Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 64. Ikhlasku


__ADS_3

Azzam menghempaskan tubuhnya di atas tempat di tidur, ketika melihat aku yang sedang duduk bersandar pada kepala ranjang.


“Abang, ih. Pergi mandi sana!” Aku menjauhkan kepala Azzam yang bermanja ria dipundakku.


“Malas, nanti aja ya?” jawab Azzam, malah menambah erat pelukannya.


“Tapi abang tuh bau masam!” kataku, mendengus ke arahnya.


“Ah, masak?” Azzam mengendus aroma dari tubuhnya sendiri.


“Iya!” kataku dengan mencubit perutnya gemas.


Laki-laki di sebelahku itu bangkit dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tak lama setelah itu, ia membuka pintu kamar mandi sedang mencari-cari sesuatu.


“Nisa, mana handuk abang?” tanya Azzam dari balik pintu, menyembunyikan sebagian tubuhnya.


“Itu.” Mataku mengekor pada handuk berwarna putih terhampar di sebelaku.


“Tolong ambilkan handuk abang!” titah Azzam.


“Ambil sendiri!” kataku masih memainkan ponsel.


Azzam akhirnya keluar dari kamar mandi dalam kondisi badan dan rambut yang basah sesekali air masih mengalir dari anak rambutnya. Ia mendekat untuk mengambil handuknya. Aku terperanjat, melihat Azzam yang bertelanjang dada. Memamerkan dada bidangnya.


Aku tersenyum menggoda dan ketika itu pula wajah kami saling berpandang satu sama lain. Azzam balik menggoda, ia semangkin mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku memilih untuk memejamkan mata, dan sesaat aku merasa tetesan air yang berasal dari rambut Azzam yang basah berjatuhan membasahi wajahku.


Aku mengusap wajah dengan kasar. “Abang, basah semua nih!” ucapku geram karena tetesan air yang jatuh dari rambutnya membuat bajuku juga sedikit basah, padahal aku baru juga usai mandi.


“Biarlah, siapa yang mulai usil duluan?” balas Azzam, ingin juga menjahiliku.


Azzam mengambil handuk yang berada di sebelah kiri tubuhku, kemudian bangkit berdiri lagi hendak mengeringkan rambutnya yang basah usai keramas. Mataku mengekor ke Azzam yang sedang mengenakan baju.


“Bang, nggak ada niatan gitu mau keluar? Ya kayak jalan-jalan gitu,” tuturku dengan bibir yang dimanyunkan, sembari tangan mendekap erat bantal guling.


“Kenapa lagi? Pasti bosan,” tebak Azzam, dan yang dikatakannya itu adalah benar. Aku ingin merehatkan sejenak pikiranku usai beberapa hari kepalaku diisi oleh beban berat tentang ujian nasional yang aku lalui selama tiga hari, dan hari ini aku ingin refresing sejenak.


Aku menggangguk lemas dengan kedua tangan masih memeluk erat bantal guling.


“Ya sudah kalau itu maunya istri kesayangan, abang akan turuti.”


“Hmm, abang emang yang paling baik dah,” sanjungku.


Dengan segera aku berganti pakaian. Memilah baju yang pas untuk jalan santai sore ini.


Beberapa menit kemudian, aku sudah siap dengan mengenakan tunik berwarna navy dipadu padankan dengan jilbab berwarna peach.


Azzam juga sudah selesai berganti pakaian dengan mengenakan T-shirt berlengan panjang. Aku bisa melihat dari pantulan cermin wajahnya tersenyum merekah, tidak janjian namun kami seakan kompak. Azzam mengenakan pakaian yang warnanya sama dengan warna baju yang aku kenakan.


“Lho abang kok kita bisa samaan sih?” tanyaku keheranan.


“Itu tandanya kita sehati, sayang.”


Aku mengulum senyum. “Begitu ya, sayang.”


“Sudah siap?” tanya Azzam setelah dirasa penampilannya rapi.


“Sudah," sahutku balik.


“Ayo, on the way sekarang," ujar Azzam menggandeng tanganku.


