Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 43. Tempat Indah


__ADS_3

Pintu kamar berdebam ketika ditutup cepat-cepat. Remaja laki-laki itu langsung masuk kamar setelah sebelumnya melepaskan jaket yang menutupi tubuhnya, lalu menanggalkan di belakang pintu.


Ia berjalan cepat menuju kasur dan membanting tubuh dengan kasar, untung kasur itu empuk jadi tidak membuat tubuhnya kesakitan.


"Capek juga!" ujarnya, lalu menghembuskan napas keras-keras.


Dengan posisi kedua tangan terlipat ke belakang, menyanggah kepala, Fey mencoba menenangkan diri dengan memejamkan mata beberapa detik.


Malam ini, di rumah terasa sepi. Mama masih sibuk melayani pasien di rumah sakit. Kalau Papa di rumah Kakek. Papa bergantian dengan saudaranya yang lain untuk merawat kakek yang sedang sakit. Kak Rinda sibuk sendiri dengan tugas kuliah minggu ini.


Matanya mengerjap pelan setelah terpejam beberapa detik saja. Pandangan mata itu sekarang menyapu langit-langit plafon rumah. Pandangan itu tidak benar-benar menatap triplek putih. Langit-langit hanyalah sebagai layar yang membentangkan pikirannya menjelajah ke banyak arah.


Pikiran Fey saat ini bercabang-cabang. Pertama, tentang rasa bersalahnya ke Nisa karena sudah membentaknya tadi. Kedua, ia cukup penasaran dengan keluarga Requeensha, dugaan tentang kehidupan keluarga yang broken home. Jika dari hasil mencuri dengar makian Papa Requeensha, dirasa dugaannya itu memang benar. Tapi, ia tidak habis pikir Papa Requeensha ternyata sangat tempramental. Sesuailah dengan tampang wajahnya yang juga seram dan sangar. Fey yakin kalau Papa Requeen itu kerap menggunakan kata-kata kasar untuk menghardik anak dan istrinya. Tepatnya kekerasan verbal dalam rumah tangga. Buktinya tadi, ketika ia menguping perdebatan hebat ayah dan anak itu. Makian kasar terlontar untuk anaknya.


Fey menghirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan. Ia tak ingin terlalu memperdulikan perempuan itu. Bagi Fey dia tetap gadis perusak hubungan dirinya dengan Dhanisa. Semua gerak-geriknya terasa terbatas, karena dikendalikan oleh perempuan itu. Bukan karena ia takut atau tak berani dengan Requeen, tapi ancaman serentetan foto itu, membuat Fey urung melakukan tindakan yang berlebihan.


Rasanya sikap Requeensha sama saja dengan Papanya itu. Sungguh menyeramkan. Requeensha bahkan tidak segan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia benar-benar sangat berambisi, seperti apa yang ia katakan sendiri waktu itu.


Pelan-pelan dia beringsut dari posisinya berbaring, dan duduk bersandar pada sandaran tempat tidur. Tangannya merogoh sesuatu dari dalam saku celana. Ia mengeluarkan smartphone lalu membuka galery foto-foto kebersamaan dirinya dengan Dhanisa. Tangan itu tidak henti menggulirkan foto demi foto sampai pada foto terakhir.


Tanpa sadar, Fey berkali-kali menarik sudut bibirnya. Membentuk lengkung tipis di bibirnya. Tiada hentinya ia senyum-senyum sendiri saat manatap ponsel. Apalagi ketika memutar video mereka berdua ketika berlibur di kawah Bromo. Di setiap sesi pengambilan foto Dhanisa selalu tampak manis.


Tak lama setelah itu, ia menyingkirkan ponsel dari tatapannya. Fey melempar tatapan kesembarang arah.


"Bodoh!" Fey memukul kepalanya, ia seperti frustasi.


Rasa bersalah semangkin membuat ia menghakimi dirinya sendiri. Bagaimana pun Fey belum ingin mengakhiri hubungannya dengan Dhanisa. Ia masih cinta. Hanya satu yang ia harapkan semoga Dhanisa tidak salah paham, dan mau memaafkannya. Semenjak menjalin hubungan selama ini, memang ini pertama kali ini Fey berani membentak Dhanisa. Hal itu refleks begitu saja dilakukan, ketika Nisa menampar kedua pipi Requeensha dengan keras.


