
Pelombaan pertama dimulai dengan permainan anti mainstream. Mereka terlihat begitu antusias saat saling berlomba menunjukkan koreografi dance masing-masing team. Di perlombaan ini sudah bisa dipastikan yang menjadi pememangnya adalah pasangan Kak Soraya bersama Ali mereka yang tampak super kreatif dalam memadu koreografi gerakannya.
Aku hanya menjadi penonton setia di atas kursi roda melihat tiga team pasangan team itu bergaya. Umi dan abah tak mau kalah. Mereka menciptakan kreasi dance baru menurut versi mereka berdua. Aku dan Azzam menggeleng-geleng sambil menahan tawa.
"Oke, pemenangnya jatuh pada ...jeng... Jeng Abah dan Umi," seru Azzam bersemangat.
"Lho kita kalah nih sayang padahal kita udah eksis habis," Kak Soraya pura-pura kecewa.
"Iya dong, Abah dan Umi lah juaranya karena paling kreatif beda daripada yang lain gerakannya." Imbuh Fikri tertawa senang.
"Hahah setuju!" sorak lainnya.
Masuk pada perlombaan kedua. Tebak kata. Kami semua diminta oleh Fikri untuk membentuk tim menjadi dua kelompok. Berdasarkan hasil pembagian undian. Team 1 diisi oleh Azzam, Kak Soraya, Ali. Team 2 diisi, aku, Fikri, dan Kak Sarah.
Fikri yang merangkap sebagai pengarah acara lomba menjelaskan prosedurnya.
"Cara main seperti biasa ya. Setiap kelompok berbaris, berbanjar ke belakang. Team 1 pemimpinnya Umi ya. Dan Team 2 pemimpinnya Abah. Sekarang ayo semuanya masuk ke Team masing-masing," pinta Fikri.
"Umi ngapain nih?" tanya Umi.
Fikri menarik tangan Umi dan Abah, membawa kepada Team masing-masing. Umi ditempatkan pemimpin di Team 1 dan Abah Hamzah di Team 2.
Pria berbadan tegap dan bersuara bariton itu memberikan kotak undian dan meminta umi dan abah mengambil gulungan kertas berisikan kalimat yang telah kita buat tadi.
"Nah, Abah sama Umi udah dapet nih kan sekarang buka gulungannya dan bisikkan pada anggota team ya. Ya, pokok seperti biasa. Siapa yang benar, dan kalimatnya sesuai dengan yang tertera di kertas tadi maka dia pemenangnya. Oke siap semua!!" seru Fikri.
Kami berteriak bersemangat sambil berkata setuju. Setelah itu, barulah ikut Fikri bergabung dengan teamnya.
Lima belas menit berlalu perlombaan berlangsung meriah. Beberapa dari anggota kelompok melempar sungut kecewa karena kalimat yang sampai pada orang terakhir selalu meleset sedikit dari kalimat yang semestinya.
Skor 2-1. Team 1 mendapatkan point 2 dan team 2 mendapat point 1.
"Ya elaah dikit lagi tuh. Kepanjangan kalimatnya jadi lupakan," gerutuku kesal.
"Udah, kalah kalah aja, team kalian." Bang Ali menyorak sambil tertawa membuat kami kesal tentunya.
"Jangan gitu dong, Li. Coba deh kamu baca kalimat ini!" Kak Sarah berdiri dan mengambil kertas dari Abah. Sarah membacakan kalimat itu dengan keras. "NGOMONG-NGOMONG KENAPA TETANGGA MERONGRONG KARENA ANJING MENGGONGGONG DAN KUCING MENGEONG-NGEONG"
"Ah, nggak kok itu biasa aja," komentar Fikri.
"Diam. Trus ini!" Sarah mengeram kesal pada Fikri dan mengambil lipatan kertas lainnya. "JANGAN COBA COBA CIUM CUCUKU YANG BERNAMA CACA KALAU CUMA MAU CIUM CUMA-CUMA. Gimana nggak keriting tu lidah coba!" dumel Sarah, lalu kembali balik ke barisan dengan wajah kesal.
Azzam pula ikut berdiri dan mengambil kertas yang disimpan Umi.
