Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 112. Tindakan Operasi


__ADS_3

Keluarga besar telah berkumpul kembali suasana penuh haru menyelimuti mereka.


Umi Salamah memeluk putranya erat-erat seakan tak mau kehilangan lagi, ia baru tahu bagaimana perihnya kehilangan meski ternyata jasad yang dimakamkan itu bukan jasad putranya tapi tetap saja perih kala itu masih terasa.


"Terima kasih Ya Allah, karena sudah menyelamatkan putraku," ucap Umi Salamah.


Kakak-kakak Fahmi tak kuasa menahan rasa haru sekaligus rindu.


"Ya Allah Azzam, kami pikir, kamu benar-benar telah kehilangan kamu," ujar Fikri dibarengi dengan merangkul pundak adiknya. Rasa bahagia terpaut di wajahnya.


Aku tak kuasa menahan tangis antara bahagia karena suami yang dicintainya benar-benar masih hidup, dan sedih karena aku tak kuasa saat Azzam mesti kehilangan rupa warna dunia. Aku berharap setitik cahaya itu bisa datang kembali menyinari hidupnya. Dan kami bisa menikmati hijaunya hamparan sawah, birunya air laut, putihnya awan di kaki langit.


Kiyai Hasbullah dan Ustadz Kafie sampai ikut menangis tak kuasa menahan haru. Rasa syukur juga terlantun dari orang-orang yang mengenal suamiku.


"Sungguh saya tak bisa berkata apa-apa, ini adalah bukti Kebesaran dan Kekuasaan Allah SWT, yang jelas dan nyata kita rasakan," ujar Kyai Hasbullah.


"Benar Kyai," jawab Abah Hamzah, ayah Azzam.


Ibu ikut juga memeluk menantunya dengan erat. Aku telah banyak melewati masa-masa yang begitu sulit dan berat dalam hidup.


"Sungguh, Ayah tak sanggup melihat semua kesedihanmu, Allah memberimu uijan yang begitu berat tapi Allah juga menaikkan derajatmu," ucap ayah Ahsan menahan tangis.


Aku menatap Azzam, ingin sekali mendekap erat tubuh pria itu, menghapus kerinduan dan kembali meyakinkan diri pada kondisi yang terjadi saat ini bahwa suamiku telah benar-benar ada mendampingiku. Bukan sebuah khayalan dan mimpi belaka. Sungguh aku tak akan pernah melepaskannya lagi.


Aku menggeser posisi dudukku, kini aku duduk tepat dihadapan Azzam. Aku tak lagi kuasa menahan rasa rindu, tanganku melingkar di tubuh Azzam, mendekap tubuhnya dengan begitu erat. Tak kuasa menahan segala perasaan dihati, menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya yang harum.


“Ini beneran Bang Azzam kan?“ tanyaku tak percaya.


Azzam hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum disela-sela tangisnya, kami kembali berpelukan dengan sangat erat.


“Maafkan Abang sayang, maafkan Abang karena telah lama meninggalkanmu dan anak kita dalam waktu yang lama," ucap Fahmi.


Hiks... Isakan kecil tertumpah dalam dekapannya.


"Menangislah sayang, tumpahkan semuanya, sekarang Abang ada disini," ucap Azzam.


“Jangan tinggalin Nisa lagi, sayang,“ pintaku.


Azzam hanya menganggukkan kepalanya.


Perasaan lega membuncah dalam hati karena kini aku telah dipertemukan kembali dengan orang-orang yang telah ketulusan cintai, lisanku tak henti-hentinya mengucap rasa syukur.


***


Kehilangan penglihatan, bukan berarti ia juga akan kehilangan cinta dan perhatian dariku. Rasa itu tak kurang, justru perhatian untuknya kian bertambah.


Sekarang kami di meja makan, tangan Azzam bergerak meraba-raba mencari dimana keberadaan tanganku. Aku menggenggamnya dan menoleh menatap manik matanya.


"Abang tidak akan melepaskanmu, seperti pesan abang untukmu waktu itu," katanya dengan mengecup tanganku.


Aku memejamkan mata, mengingat pesan yang pernah dilafalkannya. Barulah aku mengecup mesra punggung tangan juga keningnya.


"Ayo, makan... Makan... " Ibu dan Umi menata beberapa menu dengan lauk-pauk yang banyak.


"Nisa, Azzam ayo... Semuanya ayo sini kita merapat."