Ia mengambil ponselnya kembali, dan mengirim pesan untuk Dhanisa. Tidak mendapatkan balasan setelah beberapa menit menunggu. Fey melakukan panggilan ke nomor Dhanisa. Tapi sama, tidak ada jawaban. Dia tidak mengangkat panggilan telepon itu. Ini sudah yang ketiga kalinya. Apa yang harus dilakukan supaya Dhanisa mau mengangkat teleponnya.


***


Sebuah notifikasi pesan singkat masuk via WhatsApp. Nomornya tidak dikenal.


Kedua mata menatap tajam pada layar pintar itu. Wajahku seketika memerah. Foto-foto mesra Fey dan si kutu air memenuhi pesan dari nomor tak bernama. Kira-kira ada tujuh foto yang dia kirim. Dalam hati aku mengeram hebat. Umpatan kebencian berkali-kali terlontar


"Ishh! Dasar licik! Licik!"


"Cewek resek!" umpatku habis-habisan.


Aku membuang napas berat.


"Apa maksud dia coba!?" gerutuku dengan kesal.


Azzam mengernyit dahi mendengar aku yang terus ngemudel dengan geram dan kesal. Kebisingan itu membuat perhatian Azzam yang fokus menyetir teralihkan. Ia menoleh lalu menatap binggung melihat raut wajahku yang muram.


Ia menoleh sebentar lalu kembali menatap jalanan di depan.


"Kenapa lagi?" tanya Azzam heran.


Aku diam sejenak, kemudian menggelengkan kepala.


"Nggak!" kilahku.


Azzam mencoba menyelidik lagi wajahku yang masam. Setelah itu, dia menggeleng. "Masak?" kata Azzam sama sekali tidak percaya.


"Itu si Requeen mau manas-manasin Nisa dengan mengirim foto-foto me... " Kalimatku tertahan, aku menepuk pelan mulutku yang hampir keceplosan. Mana mungkin aku memberitahu Requeen yang barusan mengirimiku foto mesranya berdua dengan Fey. Yang ada Azzam akan berpikiran kalau aku cemburu melihat kedekatan Fey dengan Requeensha. Karena seharusnya aku tidak perlu cemburu kalau aku tidak menyimpan perasaan suka terhadap Fey. Tapi ini ceritanya lain statusku masih pacar Fey ya jelas aku marah dan cemburu.


Azzam mendehem, membuat aku terkesiap kembali dari lamunan.


"Maksud Nisa tadi apa? Requeen manas-manasin Nisa dengan mengirim foto?"


Aku menoleh kembali menatap wajahnya yang bingung karena aku memang belum menyelesaikan kalimatku tadi.


"Maksud Nisa itu?" Jari telunjukku mengetuk-ngetuk cassing handphone yang aku pegang hingga terdengar nada ketukan yang tak beraturan. "Requeen mau manas-manasin Nisa dengan mengirim foto-foto me..."


"Me..."


"Me..."


Aku memejamkan mata, berpikir sesaat. Me... apa ya?


"Me.... Apa?" tanya Azzam tidak sabar.


Tiba-tiba di pinggiran jalan netra mataku melihat squisy yang terpajang di belakang kaca sebuah store yang menjual aneka mainan boneka dan lainnya.


"Memamerkan koleksi squishy mahal-mahalnya." Aku menyengir lebar tak berdosa karena sudah berbohong.


Drrtt... Drrtt... Drtt...


Aku menatap layar ponsel yang berdering.


Fey calling...


Terpampang jelas di layar handphone berukuran 3 inch.


Ngapain lagi dia coba telpon! Apa dia cuman mau pamer kemesraan juga sama kayak si kutu air?


Aku mengabaikan panggilan itu.


Setelah panggilan terputus. Beberapa detik kemudian Fey memanggil lagi.


Drrtt... Drrtt... Drtt...


Drrtt... Drrtt... Drtt...


"Kenapa nggak diangkat teleponnya?" Azzam bertanya tanpa menoleh ke arahku.


Aku me-reject panggilan tersebut.


"Nggak penting!" kataku dengan malas. Lagi pula memang tidak penting untuk mengangkat panggilan itu hanya buang-buang waktu.


"Kenapa bilang tidak penting. Kan belum diangkat?"


Aku mendesis pelan. Menatap Azzam di sebelah. "Abang nggak usah ikut campur!" celetukku dengan ketus. "Abang nggak tau sih masalahnya!"

__ADS_1


"Kalau begitu beritahu abang apa masalahnya?" ujar Azzam dengan masih memegang kemudi, tatapan tidak pernah lepas dari menatap jalanan yang penuh dengan hiruk-pikuk kendaraan.


