
Azzam begitu telaten menyuapiku bubur ayam. Aku sudah menolak sejak awal, karena aku tidak suka, rasanya hambar dan pahit. Aku akan memilih memakan buah saja sebagai sarapan pagi ini. Namun Azzam memaksa. Akhirnya, aku mengalah.
"Nah gitu sayang, akhirnya makanannya habis juga." Seloroh Azzam riang, saat sedari tadi aku menolak untuk makan tapi kekeuhnya Azzam membuatku harus menghabiskan makanan bubur ini. "Sekarang minum dulu, yuk." Azzam mengangkat kepalaku untuk membantu meneguk segelas air mineral dalam gelas.
Seolah tak ada bosan dan lelahnya. Azzam berlanjut mengupas buah apel. Lamat-lamat aku mengamati dirinya, sampai aku berkeinginan untuk memanggilnya.
"Abang" panggilku lirih dan sok manja. Aku menyadari suaraku agak serak mungkin saja karena baru bangun tidur setelah meminum obatku tadi pagi.
Azzam mendekat dan menatapku dengan jarak dekat. Dengan begitu aku bahkan bisa lebih dekat memandang wajah tampannya. Awalnya senyumku mengembang pula saat ia melemparkan senyuman manis padaku tapi detik itu pula senyumku berubah kecut saat melihat gurat kelelahan terpatri di wajahnya. Kerutan didahinya pun demikian, menandakan kalau dia sedang banyak pikiran.
"Sayang, kamu pasti capek ya, ngurus Nisa di sini? kita pulang aja ya. Biar abang nggak capek bolak-balik rumah, kerja dan rumah sakit. Belum lagi abang mengurus untuk sertijab ponpes Mambaul Ulum kan?" celetukku yang langsung membuat pergerakan tangan Azzam mengupas buah terhenti. Azzam meletakkan buah dan pisau yang dipegangnya kembali ke piring di atas nakas. Tangannya beralih mengambil tisu dan mengusapnya ke dahi dan sudut bibirku. Mungkin ada sesuatu yang mengotori bibirku. Dan mungkin saja bekas makan tadi.
"Nisa bicara apa sih? Ya tidaklah. Abang biasanya saja. Abang masih kuat kok nih." Ia mengangkat tangannya dan menunjukkan otot bisep, trisepnya yang terbentuk.
Apa yang dilakukannya, membuat aku tertawa saat itu pula.
"Bang, hari ini Nisa boleh pulangkan?"
"Ah, kata siapa?" tanyannya, fokus kembali melanjutkan memotong buah.
"Kata Umi tadi."
"A... Makan dulu apelnya." Azzam kembali menyuapi buah ke mulutku.
Namun, aku mencegahnya dengan menahan menggunakan telapak tanganku.
"Kenyang."
"Asupan yang tadi itu belum cukup. Ingat!" Azzam mencoel hidungku. "Di tubuh Nisa ada dua nyawa yang butuh asupan gizi, jadi makan pun harus banyak dan mencukupi. Kalau tidak memangnya Nisa mau berlama-lama di sini?"
Pertanyaannya aku jawab dengan gelengan kepala. "Gak maulah, lebih nyaman kalau istirahat di rumah."
"Kalau begitu ayo lanjut makan buahnya."
Tidak lama setelah itu Umi datang di belakangnya mengekor seorang suster perempuan dengan mendorong sebuah kursi roda.
"Eh, sudah datang Zam. Gimana rumah, amankan?"
Azzam langsung beranjak dari kursi dan mencium tangan ibunya. "Iya aman, Umi."
"Umi, maaf ya. Umi jadinya yang kerepotan karena Azzam sibuk bolak balik dengan urusan sendiri."
__ADS_1
"Kamu ngomong apa, Nak. Umi maklum lah. Ini musibah Zam, jadi tidak ada kata tidak enaklah, inilah, itulah. Disaat seperti ini kita keluarga harus saling membantu," kata umi dengan pembawaan lembutnya.
