
Pagi yang cerah. Tak terasa waktu terus berlalu. Perlahan-perlahan aku dapat menghapus rasa duka itu dari diriku. Anak yang ada dalam kandungan menjadi semangat sekaligus motivasiku.
Aku tertawa mendengar ucapan Fey tadi. Benar-benar menyebalkan. Harusnya dia pandai mengambil angle bagus untuk menjadi objek lukis di tengah sawah seperti ini.
"Iya-iya, maaf ya Nisa. Kan aku nggak lihai melukis jadi harap maklum kalau hasilnya begini." Lelaki ikut tertawa saat aku melihat hasil kerja tangannya.
"Makannya gak usah sok bisa, kalau memang nggak bisa" kataku menahan tawa.
Semilir angin sore menemani duduk santai kami berlima di gubuk sawang tengah padi-padi berwarnai hijau melambai indah mengikuti arah angin bertiup, di antaranya beberapa petani tampak sangat bersusah payah menghalau burung-burung yang hendak menguntil sedikit butir padi yang sebagian pula menguning.
"Nisa, kita-kita senang kamu bisa tertawa lagi. Cantik loh, kalau kamu begini terus," tutur Jihan, usai memainkan kanvas dengan lukisan abstraknya. Entah memang abstrak atau bagaimana yang pasti, apa yang dibuatnya sama sekali tak menggambarkan suasana alam yang ada di sini. Sungguh sumbraut.
"Terima kasih ya, kalian dari dulu adalah sohib-sohib terbaikku. Aku sangat senang di kelilingi orang-orang yang tulus mau saling berbagi dan saling mencurahkan kasih bahagianya bersama-sama."
"Iya, Nisa. Sama-sama. Aku dan teman-teman lainnya juga begitu, sama sepertimu. Sangat merasa beruntung, Allah mempertemukan kita semua, menjadi teman akrab." Imbuh Sadam.
"Dan semoga kita selalu begini ya," tambah Jovan.
Semua merangkul satu sama lain menatap pada hamparan padi. Memandang luas, seolah bebas tak ada sekat yang membatasi jarak pandang kami.
Sungguh alam menyajikan suatu kenikmatan yang luar biasa jika kita mampu melihatnya sambil mengucap rasa syukur atas karunianya.
Drrt.... Drrtt...
Deringan kerasa sebuah panggilan yang mengalun dari ponsel mengalihkan perhatian kami.
Deringan itu berasal dari tas kecilku. Ibu. Nama pemanggil yang tertera di layar. Aku menekan panel berwarna hijau, sampai terdengar dari ujung telepon suara ibu.
Ibu
"Nisa dimana, Nak?"
Dhanisa
"Nisa dan teman-teman masih di sawah, ada apa Bu kok suaranya begitu?"
Ibu
__ADS_1
"Kamu bisa pulang sekarang, Nak?"
Dhanisa
"Memangnya ada apa sih, Bu. Kenapa kayak khawatir gitu. Nisa aman kok di sini. Nisa baik-baik aja."
Ibu
"Bukan begitu, Nak. Ada sesuatu yang penting. Nanti kalau kamu sampai rumah ibu ceritakan. Sekarang Nisa bisa pulangkan? Atau nggak Ibu minta Fikri untuk jemput."
Aku mengangkat dua alisku, merasa bingung dengan maksud ibu. Sepertinya apa yang ingin mereka sampaikan sangat penting sekali.
Dhanisa
"Gak, Bu. Nggak usah. Nisa pulang dengan teman-teman saja."
Ibu
"Ya sudah, ibu tunggu segera ya Nak. Hati-hati di jalan."
"Ada Apa Nisa?" tanya Jihan.
"Aku diminta pulang cepat sama ibu. Kita pulang sekarang ya."
"Oh ya sudah ayo kita balik sekarang," gumam Fey yang disetujui oleh teman-teman and the genk.
Kita mulai membereskan kembali kanvas dan beberapa perlengkapan melukis lainnya. Termasuk pula cemilan yang berserakan di depan kami. Dalam hati, aku masih bertanya-tanya tentang apa yang ingin disampaikan ibu.
***
Ketika aku menginjakkan kaki masuk ke dalam rumah. Ruangan begitu hening.
"Dimana mereka semua berkumpul?" Dalam hati aku bertanya-tanya. Melihat kondisi sekitar ruangan. Sungguh memang tak ada orang di ruangan ini.
"Assalamu'alaikum, Ibu."
Semua keluarga termasuk keluarga Azzam juga datang kemari. Saat pertama aku masuk ke ruangan tengah tempat biasa kami duduk sambil berbicang santai semua orang diam. Nampaknya mereka baru saja selesai melakukan musyawarah. Aku belum tahu apa yang tengah mereka bahas.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, Nisa sini duduk, Nak." Ayah memintaku untuk duduk di dekatnya.
