
Fey berdecak sebal karena Jovan malah memberikan nomornya pada Requeensha, anak pindahan yang selalu terus menguntitnya empat hari ini. Lebih parahnya lagi dia membuat masalah dengan Dhanisa. Padahal Fey sendiri sudah mengatakan kalau dia sudah memiliki pacar. Tapi cewek bernama Requeensha masih terus ngotot memborbardir dirinya supaya mau menerima dia sebagai pacar.
“Gila! Cewek itu benar-benar sinting!” decak Fey sambil menedang kerikil kecil dihadapannya.
Fey berjalan dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam kantong celana seragam sekolahnya. Langkah Fey melambat, kemudian berhenti di mulut parkir. Pandangannya terpaku pada dua sosok yang berdiri di pinggir jalan di depan gerbang yang salah satunya terlihat adalah Dhanisa dan yang satunya lagi adalah seorang cowok berperawakan tinggi dengan mengenakan jaket berwarna cream. Fey juga melihat di tangan Dhanisa menggendong sebuah buket bunga.
Ekor mata Fey tiada henti-hentinya mengawasi Dhanisa. Dia sekarang sedang tersenyum tipis, pada orang yang diajaknya berbicara. Mereka sedang bercakap-cakap serta diselingi senyuman. Fey merasa dadanya terasa panas. Dia kemudian berlari untuk mengambil motornya yang masih terparkir di parkiran sekolah. Dirinya melakukan gerakan dengan cepat, memasang helm, kemudian menyalakan stater motor. Tepat di depan gerbang Fey mematikan mesin motor demi menguping sedikit pembicaraan mereka berdua.
“Gimana suka dengan kirimannya?” kata pria itu pelan.
Aku manggut-manggut. “Suka. Cuman belum dibaca aja sampai selesai.”
“Syukurlah.” Dia tersenyum. “Maaf ya, karena aku nggak bisa mengantar langsung bukunya. Soalnya kemarin itu aku masih sibuk dengan tugas kuliah. Kebetulan malam itu, aku ketemu dengan Om kamu waktu acara syukuran di rumah jadi aku titip saja dengan beliau.”
“Sebentar malam itu Abang Azzam juga menghadiri acara syukuran temannya. Apa teman yang dimaksud Abang Azzam itu Kak Sarah, ya Han?”
“Abang Azzam siapa?”
“Abang Azzam itu, laki-laki yang dengan aku waktu itu. Dia abang sepupuku.”
“Oh, ya ampun. Jadi namanya Azzam.” Dia terkekeh seraya menggeleng. “Untuk yang kamu bilang tadi apakah Kakak Sarah dengan Om azzam itu temenan, ya bisa jadi sih. Aku juga tidak tau persis, Nisa."
“Oh iya untuk masalah buku, tumben kamu mengirim buku segala ke aku?” kataku rikuh.
Laki-laki itu menyugar rambutnya yang tertiup angin. “Ahm, nggak. Aku ingat aja waktu di Gramedia kemarin ternyata kamu juga suka dan hobi membaca sastra. Makanya aku membelikamu karya sastra, berupa novel itu.”
Aku tersenyum manis, kemudian mengangguk.
Dia tampak menoleh pada sekitar, mendapati kerumunan siswa satu per satu pergi keluar dari gerbang sekolah. “Oh, iya kegiatan pembelajaran sudah habiskan? Berarti sekarang kamu sudah mau pulang.”
“Iya,” balasku mengangguk.
“Kalau begitu, pulang bareng aku aja, gimana?” Dia menawarkan diri.
Fey yang masih menguping obrolan mereka di dekat pintu gerbang semangkin panas dan geram. Dia tidak akan membiarkan Dhanisa untuk pulang bersama dengan laki-laki itu. Akhirnya Fey menyalakan kembali starter motornya untuk menghampiri mereka berdua.
Fey memarkirkan motornya ke sisi tepian jalan raya. Mata Fey tiada henti mengawasi pria yang berdiri bersama Dhanisa. Sorot tajam mata Fey mengisyaratkan kalau dia tidak suka laki-laki yang bersama dengan Dhanisa itu.
Fey mendehem. “Nis... siapa?” Fey menunjuk laki-laki di sebelahnya.
“Dia laki-laki yang aku cerita ke kamu.”
“Hanan?” tanya Fey memastikan.
“Iya.”
Hanan mengangsurkan tangannya mengajak bersalaman.
“Hanan.” Tangannya menggantung di udara.
Fey menyambutnya dengan malas. “Fayzulen.”
Mata Fey sekarang mengekor ke buket bunga yang dipegang Dhanisa. “Nis, setelah dia memberikan buku ke kamu, apa dia juga memberikan bunga lagi?” tanya Fey menyelidik dengan sorot tak suka.