Aku tersenyum senang mendengar penuturan ibu mertuaku. Bahkan saat ini aku merasa sangat beruntung memiliki mereka, keluarga baik, ramah dan menerimaku dengan baik meski mereka tahu aku mungkin bukanlah wanita yang bisa diandalkan dalam mengurus rumah tangga. Memasak saja hingga saat ini aku masih trus belajar dan dibimbing Umi Salamah. Ini akibat dulu, aku sangat malas terjun ke dapur. Hobiku, kalian semua pasti tahu. Keluyuran malam-malam bersama teman-temanku. Meski kami sudah terpisah dengan and the genk tapi jalinan komunikasi kami satu sama lain masih baik. Termasuk dengan mantan selingkuhanku dulu. Haha. Jika aku ingat dulu, betapa aku seperti berada di panggung komedi. Melihat peranku dimainkan di atas panggung. Tapi semuanya sudah berlalu.
"Mmm... Menantu umi kok senyum-senyum sendiri" guyon umi. Menyudahi aksi hayalanku.
"Hem. Gak kok umi sayang. Nisa lagi senang aja. Kita bisa pulang lagi ke rumahkan?"
"Iya. Tapi tadi umi sudah bicara dengan dokter yang menanganimu supaya selama masa pemulihan Nisa memakai kursi roda dulu ya."
"Mi" aku menarik tangannya yang baru selesai melipat selimut, sementara Azzam yang merapikan dan masukkan ke dalam tas. "Makasih ya sudah menjadi ibu mertua yang baik buat Nisa. Ibu itu udah kayak ibu Nisa sendiri. Nisa sangat sayang dengan umi." Aku mencium tangan kasar umi dan memeluknya manja.
"Uhh... Sayang, Nisa pun menantu yang Umi sayangi." Umi membalas memeluk erat punggungku. Mengelus kepalaku dengan sayang.
Azzam menghentikan aktivitasnya menyusun pakaian dan perlengkapan yang telah di bawa dari rumah untuk ikut juga merasakan kebahagiaan itu. Ia mendekat dan ikut merengkuh tubuh kami berdua.
"Kalian adalah kebahagiaan terbesarku," ucap Azzam, setelahnya mengecup kening kami bergantian.
"Umi pun senang sekali memiliki kalian," balas Umi. Merekatkan pelukan.
"Assalamualaikum... " perlahan suara ucapan salam itu memudar, mungkin saja karena melihat keadaan di ruangan ini.
"Wa'alaikumsalam," kemudian menoleh dan melihat Mbak Rara telah berdiri di ambang pintu. Kami bertiga seketika langsung menghamburkan aksi berpelukan itu dan menyambut Mbak Rara dengan ramah juga mempersilahkannya duduk.
"Maaf ya kalau kehadiranku menganggu kebahagian kalian tadi," ucap Rara tidak enak hati saat aku tahu kami kedapatan saling memeluk mesra penuh bahagia. Sebenarnya aku yang merasa tak enak, saat demikian aku tahu tentang keluarga Rara saat ini. Hubungan dengan ibu mertua yang tak hamonis begitupun dengan rumah tangganya dengan Ridho.
"Mbak Rara jangan bilang begitu kita sama sekali tidak merasa terganggu dengan kehadiran Mbak. Ya kan bang?" kataku lalu menatap Azzam yang berdiri di sebelah.
Rara memasang senyum yang dipaksakan.
"Kamu sudah baikkan, Dhanisa? Kapan bisa pulang?" tanya Rara.
"Alhamdulillah, tadi kata dokter sudah bisa pulang hari ini. Cukup berdoa dan berikhtiar, supaya semua semangkin membaik dan pulih seperti sedia kala." Bukan aku yang menjawab tetapi Azzam.
"Syukurlah."
Guratan wajah sedih dapat aku dari mimik wajah Rara. Aku bisa memastikan bahwa ada sesuatu yang tidak baik yang berusaha disimpannya.
"Mbak, kok kayak sedih gitu, kenapa?"
"Gak kok. Aku nggak sedih. Aku hari sangat senang sekali." Rara tersenyum tapi matanya berkaca-kaca. Aku belum tahu senang seperti apa yang ingin diekspresikan Rara.
