
KRIEEKKK....
Daun pintu ruang tamu terbuka lebar. Ketika itu pula sebuah susunan balon menyembul dari balik pintu menampilkan bacaan welcome to back home my wife.
"Taraa... selamat datang kembali di rumah kita sayang."
Aku menutup mulut merasa surprise dengan apa yang dibuat Azzam untukku.
"Lha, tapi bukannya abang nggak taukan kalau Nisa boleh pulang hari ini. Kenapa abang bisa buat ini?"
Azzam tertawa geli. Hm, aku menduga pasti dia tahu semuanya. Hanya pura-pura tidak tahu saja.
Azzam duduk menjongkok di depanku, sebelum berbicara ia membenarkan tepi hijab yang aku kenakan. "Maaf ya sayang, abang saat di rumah sakit pura-pura tidak tau saja. Supaya surprise."
"Bisa aja." Aku menarik gemas pipinya.
"Ya sudah, kita masuk ya." Azzam lanjut mendorong kursi roda dan membawaku ke kamar di lantai bawah yang sudah beberapa hari kami tempati. Supaya tidak payah naik turun lantai kami akhirnya memilih kamar bawah saja dulu."
***
Di ruang tengah keluarga Azzam tengah berkumpul. Abah Hamzah, Kak Soraya bersama Ali dan Abang Fikri yang juga ditemani Kak Sarah.
Kami semua berbicang di ruang keluarga, Azzam dan Umi juga ikut duduk bersama usai menyiapkan makanan juga cemilan yang masih tersedia di rumah. Beruntung persediaan makanan untuk tamu masih ada tersedia. Mereka semua datang mendadak hingga kami tidak sempat pula hendak menyediakan makanan yang banyak untuk keluarga besar Azzam. Sementara Ayah dan Ibuku belum bisa ikut karena masih di Singapura.
"Azzam" panggil Abah dengan tersenyum. "Sini, duduk dekat abah. Jangan memplok terus sama si Nisa. Kalian berdua ini seperti surat dan prangko saja, mau selalu dekat-dekatan trus ya." Guyon abah pada putra bungsunya. Yang disambut tawaan meriah oleh keluarga yang lain. Melihat reaksi mereka yang menertawakan kami, seketika pipi ku memerah bak tomat merah.
Huft! Di depan mereka kami jadi bahan tawaankan. Batinku.
Azzam tertawa kikuk. Kemudian memandang ke arahku. Aku membalasnya dengan mengendikkan dagu. Meminta Azzam supaya segera mendekat ke abah.
Azzam bangkit dan berjalan di tengah para keluarga lain dengan sedikit menunduk. "Iya Abah,"ucapnya.
__ADS_1
Abah menepuk pundak Azzam, melemparkan senyum bangga pada putra ketiganya.
"Bagaimana setelah kamu melalui semua ini. Enak berumah tangga, Zam?"
Aku mengernyit mendengar pertanyaan Abah Hamzah. Sambil melihat pada reaksi yang ditunjukkan Azzam. Azzam tersenyum canggung.
Agaknya Azzam menyadari kalau aku tengah mengamatinya. Ia melempar kedipan sebelah mata padaku. Aku memalingkan wajah seketika saat ia melakukan itu. Bukan tak suka, tapi takut akan menjadi bahan candaan keluarganya lagi.
"Ayo jawab, dek. Liat tuh abah dia malah pake kode-kode lagi ke Nisa." Fikri mulai usil lagi.
Sarah mencubit pahanya, membuat Fikri meringis dan mengelus paha yang telah dicubit calon istrinya. "Kamu jangan begitu, kasihan tuh mereka pada malu kan," tutur Kak Sarah.
"Lihat dua pasangan ini mulai ikut-ikutan. Sayang, kita jangan jaim kaya mereka ya. Kita kalem-kalem aja. Biar nggak jadi bahan tertawaan." Kak Soraya mengajak suaminya beradu tos. Kak Soraya dan Abang Ali, memang dua sejoli yang mencoba tampil kompak. Saat ini saja, mereka mengenakan T-Shirt couple berdua.
"Elleehh... Kakak bisa aja. Itu pake baju samaan itu apa coba. Kaya anak abege aja," sambung Bang Fikri saling melempar ledekan satu sama lain. Aku hanya tersenyum menyaksikan aksi mereka.
"Masya Allah. Anak umi semuanya kalau udah kumpul. Usilnya nggak ketulungan. Udah. Tadi abah mau ngomong nggak jadi jadi tuh." Umi menengahi.
Pria yang sebagian rambutnya telah beruban itu menyesap kopi hangat lalu membenarkan letakkan kacamatanya sebelum mulai berbicara.
"Anak-anak semua dengarkan. Ini bukan hanya untuk Azzam tetapi untuk kalian semua. Termasuk kamu Fikri yang sebulan lagi akan menikan," ucap Abah tegas.
