Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 50. Virus Merah Jambu


__ADS_3

Sore ini, tiba-tiba hujan turun. Aneh saja matahari masih bersinar terik tapi hujan tiba-tiba turun dengan deras. Sore ini, siswa-siswi yang tersisa tinggal kelas 12 usai mengikuti les tambahan belajar.


Hujan deras membuat beberapa kelas harus menunda niatnya untuk segera pulang. Tapi mereka yang memiliki jas hujan, langsung pulang menerobos lebatnya hujan.


Aku menatap ke depan memperhatikan setiap tetes hujan yang jatuh ke bumi.


Di tempat lain, Fey baru keluar dari ruang guru mengantarkan selembaran tumpukan kertas putih, lembar kerja siswa, setelahnya ia keluar mengarah ke parkiran. Fey berhenti sejenak saat merasa tubuhnya mulai basah karena nekat menerobos hujan. Ia membersihkan tasnya yang sedikit kecipratan air hujan.


"Nih tissue!"


Fey menoleh pada tangan yang mengulurkan tissue. Dia adalah Requeen. Fey memang membutuhkan itu, ia menyambutkan dengan senang hati. Requeensha ikut tersenyum.


"Kamu mau pulang hujan-hujan gini?" tanya Requeensha sambil mendongakkan kepala ke atas. Rintik hujan masih rapat dan matahari juga masih bersinar, tidak ada mendung-mendungnya sama sekali.


"Nggak. Tunggu reda aja. Lagian hujan panas gini biasanya nggak bertahan lama," balas Fey sambil mengelap tangannya.


Kedua mata Requeensha tak sengaja menangkap kehadiran Dhanisa sedang berjalan keluar dari ruang seni dan berhenti menyandarkan punggungnya di tiang.


"Kita ke sana aja, yuk. Supaya bisa memantau parkiran udah sepi atau belum, jadi kita bisa pulang." Requeen menyeret tangan Fey. Lebih mendekat ke Dhanisa yang masih menunggu hujan reda.


Sekarang jarak mereka sudah sangat dekat. Sudut bibir Requeen terangkat membentuk senyum miring. Ia sudah merencanakan sesuatu membuat hati Dhanisa panas. Toh, Fey juga sudah tidak peduli dengan Dhanisa. Setidaknya dia bisa memanfaatkan rasa sakit dan patah hati yang sedang dirasakan pria di sebelahnya.


Requeensha melihat genangan air di lapangan depannya berdiri. Sekarang ia tahu apa yang harus dilakukan. Requeen melempar kunci motor ke dalam genangan air itu, dan berinisiatif pura-pura mengambilnya.


"Ya ampun!" Requeen pura-pura terkejut.


Ia berjalan lima langkah ke depan, tapi baru langkah yang ketiga Requeen menjatuhkan tubuhnya di antara genangan air. Pura-pura terpeleset.


Fey langsung turun dan melangkah cepat membantu Requeen berdiri. Hujan masih turun, membuat tubuh keduanya basah.


"Aww... " Requeen mengeram kesakitan, memegang pergelangan kakinya.


Fey menjongkok dan memegang kaki Requeensha. "Sakit?"


Requeensha mengangguk. Sorot matanya melihat ke arah Nisa. Requeensha tahu, Dhanisa baru saja menoleh ke arahnya namun ia pura-pura tidak tahu dan tidak melihat.


"Kita ke UKS aja." Fey membantu Requeen berdiri dan memapah tubuhnya.


"Fey kita lewat sana aja!" Requeen menunjuk ke arah di mana Nisa sedang berdiri.


Fey menurut, tampaknya Fey tidak menyadari bahwa Dhanisa sedang ada di sana juga. Dengan sedikit terseok Requeen mengikuti langkah pelan Fey yang membantunya berjalan. Requeen berhenti saat tiba tepat di mana Nisa berdiri


Requeensha mencoba menyapanya, "Eh, Nisa kamu belum pulang juga?"


Aku yang sedang menatap tetesan hujan yang jatuh terkejut saat tiba-tiba Requeen sudah berdiri dihadapanku. Padahal tadi di jarak 5 meter dari aku berdiri saat ini.


Fey ikut menoleh saat Requeen menyapaku. Tatapan kami saling bertemu. Fey terlihat santai dan tenang saat melihat aku. Aku pun hanya memasang wajah datar.