Semua keluarga bergabung menikmati santap pagi yang pastinya terasa begitu nikmat terlebih dengan keluarga yang komplit seperti ini. Sesekali candaan terlontar. Suasana yang begitu mengharu biru, melihat keluarga ini semangkin membuat aku tiada henti bersyukur. Sungguh anugrah terindah.

__ADS_1


"Kita sekekuarga sudah mendiskusikan semuanya, termasuk berkonsultasi dengan dokter spesialis mata. Insyaallah operasinya akan dilakukan sesegera mungkin." Suara Umi langsung membuat aku menunda suapan terakhirku.


"Yang benar, Umi?" tanyaku bersenang hati.


Dibalas dengan anggukan pihak keluarga.


"Sayang, dengarkan kata mereka tadi. Abang akan segera pulih. Abang akan melihat indahnya dunia ini kembali."


"Alhamdulillah." Ucapnya penuh syukur.


***


Halaman yang tak begitu luas di pekarangan rumah yang kami tinggali terhampar banyak bebunggan yang baru ditanam ibu beberapa hari sebelumnya. Masih sangat kecil-kecil, namun tertata apik dalam baris pot-pot mini berwarna hitam.


"Sayang, sedang apa?" tanya Azzam saat aku menyiram sebuah pot bunga mawar yang mulai layu.


Azzam berjalan dituntun oleh tongkatnya, kakinya melangkah menginjak setiap jengkal kerikil yang dijadikan sebagai ubin halaman ini, batu seketika berderit-derit saat ada seseorang yang menginjaknya.


"Nisa lagi menyiram tanaman bunga di halaman rumah kita"


Jemarinya meraba perlahan tumbuhan sekitarnya.


"Wah, ternyata banyak tanaman di sini sayang. Nisa sudah pandai berkebun rupanya."


Aku tertawa pelan dengan masih menyiram tanaman lainnya. "Nisa tak serajin yang abang kira, ini semua kerjaan ibu saat menemani Nisa di rumah. Ya, begini cara ibu mengisi sela-sela istirahatnya," kataku.


Memotong dahan kering dengan gunting khusus, membuang ke tempat sampah yang ada di bawah jajaran pot aneka bunga sebelah kanan.


Dari ekor mataku, aku melihat Azzam berkeliling, aku mendekatinya dan menjelaskan apa-apa saja yang ada di dekatnya saat ini. Dengan tangan sebagai indera perabanya, aku mencoba mengenalkan setiap benda yang ia sentuh.


Azzam menyungging senyum. Melanjutkan melihat melalui telapak tangan yang beralih fungsi menjadi mata.


Tak sampai tiga menit aku kembali dengan barang yang aku bawa dari gudang. Bermaksud hendak memungut sampah yang berserakan akibat terpaan angin kencang, semalam. Aku mendapati Azzam tengah berjongkok sembari mengibaskan tangannya.


"Ya Allah, kenapa bisa berdarah begini?" Aku mendapati tangannya telah meneteskan darah kental. Mendapati pecahan kaca di dekatnya, aku sangat yakin bahwa baru saja ia tanpa tahu telah mengenggam pecahan kaca itu tanpa diketahuinya.


"Tidak apa-apa. Ini luka kecil," jawabnya enteng.


"Luka kecil apanya. Darahnya banyak gini. Nisa ambil obat dulu!" Aku menghilang kembali dengan cepat mengambil kotak p3k untuk membersihkan luka yang mengenai jemarinya.


Ku bersihkan telapak tangan yang mengalirkan darah tadi dengan cairan antiseptik, dan mengoleskan obat luka. Ku perban dengan kain kasa agar luka cepat mengering dan sembuh.


"Abang ngapain sih tadi kenapa bisa terluka begini?"


"Tadi abang hanya ingin membantu membersihkan bagian sini."


"Ihh,... Nisa kan nggak nyuruh abang melakukan itu. Nisa suruh abang duduk sini aja."


Bukannya meredakan kekhawatiranku, Azzam malah tegelak.


Aku mengerut dahi mendapati ia tertawa demikian. Sambil memanyunkan bibir akupun berujar, "Tanaman ini akan layu saat tak ada orang yang memperhatikannya. Maka ketika ada orang yang baik hati dan bersedia merawatnya maka ia akan segar dan hidup kembali. Ia menaruh harapan pada siapa yang merawatnya dengan perhatian penuh."


Aku semangkin tak mengerti maksud kalimatnya.


"Maksudnya?"


Tersungging seulas senyum yang dibentuk dari lengkung bibirnya.

