
"Nisa! Nisa!" teriak Jovan dengan keras seraya mengetuk daun pintu.
Sadam menoyor kepala Jovan. "Heh! Jo, kamu kira kita lagi di pasar teriak-teriak gitu. Lagian noh, bel rumah ada kenapa harus teriak-teriak," tegur Sadam.
"Tau tuh si Jo. Bahkan lebih bagus kalau kamu ngucap salam kalau bertamu ke rumah orang," tambah Jihan yang ikut merasa kesal.
Jo menyengir lebar. "Iya-iya. Maaf!"
"Assalamu'alaikum, Nisa." Sadam mengucap salam, kadang sekali ia menekan bel rumah. Bergantian dengan Jihan.
Kriekk...
Seorang laki-laki yang mengenakan sarung dan peci menghias kepalanya muncul dari balik pintu. Mereka semua mengumbar senyum. Ia paham dengan siapa ia berhadapan.
"Ustadz," sapa Jovan dan Sadam bersamaan.
"Assalamu'alaikum, ustadz" Jihan menyalimi tangan gurunya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullah.... "
"Minggir, aku dulu!" Jovan menghalangi Sadam saat juga ingin menyalami tangan Azzam.
"Nggak aku!" Sadam berusaha menyingkirkan tubuh Jovan.
"Aku!"
Mereka berdua masih berebutan.
"Udah sih!" Jihan menengahi. "Ya ampun kalian mau salaman aja kayak rebutan sembako."
Jovan sedikit memiringkan kepalanya mendekat ke telinga Jihan. "Kamu nggak tau sih, aku tadi rencananya mau merebut hati ustadz supaya mau balikin handphone aku. Habis semalam aku kepikiran trus sama tu ponsel nasibnya gimana. Apa bener udah dikiloin," bisik Jovan.
Azzam yang masih berdiri di ambang pintu menggeleng pelan. "Astagfirullah. Kalian berdua. Tidak di kelas, tidak di luar selalu buat ulah. Kalau kalian masih ribut di sini, saya tidak akan memberi izin untuk belajar di sini!" gertak Azzam.
Mereka tergagap lalu merubah posisi dengan berdiri tegap.
"Nggak ustadz, kita ke sini cuman mau belajar bukan cari ribut." Sadam mendelik Jovan, ini semua karena Jovan yang memulai duluan! hardik Sadam dalam hati.
Akhirnya, mereka tertib menyalami tangan gurunya.
"Hanya kalian yang ikut belajar kelompok?" tanya Azzam saat menyadari Fey tidak ada di dalam kelompok geng mereka.
"Ada ustadz, Fey!" jawab Sadam.
"Fey sama Requeensha, lebih tepatnya." Jo membenarkan.
"Grup kalian nambah personil?" tanya Azzam, yang dia tahu geng Fey ini tidak ada Requeen di dalamnya.
Sadam menoleh ke Jihan. Ia mengendikkan dagu. Jihan balik menyipit mata.
"Oh, kalau geng kami masih tetap ustadz, Requeensha cuman mau ikut gabung belajar dengan kita aja."
Azzam tidak mengulasnya lagi.
"Kalau begitu ayo masuklah." Azzam mempersilahkan.
Mereka semua sudah duduk kursi ruang tamu dengan tenang.
"Haloo, sorry lama ya?" Aku menghampiri mereka yang sudah datang bertamu. Bukan bertamu sih tepatnya belajar bersama.
"Nggak kok, nunggu kamu lama itu udah biasa," sembur Jihan dengan nada kesal, sementara aku hanya terkekeh menanggapinya.
Azzam beringsut bangun dari duduknya.
"Ustadz, mau kemana?" tanya Jovan saat mendapati gurunya itu hendak pergi.
"Kalian mau belajar kan? Sementara saya harus menyelesaikan tugas saya," balasnya.
"Hem. Ustadz aku boleh nanya sesuatu?" Jovan sedikit mengigit bibirnya.
"Apa?"
"Bagaimana nasib handphone-ku, apa bener kata Nisa udah dikiloin?" Jo menatap memelas, mukanya sedih.
Aku menutup mulutku dengan kedua tangan menahan tawa.
"Ada. Tenang saja. Saya tidak sejahat itu. Nanti saya kembalikan ponselmu yang saya sita. Lagi pula saya tidak ingin memberi kesan buruk dengan murid-murid saya. Sebelum saya memutuskan untuk resign sebagai pendidik di Madrasah."