Aku tertawa. “Ini bukan dari Hanan. Ini dari Bu Lydia untuk Ustadz Azzam.”
Syukurlah, gumam Fey lega.
“Pulang bareng aku yuk!” tanpa permisi Fey menarik tanganku untuk naik ke motornya.
Aku menuruti keinginan Fey, baru aku hendak memasangkan helm ke kepala. Mobil Abang Azzam telah menepi mendekat ke arah kami bertiga. Aku menghela napas berat, lalu menepuk keningku berulang kali. Aku benar-benar sangat bodoh. Bukannya tadi pagi aku sudah mengiyakan ajakan Abang Azzam untuk pulang bersama. Kenapa aku bisa lupa dan sekarang aku malah ingin pulang bersama Fey.
Abang Azzam keluar turun dari balik kemudinya. Dari raut wajah dia tampak bingung melihat kami berkumpul di sini. Ekor matanya silih berganti melirik ke arah Fey kemudian ke Hanan.
Mereka berdua yang menyadari itu kemudian meraih tangan Abang Azzam, mengajaknya bersalaman.
“Assalamu’alaikum Om,” sapa Hanan.
“Assalamu’alaikum, Ustadz,” sapa Fey.
“Wa’alaikumsalam warramatullah ......”
Sementara aku disisi lain hanya bisa menunduk takut.
“Dhanisa?” Panggil Bang Azzam.
Aku mengangkat kepala ketika namaku sudah disebut. Sebelum dia berbicara dan bertanya yang lain-lain, aku harus lebih dulu memotong kalimatnya.
Aku menyengir lebar, saat sudah bertemu mata dengan Abang Azzam.
“Abang? Upss maksud saya Ustadz.” Aku menepuk mulutku pelan, khusus di sekolah aku harus memanggilnya dengan Ustadz bagaimana pun dia adalah guruku. Jadi aku harus berlaku layaknya guru dengan murid yang menjaga sopan santun. “Ustadz, mau mengajak pulang bersamakan?” tanyaku penuh yakin.
“Iya. Ayo!” ajak Azzam.
__ADS_1
“He-he iya.” Aku melepaskan helm yang telah melekat di kepala dengan dramatis.
“Kamu mau kemana dengan Fayzulen?” Abang Azam bertanya dengan sedikit berbisik ke arah telingaku. Matanya kemudian melirik ke arah Fey, dan padangan terakhir dijatuhkan kembali ke mukaku.
Aku menoleh ke arah Hanan yang tadinya juga mengajak aku untuk pulang bersama. Sekarang dia hanya berperan sebagai penonton di sini.
Aku meremas jari-jemariku dengan kuat.
“Ta...tadi rencananya ....” Kalimatku belum selesai tapi seseorang telah datang lagi.
“Hay Fey. Ayok pulang bareng!” Requeensha tiba-tiba datang dan langsung menggandeng tangan Fey.
Aku memutar bola mata malas. Ngapain lagi si kutu air ikut nimbrung di sini! Aku membatin, geram. Sekarang aku menyematkan gelar si kutu air pada cewek gatal, Requeensha karena dia bajuku menjadi basah karena tumpahan airnya sewaktu di kantin.
Aku pura-pura tidak melihat, ketika Requeensha melotot ke arahku.
“Kamu ngapain ke sini, kan aku nggak ngajak kamu pulang bareng.” Fey melepaskan pegangan tangan Requeensha dengan kasar.
“Tapi kamukan sudah bilang iya ke aku." Requeensha ngotot. "Ini buktinya.” Requeensha menunjukkan isi chat via WhatsApp-nya pada Fey.
Fey menarik napas dalam-dalam dan giginya gemeletukan. Ini pasti kerjaannya dua makhluk laknat itu. Awasss ya bakalan aku bikin pergedel mereka berdua, geram Fey dengan dua sobatnya.
Aku mendengus sebal.
“Hanan, makasih ya atas tawarannya buat pulang bareng. Tapi aku sudah janji pulang bareng Ustadz Azzam.”
Hanan hanya menyengir. Dalam hati sebenarnya dia bingung tentang drama yang dia tonton saat ini.
“Abang, ayo pulang!” ajakku tanpa menoleh lagi ke arah Fey.
Sepanjang perjalanan aku hanya diam menatap jalanan di depan. Perasaan kesal dengan Fey dan Requeensha si kutu air, masih memenuhi kepalaku. Tanpa sadar tanganku meremas bunga pemberian Bu Lydia untuk Abang Azzam.
“Nisa?” tegur Abang Azzam ketika menyadari aku sedari tadi hanya berwajah masam.
“Hmm”
Napasku menderu tak beraturan.