“Kalian mau jalan?” tanya ayah Ahsan yang sedang duduk bersantai menikmati waktu sore dengan secangkir kopi di mejanya.

__ADS_1


“Iya, ayah. Kita mau jalan dulu,” ujarku semangkin merekatkan gandengan ke lengan Azzam.


Ayah menggeleng. “Memang lain pasangan suami istri yang sedang dimabuk cinta, kemana-mana selalu mesra, maunya nempel terus seperti perangko,” tutur Ayah Ahsan, dengan netra mata mengekor ke arah tangan kami yang saling menggenggam erat.


“Ih, ayah apaan sih!” kataku kikuk.


Ayah tertawa pelan melihat responku yang demikian, malu-malu mengakui.


“Ya sudah. Nikmatilah waktu berdua kalian," seru ayah.


Azzam menatapku sebentar, lalu menoleh ke ayah. “Ayah, apa ada yang ingin dipesan? Biar kita nanti akan membelikan.”


Ayah Ahsan menutup kembali lembar surat kabar yang dibacanya. “Ayah tidak mau pesan apapun. Ayah hanya berpesan, tolong jangan buat kami menunggu lama untuk kalian memberikan cucu pada kami. Ya kan ibu?” kata Ayah mengelingkan mata ke ibu yang duduk mendampinginya di sebelah.


“Iya, betul itu, Yah. Kita rindukan suasana rumah yang di dalamnya diisi tangisan bayi mungil nan menggemaskan," tambah ibu ikut menyahuti ujaran ayah.


Aku menoleh ke arah Azzam dengan kening berkerut. Agaknya harapan ayah ibu serta mertuaku sama saja. Huft!


“Insyaallah, ayah jika sudah rezeki pasti Allah akan memberinya,” sahut Azzam membalas keinginan harapan keduanya.


Aku tahu ayah dan ibu pasti merasa kesepian tidak ada yang bisa diajak bermain. Keponakan pun jarang sekali berkunjung ke sini. Di usia mereka yang semangkin tua seperti saat ini, memang waktunya mereka bersantai menikmati waktu bermain dengan anak cucunya. Jika Abang Khalid─anak ayah Ahsan dan ibu Hamidah diberi umur yang panjang, pasti saat ini dia sudah memberikan mereka cucu pertamanya.


“Ayah sama ibu tenang sajalah." Aku melirik jam yang melingkar di tanganku. "Hmm, Bu, Ayah sudah semangkin senja nih, kita berangkat dulu ya, biar pulang nggak ke malaman. Assalamualaikum.”


Kami berdua pamit dan menyalami tangan ayah dan ibu bergantian.


“Wa’alaikumsalam.”


***


Ceritanya aku dan Azzam akan berjalan di kawasan kota Jakarta yang padat ini.


“Mau kemana dulu kita?” tanya Azzam dengan sebelah tangannya memegang kemudi stir.


Azzam menggangguk antusias. “Mau sekali. Pasti di sana banyak anak kecil. Ah lucu-lucu pasti.”


“Abang, sangat suka dengan anak kecil ya?” tanyaku, membuat Azzam menoleh lalu mengangguk.


“Apa alasan abang menyukai anak kecil? Kalau Nisa suka anak kecil karena dia sangat lugu dan menggemaskan trus karena Nisa juga nggak punya adik. Jadi selama ini di rumah Nisa nggak punya teman bermain. Kesepian.”


Azzam mengangguk kemudian tersenyum.


Aku mengamati wajah Azzam. “Kenapa senyumnya aneh gitu?” Aku bertanya demikian karena menyadari senyum yang Azzam lemparkan adalah senyuman yang menyiratkan bahwa ada sesuatu yang tersembunyi dibalik guratan itu.


“Nisa, tidak terpikirkan apa yang dikatakan dari Ayah Ahsan dan Ibu Hamidah tadi?”


Aku mengerut kening. “Tentang anak?”


Ia mengangguk cepat. “Nisa memangnya tidak menginginkan itu?”


“Aish, abang nih, siapa yang tidak ingin,” tepisku seketika.