Belum ada yang memulai obrolan, ketika aku telah merapatkan dudukku di antara mereka. Yang semuanya duduk lesehan di lantai beralasakan karpet.
"Ada apa ini, Ibu? Tadi ibu menyuruh Nisa pulang cepat. Dan sekarang kenapa keluarga kita berkumpul di sini? Apa ada hal yang sangat penting ingin kita bicarakan?" tanyaku membuka awal pembicaraan, karena memang aku masih bertanya-tanya.
"Tadi, ada telepon dari rumah sakit yang menangani kasus kecelakaan beruntun yang melibatkan almarhum suamimu."
"Iya, terus ada apa? Dan apa yang dikatakan pihak rumah sakit, Bu?" tanyaku dengan tatapan serius disertai rasa oenasaran yang luar biasa.
"Katanya ada satu keluarga yang datang ke rumah sakit. Mereka datang dengan membawa beberapa foto serta bukti-bukti tentang salah putra mereka yang hilang. Mereka sangat yakin anak mereka termasuk juga menjadi korban lakalantas itu. Ibu kurang tahu pasti bagaimana persis yang disampaikan pihak terluarga tersebut pada pihak kepolisian juga rumah sakit," jelas Ibu.
"Jadi, mereka menuntut supaya makam Azzam dibongkar. Mereka juga berusaha membuktikan bahwa benad makam yang dimaksud itu adalah makam anaknya yang berusia 25 tahun yang turut menjadi korban kecelakaan, kabarnya ketika melintas mengambil trek berolahraga sepeda di lokasi yang sama dimana kecelakaan terjadi, Dik," sambung Fikri.
"Ya Allah," Tangisku kembali pecah, ketika mengetahui hal itu. Belum pulih benar luka yang mengena. Kini, aku masalah baru menghadangku.
Dari penjelasan sambung menyambung antara Bang Fikri dan Bang Ali semangkin membuat aku pilu. Mereka menjelaskan bahwa saat ini keluarga yang mengadu ke RS dan kepolisian sempat bersitegang, meminta makam itu segera di bongkar. Mereka sangat tak ingin mengalah. Jika pihak yang menangani masalah ini tak bergerak cepat, maka mereka akan membongkar paksa makam Azzam yang dianggap sebagai makam yang menguburkan jasad anak mereka.
"Lalu bagaimana ini, Bang?"
"Kita akan kembali ke Tangerang petang ini juga. Supaya jalan tengahnya bisa segera diputuskan dan masalah ini bisa terselesaikan. Kita bisa tau mana yang benar dan salah."
"Kalau pun demikian, Bang. Misalkan kita berandai itu benar bukan makam Azzam, lalu kemana jasad Adik Bang?" tanya Kak Soraya pula bingung.
"Itu juga kita belum tau. Jika pun kemungkinan Azzam selamat kenapa dia tak kembali bersama kita?"
Aku tak bisa menebak apa yang aku rasakan saat ini. Yang menjadi pertanyaan adalah jikalau memang Azzam yang dimakamkan itu bukanlah Azzam suamiku, lalu kemana jasadnya. Dan kalaupun Azzam selamat dari marabahaya itu, kemana ia sekarang? Kenapa ia tak kembali ke keluarganya. Pertanyaan itu terus mengerayang di benakku.
Tepat dihari Rabu siang ini, baru saja diadakan pertemuan kembali dengan pihak keluarga dengan keluarga yang menuntut pembongkaran makam Azzam. Meski pembicaraam cukup alot dan bersitegang antara kedua belah pihak yang sama-sama bersikeras meyakini masing-masing bahwa itu juga makan keluarga mereka. Maka, diambil keputusan untuk benar-benar membongkar kembali makam yang bertuliskan nama lengkap Azzam.
Seluruh keluarga menanti harap-harap cemas dari hasil penyelidikan kembali serta hasil otopsi.
Area makam sudah dipasang garis polisi. Sejak pagi hari warga berkumpul ingin melihat beberapa tim dokter dan polisi yang berjaga di sekitar makam. Aku tak dapat ikut ke sana karena aku tiba-tiba merasa tidak enak badan, perutku juga terasa sedikit kram. Akhirnya, aku yang ditemani Kak Soraya, hanya menanti kelanjutan informasinya dari rumah saja.
Sesudah menjalankan ibadah sholat dzuhur, aku memanjatkan doa agar Allah senantiasa melindungi keluarga kami. Dan memohon agar semuanya menemui titik terang. Tentu dari hasil ini, aku sangat berharap jika memang benar, dugaanku tentang jenazah yang dimakamkan itu bukanlah jasad Azzam. Aku meminta agar Allah melindungi suamiku, jika memang Allah masih menghendaki kami berdua untuk bersama. Namun, jika pun tidak, aku berusaha ikhlas seikhlas-ikhlasnya bahwa inilah takdir kami.
****
__ADS_1