
Orang tua Fikri—Abah Hamzah dan Umi Salamah—sudah tiba di rumah sakit. Sarah mendekati keduanya, mencoba memberikan kekuatan atas kemalangan yang menimpa anak laki-laki mereka. Di sisi lain, Sarah sebenarnya juga sedang berusaha untuk menguatkan diri. Ia mencoba menenangkan diri, mengumpulkan keteguhan kalbu. Mungkin saja harapan orang tua Fikri saat ini sama dengan harapan Sarah. Ingin segera laki-laki yang berbaring di bangsal itu siuman.
Ingatan Sarah kembali pada apa yang telah diberikan Fikri untuknya dalam waktu singkat ini. Cincin yang pernah diberikan Fikri untuknya, masih tersimpan rapi dalam saku. Sarah berjanji untuk dirinya sendiri jika Fikri siuman, dirinya akan meminta Fikri untuk menyematkan cincin indah itu di jari manisnya.
Dokter telah mempersilahkan kerabat pasien untuk masuk bergantian, menengok keadaan Fikri di dalam. Sarah meminta Abah dan Umi Fikri untuk lebih dulu melihat putranya itu. Bukan tanpa alasan, ia sedang menunggu seseorang saat ini. Sarah sedang menunggu Azzam. Ia hanya ingin mengatakan semuanya sekaligus meminta maaf.
Sarah sedang menyadarkan tubuhnya di luar kaca pembatas ICU masih betah berdiri. Sebuah tepukan mendarat di pundak Sarah.
“Sarah, bagaimana keadaan Fikri?” tanya Azzam melihat dari balik kaca tentang kondisi Fikri yang masih belum sadarkan diri.
“Mas Azzam?" Air mata Sarah tiba-tiba mencelos jatuh tidak bisa dibendung lagi. Sarah tidak bisa menahan gejolak emosi dijiwanya, ia membutuhkan bahu yang bisa digunakan untuk bersandar. Tanpa permisi Sarah menjatuhkan kepalanya di dada Azzam.
Azzam mencoba bersikap tenang dan mengangkat kepala Sarah darinya. Ia hanya tidak ingin Nisa salah paham melihat apa yang dilakukan Sarah padanya.
“Tenanglah, Fikri akan baik-baik saja.” Azzam mencoba menguatkan.
“Mas, maaf... Aku hanya ingin menyampaikan permohonan maaf tentang perasaan dan apa yang aku ucapkan waktu itu....”
“Perasaan apa? Perasaan kalau kakak menyukai suamiku?” cekalku tiba-tiba pada Sarah. Sengaja aku tadi menyuruh Azzam supaya pergi masuk duluan ke dalam rumah sakit, aku pura-pura ingin membeli obat di apotek. Sebenarnya maksudku hanya ingin melihat, bagaimana perlakuan dan sikap Sarah saat bertemu dengan Azzam.
Netra Azzam terbuka sempurna, ia kaget saat aku tiba-tiba hadir di tengah-tengah mereka. Mataku mengekor ke arah Sarah yang tertunduk diam.
“Kak Sarah!” Aku menatap lamat wajahnya. “Apa benar kakak menyukai Azzam? Dan Kakak bahkan rela menjadi istri keduanya?” tanyaku dengan nada meninggi.
“Sayang," Azzam memegang kedua pundakku, mengajakku untuk berbicara.
“Awas!” Aku mendorong tubuh Azzam menjauh dariku. Saat ini aku tidak ingin ada seseorang yang menghalangiku untuk mengetahui semuanya.
“Nisa" suara Sarah lirik menyebut namaku.
Sarah menitihkan air mata. Aku mengenyit. Masih sempat-sempatnya dia melakukan drama seperti itu.
“Nisa, a...aku memang menyukai suamimu.”
Kalimat Sarah yang demikian, membuat seluruh tubuhku lemah, tulang-tulangku terasa hancur dan remuk. Aku tak kuasa berdiri. Aku jatuh terkulai lemas di lantai rumah sakit. Cobaan apa lagi ini tuhan? Aku tidak bisa menerima keadaan ini, saat suamiku dicintai oleh wanita lain. Apa yang terjadi tentang hari ini? Sarah perempuan yang mungkin akan menjadi kejaran laki-laki manapun yang menyukainya. Parasnya yang cantik, lembut dan smart serta alim. Itu yang melekat dalam dirinya. Bagaimana dengan Azzam? Apa ia sama dengan yang aku pikirkan tentang laki-laki di luar sana yang juga menganggap wanita seperti Sarah adalah wanita yang sempurna.
Aku memegang pelipisku. Memijatnya berkali-kali.
Azzam bergerak cepat merengkuh tubuhku masuk dalam dekapannya. Ia berusaha menenangkan aku. Perlahan ia melepaskan pelukannya dan mencium kedua mataku.
Aku menatap dua manik mata Azzam dalam-dalam. “Apa benar abang mau menikahi Kak Sarah?” suaraku bergetar.
__ADS_1
“Kata siapa, sayang?” Azzam mengusap kedua mataku, ia tak menginginkan setetes air mataku tumpah untuk ini. “Nisa, abang sama sekali tidak ada niatan untuk menikahi Sarah. Kenapa tiba-tiba Nisa berpikir begitu? Bukannya sebelum kita menikah, malam itu abang pernah berjanji dengan Nisa dan janji itu abang pegang hingga kini." Azzam tersenyum mengenggam kedua tanganku. "Syafahira Dhanisa bin Hazwan Fauzillah Alfaridzi tetaplah akan menjadi satu-satunya wanita pilihan abang untuk trus mengisi bagian dari hati ini. Dengarlah itu, sayang." Azzam mendaratkan kecupan di tanganku.
Meskipun Azzam berkata demikian tetap perasaanku masih tak karuan, dadaku masih terasa panas. Aku melihat ke arah Sarah yang masih diam, lalu kembali menatap Azzam.
Sarah mendekat. “Nisa, itu kemarin. Kemarin aku menyukai Azzam. Tapi Fikri menyadarkanku tentang semuanya, tentang rasa yang tidak wajar ini untuk Azzam. Aku tau Nisa ini perasaan terlarang. Maka dari itu, aku ingin sampaikan permohonan maaf untukmu dan juga Azzam. Maaf jika aku telah mengganggu ketenangan rumah tangga kalian. Dan saat ini kau tak perlu khawatir, perasaan untuk Azzam tlah aku hapus dalam-dalam, yang tersisa hanya perasaan hatiku untuk Fikri. Laki-laki yang sedang berjuang melawan mautnya sejam tadi,” ungkap Sarah.
Sarah memeluk dan mendekap tubuhku dengan erat. “Maafkan aku, Nisa,” seloroh Sarah.
Sisi lain, aku masih bingung harus bersikap bagaimana sekarang. Apa benar yang Sarah bilang? Bagaimana aku bisa mempercayainya?
Aku melepas rengkuhan Sarah. “Nisa, butuh pembuktian Kak! Apa bukti kalau Kakak sudah melupakan perasaan kakak pada Azzam dan mulai menerima Azzam?”
Sarah mengajak aku dan Azzam untuk masuk ke dalam menemui Fikri. Ia akan menujukkan semuanya. Sebelumnya, Sarah meminta izin pada Abah dan Umi Fikri untuk meninggalkan mereka sebentar. Sarah hanya memohon pengertian, bahwa dirinya benar telah tidak menaruh harapan apapun lagi pada Azzam.
Sekarang, di ruangan ini tinggal ada aku, Azzam dan Sarah. Kami semua sedang berdiri di samping tempat di mana Fikri terbaring lemah. Matanya masih terpejam.
Sarah diam terpengkur, ia tak tega melihat kesakitan yang diderita Fikri. Dadanya masih berbalutkan perban. Sejam yang lalu, dirinya baru saja memperjuangkan nyawa untuk laki-laki yang sedang diharapkannya saat ini.
Wanita 25 tahun itu menuntun jari jemarinya untuk menyentuh wajah Fikri yang tampak pucat pasi dipembaringan. ‘Terima kasih untuk ketulusan yang kamu tunjukkan untukku, Fikri.’ Sarah membatin.
Tangannya di turunkan kembali mengenggam jemari Fikri. “Fikri, aku harap kamu bisa mendengarkan aku saat ini. Kamu bilang akan selalu menunggu, untuk aku bisa membalas perasaan ini ke kamu. Dan cincin ini.” Sarah mengangkat cincin pemberian Fikri yang sempat ditolaknya beberapa hari lalu itu. “Cincin pemberianmu ini masih aku simpan. Aku mohon... Kamu bisa segera bangun dan menyematkan cincin ini. Sesuai dengan apa yang kamu katakan waktu. Bahwa kau sendiri yang akan memasangkan benda ini ke jari manisku, Fikri,” lirih Sarah.
Sarah tak memperdulikan hatinya yang bergemuruh pilu. Ia hanya ingin laki-laki itu dapat siuman kembali. Bayangan wajah Fikri kian bergelayut, memaksa Sarah untuk meneteskan air mata.
“Aku telah menerimaku Fikri. Aku mencintaimu. Maaf kalau aku pernah membuatmu sakit karena penolakan itu. Kau selalu hadir untuk menyadarkan aku.” Sarah menjatuhkan kepalanya di atas tangan Fikri yang masih dipegangnya.
Sesaat, tiba-tiba jari kanan Fikri bergerak dan diikuti dengan jari-jari yang lain. Kedua kelopak matanya juga sama, bibir tampak sedikit meringis meski suaranya sangat lemah. Fikri tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya, tubuhnya masih terasa nyeri. Hanya kedua kelopak matanya saja yang secara perlahan mulai terbuka.
"Bang, kau sudah sadar?" tanya Azzam.
“Sarah, Fikri bereaksi,” ucap Azzam, ketika menyadari gerakan kecil ditunjukkan tubuh Fikri.
Kepala Sarah seketika diangkat, menatap laki-laki itu.
Fikri mengerjap pelan. Fikri masih diam pada posisinya, nafasnya masih teratur, bibir mengering.
Pertama yang ia lihat adalah adanya ruangan berwarna putih semua. Pandangannya tertuju pada langit-langit rumah sakit. Bau obat-obatan menusuk penciuman. Di samping Fikri saat ini sudah berdiri Sarah, dan kami berdua.
“Fikri!” sapa Sarah senang sekaligus haru. Pria itu membuka matanya. “Fikri, kamu sudah bangun?”
Matanya mulai memfokuskan pada wanita yang berada tepat di atas wajahnya. Guratan senyum bisa dilihat oleh Fikri. Sementara aku dan Azzam turut merasa lega.
__ADS_1
“Sarah?” suaranya lemah.
“Fikri, aku sangat takut terjadi sesuatu padamu karena aku sangat membutuhkanmu.”
Aku lihat jemari Fiki masih bergerak lemah dan perlahan memegangi jemari Sarah. Sedetik kemudian ia bisa menarik senyum dibibirnya tersenyum. Air mata Sarah kembali meluruh, mengenai wajah Fikri.
Pelan tangan Fikri meraih wajah Sarah dan mengusap pipinya yang basah. “Kamu kenapa menangis?”
“Aku sangat takut kehilanganmu,” ucap Sarah.
Fikri tersenyum samar. “Aku tidak akan meninggalkanmu, sebelum aku bisa mendapatkan cintamu, dokterku.”
Sarah mengangkat tangannya. “Kamu masih menyimpannya?” tanya Fikri, saat melihat Sarah memberikannya sebuah cincin yang pernah ia berikan tempo hari.
“Ya. Sekarang aku mau, kamu memasangkan cincin ini di jari manisku, Fikri” pinta Sarah penuh cinta.
“Apa kamu akan menerima pinanganku, Sarah?” tanya Fikri lirih.
Sarah mengangguk.
Fikri sungguh bersyukur, binar matanya tak kuasa menahan rasa haru dan senang dengan terbalasnya perasaan Fikri selama ini. Ia memasangkan cincin itu ke jari manis Sarah.
“Sungguh indah dan cantik. Apalagi ketika cincin ini melekat di jari manismu, Sarah," ucap Fikri yang diakhiri dengan mendaratkan kecupan di jari Sarah yang baru saja di pasangkan cincin.
Aku dan Azzam saling merangkul satu sama lain, turut bahagia dan haru melihat mereka.
Setelah itu, Sarah berjalan mendekat ke sisi kami berdua. Sekarang dia berdiri tepat di depan. Di ambilnya tanganku, dan tangan Azzam. Dua tangan kami ditumpuk satu sama lain.
“Doakan kami bisa turut merasakan bahagia, seperti yang kalian berdua rasakan,” ucap Sarah.
Tatapannya kemudian dijatuhkan ke mukaku. “Nisa, maaf untuk kejadian itu,” tutur Salah ikhlas.
“Iya, Kak. Aku sudah maafkan Kak Sarah. Semoga kakak dan abang Fikri bisa menjadi keluarga yang bahagia.”
“Zam.” Sarah melihat pada Azzam. “Aku juga meminta maaf denganmu. Kalau selama ini sudah membuat kamu tidak enak hati dan perasaanku masa itu.”
“Sarah, itu sudah terjadi dan sekarang adalah waktunya kita masing-masing memperbaiki diri. Semua manusia tentu tidak lepas dari salah dan khilaf, maka aku dan istriku pun turut meminta maaf jika pernah melukaimu selama ini.”
Kebahagiaan tampak menyelimuti hati keduanya. Hati yang semula seperti terhimpit sekarang, bisa bernapas tenang dan lega. Kebahagiaan berbalut cinta nan tulus dari keduanya.
Aku dan Azzam turut mengenggam tangan satu sama lain, turut merasakan kebahagiaan yang berbalut cinta dan kelapangan hati dari dua pasang insan manusia yang hanya sedang berusaha menikmati nikmatnya karunia cinta yang diangurahkan Allah dalam kalbunya. Sungguh cinta yang di dasari karena Allah adalah cinta yang berujung kenikmatan karena ridho-Nya.
__ADS_1
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Terima kasih untuk apresiasinya, sudah berkenan mampir ke mari, semoga senantiasa kerasan di cerita ini. Jangan lupa vote, like dan komennya ya.... 😍