“Nisa sedang marah kah?”
“Nggak.”
“Terus itu bunga yang tidak bersalah kenapa harus rusak begitu?” tanya Azzam mengekor pada bunga yang sudah mulai hancur di tanganku.
Aku memindahkan bunga itu ke dashboard mobil, sebelum bertambah hancur di tanganku.
“Itu bunga dari Bu Lydia untuk Abang. Katanya permintaan maaf!”
“Maaf?” Abang Azzam menautkan keningnya.
“Abang, kalau abang mau menanyakan Bu Lydia minta maaf masalah apa? Sampai kiamat pun Nisa nggak akan pernah bisa jawabnya, karena hanya Abang Azzam dan Bu Lydia lah yang saling mengetahui perasaan satu sama lain. Nisa, tidak ikut campur. Bahkan Nisa nggak tau kalian berdua ada masalah apa!”
Azzam memutar rekaman otak sederhananya tentang kejadian sewaktu Bu Lydia menyatakan perasaannya dengan dirinya. Namun, Azzam tidak bisa menerima ungkapan perasaan yang diutarakan Bu Lydia. Azzam berpikir mungkin permintaan maaf itulah yang ingin disampaikan oleh Bu Lydia.
“Nisa?” panggil Azzam lagi.
“Kenapa? Abang sudah dapat jawabannya?”
“Nisa cemburu ya kalau melihat Fayzulen itu, dekat dengan teman perempuan Nisa yang tadi?” Azzam melempar jawaban lain.
Aku mengernyit. Sejak kapan si kutu air menyebalkan itu menjadi temanku.
Aku hanya diam, rasanya pertanyaan itu tidak penting untuk aku jawab.
“Kenapa tidak dijawab?” ujar Azzam saat tak kunjung mendengar jawaban dari lawan bicaranya.
“Abang, memangnya abang tidak punya pertanyaan yang lain apa?”
Azzam menghela napas dan merubah sedikit posisi duduknya dengan tangan masih memegang kemudi stir. Tanda dia tidak nyaman untuk membicarakan itu lebih lanjut.
“Entah kenapa batin abang mengatakan kalau Nisa menyimpan rasa dengan laki-laki teman sekelas Nisa itu. Apa Nisa menjalin hubungan spesial dengan Fayzulen?” Sebenarnya hati Azzam sedikit sakit ketika mengutarakan itu. Agaknya memang sulit dan begitu sakit bila seseorang mencintai tanpa dicintai.
Aku langsung tercekat ketika mendengar kalimat yang dilontarkan Abang Azzam barusan. Apa selama ini Abang Azzam sudah merasa aku melakukan hal demikian.
Aku menelan salivaku dengan susah payah. “Ng... nggak. Itu cuman perasaan abang aja kali,” kilahku.
“Ya. Mudah-mudahan perasaan Abang yang salah,” balasnya mencoba menabahkan diri sendiri.
“Nisa?”
“Hmm” balasku singkat.
“Sekarang bagaimana kalau situasinya abang balik.”
__ADS_1
Aku memutar bola mata jengah ke arahnya.
"Apalagi sih yang dibalik-balik. Sudahlah jangan buat Nisa tambah puyeng.”
“Bagaimana kalau Abang menjalin hubungan dengan wanita lain? Tanpa istri Abang ketahui. Apa Nisa akan cemburu?”
Siapa yang tidak akan cemburu kalau seorang laki-laki menjalin hubungan dengan wanita lain. Aku rasa bukan hanya cemburu tapi bahkan sakit hati. Kalau aku jadi wanita yang diselingkuhin ya bakalan minta cerai-lah. Aku menjawab dalam hati.
Aku belum menggubris pertanyaannya tadi.
“Nisa?” dia membangunkan lamunanku.
Aku menghela berat. Dan terpaksa mengakui. “Ya, Nisa cemburu.”
“Terus apa yang akan Nisa lakukan setelah itu?”
“Ihh abang kenapa mesti Nisa sih!” ujarku menggerutu kesal.
“Tidak. Abang hanya meminta pendapat dan pandangan Nisa sebagai seorang perempuan. Biasanya perempuan selalu sensitif kalau berbicara tentang adanya orang ketiga.”
“Kenapa? Abang mau nikah lagi? to the point aja deh!” celetukku.
“Kenapa Nisa berpikir begitu?”
“Ya habis, kemana lagi coba arah pembicaraannya kecuali ke situ!” balasku geram.
Azzam tersenyum singkat.
“Kalau misalkan Abang memilih untuk menikah lagi bagaimana? Apa Nisa mengizinkan?” goda Azzam, ia benar-benar ingin tahu bagaimana reaksi Dhanisa.