“Sayang, dulu abang pernah mengatakan pada Nisa bahwa abang tidak akan menuntut hak biologis sebagai seorang suami sebelum istri abang ikhlas menerima abang sebagai suami Nisa. Dan saat ini apa benar Nisa sudah dengan ikhlas menerima abang sebagai bagian dari hidup Nisa?”


Tanpa ragu aku membalasnya, “Tentu sayang, kenapa apa abang ragu?”


“Bukan. Bukan begitu. Bukan abang meragukan kepercayaan. Nisa.”


Aku menghela napas sebentar. Azzam sudah banyak berkorban untukku. Meyakinkan dan terus memperjuangkan perasaannya untuku dan saat ini apa salahnya jika aku memberikan kebahagiaan yang bisa melengkapi kesempurnaan rumah tangga kami. “Baiklah. Itu satu keinginan abang, maka kita akan bekerja sama untuk mewujudkan keinginan ayah dan ibu.”


***


Apa salahnya mencintai suami orang? Sarah rasa dia tidak salah dan tidak salah dengan pemikirannya itu. Hanya saja dia terlembat mengekseskusi itu karena masa itu Sarah menyadari kalau dia perempuan dan tidak mungkin memulai lebih dulu untuk mengatakan perasaannya. Tapi menunggu laki-laki itu untuk menyatakan perasaannya. Apakah mungkin? Bagaimana kalau itu hanya perasaan yang datang dariku saja, tapi beda dengan dia. Mungkin saja laki-laki sholeh itu sama sekali tidak menyimpan perasaan sedikitpun. Sarah sendiri pun tidak pernah terang-terangan menunjukkan perasaanya saat itu.

__ADS_1


“Lupakan Azzam, Sarah. Kamu tahukan adikku itu sudah beristri.” Ababg tertua Azzam itu mulai menceramahi wanita yang sedang gusar di hadapannya.


“Tapi Fikri. Perasaan ini dari dulu sudah jadi milik Azzam.”


“Cukup. Kamu tidak boleh seperti ini. Itu perasaan yang terlarang. Kamu orang yang pandai Sarah, aku bisa lihat itu. Tapi kenapa masalah cinta kamu terlihat bodoh sekali. Kenapa kamu mau menyakiti dirimu sendiri dengan perasaan terlarang itu.”


“Aku frustasi Fikri!” suara Sarah tercekat. Fikri kembali duduk di sebelah Sarah. Amarahnya mencoba diredam.


“Sarah, bukan maksud aku membentakmu tadi ataupun menghakimi kebodohan yang kamu lakukan. Tapi itu tidak pantas untuk kamu lakukan. Kamu tidak perlu mengorbankan dirimu seperti ini. Kenapa kau malah membuat luka untuk dirimu sendiri?” Fikri menatap Sarah dengan tatapan prihatin. Ia benar-benar kasihan melihat keadaan Sarah. Kenapa ia sebegitu nekat ingin menjadikan dirinya istri kedua Azzam.


Sarah menunduk. Pandangannya begitu sulit untuk menemukan titik terang dari jalan panjang yang baru dia pilih.


“Sarah, coba buka sedikit matamu. Kamu jangan mengharapkan laki-laki yang tidak mengharapkanmu. Aku tidak ingin melihatmu lagi menjadi wanita rapuh.”


Fikri kembali berdiri. “Lihatlah aku Sarah, aku laki-laki yang mau berjuang untukmu dan aku tidak akan membiarkan kamu mengambil resiko terburuk itu. Jika kamu berpikir kalau suatu saat kamu berhasil memiliki Azzam dan menjadikanmu sebagai istri keduanya, apa kamu akan sepenuhnya bahagia. Belum tentu Sarah. Pasti salah satunya akan ada yang terluka.” Panjang lebar Fikri mencoba untuk menyadarkan Sarah bahwa memandang sesuatu yang baik tidak hanya bisa dilihat dari satu sisi saja. Lihat hal lain yang bisa saja berdampak lebih buruk.


Pelan suara isak Sarah terdengar. Fikri bisa melihat pedih terukir kembali di wajah cantik wanita tersebut. Lelah dalam perjalanan panjangnya.