"Hah? Pindah? Kenapa Ustadz?" tanya Sadam kaget.
"Saya mendapat tawaran untuk menjadi dosen," jawab Azzam.
"Di universitas mana, Ustadz? Entah nanti aku kuliah di tempat ustadz mengajar."
"Universitas Islam Negeri di Tangerang, Sadam."
"Hiks.. " suara Jo menangis sendu.
Sadam menoleh ke samping menatap heran teman di sebelahnya.
"Jo, aku nggak nyangka kamu bisa sesedih ini," Sadam menepuk pundak Jovan.
__ADS_1
Jovan menggeleng. "Bukan. Bukan masalah itu!"
"Terus masalahnya apa?" Sadam menatap bingung, kalau bukan itu apa lagi yang dimaksud Sadam. "Handphone kamu?"
"Bukan."
Sadam mendengus. "Ya, apa dong?"
"Masalahnya jempol kaki aku kamu injak, Sad!" Jovan meringis.
Sengan cepat Sadam menyingkirkan kakinya dari atas kaki Jovan. "Maaf-maaf, nggak sengaja dan benar nggak tau."
Aku dan Jihan cekikikan, sementara Azzam menggeleng pelan.
Di sisi lain raut wajah Jihan yang tadinya senang, tiba-tiba berubah sedih. "Yah nggak ada penampakan lagi dong kalau ustadz resign." Jihan menambahi.
Penampakan? Memang Jihan kira Azzam setan kali, batinku.
Azzam tertawa pelan. "Apa maksudnya Jihan?"
"Kan Ustadz Azzam satu-satunya guru tertampan di sekolah. Kalau Ustadz pergi kami kehilangan guru sosok guru populer di sekolah dong." Sedih Jihan. Meskipun ia mengakui dulu dirinya sempat menyimpan perasaan dengan Ustadz Azzam.
Azzam terkekeh, mendengar pengakuan muridnya itu. "Kamu aneh-aneh saja Jihan. Ya sudah kalian lanjutkan belajarnya." Azzam kembali berbalik masuk ke ruang tengah.
Setelah melihat Azzam pergi menjauh. Aku memilih mengajak teman and the genk untuk belajar di beranda dekat taman sebelah rumah. Dengan begitu setidaknya, kami tidak menganggu kerja Azzam di rumah. Dia juga sejak kemarin terlihat sibuk mengolah nilai-nilai siswanya. Belum lagi berkas-berkas untuk pengajuan diri sebagai dosen di salah satu Universitas Islam Negeri di daerah Tangerang Selatan.
"Sorry kita telat datangnya." Fey datang menyapa bersama dengan Requeensha yang turut bersama Fey.
"Iya. Sorry ya guys!" ucap Requeensha, seraya meletakkan buku dan ikut bergabung merapatkan diri.
"Kalian sedang mengulas apa?" tanya Fey yang telah membuka lembaran modul tebalnya.
"Kami baru latihan soal-soal trigonometri, dengan integral." Sahut Sadam, masih mencoba memecahkan soal yang rumit, meskipun sebenarnya ia menyenangi pelajaran ini. Tapi baginya trigonometri adalah materi yang tersulit baginya.
"Nis, kamu berarti ikut ya nanti waktu ustadz pindah?" tanya Jihan berhenti sejenak dari aktivitasnya.
"Iyalah," jawabku singkat.
Requeensha mendongakkan kepala. "Pak Azzam, mau pindah?"
"Iya. Kamu nggak dengar tadi kami bilang apa?" Jo membalas pertanyaan Requeensha, yang dibalas desisan sebal oleh Requeensha. "Biasa aja dong. Jangan ngegas. Eh Nisa kan ikut. Kalau gitu aku minta maaf ya kalau aku ada kesalahan!"
"Tulus nggak tuh?" sindir Jihan.
"Iyalah. Dari hati yang paling dalam, beneran! Sumpah!" ucap Requeensha sambil mengangkat tangannya.
"Maafin nggaknya. Kamu tau apa kesalahan kamu, Sha?" tanyaku dengan muka tak puas.
"Apa coba?"
"Em, em. Aku yang sebenarnya sudah buat akun fake itu untuk menyerang kamu, Nis."
"Hem bagus. Kamu tau kan!"
Requensha mengangguk pasrah, mengakui semua ulah buruknya yang sudah dilakukannya terhadapku. Ia mengucapkan kalau dirinya saat ini hanya ingin berdamai dan tidak ingin mencari musuh lagi.