"Kalau ada masalah, semua biasa dibicarakan baik-baik tanpa ada emosi!" ucapnya, setelah ia memutar kemudi stir berbelok dari perempatan jalan. "Jangan pernah mendahulukan emosi. Cobalah untuk mengesampingkan ego dan memutuskan sesuatu dengan bijak." Azzam melanjutkan kalimatnya tadi.


Aku mendengus kesal. Azzam selalu saja mau ikut campur urusanku. Tanpa dia tahu masalah sebenarnya. Kalau saja dia tahu, dan berada di posisiku saat ini pasti dia juga akan marah dan melakukan hal yang sama.


Apalagi kalau dia tahu bahwa selama aku menikah dengannya, aku masih menjalin hubungan dengan Fey. Hanya saja Fey dan Azzam sama-sama tidak tahu akan itu.


"Abang memang mudah berbicara dengan bijak tapi pada kenyataannya sulit untuk dilakukan!"


"Maksud Nisa?"


"Iya. Abang kan bilang coba untuk mengesampingkan ego dan memutuskan pilihan secara bijak. Tapi kenapa abang marah waktu Nisa duduk berdua dengan Hanan?"


"Kenapa jadi ke situ? Abang tidak marah. Cuman tidak suka."


"Tidak suka, apa cemburu? Hayoo!" tanyaku skeptis sambil menatap wajahnya lebih dekat.


"Ya sama," sahut Azzam, tak bisa menyembunyikan perasaannya.


Aku memukul dashboard mobil. "Nah, itu sama dengan itu!"


Azzam semangkin tak mengerti. "Apanya yang sama"


Aku balik menyengir lebar, dan menggaruk keningku.


Drrtt... Drrtt... Drtt...


Deringan panggilan dari Fey kembali masuk.


"Abang mau ngapain?" tanganku menghalaunya, karena tiba-tiba saja tangan Azzam ingin merebut handphone yang masih ada di genggamanku.


"Biar abang yang angkat!" paksanya dengan tangan masih mengarah ke tanganku yang memegang handphone.


Mukaku memucat, panik. "Iya-iya. Nggak usah, biar Nisa aja yang angkat. Abang lebih baik fokus nyetir, bahaya loh teleponan sambil nyetir," kataku membuat alibi supaya Azzam tidak berniat merampas handphone ku lagi.


Aku menghembuskan napas berat, dengan berat hati aku harus menjawab panggilan itu. Jariku menggeser panel panel hijau, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinga.


📞Fayzulen


"Akhirnya kamu angkat telpon aku juga Nis"


Suara Fey di seberang sana terdengar senang.


"Oh iya, kamu kemana? Kok kamu baru angkat panggilan telpon aku?"


📞Nisa


"Tadi nggak denger, karena hp-nya silent.


📞Fayzulen


"Di mana? Masih di luar?"


📞Nisa


"Hm"


📞Fayzulen


📞Nisa


"Hm"


📞Fayzulen


"Halo, Nisa?"


📞Nisa


"Hm"


📞Fayzulen


"Kenapa Hm.. Hm aja sih? Masih marah ya?"


Aku tidak menjawab.


"Nisa, a... aku minta maaf buat kejadian tadi ya? Bukan maksud aku bentak kamu dan belain Requeen."


Nada suara Fey diujung telepon merasa bersalah. Tapi aku masih enggan untuk menyahuti perkataannya itu.


"Halo, Nisa? Kamu dengar apa yang aku bilangkan?"


Aku memejamkan kedua mata dengan erat. Berusaha untuk mengatur napas hingga beberapa menit.


📞Nisa


"Halo... Halo! Aduh putus-putus nih, jaringan lagi buruk. Udah dulu ya!"


Tut... Tut... Tut


Telepon aku matikan tiba-tiba.


"Siapa?" Azzam bertanya ketika aku menutup telepon cepat-cepat.


"Anak orang!" balasku seadanya. Aku tidak mungkin memberi tahu Azzam kalau yang tadi itu Fey, pasti dia akan bertanya lebih banyak lagi.


Aku mencoba mengalihkan pembicaraan ketika melihat mobil sudah terparkir di tempat. "Kita udah sampe nih?"


"Iya," jawab Azzam seraya melepas seat belt-nya dari tubuh. "Ayo turun!" serunya kemudian membuka pintu mobil.


Aku mangut-mangut saja, dan ikut membuka pintu mobil. Azzam berjalan ke samping kiri mobil dan menyeret tanganku.


