Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 60. Kekalahan


__ADS_3

Sarah mendudukkan Hanan di kursi rotan, tubuh Hanan yang terhentak membuat kursi berderit keras. Ia hanya diam tertunduk saat tahu kakaknya akan memarahinya.


"Mana handphone kamu!"


Hanan merogoh kantong celananya. Dengan tangan gemetar Hanan memberikan ponselnya.


Layar ponsel digulirnya berkali-kali. Hanan tahu apa yang sedang dicari dan dibaca Sarah. Setelahnya, muka Sarah tampak memerah, menahan kegeraman terhadap adiknya.


Ia mengangguk. "Oh jadi kamu yang selama ini, mengirim pesan-pesan untuk dia ya!"


Hanan mengangkat muka. "Kak, dengarin Hanan. Hanan cuman ingin buat kakak senang, itu aja dan apa salahnya?"


"Salah! Jelas salah!" sahut Sarah murka.


"Bukannya Kakak juga menyukainya kan?"


"Siapa? Fikri?"


"Iya, siapa lagi Kak," balas Fikri ngotot.


"Kapan kakak bilang begitu?" Sarah menatap dengan tajam.


"Ada, waktu itu kakak bilang kalau kakak menyimpan perasaan dengan anak yang menjadi pasien kakak itu, namanya umi... Umi... " Hanan mencoba mengingat.


"Umi Salamah maksudmu?"


Hanan mengiyakan.


Sarah menghela napas keras-keras. "Tapi, bukan Fikri yang kakak maksud."


"Tapi Fikri anak Umi Salamah, Kak."


Sarah menghela tapi tatapan mata Sarah belum berubah. "Iya cuman anak Umi Salamah bukan hanya Fikri, Hanan!" Sarah beralih duduk di sebelah Hanan. "Anak Umi Salamah itu tiga," Sarah mengangkat tiga jemarinya. "Dua laki, satu perempuan."


Dengan tatapan bingung Hanan melihat kakaknya. "Terus laki-laki yang kakak suka siapa?"


"Ada, yang jelas bukan Fikri."


Muka Hanan memerah selama ini yang dia bilang suka dengan anak Umi Salamah, Hanan kira itu adalah Fikri. Hanan mengigit bibir bawahnya. Ia terlanjur mengatakan pada Fikri kalau Kak Sarah juga menyukai Fikri, hanya mereka sama-sama tidak saling mengungkapkan.


'Kasian Fikri,' batin Hanan seraya membuang napas gusar.


"Kak jangan marah dengan aku. Kan aku nggak tau, aku kira ya dia."


"Makannya kamu jangan suka turut campur urusan kakak kalau kamu tidak tau," cela Sarah.


"Memangnya siapa saudara Fikri yang lain, yang kakak sukai?"


Wajah Sarah kembali netral bahkan ia tampak kaku.


"Azzam," jawab Sarah. "Dia laki-laki yang membuat kakak merasakan debaran yang tidak biasa."


Hanan mencoba menetralisir nama yang baru saja disebut kakaknya. Nama itu pernah terlintas di telinganya.


"Jadi kakak udah bisa move on sekarang, dan pindah hati ke laki-laki yang bernama Azzam"


Senyum Sarah merekah. Mendengar namanya saja membuat hati Sarah adem. Apalagi ketika dia melihat wajah lembutnya. Dia laki-laki yang membuat aku berpikir untuk membuka hati dengan pria lain. Dan hati ini terbuka untuk dia.


"Memangnya apa yang membuat kakak tertarik dengan Azzam?"


"Dia laki-laki sekaligus calon imam yang sempurna. Sholeh, suaranya merdu jika melantunkan ayat Allah, senyum manisnya, hafalan surahnya. Semua kakak suka." Senyum Sarah sambil menyebut alasan dirinya menyukai pria itu.


Hanan ikut tersenyum melihat kakaknya kembali mau membuka hati, menerima laki-laki lain yang bisa menggantikan dokter biadab yang telah melukai hati kakaknya diwaktu pernikahan itu.


"Tapi Kak, bagaimana dengan perasaan Fikri?" Tiba-tiba Hanan teringat pesan Fikri yang pernah dikirimnya.