"Belum," balasku seadanya. Aku tahu Requeensha pasti mau cari pekara lagi dengan membuat hatinya panas. Percuma. Ia tidak akan termakan.


"Oh, iya kamukan nggak bawa motor ya? Biasanya kamu pulang dengan Ustadz Azzam kan?"


Requeen menoleh ke samping melihat Fey, lalu beralih kembali menatap aku. "Oh atau nggak ntar di antar pacar kamu. Ups! Salah. Mantan maksudnya. MANTAN SELINGKUHAN!" cebik Requeensha, tanpa peduli.


Ini terlalu kejam!


Aku mengupat habis-habisan. Tidak tahu apa yang aku hadapi sekarang. Perkataan Requeensha benar-benar menyakitkan, menusuk ke hati.


Kedua tanganku mengepal kencang. Mataku melotot maksimal. Kuku-kuku jari tangan memanjang. Kalau bisa memanjang pasti pasti sudah menyerupai cakar elang yang siap mencabik.


"Kurang ajar! Mulut kamu bisa dijaga gak?" cebikku, menunjuk tajam ke arahnya. "Aku gak habis pikir, ada ya orang yang mau berteman dengan perempuan mulut musuk, dan bermuka dua kayak kamu." Aku tergelak sinis dan mengekorkan mata pada Fey.


"Kamu yang jahat, Nisa!" celetuk Fey tiba-tiba. "Andai, Requeen nggak bilang tentang semuanya, dan masalah ini belum terbongkar pasti aku kita akan terus menjalin hubungan terlarang itu!"


"Sha, udah ayo cepat!" ajak Fey. Ia tak ingin lama-lama berdiri dihadapan perempuan yang sudah membohonginya. Fey akan berusaha keras untuk menghindari pertemuannya dengan perempuan di depannya saat ini. Meskipun berat, ia mencoba membangun kehidupan di buminya yang lain.


Aku tersentak dan menarik napas setelahnya. Udara di sekitar sepertinya semangkin lama pasokannya semangkin menurun. Aku merasa lebih sesak.


Sisi lain satu kebenaran aku temukan, siapa penyebar semuanya dan aku salah telah menuduh Jihan.


Aku melangkah tidak perduli dengan hujan yang masih turun, tapi setidaknya sudah mulai reda dari sebelumnya.


Sendi-sendiku terasa lemah. Aku harus tetap melanjutkan langkah menuju halte. Menanti angkutan umum datang menjemput penumpangnya.


Rasanya tubuhku sudah mulai tidak enak. Aku mengusap bahuku yang bergetar. Hujan turut membawa kesedihan.


Lima menit kemudian, angkutan umum datang dengan kondisi penumpang yang hampir penuh. Pandangan mataku menyapu seluruh penjuru kursi yang kiri dan kanan. Mencari tempat duduk yang tersisa untuk tubuh mungilku. Aku duduk di barisan kanan berhimpitan dengan ibu-ibu yang bertubuh gempal. Tanganku bergetar menahan dingin. Lima menit menunggu angkot cukup membuat tubuhku kedinginan.

__ADS_1


***


Keesokan harinya...


Aku mencoba melupakan semuanya. Melupakan segala penyataan dan kenyataan yang menyakitkan yang terjadi kemarin.


Aku mengambil Ipod dan headsetnya. Memasangkan pada dua telingaku, lalu duduk di sofa. Mataku terpejam menikmati lantunan lagu yang di play.


Satu dentingan berbunyi dari ponselku. Dari pop up yang muncul di layar ada pesan singkat masuk.


Abang rindu. Tunggu abang jika tidak delay abang akan tiba nanti malam.


Satu pesan masuk dari Azzam via whatsApp. Satu pesan yang membuat aku tersenyum senang.


Untuk pertama kalinya, merasakan kerinduan yang teramat dalam. Untuk pertama kalinya pula aku mulai terserang virus merah jambu. Dan benar, aku tidak akan menggantungkan lagi harapanku dengan laki-laki lain.


Setelah kejadian buruk kemarin, aku menetralkan perasaanku kembali. Berkomitmen hanya jatuh cinta pada satu makhluk, yaitu suamiku, Azzam.


Sekarang, Azzam lah yang ia punya maka semestinya aku memang sudah cukup dengan memandang Azzam.