Fey beringsut pindah mendekat ke sisiku. Tatapannya begitu intens. "Nisa, aku tau kamu sudah menjadi masa laluku."
Ia melepaskan gelang yang melingkar dipergelangan tanganya, lalu mengambil tanganku yang masih memegang bulpoin. Melingkarkan gelang itu di pergelangan tanganku. "Aku tau gelang ini sangat sederhana. Tapi aku harap kamu jangan lihat gelang ini dari nilainya. Kamu tau pola apa yang membentuk di gelang itu?"
Aku mengamati setiap detail tali gelang glass beads hitam. "Bintang."
"Iya itu, aku harap kehidupanmu sama seperti bintang. Yang selau kesenangan pada orang lain. Tapi bintang tetaplah bintang, meski cahayanya sering meredup bahkan tidak terlihat oleh mata, tapi dia tetap ada. Sama seperti aku saat ini. Meski kau tidak denganku, tapi kau akan tetap menjadi memori indah dalam hidupku."
"Fey, seperti yang kamu bilang kita harus sama-sama ikhlas. Aku sudah bahagia dengan hidupku saat ini, begitupun dengan kamu, kamu juga harus bahagia, Fey."
"Pasti Nis. Aku akan bangun kebahagiaan dalam diriku," ucap Fey dengan segaris senyum mengumbar di wajahnya."
***
"Deal" Tangan Fikri menjabat tangan pria bertubuh kekar itu. Fikri telah berhasil mengajak pria itu untuk bekerja sama membantunya.
Fikri tergelak senang.
"Pokoknya nanti kamu atur sedemikian rupa supaya, jatuhnya aku yang menyelamatkan dia. Oke"
Pria tersebut mengendik dagu. "Aman, sekarang lebih baik kamu buat janji dengan dia dulu. Kamu ajak dia untuk jalan kemana gitu."
"Iya. Aku sedang memikirkan itu," Fikri memandang ke arah pada box nasi dan minuman yang sengaja dibawakan untuk Sarah.
"Kalau begitu lebih baik kau tunjukkan mana wanita yang kau taksir itu!" ajak laki-laki itu antusias.
"Kamu ikut aku!"
Fikri berjalan memasuki area rumah sakit. Melewati setiap bagian koridor menuju ruangan Dokter Sarah. Dari kejauhan netra Fikri sudah mendapati Sarah yang baru saja keluar dari salah satu ruang rawat.
Ia mempercepat langkahnya untuk mengampiri Sarah. "Hay, selamat siang dokter."
Sarah meloncat kaget seraya memegang dadanya ketika Fikri tiba-tiba muncul tepat dihadapannya.
"Fikri, kamu ke sini lagi. Kenapa? Umi kamu sakit lagi ya?" tanya Sarah.
__ADS_1
"Nggak kok. Aku ke sini cuma—" Fikri menoleh ke arah teman di sebelahnya. Tidak mungkin ia mengataka kalau dia ke sini untuk menunjukkan pada rekan di sebelahnya bahwa dialah wanita yang bernama Sarah yang sedang menjadi targetnya. Fikri mengendik dagu.
Pria itu mendehem. "Dia ke sini, menemaniku untuk check up jantung, kebetulan dokter menyarankan aku untuk periksa setiap sebulan sekali. Dan kebetulan Fikri bilang ada rumah sakit yang jaraknya dekat dari rumahku. Aku kurang paham daerah sini karena aku juga baru pindah." Pria itu tersenyum setelahnya.
Sarah mengangguk. "Oh begitu ya."
Fikri memberi kode isyarat pada teman sejawatnya supaya meninggalkan mereka berdua di sini.
"Kalau gitu aku duluan masuk ke dalam ya!"
"Oke bro, nanti aku tunggu di sini ya!"
Si pria menggerakkan jari jempolnya pertanda 'Iya' lalu pergi menjauhi Sarah dan Fikri.
Fikri menggeser langkahnya mendekat ke Sarah. "Ini makan siang buat dokter."
"Kamu nggak mesti repot-repot begini, Fikri" ucap Sarah tak enak.
"Gak apalah Sarah. Setiap hari pun kalau kamu bersedia aku antarkan makanan, pasti juga bersedia," tutur Fikri dengan jenaka.
Fikri menggaruk keningnya. "Hmm... Sar, malam lusa, aku rencana mau mengajakmu keluar. Kamu mau?"