__ADS_1


"Abang merasa menjadi orang yang sangat beruntung saat ini, karena ada istri yang ternyata setia menanti, merawat suaminya dengan segala kasih dan perhatian yang tercurah. Terima kasih ya sayang."


"Ah, masa emang Nisa begitu? Bukannya abang bilang Nisa orangnya jutek, galak, keraskepala."


"Itu dulu. Sekarangkan tidak," pujinya membuat senyumku mengembang seketika.


"Hayoo, pasti sekarang Nisa sedang senyum-senyum sendirikan?" tekanya.


"Nggak!" elakku. "Abang, sok tahu ihhhh.... Wlekkk... " Aku menggelitik pinggangnya.


"Duh...duh sayang jangan usil begitu. Jawab iya juga tidak apa sayang, tidak ada yang melarang... "katanya, yang di akhir ucapan Azzam balik tegelak.


***


H-1 Operasi


Kamis pagi, sejak subuh kami bersiap-siap dan mengecek semuanya lagi. Semua mengantar Azzam ke RSCM kecuali kakak tertuanya, Fikri. Ibuku ikut juga ke rumah sakit dan Kak Soraya, Umi dan ayah Azzam, Hamzah. Urusan administrasi di RSCM cukup cepat tanpa antri dan Azzam bisa masuk kamar sekitar jam 12 siang.


Hari besar itu...


Hari yang ditunggu-tunggu, tiba dimana Azzam akan melaksanakan operasi matanya. Dokter di rumah sakit telah bersiap dan mengenakan pakaian lengkapnya.


Antara rasa cemas dan takut, seperti aku yang akan melakukan operasi itu. Tubuhku kaku dan dingin dengan tangan masih menggenggam dan mengunci jari jemari pria yang telah berbaring di atas bangkar.


Sejak bangun pagi pukul empat dinihari, jantung ini terus berdetak kencang.


"Duh Ya Allah," gumamku.


Tik tok tik tok tik tok


Waktu terus berjalan. Aku hanya istighfar terus..


"Tanganmu dingin sekali sayang," katanya meremas jemariku.


"Nisa hanya sangat takut dan khawatir."


Ia menguratkan senyum di wajahnya. "Abang sudah menyerahkan semuanya kepada Allah, termasuk nyawa ini sekalipun. Doakan saja semoga semua akan baik-baik saja. Dan Nisa tak perlu secemas ini sayang. Abang yang malah tidak akan tenang kalau tau Nisa masih trus tegang seperti ini. Kasihan bayinya juga. Tetap saja kesehatan ya sayang."


Aku berusaha menahan air mataku agar tak tumpah dihadapannya, meski ia tak melihat. Tapi aku enggan menumpahkannya di depan suamiku. Harusnya aku bisa menguatkannya, seperti dia yang selalu menguatkan aku.


Dokter bedah, Dr Harim mengatakan operasi akan segera dilakukan.


"Sayang semangat kali ini abang harus kembali berjuang untuk sembuh. Bismillah abang pasti bisa melaluinya." Kecupan terakhir mendarat di kening sebelum para perawat membawa Azzam masuk ruang operasi.


Semua hal bisa terjadi, dan kami percaya pada dokter-dokter RSCM akan melakukan yang terbaik. Ini sebuah ikhtiar, tentu semua atas ijin Allah SWT. Bismillah.. Yang bisa kulakukan bersama suami saat nunggu di luar ruang operasi adalah berdoa, berdoa dan berdoa agar semua lancar. Dan air mata ini terus bercucuran.


Di depan audiologist. Aku berharap semua akan baik-baik saja.


"Semua akan berjalan lancar. Aku nggak boleh cengeng begini," kataku sambil dleweran air mata, huhuhuuuuu.


Sekitar jam 12.00, Dr Harim didampingi beberapa dokter dan suster keluar dari ruang operasi. “Alhamdulillah operasinya sudah selesai," kata dokter Harim.


Tepat pukul satu, Abah Hamzah dan Umi Salamah diminta masuk ke ruang pemulihan. Tinggal aku sendiri menunggu. Untung ada Kak Aya di sini yang masih menunggu kabar pula tentang adiknya.


Meski sudah lega dengan dokter mengatakan bahwa Azzam sudah sadar, tapi tetap saja aku dag dig dug karena aku belum bertemu dengannya langsung.


Azzam keluar ruang pemulihan operasi dengan didorong di atas tempat tidur dengan kondisi mata diperban. Kita mengikuti kemana perawat membawanya.

__ADS_1


***


skip


__ADS_2