
Hari ini adalah hari bahagia untuk kakak iparku. Kak Soraya. Ini tentu akan menjadi hari yang bersejarah bagi bagi Kak Soraya dan Bang Ali. Hari ini, Abang Ali akan menghalalkan wanita yang menjadi pilihannya. Kebahagiaan semangkin terlihat ketika mencapai yang paling tinggi. Dimana saat keduanya duduk bersanding dipelaminan.
Para tamu juga saling melempar raut bahagia saat melihat dua mempelai bersanding di pelaminan. Tak luput pula raut bahagia terpancarkan dari Abah Hamzah dan Umi Salamah. Akhirnya putri satu-satu mereka telah menyempurnakan separuh agamanya.
"Barakallah, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warrahma," doa beberapa tamu undangan yang hadir memberi ucapan selamat.
Aku dan Azzam duduk, mengisi tempat di salah satu meja bundar yang disediakan untuk tamu undangan. Banyak sekali tamu undangan yang turut memberi selamat, mulai dari dosen dosen teman abah. Sahabat, karyawan kak Sarah. Sampai rekan sejawat bisnis Abang Ali.
Kak Soraya pernah bercerita sedikit tentang awal pertemuannya dengan Ali yang sangat dramatis. Hanya karena tertukar dokumen membuat Soraya harus bertemu lagi dan lagi, mulai dari mengatur schedul rapat bos Soraya dengan Ali. Pada pengajuan kontrak bisnis property membuat Soraya kerapa bertemu dengan Ali. Yang notabennya Soraya adalah sekretaris perusahaan yang dipimpin Xavier Kayle. Seorang laki-laki berdarah Inggris Indonesia.
"Assalamualaikum boleh kita berdua gabung di sini," tanya Sarah yang datang berdua bergandengan dengan Fikri.
Azzam menyambut saudara laki-lakinya itu dengan senang. "Bukan main, tampak bahagia sekali abang saat ini ya?" usik Azzam sambil memukul bahu Fikri. Membuatnya meringis pelan.
"Aww... Mukulnya jangan di sini dong. Masih agak ngilu bekas luka kemarin," kesal Fikri.
"Aduh, maaf maaf lupa." Azzam menyengir saja.
Aku dan Sarah tertawa sambil menggeleng kepala.
Fikri menarik kursi untuk dirinya sendiri dan Sarah. "Duduk, Sarah" titah Fikri.
"Terima kasih."
Fikri menyeruput minuman di atas meja. "Gimana bro, berhasilkan abang menepati janji. Membawa calon istri, saat hari pernikahan Kak Soraya," kata Fikri menaik turunkan alisnya.
Azzam terkekeh. "Ah, good. Abang memang hebat," puji Azzam.
"Kak bagaimana sehat?" tanyaku pada Kak Sarah.
"Alhamdulillah, baik juga kak."
Sarah tersenyum merekah.
Di sisi lain Fikri tampak mengendik jail dengan Azzam. "Sementara kami akan turut melaksanakan pernikahan pula menyusul Kak Soraya. Kalian kapan nih...." Fikri mengulum senyumnya.
"Kapan apa?" tanya Azzam.
"Kapan punya debay," tawa Fikri menggoda adik laki-lakinya.
"Ah, aku kira apa, bang."
Azzam menoleh dan mengerling mata padaku. "Kapan sayang?" tanya Azzam penuh cinta.
Aku mengendik bahu, wajahku mulai tak bersahabat ketika ditanya demikian. Akhirnya, aku hanya membalas dengan senyuman.
"Nisa, tenang saja kalau kau mau curhat atau konsultasi bisa dengan aku yah. Dan itu gratis, tidak perlu bayar," timpal Sarah dengan senangnya.
"Hmm... Mantap tu Bu Dokter." Fikri menyahut.
Aku turut menyengir lebar. "Makasih, kak."
Obrolan kami berakhir lima belas menit kemudian usai fotografer meminta untuk seluruh keluarga mengambil momen bersama.