"Memangnya dalam rangka apa?"
"Dalam rangka pengakraban diri." cetus Fikri.
Kening Sarah berkerut, berusaha memahami maksud Fikri. Sarah berpikir pasti Fikri masih berusaha untuk mencari celah supaya ia bisa lebih dekat dengan dirinya, Sarah hanya berusaha menjaga jarak dengan pria di depannya itu. Ia tak ingin Fikri mengharap lebih jauh untuk dirinya.
Sarah tersenyum getir. "Maaf Fikri, aku kayaknya nggak bisa deh," tolak Sarah halus.
Mendengar penolakan Sarah, Fikri hanya bisa mendengus lemas. "Kenapa, Sar? Kamu jangan selalu menghindar dari aku, Sar. Aku cuman mau mengenalmu lebih dekat."
"Bukan begitu, Fikri. Aku tidak bisa janji akan datang karena masih ada pekerjaan lain."
Fikri menyugar rambutnya yang tertiup angin. "Sebenarnya ini ajakan Kak Soraya untuk mengajakmu ikut bergabung bersama aku dan Azzam untuk acara makan bersama. Hitung-hitung membangun keakraban."
'Azzam? Azzam juga akan datang ke sana?' Batin Sarah
"Azzam juga ada di sana?"
Fikri mengernyit bingung kenapa ketika menyebut nama Azzam, raut wajah Sarah tampak berbinar. Apa yang dilihatnya ini adalah bukan kali pertamanya.
Apa Sarah....? Ah, tidak mungkin!
"Iya, kenapa memangnya?"
"Tidak, Fikri." Sarah tersenyum kikuk. Mungkin baginya ini adalah moment terbaik bagi Sarah, karena ia yakin Nisa pasti ikut bersama Azzam. Ia akan mengatakan semuanya.
"Ya sudah. Kalau begitu aku mau," tutur Sarah bersenang hati.
Agaknya Fikri mulai merasa lega, akhirnya Sarah mengiyakan apa yang ia inginkan.
***
Aku duduk di ruang tengah, membawakan segelas teh favorit Azzam dan sepiring brownies cokelat buatan ibu.
Azzam sedang membaca buku tentang kajian-kajian islam.
"Sayang, diminum teh dan kuenya!" pintaku lembut.
"Iya sayang. Terima kasih ya. Senang senangnya punya istri perhatian begini," sanjung Azzam usai menyingkirkan buku yang lumayan tebal dan kacamatanya ke atas buku.
"Mau kemana lagi? Sini duduk dekat abang," pinta Azzam merayu saat melihat aku ingin berlalu ke belakang.
Aku merapat duduk di sebelahnya. Menemani Azzam menikmati secangkir teh hangat dan kue brownies yang aku bawakan tadi untuknya. Tanganku meraih remote televisi. Layar yang semula menghitam sekarang menampilkan gambar.
Sebuah berita tentang pembunuhan yang dilakukan istri terhadap suami yang ketahuan selingkuh.
"Waduh, serem amat," ujarku begidik menyimak penyampaian berita oleh reporter.
"Itu karena terlalu sakit hati, makanya istrinya melakukan itu kali yah!" tambahku lagi.
"Itulah kalau napsu menguasai diri manusia. Maka setan lebih muda menghasut manusia," komentar Azzam singkat.
"Kira-kira kalau abang yang begitu apa Nisa juga akan melakukan hal yang sama?" tanya Azzam padaku.
"Nisa rasa, Nisa nggak akan tega bunuh abang."
"Iya sayang, benarkah?" Azzam mencubit gemas pipiku.
"Iya. Bukan abang yang bakalan Nisa bunuh. Tapi Nisa yang akan bunuh diri Nisa sendiri," celetukku.
"Astagfirullah, jangan begitu, sayang. Sekarang mari kita sama-sama berdoa, semoga rumah tangga kita, keluarga kita ini selalu rukun dan diberkahi Allah." Harap Azzam.
"Amiin."
Azzam meraih kepalaku, ia seperti sedang membacakan doa, lalu mengecup pelan keningku.
"Tetaplah bersamaku, apapun keadaannya," tutur Azzam sembari meletakkan kepalaku dalam rengkuhannya.
Tangan mengusap naik turun dada Azzam, ia masih mengenakan baju koko dan sarung juga masih melekat di tubuhnya. Kami memang baru usai melaksanakan sholat isya berjamaah tadi.
__ADS_1