Sedari tadi Azzam tidak melepas pegangan tangannya dan terus menyeretku. Sampai saat ini aku belum tahu kemana dia akan menggiringku. Asalkan jarang ke jurang. Aku masih mengikuti langkah Azzam dengan pasrah.

__ADS_1


"Kemana sih?" kataku ketika sudah mulai capek mengikuti langkah Azzam.


"Kita akan pergi ke tempat yang bisa membuat pikiran kita menjadi tenang," jawabnya bersemangat.


Mataku tiada hentinya menatap sekeliling, hanya ada sebuah bukit kecil dihadapanku. Di sini sepertinya sangat asri, lampu-lampu penghias mempercantik suasan malam. Aku menaiki bukit itu dengan napas terengah-engah. Azzam ini memang tidak kira-kira kalau mau mengajak ke suatu tempat. Tahu aku memakai wedges, hingga membuatku beberapa kali hampir terjatuh. Akhirnya aku memilih untuk nyeker daripada memakai alas kaki.


Sampai akhirnya kami tiba tepat di atasnya. Ternyata di sini bukan hanya kita berdua saja tetapi ada pengunjung lainnya. Mereka sama-sama membawa pasangannya masing-masing.


Mulutku sedikit terbuka. Pemandangan begitu indah terpancar jelas dari kedua bola mataku.


Aku menatap ke sekeliling, melihat keindahan pemandangan di malam hari. Dari atas sini tampak kerlap-kerlip lampu kota, seperti bintang yang berkilauan.


Aku tidak bisa mengendalikan diri. Apalagi ketika netra mata berhasil menangkap momen bintang yang jatuh dari langit. Ekor bintang itu ketika jatuh sangat menganggumkan.


Di sisi lain, tubuh Azzam hanya diam mematung, tak bisa bergerak. Sangking girangnya Nisa merangkul pinggang Azzam dengan gemas. Azzam merasakan jemarinya bergerak panik. Kedua matanya mengerjap-ngerjap. Meskipun perlakuan itu sederhana tapi membuat Azzam senang. Beberapa menit kemudian, Azzam mencoba tenang dan senyum merekah kembali terpancar dari wajahnya. Ia turut merasakan kebahagiaan yang juga dirasakan perempuan yang merangkulnya.


"Abang, andaikan bintang jatuh itu benar bisa mengabulkan permohonan. Kira-kira abang minta apa?"


Aku masih menatap langit, Azzam melakukan hal yang sama. Kami menatap ke arah yang sama.


"Kalau Nisa apa?" tanyanya balik.


Aku menoleh melihat Azzam yang masih mentap bintang yang rapat di langit. "Nisa ingin ibu dan ayah bahagia di sana, dan suatu saat kami bisa bertemu lagi."


Azzam balas merangkul tubuhku balik. "Ayah dan Ibu akan bahagia di sana. Selama dia melihat anaknya juga bahagia. Tidak bersedih. Jadi Nisa harus terus bahagia."


"Kalau abang?"


"Abang hanya minta supaya perempuan di samping abang selalu bahagia," Azzam tersenyum.


Aku dan Azzam saling bertatapan sebentar dan melempar senyum satu sama lain, kemudian menatap langit kembali.


"Bang ini indah sekali."


Aku masih terkagum-kagum sekaligus terpesona dengan suguhan malam ciptaan Allah.


"Nisa suka?" tanya Azzam dengan raut paling bahagianya.


Aku mengangguk berkali-kali, tanda aku memang benar-benar menyukainya.


Aku melangkah mengikuti arah pikiranku saat ini, ditemani angin yang berhembus menerpa wajah membuat gaun yang aku kenakan terkibas-kibas ke udara. Aku tiada hentinya tersenyum. Menyaksikan bangunan dengan gemerlap lampunya. Sungguh sempurna dan luar biasa.


"Sangat cantik!" gumamku.


Dengan cepat aku mengeluarkan ponsel dari tas yang aku sampir di sebelah kanan, tidak mau melewatkan sedikit pun momen lukisan indah alam ciptaan Allah ini.


Di belakang, dari kejauhan Azzam tersenyum kecil. Ia senang saat melihat istrinya itu senang. Sudah lama memang Azzam tidak melihat raut kebahagiaan itu.


Azzam berjalan dan turut mendekat ke arah Nisa yang sibuk memotret alam dan juga dirinya sendiri.


"Bang! Sini fotoin dong!" pekikku dari jarak tiga meter. Azzam berjalan mendekat ke arahku. Dengan sigap ia meraih kamera ponsel di tanganku yang masih menyala mode camera.