Headset yang melekat di telinga, aku lepaskan. Dengan senyum merekah aku masuk ke kamar. Seketika aku langsung mencium aroma khas parfum Azzam. Aroma yang selama tiga hari ini menemaninya bersama rasa rindu.


Aku mendudukkan diri di ranjang. Tangan aku ulurkan ke sisi ranjang. Ranjang yang akan terisi kembali saat suamiku akan pulang.


Sesaat aku merasa perutku lapar, sejak pulang sekolah memang aku belum makan apa-apa lagi. Aku keluar, mengarah dapur. Membuat mie goreng dan telur ceplok hal yang paling mudah dan tidak ribet untuk dikerjakan.


Di dapur ini, otakku meretrif memori tentang kekonyolanku saat memasak. Aku hanya tersenyum geli mengingat konyolnya waktu itu.


Makanan siap saji sudah selesai. Aku membawanya ke meja makan. Netra mataku menjatuhkan tatapan ke atas mangkok yang sudah terisi dengan racikan mie goreng buatanku.


Kepala aku tolehkan ke samping. Sosok pria sedang tersenyum, memandangku dengan lekat. Sepasang manik matanya menatap penuh kasih. Aku tersenyum balik, sedikit malu saat ditatap begitu.


Tatapan itu berhenti, saat tiba-tiba sosok itu memudar dari penglihatanku. Aku mengerjap-ngerjap kaget. Mengucek mata tak percaya.


Aku cuma berhalusinasi, gumamku.


Aku baru tahu kalau itu hanya bayangan yang diilusikan oleh alam bawah sadar. Aku menghela napas, sebegitu rindukah, hingga aku bisa-bisanya membuat bayangan Azzam sedang duduk di sebelah menemaniku untuk makan.


Tatapan aku jatuhkan pada kursi kosong di sebelah. Benar, harusnya kursi yang ada di samping ini milik Azzam. Harusnya kami makan berdua saat ini.


Aku mengangkat kepala kembali, saat satu panggilan Video Call berdering. Tanganku menggeser layar, menerima panggilan video call itu.


"Wa'alaikumsalam."


Laki-laki itu menggeser tubuhnya, seperti sedikit menjauh dari keramaian.


"Kenapa pesan abang tadi tidak dibalas?"


"Oh itu, tadi rencananya mau balas tapi karena lapar jadi lupa"


"Memangnya bisa begitu?"


"Bisa," kataku sambil mengulas senyum.


Melihat dahi Azzam terlipat dan sebelah alisnya terangkat. Sepertinya Azzam terlihat penasaran tentang apa yang sedang aku makan.


Aku tertawa kecil. "Bang, kenapa sih?"


"Nisa, makan apa?"


Aku mengangkat piring mendekat ke layar. "Mie goreng sama telur," kataku, lalu menyengir. "Mau?"


Azzam menggeleng. "Kenapa makan mie lagi, Nisa? Abang sudah bilang kurangi makan mie instan, nggak bagus untuk tubuh. Kan Abang sudah ajarkan Nisa resep masak untuk menu-menu yang simpel."


Aku meneguk segelas air putih kemudian mengelap bibir dengan tisu sebelum aku menjawab pertanyaan Azzam.


"Kepepet, Bang."


"Kepepet apa malas?"


Aku cengengesan.


"Atau uang yang abang kirim sudah habis?"


Aku menggeleng cepat. "Nggak kok masih ada"


Azzam menghela napas. "Ya sudah. Abang mau ini terakhir kali abang lihat Nisa makan mie."

__ADS_1


Aku mengangguk, mengiyakan perkataanya.


"Bagaimana sekolahnya?"


"Sekolah Nisa B aja," Aku mengucapkan itu tanpa melihat ke arah ponsel, sibuk menyantap mie. Sudah sangat lapar.


"Kenapa B aja? Kenapa nggak A aja?"


Aku mendengus, meletakkan garpu di atas piring. "Maksud Nisa B itu, 'Biasa' aja."


Aku juga tidak mungkin memberitahu tentang tekanan batin yang aku rasakan beberapa hari ini, ketika teman-teman sekolah memandangku berbeda. Aku seperti orang yang terasingkan.


"Oh" Azzam mengangguk. "Nisa, sehatkan? Kenapa nampak lesu?"


"Sehat. Abang, gimana?"


"Alhamdulillah."


"Abang, jadi pulangkan?"