__ADS_1
"Aku senang karena hari ini kami akan mengakhiri semuanya dipengadilan agama. Kami akan mengurus perceraian kami, Sa." Rara semangkin tak kuasa, diujung kalimatnya, tangis Rara pecah. Ia menangis terisak. Aku memeluknya, merasa simpati dengan apa yang terjadi dan menimpa wanita yang memelukku saat ini. Aku juga tidak bisa membayangkan bagaimana berada di posisi Rara. Tentunya sangat menyakitkan jika hubungan rumah tangga yang telah lama dibina harus diakhiri dengan perceraian.
Aku mengusap punggung Rara naik turun. Kemudian, melihat ke arah Azzam yang ikut tertunduk dalam. Aku tahu disaat kondisi seperti ini yang Rara butuhkan adalah dukungan moril untuk melalui masa sidang perceraian.
"Aku sungguh tak bisa membayang, semuanya akan berakhir begini," tutur Rara masih terisak.
Aku tak mampu mampu harus mengatakan apa, mulutku terkunci. Aku pula paham posisiku, aku merasa belum mampu memberikan ceramah ataupun petuah-petuah bijak.
Usiaku pula baru menginjak 19 tahun, sejujurnya masih pelik pula bagiku memahami kehidupan orang-orang dewasa. Jujur aku sendiri bahkan seperti belum mampu untuk menjadi dewasa, apalagi menjadi ibu. Namun, saat ini status itu akan segera aku sandang tahun ini di usiaku yang masih muda. Bahkan tahun ini pula, nampaknya aku akan mengambil cuti untuk menunda kuliahku. Tapi, sebenarnya bisa saja sih aku melanjutkan kuliah dengan kondisi seperti ini, hanya saja Azzam menyarankan demikian ya sudah aku turuti saja kemauannya.
"Nak, ayo kita siap-siap pulang karena sebentar lagi ruangan ini akan diisi kembali oleh pasien lain." Umi berdiri dengan tenang memandang ke arah kami.
Azzam mengarahkan kursi roda mendekat ke brankar. Pelan, perlahan aku turun dari kasur brankar sambil berpegangan pada ujung brankar dibantu oleh Rara dan juga Azzam.
"Ayo pelan-pelan," ucapnya seraya mendudukkan aku di kursi roda.
Rara mengeluarkan ponselnya saat suara deringan singkat dari ponselnya.
"Azzam, Dhanisa." Rara melihat ke kami bergantian. "Aku harus pergi sekarang, pengacara sudah menunggu."
"Iya, Mbak. Semoga Mbak bisa melaluinya dengan tegar ya. Maaf aku tidak bisa menemani ke sana."
"Ah, nggak masalah." Rara memelukku sebelum keluar dari ruangan.
"Tante, saya pamit dulu. Assalamu'alaikum" Rara mencium tangan wanita yang dipanggilnya dengan tante.
"Wa'alaikumsalam," jawabku. Dengan perasaan pilu aku memandangi Rara yang keluar dari ruangan hingga menghilang saat pintu ruangan ditutup.
"Sudah siap kita pulang?" tanya Azzam yang telah siap mendorong kursi roda yang ku duduki.
Aku mengangguk.
Perlahan Azzam mendorong kursi roda meninggalkan ruangan setelah memastikan bahwa semua telah beres, tidak ada barang-barang yang tertinggal, termasuk biaya rumah sakit.
Ketika sudah sampai di lobi parkiran. Azzam membukakan pintu mobil dan mempersilahkan umi masuk lebih dulu. Kemudian, ia mengangkat tubuhku masuk pula ke dalam mobil dan duduk di jok belakang sesuai permintaanku. Baru kemudian, Azzam melipat kursi roda yang aku gunakan tadi ke dalam bagasi bersama dengan tas ransel berisi baju-baju.
"Bismillahirrahmanirrahim, semoga selamat sampai tujuan. Amiin."
Azzam memasang sabuk pengaman di tubuhnya. Mobil berlalu meninggalkan lobi keluar area parkiran rumah sakit.
***
__ADS_1
BERSAMBUNG....