__ADS_1
***
Kembali ke rutinitas seperti biasanya. Aku terbangun pukul tiga dini hari. Sudah terbiasa bagiku sejak hidup serumah dengan Azzam. Rutinitas yang biasa dia lakukan, lambat laun turut juga aku ikuti. Sampai membuat aku terbiasa melakukan apa yang sering juga ia kerjakan, begitu pula dengan ibadah-ibadah sunnah.
Seperti saat ini, aku terbangun pukul tiga pagi ingin menjalankan sholat tahajjud. Aku menoleh ke sebelah. Azzam masih berbaring, terlelap dalam tidurnya. Semalam ia memang baru tidur pukul 12 malam, segenap pekerjaan membuatnya harus tidur larut malam selama dua malam ini. Belum lagi hari ini, ia akan pergi ke Tangerang. Aku hanya berharap semoga suamiku senantiasa diberi kesehatan.
Raut lelah yang bergaris di wajahnya membuat membuat aku mengurungkan niatku untuk membangunkan Azzam. Biasanya dia yang selalu membangunkan aku pagi dini hari. Dengan tersenyum aku mengusap rambut Azzam yang lebat. Tanganku meraba setiap bagian lekuk wajahnya, menyentuh kulit pipinya yang halus dan mulus dengan cambang yang tampak mulai kembali tumbuh kembali di bagian pipinya. Terlelapnya ia membuat aku semangkin terpesona.
Mata Azzam mengerjap pelan, sepertinya ia terusik dengan gerakan kecil yang aku lakukan di wajah rupawannya.
Ia mengusap wajahnya sembari beristifgar tiga kali.
"Nisa?" panggil Azzam dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Iya."
"Jam berapa sekarang?"
"Jam tiga lewat sepuluh menit, bang," jawabku sambil mengangkat kepalaku dari atas wajahnya.
"Astagfirullah, kenapa Nisa tidak membangunkan abang?" Tanya Azzam sambil beringsut menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
"Nisa tadi mau membangunkan abang, cuman Nisa nggak tega banguninnya," kataku mengusap lengan lembut lengannya.
Azzam mengucek matanya. "Ya sudah, ayo kita ambil wudhu dan sholat berjamaah."
Aku masuk ke kamar mandi lebih dulu bergantian dengan Azzam. Membersihkan badan sebelum wudhu.
Usai sholat Azzam melakukan aktivitas seperti biasa. Setiap selesai menjalankan sholat, yaitu membaca Al-Qur'an. Setelah ia mengaji. Azzam memintaku untuk menyetorkan hafalan surah pendek yang diminta. Dengan dengan sabar Azzam menyimak hafalanku, dengan khusyuk aku melantunkan muroja'ah surah Al-Buruj.
Hatiku berasa bergetar di akhir hafalanku. Aku menitikkan air mata. Azzam menatapku, lalu mengusap pelan bahuku. Ia mengesap mengusap air mataku.
Aku meresapinya, Azzam selalu mengatakan bahwa ketika membaca ayat-ayat Allah kita juga perlu mentadabburkan makna yang terkandung dalam ayat Al-Qur'an.
Karena menamtadaburi kitab Allah merupakan kunci untuk membuka ilmu dan pengetahuan, hal itu juga membuahkan kebaikan dan memperoleh khasanah pengetahuan yang banyak. Tadabur juga berfungsi untuk menambah iman dan mengokohkan pohon keimanan tersebut. Tadabur juga membuat seseorang mengenali Rabb-Nya, pengetahuan akan sifat-sifatNya yang sempurna dan jauhnya Dia dari sifat-sifat yang tidak sempurna. Dengan tadabur pula seseorang dapat mengetahui mana jalan menuju Allah dan sifat-sifat orang yang menempuh jalan tersebut. Seseorang dapat mengetahui musuhnya dengan tadabur dan jalan jelek yang mengantarkan kepada azab serta sifat-sifat orang yang menempuh jalan tersebut.
