Apabila wanita tersebut masuk surga. Maka di surga juga ada penduduk surga dari laki-laki yang belum menikah di dunia, mereka akan dinikahkan sesuai dengan kesenangan hati mereka, sementara wanita yang menikah dengan beberapa suami di dunia (setelah suami sebelumnya meninggal) maka suaminya di surga adalah suami terakhirnya di dunia."


Hal tersebut dijelaskan dalam kitab Silsilatul Ahadits As-Shahihah, sebagaimana Rasulullah saw bersabda, "Seorang wanita (di jannah) adalah istri bagi suaminya yang terakhir di dunia."


"Abang ingin, istri abang saat inilah yang menjadi istri terakhir bagi abang," sambung Azzam.


"Sama. Nisa pun begitu. Hanya ingin abanglah satu-satunya laki-laki yang menjadi istri abang di dunia. Supaya nanti di jannah, kita akan tetap dipersatukan sebagai suami dan istri."


Kalimat itu mengakhir obrolan kami berdua, sebelum Azzam mengajakku untuk mendirikan sholat sunnah, bermunajat kepada Allah. Memohon kebaikan disisi-Nya. Baik dunia dan akhirat.


***

__ADS_1


__ADS_2