Melihat pembawaan abah yang demikian, terlihat sekali karakter itu ada pula pada Azzam. Memang tak bisa dipungkiri Abah Hamzah sebagian karakternya menurun pada si bungsu. Azzam.
"Banyak orang mengatakan bahwa menikah, membangun rumah tangga adalah sebuah step tertinggi dalam sebuah perjalanan cinta dan kehidupan seseorang. Betul. Tapi yang harus diingat adalah untuk menjalani hal itu tidaklah mudah. Pasti kalian semua beranggapan bahwa kehidupanmu akan dipenuhi banyak kebahagiaan dengan menikahi orang yang kamu sayang. Siapa bilang kebahagiaan sudah terjamin saat kamu sudah menikah dengan orang yang kamu cintai. Nyatanya ujian dalam hubungan tidak pernah berhenti meski kamu sudah menikah sekalipun. Justru ujian yang kamu hadapi saat sudah berumah tangga biasanya semakin berat saja."
Abah menelan salivanya, memberi jeda sejenak.
"Rumah tangga sakinah bukanlah yang terbebas dari ujian. Rumah tangga sakinah adalah yang mampu menghadapi ujian bersama seraya berpegang teguh pada syariat-Nya. Sepanjang perjalanan pernikahan yang tak mengenal batas, selama itu pula akan ada ujian datang. Tidak ada rumah tangga tanpa ujian,” tutur Abah penuh penekanan diakhir kalimatnya.
"Iya abah," jawab azzam, diangguki pula oleh kami yang ada diruangan ini.
__ADS_1
"Abah, Fikri mau tanya apa iya kata orang ujian dalam pernikahan itu hadir sebagai bentuk teguran Allah terhadap pelanggaran di masa lalu. Apa begitu, abah?"
Abah menyadarkan punggungnya pada kepala kursi. Merilekskan posisi duduknya.
"Abah yakin bahwa kebahagiaan itu adanya di dalam jiwa kita masing-masing, dan hanya Allah yang bisa memberikan rasa bahagia itu. Maka semua berproses sejak awal (niat dan caranya) harus selalu memenuhi tuntunan-Nya. Lalu bagaimana dengan ujian yang kita terima? Kita jangan hanya melihat pada satu sisi tapi cobalah pandang ujian itu sebagai rahmat dari Allah swt. Karena kita semua tau bahwa tidak ada manusia yang lepas dari dosa, maka Allah menetapkan salah satu cara pembersihan dosa manusia adalah dengan ujian-ujian yang diberikannya. Jika tak ada ujian, manusia akan sulit bersyukur dan jarang terbersihkan dosanya," jelas Abah menatap anak-anaknya satu per satu.
"Jadi, intinya harus banyak sabar dan banyak bersyukur dalam menjalani kehidupan ya, Abah. Terima kasih Abah atas wejangannya pada kami," kata Azzam.
"Sekarang, Fikri ayo sampaikan apa rencanamu tadi ketika di jalan." Ali bersuara sambil menepuk pundak Fikri yang duduk di sebelahnya.
"Oh iya, tadi di jalan kita ada ide. Dalam rangka memeriahkan HUT RI KE 75. Gimana kalau kita buat acara lomba kecil-kecilan," usul Fikri, yang disambut riuhan kata setuju dari yang lainnya.
"Oh lomba 17 san nih ceritanya?" tanyaku.
"Iya dong, Nisa. Kita seru-seruan meski acaranya di rumah gini," sahut Bang Fikri.
"Lombanya apaan Bang?" kali ini Azzam bertanya.
"Lombanya sih rencananya, bisik berantai, joget tiktok, cup and paper"
"Wah itu lomba anak muda semua. Umi mau usul dong, ada lomba masak-masak gitu," usul Umi.
"Haa... Nisa setuju tuh Mi. Gimana kalau lomba buat roti sandwich aja kan lumayan mudah buat Nisa," kataku menyengir lebar.
"Boleh juga tuh. Tapi bahannya ada nggak?" tanya Kak Soraya.
"Gampang tinggal kita beli, di depan komplek ada minimarket" sahut Azzam.
"Oke berarti fixs ya lombanya. Untuk lomba masak-masak kita taruh di jam paling akhir. Biar capek-capek habis lomba kan bisa menikmati hasil masakan."
Kami semua bersungut semangat. Kita mulai membagi tugas, menyiapkan alat-alat perlombaan yang sebenarnya tidak pula begitu ribet. Untuk joget tiktok hanya perlu gadget, bisik berantai hanya perlu membuat kalimat yang terdiri dari beberapa kata yang nantinya akan digunakan dalam permainan, cup and paper hanya menggunakan kertas dan gelas plastik, dan semuanya sudah ada. Sekarang, yang perlu dipersiapkan hanyalah bahan-bahan untuk membuat sandwich.
__ADS_1