Mataku yang sedari tadi menatap ke depan, langsung aku ekorkan pada wajah Azzam yang duduk di samping.
“Tuh kan, sudah Nisa duga.” Aku menyilangkan kedua tangan di depan dada. “Semua laki-laki sama, kebanyakan obral janji manis doang. Ujung-ujungnya kalau bosan cari yang lain. Nggak dia pacar atau dia sudah menikah. Semua sama.” Aku ngedumel sendiri di dalam mobil.
Azzam diam. Ia senang melihat istrinya itu cemburu.
“Jadi bagaimana?” tanya Azzam kembali, meminta pendapat Dhanisa.
“Apa? Nikah lagi? Ya udah sana kalau abang mau menikah lagi,” balasku dengan ekspresi wajah muram.
Napasku benar-benar sesak mendengar pertanyaan Abang Azzam. Apa dia akan melakukan itu? Ah, tidak mungkin. Abang Azzam kan orang baik dan berperasaan, dia tidak akan tega menyakiti hati wanita.
Tanganku aku halau kesembarang arah membuang pikiran itu. Bisa jadi apa yang aku pikirkan tadi salah.
Aku rasa ini bukan hanya sekedar pertanyaan biasa. Bisa saja Abang Azzam memang punya keinginan untuk menikah lagi dengan perempuan lain. Aku pun sadar mungkin dia meminta demikian karena Abang Azzam tidak pernah merasa bahagia hidup dengan aku. Sebab selama ini aku tidak terlalu melayaninya sebagai mana seorang istri melayani suami dengan sepenuh hati. Kalaupun aku melarangnya untuk menikah lagi bisa-bisa aku yang akan di skak matt dengan menggunakan dalil dan hadistnya.
Bukankah islam tidak melarang laki-laki memiliki istri lebih dari satu. Selama dia bisa berlaku adil terhadap istri-istrinya.
Tiba-tiba sendi-sendiku melemah. Dadaku terasa dihimpit. Tidak akan pernah ada wanita yang mau dimadu, kecuali memang ada suatu sebab wanita itu memang benar menginginkan dirinya untuk dimadu.
Aku membuka suara.
“Kalau Abang memang mau menikah lagi, satu permintaan Nisa,” suaraku mulai bergetar.
Azzam menoleh sebentar. “Apa?”
Aku mendehem. Mencoba menetralisir, menyembunyikan suaraku yang bergetar.
“Sebelum Nisa melihat Abang menikah lagi, pastikan Abang sudah menceraikan Nisa.”
Usai aku mengucapkan kalimat itu, aku langsung membuang muka ke sisi samping kaca mobil.
Membuka kaca mobil dan membiarkan wajahku diterpa angin. Tanpa terasa dan tidak bisa dibendung lagi air mataku jatuh melintas cepat di pipiku yang masih di terpa angin.
Azzam sesekali menoleh sembari memegang kemudi stir. Dia memperhatikan istrinya yang terus mengusap pipinya. Azzam yang risau akhirnya memilih untuk menepikan kendaraanya.
“Nisa?” Tangannya mendarat dengan pelan di pundakku. Berharap gerakannya itu tidak mengagetkan aku.
Tangan kananku menepis jauh-jauh tangan Abang Azzam.
Azzam sontak kaget dengan reaksi arogan Dhanisa, barusan ia yang langsung menepis tangannya. Kali ini ia mematikan deru mesin mobil. Ia ingin berbicara dengan lebih intens lagi.
“Nisa, lihat Abang!” pintanya.
Aku masih menoleh keluar jendela mobil seraya mengesap wajahku.
“Nisa, menangis? A... Abang meminta maaf. Bukan bermaksud Abang ingin melukai hati Nisa," tutur Azzam sedikit menyesal.
“Dipikiran Abang tidak ada terbesit sedikitpun untuk menikah lagi. Cukup sekali dalam hidup abang dalam mengikrarkan janji suci dalam lafadz ijab dan qabul untuk istri abang saat ini. Abang mau Nisa lah jodoh abang yang berkekalan sampai maut menjemput."
Aku menahan napas sesak. Dengan mata yang masih sedikit berair, aku menoleh ke arah Abang Azzam. Agaknya kalimat dia barusan sukses membuatku luluh. Tapi tetap saja aku terlanjur kesal. Aku tidak bisa mengatakan apa pun lagi setelah itu. Lidahku keluh.
Sayup-sayup terdengar pengamen jalanan sedang mendendangkankan lagu dengan suara yang cukup apik. Mengiringi para pengemudi mobil atau motor yang sedang singgah. Maupun mereka-mereka, para pengunjung yang sedang bersantai menikmati sebotol minuman yang dijajakan di pinggir jalan raya.
__ADS_1