“Berharaplah sewajarnya, Sarah! Apalagi pada orang yang telah beristri. Jangan sampai orang-orang malah memandangmu sebagai wanita buruk. Perusak rumah tangga orang! Kamu hanya akan menyiksa dirimu dengan bayang-bayang sebagai istri dari Azzam. Tolong dengarkan aku Sarah,” pinta Fikri dengan penuh harap. Ia sangat tidak ingin wanita yang ia sayangi tersakiti.


Sampai saat ini Sarah belum berujar sepatah katapun.


“Kalau kamu tidak bisa terima aku. Baiklah, aku akan berusaha untuk menjauh dari kehidupanmu.”


Mendengar ucapan Fikri Sarah mendongak. Kedua matanya masih berlinangan air mata.


“Tapi aku tidak akan membiarkan hatimu terluka, Sarah.”


Sarah hanya bisa memendam keinginannya sendiri. Mau menitipkan pada angin pun dia tidak berani. Dia hanya meminta dalam doanya, agar Azzam bahagia. Seandainya waktu bisa diputar kembali. Mungkin kisahnya tidak akan beginim


Wanita yang duduk di bangku taman itu masih tak bergeming. Tak satupun ucapan Fikri yang diresponnya.


“Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu. Terima kasih untuk semuanya, Sarah.”


Tanpa menoleh lagi pada wanita yang mengenakan khimar berwarna green itu, dia melangkah dengan lemah. Harapan Fikri hilang, tenggelam bersama senja yang mulai memudar. Perasaan itu mungkin akan segera disingkirkan jauh-jauh. Sarah ternyata lagi-lagi bukan wanita yang Tuhan takdirkan untuknya.


Sarah memberanikan diri menatap punggung Fikri yang semangkin menjauh. Air matanya kembali luruh.


“Ya Allah, jika hari ini aku tidak bisa bersama Azzam, dan begitupun dengan hari esok jika aku tidak bisa bersamanya. Maka izinkan aku untuk menghapus perasaan ini. Rasa yang terlarang dan tidak pantas untuk terus aku semai hingga saat ini. Rasa yang terlarang dan tidak pantas untuk terus aku semai hingga hari ini.” Air mata Sarah lolos begitu mudahnya.


Tolonggg! Tolongg! ...


Suara teriakan keras berhasil di tangkap gendang telinga Sarah.


Sarah terkesiap. Dengan segera ia mempercepat langkahnya menuju sumber suara. Di hadapannya saat ini ia melihat wanita yang sedang ketakutan. Ia mendekati wanita itu.


“Kenapa, Mbak?” tanya Sarah mendapati wanita itu berteriak histeris.


Jari telunjuk wanita itu mengarahkan ujung telunjuknya ke arah sebuah pohon besar. Di sana netra Sarah mendapati seorang pria sudah bersimbah darah. Darah merah segar menguncur deras dari sebelah dada kanannya.


Sarah menutup mulutnya dengan kedua tangan. Begitu terkejutnya ia saat mendapati pria yang tadi ditemuinya di taman telah berbaring lemas tak berdaya.


“FIKRI!” teriak Sarah seraya berlari mendekat ke sebelah pria yang hampir memejamkan matanya.


Sarah meletakkan kepala Fikri di atas pangkuannya. “Fikri, sadar Fik,” Sarah menepuk pipi Fikri berkali-kali supaya ia terjaga. “Siapa yang melakukan ini Fikri?” tanya Sarah dengan terisak.


Pria itu tampak berusaha untuk mengangkat bibirnya perlahan. “Sarah, terima kasih karena telah memberiku sedikit kesempatan untuk tau tentang dirimu, meski aku tidak bisa bersamamu...” Suara Fikri memudar diujung kalimatnya. Matanya perlahan terpejam dan akhirnya kedua kelopak matanya menempel rapat.


“Tidak! FIKRIIIIII...” teriak Sarah.


______


Terima kasih, jangan lupa untuk memberi rate lima dan votenya🤗 semoga masih betah mantengin story ICBS. salam buat pembaca icbs

__ADS_1


__ADS_2