JEPRET!


Azzam tersenyum geli melihat hasil jepretannya. Nisa yang tersenyum tiba-tiba berubah kecut ketika tubuh mungilnya terus disenggol dengan pengunjung lainnya. Hingga terus membuatnya gagal mengambil foto yang cantik. Lagi-lagi untuk kedua kalinya, Azzam dibuat terkekeh ketika dia melambaikan tangannya seperti putri, tapi dengan lucunya karena kedua mata Nisa setengah terpejam. Benar-benar hasil jepretan yang kurang bagus!


Setelah puas berfoto ria. Azzam mengajakku duduk duduk di hamparan rerumputan.


Malam ini, bintang-bintang di langit terlihat sangat banyak serta tersusun sangat indah. Cahayanya menyinari tempat di mana kami berdua duduk. Azzam selalu saja bisa membuatku terkesan dan melupakan segala hal yang buruk yang memenuhi kepalaku.


Kami berdua terdiam, terjadi keheningan sesaat menikmati keindahan di sekitar. Kami sama-sama menikmati malam ini tanpa memikirkan berbagai hal yang telah terjadi.


Aku menggerakkan kepalaku, menoleh ke arah Azzam dan menatap wajahnya yang serius memandang lurus depan, sesekali aku lihat ia menyipitkan matanya, entah apa yang berusaha dibidik oleh lensa matanya.


"Abang!" panggilku pelan.


Azzam balik menoleh ke arahku


"Hmm. Apa?" sahut Azzam.


"Abang hebat sekali bisa menemukan pemandangan sebagus dan seindah ini"


Azzam menatapku beberapa detik. Aku lihat bibirnya kembali berhias senyum.


"Di sinilah abang sering sesekali meluangkan waktu jika mood sedang buruk dan perasaan sedang hampa. Karena pemandangan yang disajikan selalu menarik. Baik itu waktu matahari terbit, terbenam dan di malam harinya."


Azzam kembali leka memandang pesona alam. Terdiam beberapa saat, lalu menatap perempuam di sebelahnya kembali. Bibir Azzam sedikit terangkat, ada sesuatu yang ingin dia ucapkan. Dengan hati-hati ia membuka suara.


"Abang boleh minta satu permintaan hari ini?" tanya Azzam sambil lebih merapatkan lagi duduknya.


"Boleh," jawabku langsung. "Abang sudah memberikan Nisa banyak kejutan hari ini. Jadi apapun yang abang minta bakal Nisa kabulin. Abang mau apa?" Aku melempar senyum dan mentap kedua matanya.


Azzam sedikit grogi, membuang pandangannya ke arah lain. Ia menarik napas sebentar dan menghembuskannya pelan, lalu menatap lagi pada istrinya dengan penuh harap.


"Yakin?"


Aku mengangguk.


"Abang mau Nisa memberikan pelukan hangat malam ini," pintanya tanpa ragu lagi.


Aku terkekeh. "Cuma itu? Bukannya selama ini Nisa sering melukin abang, bahkan sejak kecil kalau Nisa sedih ataupun senang Nisa selalu datang dan memeluk abang."


"Bukan," potong Azzam. "Pelukan mesra sebagai sepasang kekasih, suami istri yang mencintai satu sama lain," pinta Azzam mengakhiri kalimatnya.


Degg...


Mendengar permintaan Azzam cukup membuat aku kaget. Jantungku berdegup kencang, apalagi ketika kedua matanya terus mentapku dengan intens. Kenapa Azzam terus menatapku begitu? Aku meremas jari jemariku.


Azzam merubah sedikit posisinya dengan sedikit menjaga jarak. "Abang hanya ing... "


Kalimat Azzam berhenti seketika. Tubuhnya diam, tak berkutik. Napasnya pun sempat tertahan sepersekian menit. Azzam merasakan pelukan yang sangat hangat dan menenangkan dari istrinya.


Aku menarik lengan Azzam dan mendekap tubuh Azzam dengan erat, dengan nyaman aku menjatuhkan kepalaku ke dadanya yang bidang. Tanganku melingkar pinggung Azzam kemudian turun ke pinggangnya. Tanpa segan Azzam melingkarkan tangannya juga membalas dekapan hangatku.


Aku merasakan degup jantung Azzam yang berpacu dengan cepat. Aku pun juga begitu, jantungku terasa memompa lebih cepat dari biasanya. Kami berdua diam membeku di tempat, sama-sama menikmati dekapan satu sama lain.

__ADS_1


***


SKIP


__ADS_2