"Sayang, demikianlah kenapa kita diminta mentadaburkan ayat Al-Qur'an. Supaya seseorang terus merenungi setiap makna dalam ayat Al-Quran, dan ikut akan membuat bertambahlah ilmu, amal, dan bashirahnya," tutur Azzam lembut.
"Abang sekaligus ustadnya Nisa, terima kasih sudah mau membimbing Nisa dengan baik dan sabar. Maaf kalau Nisa selalu membuat abang kesal, ataupun perlakuan dan perkataan Nisa yang membuat atau melukai hati abang," ucapku tulus.
"Zaujaty, sudah sering abang dengar Nisa meminta maaf dengan abang." Azzam mengelus kepalaku yang masih tertutup mukena.
"Karena Nisa merasa belum menjadi wanita yang baik, belum menjadi wanita yang taat dengan suami."
"Sayang, menjadi wanita baik bukannya bertahap. Sekarang kita sama-sama memperbaiki diri. Kira raih surganya Allah bersama-sama. Jadi, Nisa tak perlu berkata seperti itu ya"
"Nisa hanya merasa tidak pantas, bersanding dengan laki-laki seperti ustadz"
"Sayang, kalau dari dulu abang mencari pasangan yang sepadan dengan abang, tentu dari dulu abang tidak akan mau menikahi Nisa. Tapi kalau laki-laki baik harus selalu dipasangkan dengan wanita baik pula, lalu bagaimana wanita yang dikatakan tidak baik. Apa selalu lelaki baik selalu dipasangkan dengan wanita baik. Dan kalau begitu lelaki tidak baik di pasangkan dengan wanita tidak baik, lalu kalau demikian apa yang terjadi?" Azzam menjeda kalimatnya sebentar.
"Maka tugas suaminya untuk mengajarkan sesuatu yang baik pada istrinya untuk meraih kebaikan itu. Dan abang terima Nisa apa adanya," lanjut Azzam.
"Tapi abang, bukannya laki-laki yang baik untuk wanita yang baik." Aku menatap kedua manik matanya dengan intens. "Dan Nisa bahkan dulu selalu membangkang dengan tidak taat pada apa yang selalu abang katakan bahkan Nisa pernah mengkhianati kesetiaan itu."
__ADS_1
"Jika ada sepasang kekasih yang dipasangkan, namun salah satunya tidak setia. Maka, bisa jadi pasangan kita itu dijadikan oleh Allah sebagai ujian kesabaran baginya."
Hidup memang sebuah harmoni. Seperti alunan merdu orkestra yang menggabungkan suatu perbedaan. Melly Goeslaw tidak pandai menulis not balok, ia hanya pandai bersenandung tetapi dia memiliki seorang teman hidup yang luar biasa. Anto Hoed yang kemudian menuliskan senandungnya dalam aranseman memukau. Inilah hakikat suami istri. Kesetaraan dalam kehidupan, dengan tetap berpegang teguh pada Tuhannya, norma agama, setia, saling mencintai, mengasihi dan menghormati.
Aku tertunduk mendengar perkataanya.
"Kalau dulu kita perhatikan, zaman kakek dan nenek kita dulu menikah banyak yang dimulai dengan tidak saling mencintai karena dijodohkan. Tapi pernikahan mereka banyak yang kekal sampai maut memisahkan. Tapi coba lihat sekarang, banyak pasangan muda yang menikah dengan dasar saling mencintai. Bahkan dimulai dengan proses pacaran yang kadang bertahun-tahun tapi dengan mudah bercerai dan berkata kita tidak ada lagi kecocokan. Point utamanya adalah, sekarang banyak yang tidak menghargai kesetiaan dan selalu menuntut untuk menerima daripada memberi," jelasnya.
Aku mengangguk pasti, agaknya pagi-pagi aku sudah banyak mendapat kuliah umum dari Azzam.
Azzam mengangkat daguku. Memintanya untuk menatap dua bola mata Azzam. "Apa Nisa menyesal pernikahan kita ini terjadi?"