"Iya, ini sudah sudah mau berangkat. Nisa mau menitip apa? Biar abang belikan."


"Nggak usahlah," ujarku menggeleng. Jujur aku memang tidak mengiginkan apapun. "Oh, iya. Nisa sekarang lagi nggak di rumah Umi. Soalnya hari ini ibu sama ayah datang hari ini jadi Nisa tinggal di rumah dulu, sambil menunggu mereka datang"


Nanti malam aku akan balik lagi ke rumah umi. Tapi untuk sementara waktu aku di rumah dulu menunggu kedatangan ayah dan ibu dari Singapura. Katanya mereka akan tiba sore ini.


"Ayah dan ibu balik ke Indonesia hari ini?"


"Iya."


"Bukannya, jadwal mereka balik masih 3 bulan lagi?"


Aku diam sebentar sambil memutar mutar mie dalam piring dengan sendok.


Ingatanku terlepar sesaat pada apa yang ibu sampaikan di telepon terakhirnya. Mereka ingin membahas kelanjutan rumah tanggaku dengan Azzam. Kenapa? Apa ini berkaitan dengan kemarahan mereka waktu itu, saat tahu aku masih dekat dengan Fey. Apa ibu dan ayah akan membahas itu dengan keluarga Azzam. Wajahku tegang kembali. Bagaimana aku menyampaikan semuanya,


"Nisa?" tegur Azzam saat melihatku hanya diam.


Aku meletakkan garpu di atas mangkok. "Mungkin rindu dengan Nisa sama kayak Nisa rindu dengan abang" kataku tetawa singkat.


Hati Azzam berdesir hebat saat tahu istrinya sama merindukan dirinya. Azza. merasa senang, mungkin hati istrinya mulai melunak.


Sedetik kemudian senyum merekah mengembang di bibirnya. Kalimat itu menjadi motivasi luar biasa baginya, untuk segera pulang dan memeluk erat perempuan yang sedang ditatapnya lewat smartphone.


"Abang juga sama. Rindu. Tapi tenang, abang segera pulang. Tak ada satu kebahagiaan pun, kecuali saat abang bisa terus berada di samping istri tercinta."


Mendengar itu, tentu saja aku langsung tersenyum senang, semangatku perlahan naik. Sambil memegang ponsel. Aku lanjut menyuap mie.


"Nisa, sudah sholat Asar?" suara Azzam bertanya.


"Belum"


Raut wajahnya mulai kecut. "Kenapa belum?"


"Nisa, mau makan dulu, ntar baru sholat."


Muka Azzam kembali netral. "Sholat itu wajib. Jadi, setelah makan pergilah sholat, jangan ditunda-tunda lagi. Kalau Nisa sedang cemas, risau maka sholatlah untuk mendapatkan ketenangan. Jiwa orang yang sholat akan berbeda dengan orang yang tidak mengerjakan. Kedamaian hanya ditemukan pada hati orang-orang yang sholat. Menyembah, dan mengingat Tuhan. Laksanakan atas dasar kebutuhan, bukan keharusan karena kita butuh Allah."


Nasihat Azzam membuat aku jadi merasa bersalah, karena menunda sholat. Tapi, aku benar-benar lapar saat ini, bagaimana aku bisa sholat dengan khusyuk kalau perut dalam keadaan lapar.


"Nisa dengar tidak, apa yang abang bilang barusan" tegur Azzam.


Aku mengangguk sambil tersenyum. Aku benar-benar sangat beruntung dengan perhatian dan nasehat-nasehat baik dari Azzam membuat aku senang.


"Iya," sahutku masih mengunyah pelan mie yang barusan mendarat di mulut.


"Jangan masuk telinga kanan, keluar telinga kiri ya?"


"Iya" gumamku kembali.


"Kalau begitu abang tutup VC dulu, sampai ketemu nanti malam, istriku. Assalamu'alaikum"


Senyum yang hilang sejak dua hari kemarin perlahan kembali saat panggilan disudahi. "Wa'alaikumsalam." Layar handphone kembali menampilkan tampilan menu yang berjajar.


Merubah arah lebih baik dengan niat yang tulus, mudah-mudahan bisa membawanya pada ketaatan dan keridhoan yang diharapkan Azzam selama ini padaku. Bismillah...


***

__ADS_1


SKIP


__ADS_2