"Sebentar jangan hanya Team 2 yang protes, Team 1 juga. Coba teman-teman semua simak kalimat ini. SAYA SEBAL SAMA SITU SEBAB SITU SUKA SENYUM-SENYUM SAMA SUAMI SAYA SEHINGGA SUAMI SAYA SUKA SENYUM-SENYUM SENDIRI SAJA. Sekarang yang jadi pertanyaan suami siapa yang suka senyum sendiri?" tanya Azzam diikuti gerakan mengoyangkan ujung telunjuknya memadang ke semua yang berstatus laki-laki.
Suasana yang semula kondusif berubah menjadi riuh dan gaduh. Mereka semua tertawa, tak menyangkal siapa lagi yang membuat itu kalau bukan Fikri si usil nomor satu di keluarga Azzam.
"Ya habis kalian pada nyuruh aku semua buat kalimatnya, ya sudah karena kehabisan ide jadi itu aja."
Ali menabok pelan kepala Fikri, setidaknya melunturkan sedikit kesedengan di otak pria berambut cat pirang itu.
"Oke-oke kita lanjut games berikutnya saja." Abah bersuara, membuat mereka kembali duduk dengan tenang di lantai. "Games berikutnya apa lagi?" tanya Abah.
"Cup and Paper" jawabku.
Untuk kali ini, Ali berdiri dan memberi arahan "Nah, untuk game cup and paper teamnya di rombak lagi ya. Team 1 cewek semua dan Team 2 cowok semua. Oke... Deal!"
"DEAL!! "
Ali menjelaskan sistem permainannya. "Orang pertama bertugas untuk membuat tower dari gelas dan kertas. Tahap ini dibutuhkan kerja sama dan konsentrasi, ya.
Orang selanjutnya harus melepaskan kertas tanpa menjatuhkan gelas tersebut. Tim yang paling cepat adalah pemenangnya."
"Oke dimulai hitungan mundur. 3...2...1. MULAI!"
Semua menghambur memisahkan diri. Yang perempuan bergabung dengan perempuan, begitu pun dengan yang laki-laki.
Tak butuh waktu lama bagi laki-laki. Menyelesaikan permainan ini. Team laki-laki lah pemenangnya.
Team lelaki mengangkat tangan serentak setelah selesai menjatuh gelas dengan cepat. Kita, team perempuan nampaknya memang harus mengakui keunggulan team laki-laki yang dengan cepat menyelesaikan games ini.
"Kita menang, Bro." Sorak Fikri bersemangat. Mereka melempar tos satu sama lain dalam team.
__ADS_1
"Heh, kalian team cowok kok bisa secepat itu?" tanya Kak Soraya heran.
"Ya bisa dong, kitakan langsung cus... Cus... Cus... Gercep," Fikri menjawab sambil mengibaskan tangannya ke kiri dan ke kanan, seperti mengeluarkan jurus bayangan. "Emang cewek pake perasaan!" ledeknya.
"Yeay, ketahuan Kak sekarang kalau laki-laki itu memang nggak mengedepankan perasaan. Ego doang tuh!" kataku balas meledek.
"Iya setuju, Hidup wanita!" pekik Kak Sarah pula.
"Husstt...hustt... Udah...! Ya ampun heran umi sama anak-anak umi semua, ujung-ujungnya ribut aja kalau sudah main," Umi menggelengkan kepalanya melihat tingkah kami semua. Abah tak demikian, ia malah menikmati keriuhan anak menantunya.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Tepat sekali, masuk sesi lomba berkreasi membuat sandwich. Pada perlombaan terakhir ini. Kita berpasang-pasangan dengan partner masing-masing. Fikri dan Sarah, Soraya dan Ali, Aku dan Azzam. Siapa yang memiliki kreasi sandwich paling bagus dan garnish komplit dan penyajiannya menarik, dia pemenangnya.
Umi dan Abah bertindak sebagai juri. Yang menilai hasil sandwich buatan kita. Di sini ada 3 team.
"Baik, di sesi kali ini yang menjadi penilaian dari kami dewan juri adalah dilihat dari teknik membuat atau prosesnya, kebersihan, kekompakan kelompok, rasa, serta kreativitas, dan yang terakhir cara penyajiannya," tutur Abah lagak bicaranya seolah bertindak sebagai chef profesional.
"Asiikkk.... Abah jadi chef siapa, Bah?
Arnold, Juna, Marinka atau vindex," tanyaku.
"Hah. Marinka? Perempuan dong Abah, Nak," tawa Abah.
"Hahah.... Oh iya," kataku tanpa sadar menabok jidat yang masih ditutup plester luka. Membuat aku meringis sedikit.
"Oke kalian punya waktu 5 menit. Di mulai dari sekarang!"
Semua telah berdiri di meja dengan pasangan kelompoknya masing-masing. Aku dengan Azzam berdiskusi dan siap berbagi tugas. Merasakan kesulitan ketika mesti terus duduk di kursi roda. Aku memilih berdiri, tapi seperti biasa Azzam selalu merisaukan aku.
"Dah, aman. Abang nggak perlu risau."
"Benar ya. Ya sudah hati-hati ya." Azzam menyingkirkan terlebih dulu kursi roda. Baru melanjutkan sandwichnya buatannya.
"Iya, aman. Nisa ngapain nih." tanyaku mengamatinya tengah mengambil wajan.
"Nisa panggang roti tawarnya aja ya. Kalau sudah beritahu abang ya."
Aku melakukan apa yang dimintanya, sementara dia sendiri sedang mengorak arik telur, daun bawang, juga kornet lalu menyisihkan.
Roti telah selesai dipanggang, aku lanjut mengoleskan
"Aduh, sayang kebanyakan itu."
"Ah, apa iya. Menurut Nisa pas kok. Nggak kebanyakan sausnya."
"Nggak itu kebanyakan, coba buang dikit."
Aku memanyunkan bibir, seraya membuang saus yang menurutnya kebanyakan.
"Kenapa cemberut begitu, marah ya, hem?"
Aku menggeleng pelan. "Nggak."
"Bohong." Azzam mengamati raut mukaku. "Eh, sebentar ada sesuatu dimuka Nisa. Ini dia." Aku kira benar ada sesuatu yang menempel atau mengotori wajahku. Tapi ternyata dia malah mencoel pipi dengan dengan saus.
"Ih, apa sih. Saus ini. Pedas tau!" cebikku kesal.
"Memang yang bilang manis siapa?" usilnya. "Ya sudah biar impas, Nisa balas nih ke abang." Azzam mengambil botol saus dan meletakkannya di tanganku, memintaku untuk membalas apa yang dilakukannya tadi.
"Nih. Ayo sayang" Ia mendekatkan pipinya.
Aku mulai memikirkan sesuatu, dan tersenyum jail melihatnya mengarahkan pipinya dengan mata merem.
Muachh...
Bukan balasan yang dia dapatkan, tapi kecupan manis telah mendarat dipipi Azzam. Namun, bukan hanya itu saja aku tetap membalas dengan menyemprotkan arah mulut botol saus ke baju kaos putih yang dikenakannya.
Aku tertawa puas.
"Nisa!"
Matanya melempar tatapan tajam. Aku tahu dia pasti kesal.
"Apa sayang. Katanya minta dibalas. Sekarang udah Nisa balas tuh" tawaku.
__ADS_1
"Iya. Tapi tidak di baju juga dong. Baju putih lagi. Aduhh," Azzam menepuk nepuk bagian yang terkena saus tadi.
"Nggak apa-apa sayang, daripada dimuka. Pedes ntar."
"Eh, perasaan kita disuruh buat lomba enak-enakan sandwich. Lha ini tetangga sebelah kok malah lomba romantisan sih." Si Fikri mulai mengomentari.
"Ih apa sih abang Fikri"
"Biasalah, ada yang iri dengan kita sayang," Azzam ikut menimpali.
"Nggaklah. Kita juga bisa lebih romantiskan Sarah."
"Eh, kalian belum sah. Kalau orang udah nikah pegang-pegangan tangan kayak gini sah malah dapat pahala." Ali mempraktikkan. "Tapi kalau belum makhrom ya belum sah dong kan. Yang ada malah dapat dosa. Benar tidak Abah dan ustadz muda, Azzam?" Tanya Ali meminta pendapat.
"Ya sudah kalau begitu, aku jadi nggak sabar buat ngehalalin kamu Sarah, calon istriku. Supaya kita juga bisa seperti mereka-mereka ini. Tetangga kiri kanan, bawaan ingin sayang sayangan terus."
"Iya, sama. Aku pun demikian Fikri. Semoga acara kita lancar sampai H. Tetangga sebelah malah ngegasnya cepat sekali. Si Azzam dan Nisa sebentar lagi akan ayah dan bunda."
"Iya benar. Doakan supaya kakak dan Ali. Juga lancar programnya ya," tutur kak Soraya, yang diamini oleh Hamzah the Family.
"Sebentar, Kak. Program apa dulu nih. Program nambah suami, apa anak?"
"Fikri kamu apaan sih. Ihhh... Amit-amit... " balas Kak Soraya. "Ya anak dong. Masa suami!" perjelas Kak Soraya.
"Nah, gitu yang jelas makannya, Kak. Sekarang baru aku aminin doa Kak Soraya."
TING...
"WAKTU KALIAN SEMUA 2 MENIT LAGI!" suara Abah dan Umi memecah obrolan kami.
"SIAP CHEF!"
Semua kembali fokus, melanjutkan buatan Sandwich yang belum selesai.
"Bang, apa lagi nih."
"Sudah dikasih saus kan. Sekarang tambahkan di atasnya, keju slice, timun dan tutup lagi dengan roti lagi. Kalau sudah ditumpukan selanjutnya kasih mayones, orak arik telur kornet, saus sambal dan tutup lagi dengan roti tawar."
Azzam melanjutkan apa yang telah aku kerjakan sebagian. Dengan membalik roti dan memanggangnya kembali sampai kecokelatan. Dan yang paling terakhir adalah masukkan lembaran selada segar ke sela-sela rotinya.
Akhirnya, semua sudah selesai, tinggal mempercantik tampilan dengan meng-garnishnya.
TING....
"WAKTU HABIS," seru Abah.
Sekarang secara bergiliran abah dan umi selaku juri mencicipi sandwich buatan kami masing-masing. Dimulai dari tim Ali Soraya, berlanjut ke tim Fikri Ali dan berakhir di tim Azzam Dhanisa.
Abah terlihat manggut-mangut, aku bisa menebak abah menikmati semua masakan anak-anaknya.
"Ayo abah, siapa juaranya?" Lagi-lagi suara Fikri lebih dulu terdengar bersemangat ingin mengetahui siapa pemenang dilomba terakhir ini.
Umi dan Abah mulai berdiskusi menentukan pemenang lomba membuat sandwich.
"Baiklah abah umumkan ya siapa juara 1, 2 dan 3 nya, sudah siap?"
"SIAP!!" kami semua bersuara lantang.
Umi maju selangka dan dengan senyum lembutnya, ia mulai mengumumkan pemenangnya.
"Pemenang pertama jatuh pada..... "
"Pada anak-anak abah dan umi semua. Karena kalian juara dihati umi." Umi menangis terharu. Kita Hamzah Family langsung berhambur memeluk umi dan abah. Kita semua keluarga dan akan selalu menjadi keluarga selamanya tak terpisahkan dan semoga tetap bersama tidak hanya di dunia tapi juga di syurganya allah kelak.
"Keluarga adalah hal yang paling berharga buat umi. Dan kalian semua telah memenangkan hati abah dan umi, sayang"
"Terima kasih, abah, umi. Terima kasih untuk kasih sayang dan semua yang sudah diberikan pada kami." Fikri, anak tertua ikut larut dalam haru biru kebahagiaan hari ini.
Tiada henti air mata mengaliri pipi tanpa mampu dibendung. Kebersamaan dan kekeluargaan ini tentu sangat berharga dan sulit dicari. Terlebih aku yang telah lebih dulu kehilangan orang tua kandungku ketika usiaku menginjak 10 tahun. Hanya kebaikan Paman Ahsan dan Ibu Hamidah yang mampu membuatku seperti hidup kembali. Mereka tulus menyayangiku sama seperti anak mereka sendiri. Meski aku tahu mereka pula telah kehilangan abang Khalid, anak semata wayang mereka.
Tidak ada yang lebih tulus menyayangi kita selain keluarga kita sendiri. Peran ibu dan ayah sangat penting dalam keluarga. Banyak hal yang bisa terjadi karena jasa-jasa mereka. Mereka telah melalui rasa lelah dan sakit karena merawat dan menyekolahkan anak-anaknya.
Berikanlah apa yang bisa diberikan untuk keluarga, walau hanya sekadar kumpul bersama, bercanda bersama, dan melihat wajah-wajah ceria dari keluarga kita.
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