Aku terkesiap, kenapa dia bertanya demikian lagi? Apa dia teringat awal pernikahan kami, aku sungguh menolak dia untuk menjadi suamiku. Aku memegang kedua tangannya. "Nisa hanya belajar tentang arti tulus dari abang untuk menerima dan mengikhlaskan semuanya. Abang ingat, ucapan abang ketika selepas melafadzkan ijab qabul. Bahwa abang terima karena Allah, dan jika abang tanya tentang itu saat ini. Maka Nisa akan menjawabnya. Kalau Nisa mencintai suami Nisa karena Allah. Itu jawabannya," tuturku kemudian mengecup tangan kanannya.
Azzam senyum merekah. "Semoga Allah senantiasa memberikan cahaya pada hati kita. Senantiasa membimbing kita pada keteguhan iman."
"Amiin."
Kami masih berada di posisi semula. Duduk menghadap Azzam dengan Al-Qur'an masih berada di tengah kami berdua.
Aku melempar satu senyum menggoda. "Kalau Nisa boleh tanya. Kenapa waktu abang menolak ketika Kak Sarah mengajak abang untuk menjadikannya istri keduanya?"
Azzam menghela napasnya dengan berat. "Abang hanya berusaha untuk menjaga komitmen dan janji pada diri abang sendiri."
Aku mengerut dahi. "Janji? Memangnya apa janji abang?"
"Janji untuk menjaga perasaan wanita yang sejak lama abang sukai," senyum Azzam.
"Dulu abang janji jika Nisa masih disiapkan sebagai jodoh abang, maka usaha apapun akan abang lakukan untuk mendapatkan wanita itu. Tentunya disertai ikhtiar. Dan sejak awal dan bahkan sejak abang awal mula di sekolah tingkat aliyah, diam abang selalu menyelipkan nama Nisa dalam doa."
"Benar begitu?"
"Iya"
"Kok Nisa nggak peka ya?" Aku mengetuk keningku.
Azzam terkekeh. "Karena abang memang tidak menujukkan itu, abang mau Allah menyampaikan itu lewat lantunan doa, karena Allah yang paling tau tentang semuanya."
Aku mengangguk.
"Sekarang giliran abang yang bertanya, kenapa Nisa menjalin hubungan terlarang dengan teman sekelas Nisa, saat tau sudah ada laki-laki halal yang bersamamu?"
Aku berpikir. Bahkan aku merasa menjadi orang bodoh, kenapa pula aku bisa melakukan itu.
"Nisa nggak tau. Mungkin Nisa kurang tau tentang apa itu setia, Nisa hanya perpikir singkat tentang ketakutan kehilangan laki-laki yang menurutku sudah nyaman bersamanya."
Wajah Azzam berubah, dahinya berkerut-kerut masygul. "Nyaman. Oh berarti dengan si Fey itu Nisa merasa nyaman ya?"
Aku mencubit perutnya. "Aiihhh... Nisa nggak paham tentang semua itu. Pikiranku terlalu singkat. Sekarang tolong abang sampaikan tentang bagaimana menjadi sosok setia itu?"
Azzam mendehem. "Singkat yang dibutuhkan hanya sebuah komitmen." Azzam menelan salivanya. "Komitmen dari dua belah pihak. Jika kita ingin hidup berharga. Jadilah manusia yang menghargai ke setiaan dan menjalaninya dengan komitmen. Hidup ini bahagia atau tidak tergantung komitmen yang kita jalankan. Sebaliknya, satu pihak saja sudah mampu melakukan pengkhianatan dan pengkhianatan itu tidak lebih berharga dari sampah. Sampah masih bisa didaur ulang tapi kekecewaan hati karena pengkhianatan kadang tidak bisa memsperbaiki hubungan. Hanya orang yang menghargai dirinya yang sanggup memegang komitmen terhadap kesetiaan."
Usai percakapan panjang itu, kami mengakhiri muroja'ah kami. Aku merapikan mukenah dan sajadah kami kembali, meletaknya di kursi sofa.
__ADS_1