"Kenapa dengan Fikri?"


"Fikri itu suka dengan kakak!"

__ADS_1


Netra Sarah terbelalak, kelopak matanya terbuka sempurna. "Fikri menyukai kakak?"


"Iya, Kak."


Sarah terhenyak sebentar. Ia memang menyadari pelayanan Fikri beberapa hari ini memang lain terhadapnya. Tapi Fikri belum pernah mengungkapan itu secara langsung.


"Dari mana kamu tau?"


"Fikri sendiri yang bilang dengan aku, waktu Fikri kemarin datang menjemput kakak. Trus aku bilang kalau kakak juga suka dengan dia."


Sarah melotot geram, dia melintir kuping adiknya yang asal berbicara. "Kamu kenapa bilang kakak suka dengan dia!"


"Ya kan Kak, aku kira laki-laki itu Fikri." Hanan mulai berpikir bagaimana nasib Fikri saat tahu ternyata Sarah bukan menyukainya tapi saudaranya. "Kak, lalu bagaimana dengan perasaan Fikri, kalau kakak menyukainya saudaranya bukan si Fikri?"


"Kakak akan menjelaskan semuanya ke Fikri kalau kakak tidak menaruh perasaan apapun ke dia. Dan ini hanya salah paham," tekad Sarah. Sarah menarik sudut bibirnya. Ia hanya sedang memikirkan sesuatu.


***


Lagi-lagi Azzam menang kali ini dengan gembiranya ia memoles lagi kopi cair ke wajahku. Sekarang aku merasa wajahku sudah mirip dengan kubangan lumpur. Tapi tidak apa-apalah, anggap saja aku sedang maskeran. Maskeran kopi. Hikss.


"Bang udah ah, Nisa kalah terus!" kataku dengan muka berkerut kerut masgyul.


"Dasar, tidak menerima kekalahan," ledek Azzam.


Aku mendengus kesal. "Bang, mau ditaruh mana lagi coretannya, nggak liat muka Nisa udah penuh nih, Hah!" kataku menunjuk wajah yang dipenuhi kopi.


Azzam terkekeh, senang dia bila melihat wajahku belepotan kopi begini.


Aku mendelik jail melihatnya yang masih terkikik. "Hem, rasain!" Dengan sisa kopi yang ada di dalam mangkok aku mengusapkan ke pipinya.


Sekarang aku sangat puas. Melihat wajahnya juga sudah di lumuri kopi. Aku tertawa sepuas hati. Azzam tidak terima, dia mendelik tajam usai tahu sekarang wajahnya dipenuhi baluran kopi yang sudah dicampurkan dengan sedikit air.


Aku segera berlari menjauh darinya sebelum Azzam balik membalas apa yang aku lakukan padanya.


"Nisa!" panggilnya geram. "Mau kemana, hah?" Azzam bangkit mengejar aku yang sudah berlari sambil tertawa senang karena berhasil membalasnya.


"Ayo kejar kalau bisa!" kataku, meledek Azzam yang kesalnya bukan main.


Azzam sepertinya benar-benar tidak mau kalah, ia benar-benar berlari mengejarku. Aku menghindar cepat, berlari meliuk-liuk di antara kursi-kursi di ruang tamu.


"Ayo, kejar! Ha-ha-ha."


Seperti tidak ingin kehilangan buruannya. Azzam menyingkirkan beberapa kursi untuk menutupi jalanku. Aku berdiri tegap. Sekarang aku harus kemana, di depan Azzam sudah menghadangku. Ia terus melangkah ke depan, semangkin lama semangkin dekat. Langkahku terus aku mundurkan ke belakang. Sampai mentok di depan pintu kamar.


"Mau kemana?" Azzam mengendikkan dagu. "Sekarang terima konsekuensinya ya!" Azzam tersenyum jail.


'Aduh! Mampuusss dah!' kataku membatin.


Mata terpejam rapat. Aku tahu wajah Azzam sudah tepat dihadapanku saat ini. Hembusan napas dan aroma parfum bisa aku rasakan.


Aku bisa apa sekarang? