Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 71. Kelulusan


__ADS_3

Sama seperti ujung yang memiliki akhir. Begitu pula pada sebuah pertemuan akan berujung pada perpisahan. Manusia memang terkadang lupa jika tidak ada yang abadi di dunia ini, sejauh apapun tangan mengenggam dan hati yang menginginkan. Kehendak Tuhan jauh lebih adil.


Menjadi waktu yang mendebarkan bagiku hari ini. Begitu juga dengan teman-teman serta sahabat and the genk pun aku rasa merasakan hal yang sama. Pasalnya hari ini. Hari kelulusanku di jenjang sekolah menengah atas, tepatnya di sekolah MA Muallimin. Itu artinya bahwa aku telah melewati jenjang sekolah menengah dan akan menjadi calon mahasiswa di universitas pilihanku.


Di satu sisi aku bahagia dengan kelulusanku hari ini, satu sisi aku turut merasa sedih. Harusnya ada ayah dan ibu kandungku yang menemaniku dan mengucapkan selamat atas kelulusanku. Tapi takdir berkata lain. Kepergian mereka kepangkuan illahi terlalu cepat bagiku, terlalu singkat. Bagaimana hari ini harusnya, mereka sama-sama turut merasakan apa yang aku rasakan.


Aku duduk di taman sekolah, tempat biasa aku nongkrong selain di kantin sekolah. Duduk seorang diri sembari menatap ke arah lapangan yang masih di riuhi siswa kelas tiga. Mereka yang ditemani ayah mereka, ibu mereka. Aku tersenyum menyaksikan kebahagiaan mereka dari kejauhan.


Di sekolah ini, banyak kenangan yang dilukiskan. Entah itu yang menyenangkan ataupun yang menyedihkan. Semua akan menjadi memori yang akan selalu direkam dalam otakku, dan jika aku rindu, kenangan dan kebahagiaan itu bisa aku retrif kembali.


Awan putih mirip kapas itu, berarak ringan menemani birunya langit.


"Hay, Nisa kamu sendiri aja nih?" Fey datang menyapa bersama dengan Sadam, Jovan dan Jihan.


Aku mengendik bahu. "Memang kalian melihat saat ini aku duduk dengan siapa coba?"


Fey menatap teman-temannya bergantian, kemudian balik melihatku. Sadam menggeleng. "Nggak ada sih."


Huft!


"Ustadz Azzam nggak nemani kamu, Nisa?" tanya Jihan.


"Nggak, dia masih di Tangerang. Katanya nanti malam insyallah sampai."


Mereka semua memahami.


"Kamu jadi pindah setelah ini, Nisa?" tanya Fey seraya meletakkan tasnya di atas meja taman.


"Iya," balasku singkat.


"Iyalah, istri itu harus ikut kemana suami pergi. Memangnya mau LDR-an trus," cebik Sadam.


"Iya, kayak aku masih LDR-an nih," kata Jovan bersedih hati.


Jihan menujukkan sebuah brosur di tengah-tengah kami. "Dari pada bahasnya unfaedah. Mending kalian mikirin mau masuk universitas mana. Menurutku itu lebih berfaedah untuk dibahas."


Fey meraih brosur yang masih ada ditangan Jihan. Membuka sembari membaca sekilas informasi kampus-kampus.


"UGM masih yang terbaik ya saat ini?"


"Iya, universitas terbaik di Indonesia masih diraih UGM mantap kan!" kata Jihan bersenang hati. Ia memang sangat berkeinginan untuk bisa menjadi bagian dari universitas impiannya itu.


"Doakan aku semoga bisa tembus ke sana ya," harap Jihan.


"Amin, dengan segenap usahamu, aku yakin kau pasti bisa Jihan," kataku meyakinkan, memberi semangat pada Jihan.


"Kalian semua mau lanjut kuliah ya?" tanya Jovan menatap teman-temannya bergantian.


"Iyalah. Memang kamu nggak mau? Apa mau langsung kerja?"


Jovan mendengus. "Kerja... Kuliah... Kerja... Kuliah... " Jovan menghitung kancing bajunya menentukan suatu pilihan, mirip ketika ia memilih jawaban saat ujian kemarin.


"Kerja."


"Hmm... Kayaknya aku bakalan kerja aja deh. Eh, tapi aku akan tetap kuliah," tambahnya lagi.


"Kuliah dengan bekerja? Yakin kamu bisa komit membagi waktu?" tanyaku memastikan niatan Jovan.


"Bisa ajakan. Siangnya kerja. Malamnya kuliah. Tapi kayaknya aku nggak bakalan milih universitas negeri, aku mungkin akan memilih untuk kuliah di swasta saja."


"Ya kalau kamu bisa. Ya nggak apa-apa sih. Selama kamu bisa mengimbanginya," nasehatku.


Sadam menepuk pundak Jovan. "Yah, sekarang aku harap, kita berlima ini, bisa sukses dengan jalan kita masing-masing."


"Kalau kamu Sadam, apa rencanamu setelah taman ini?" Jovan balik bertanya.

__ADS_1


"Aku kayaknya nggak bakalan kuliah, Jo."


"Trus? Kerja?"


"Aku akan mengikuti seleksi akmil," jawab Sadam dengan datar.


"Widihhh... Mantap itu. Kalau dari postur emang sih kamu cocok, Sad."


"Tapi, kok ekpresi kamu biasa aja sih?" tanyaku, melihat Sadam seperti tidak menampakkan raut euforiannya.


"Sebenarnya aku diminta ayahku mengikuti jejaknya yang berprofesi sebagai polisi. Tapi aku rasa itu memang terbaik karena aku satu-satu anak lelaki di rumah. Meskipun aku nampak kasih sayang ayahku sedikit berbeda dari adikku, Kayla. Tapi semalam, untuk pertama kalinya, ayah mengajakku untuk mengobrol intens. Karena sejak ibuku meninggal perlahan sikap ayah berubah tapi tidak tau apa yang terjadi, aku merasa ayah kembali menjadi sosok laki-ki lembut, dan perhatian sama ketika ibuku masih ada di sisi kami." Panjang lebar Sadam menyampaikan perihal apa yang terjadi dan seinginannya pula.


Sementara aku yang mendengar cerita Sadam turut merasa empati. Menurutku kehidupan Sadam masih jauh lebih beruntung karena masih ada ayahnya yang bisa terus berada disampingnya dan memberi support untuk kesuksesan anak laki-lakinya. Ia masih dapat melakukan baktinya pada orang tua, meski itu hanya pada ayahnya.


Aku? Aku bisa menunjukkan baktiku pada almarhum ayah ibuku dengan lantunan doa yang turun menyertai meteka dialam barzakh. Semoga mereka senantiasa mendapatkam ketentraman dan dijauhkan siksa kubur.


Tangan Jihan melambai lama di depan wajahku. Agaknya aku hanya terdiam dengan melamun beberapa menit.


"Yah, kenapa?"


"Aku tadi bertanya, bagaimana dengan harapan kamu sendiri, Nisa? Apa rencanamu?"


Aku mengangkat kedua alisku seraya menghembuskan napas pelan. "Aku? Rencana awalku sih akan mengikuti beasiswa untuk S1 di luar negeri. Itupun kalau aku lulus dan Ustadz Azzam mengizinkan, tapi kalau tidak aku akan mengambil universitas dalam negeri saja."


Mungkin di sinilah akhir kita saling bertukar cerita dan harapan satu sama lain, setelah menyelesaikan kelulusan ini. Hm... Memang waktu berlalu begitu cepat. Kita semua akan fokus pada urusan masing-masing dan kehidupan setelah ini mungkin akan sedikit berbeda. Komunikasi intens mungkin tidak akan bisa dilakukan dengan tatap muka lagi.


Itu Pak di sana


Suara itu berhasil ditangkap gendang telingaku.


Aku menoleh ke arah sumber suara.


"Ayah Ahsan dan Ibu Hamidah," gumamku.


Teman-temanku yang lain turut melihat ke arah yang sama. "Itu ayah dan ibumu datang, Nisa," ucap Fey menatap ke arah pinggir lapangan bola futsal. Di sana berdiri ayah dan ibuku sedang berjalan menuju ke arah kami.


"Iya," jawab keempatnya bersamaan.


Dengan langkah panjang, aku menghampiri Ayah Ahsan dan Bu Hamidah dengan senyum mengembang. Langsung saja aku memeluk tubuh rentannya karena usia mereka yang tak muda lagi. Mereka bergantian mengecup kepalaku dengan sayang, seperti yang biasa mereka lakukan.


Aku menatap wajah mereka dengan sumringah, penuh kebahagiaan.


"Ayah, ibu kemari?"


"Iya dong, sayang. Ibu dan ayah mau juga merasakan euforia bahagianya anak ibu menyambut kelulusan," senyum ibu penuh kebanggaan.


"Selamat ya putri ayah. Ayah senang dengan prestasimu, sayang. Meskipun Nisa, sering buat ayah dan ibu kesal. Tapi Nisa tetap menjadi kebanggaan ayah dan ibu." Tangan ayah bergerak mengusap pucuk kepalaku yang tertutup hijab berwarna putih.


"Terima kasih ya ayah dan ibu. Kalian adalah panutan bagi Nisa untuk menjadi orang yang lebih baik lagi," ucapku memeluk erat tubuh ayah dan ibu bergantian.


"Sayang, ini ucapan selamat dari ayah dan ibu ya, untuk putri ayah dan ibu." Ibu menyerahkan dua buket bunga dan paper bag untukku.


"Kok banyak sekali bunganya, ibu?"


"Ini satu dari kita dan satunya lagi dari suamimu."


"Dari abang?" Aku meraih buket bunga mawar putih dan menciumnya. Tenang seketika ketika mencium aroma bunga ini. Aku menyadari sebuah tulisan terselib di sana.


Barakallah sayangku♥♥


Semoga ilmumu bermanfaat... Maaf tidak bisa berada disampingmu saat ini. Tapi doa akan senantiasa menyertaimu sayang. Sukses selalu. Cintaku 💓


Senyumku merona ketika membaca barisan ucapan dan cinta dari Azzam. Pria itu selalu saja bisa membuat aku tersenyum puas.


"Sekali lagi terima kasih ya... Ayah ibu. Ayah dan ibu memang yang terbaik deh." Aku mencium punggung tangan kedua bergantian.

__ADS_1


***


Azzam melangkah memasuki ruang rektor. Suara pintu berderit pelan saat salah satu staf mempersilahkan Azzam untuk bisa menemui Prof. Dr. Muhammad Abdul Kahfi, Lc. MA.


Dengan pasti Azzam melangkah masuk. Ia tentunya mengenal dekat Prof. Dr. Muhammad Abdul Kahfi, Lc. MA. Selaku rektor universitas islam negeri tempat dimana Azzam mendapat tawaran panggilan sebagai tenaga pengajar di sini kelak. Beliau adalah dosen Azzam sewaktu menempuh kuliah strata 1 di Jakarta, dan sekarang beliau dipindah tugaskan di daerah Tangerang.


Ustadz Muhammad Abdul Kahfi, yang biasa di sapa mahasiswanya dengan panggilan Ustadz Kahfi adalah salah satu dosen favorit Azzam. Ia sangat mengagumi karakter dan ide-ide brilian sang dosen.


Kebetulan pula dosen pembimbing utama Azzam semasa menyusun skripsi adalah Ustadz Kahfi, hal itu semangkin merekatkan hubungan akrab antara Azzam dan Ustadz Kahfi, laki-laki yang sudah beruban itu. Tapi meski demikian, semangatnya masih berkobar-kobar melebihi semangat anak muda.


Ustadz Kahfi sewaktu masih mengajar di Jakarta termasuk dosen yang ramah dan berbeda dari dosen lainnya. Azzam setidaknya beruntung karena bisa mendapatkan beliau sebagai pembimbing. Tidak ada kesulitan yang berarti bagi Azzam untuk menyelesaikan skripsi strata satu dan Ustadz Kahfi-lah yang selalu mendorongnya untuk melanjutkan studi S2 nya di Mesir. Ia bahkan telah mengontak teman rekan kerjanya di sana. Supaya bisa membantu Azzam untuk mengurus segala keperluan untuk studinya di Mesir.


Ustadz Kahfi adalah salah satu orang yang menurutnya paling berjasa atas perjalanan karir pendidikannya selama ini. Ia mensupport habis-habisan supaya Azzam mau menuruti saran Ustadz Kahfi agar melanjutkan studi di Mesir saja dan ketika tamat pun keduanya masih sering berhubungan.


Sekarang karir beliau diusia kepala enam semangkin cemerlang, bahkan sudah dua periode ia dipercayakan untuk menjadi rektor di sini.


Sungguh orang berilmu akan ditinggikan derajatnya oleh Allah swt. Itu firman Allah dalam surah Al-Mujadilah, ayat 11.


"...Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat..." (QS. Al-Mujadilah [58]: 11).


Allah pun akan mengangkat derajat manusia yang berilmu, baik ilmu pengetahun maupun ilmu keagamaan.


Karena dengan ilmu, seseorang akan lebih memahami bagaimana kehidupan ini diciptakan dan mendalami pengetahuan tentang kuasa Allah SWT sebagai sang maha pencipta. Orang berilmu akan takut melakukan hal-hal yang mengandung dosa karena ia memiliki pengetahuan akan kekuasaan dan juga kebesaran Allah SWT.


Azzam masih mengingat pada kultum yang pernah disampaikan Ustadz Kahfi, beliau menyampaikan, menuntut ilmu wajib dilakukan manusia. Selain mengangkat derajatnya, orang yang berilmu akan dijadikan insan yang lebih baik oleh Allah SWT.


Bicara tentang orang yang ditinggikan derajatnya terkait ilmu pengetahuan itu mencakup orang yang mengajarkan ilmu, orang yang selalu belajar ilmu, orang yang mendengarkan ilmu, dan orang yang mencintai ilmu. Jangan jadi orang kelima, yakni mereka yang tidak ada perhatiannya kepada ilmu, karena kesibukannya terkait urusan dunia.


"Assalamualaikum.." salam Azzam pada laki-laki yang menjabat sebagai rektor itu.


"Wa'alaikumsalam warahmatullah... Silahkan duduk Azzam." Ustadz Kahfi mempersilahkan.


Azzam menjabat tangan dosennya dahulu. Baru kemudian duduk.


"Alhamdulillah senangnya saya ketika melihat mahasiswa yang saya ajar dulu sekarang sudah sukses menyelesaikan studinya," sanjung Ustadz Kahfi.


Azzam menyungging senyum. "Keberhasilan saya ini tidak lepas dari dukungan Ustadz sebagai dosen saya masa itu sampai saat ini pula."


"Bagaimana menempuh pendidikan di sana, enak toh?"


"Iya, Ustadz. Ada banyak pengalaman yang sebelumnya belum pernah saya terima ditempat dimana saya menginjakkan kaki"


"Itu makannya saya sangat memintamu untuk melanjutkan saja studi S2 mu di sana Azzam," tutur Ustadz Kahfi, ia membenarkan sedikit letak kacamatanya. "Bagaimana keadaanmu, Zam. Sudah berkeluarga pasti sekarang ya?"


"Alhamdulillah sehat, Ustadz. Dan saya juga sudah berkeluarga saat ini. Alhamdulillah," senyum Azzam merekah.


Ustadz Kahfi tertawa pelan, kemudian mengangguk. "Jadi, benar kamu menerima panggilan tawaran kampus ini, untuk mengajakmu berkontribusi untuk kemajuan kampus ini, Zam?" Ustadz Kahfi meraih map yang diserahkan Azzam.


"Tentu, Ustadz saya tidak ingin menyia-nyiakan tawaran Ustadz pada saya, terutama ustadz sudah banyak mendorong saya supaya bisa menjadi manusia yang berguna dan bermanfaat bagi orang sekitar. Dan ilmu saya yang saya dapatkan ketika menempuh perkuliahan. Insyaallah siap saya bagikan pada adik-adik tingkat saya."


"Syukurlah, rasanya tidak sia-sia apa yang pernah saya tanamkan pada mahasiswa saya ketika mengajar dulu. Kalau begitu berkas ini saya terima dan kau sudah bisa untuk mengajar mahasiswamu di sini. Untuk SK nya akan sesegera mungkin pihak kampus terbitkan."


Wajah Azzam merona, senyumnya tiada henti terpancar dari wajahnya. "Baiklah, Ustadz terima kasih banyak atas tawaran ustadz mengizinkan saya untuk bergabung dengan universitas ini. Dan saya akan berusaha untuk berkontribusi dengan sebaik mungkin untuk kemajuan kampus kita ini, ustadz"


"Iyalah, saya percaya dengan tekadmu Azzam. Sejak dulu saya melihat kau memang mahasiswa yang berambisi maka saya senang jika mendapat mahasiswa yang demikian." Ustadz Kahfi menyadarkan tubuhnya ke kepala kursi. "Untuk tempat tinggal bagaimana? Saya tau kau masih tinggal di Jakarta saat ini, bukan?"


"Iya, ustadz. "


"Jika kau belum mendapatkan rumah untuk tempat tinggalmu dan keluarga. Kami menydiakan perumnas yang khusus disediakan bagi pendidik di sini."


"Alhamdulillah saya sudah mendapatkan rumah dan menurut saya sangat nyamaan untuk tinggal kami kelak. Tapi sebelumnya terima kasih atas tawarannya."


"Syukurlah kalau begitu."


Usai obrolan, Azzam merasa sangat puas untuk pertemuannya kali ini. Setelahnya, Azzam akan mempersiapkan beberapa hal untuk perpindahan dirinya ke Tangerang. Termasuk barang-barang atau funiture rumah yang diperlukan.

__ADS_1


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


__ADS_2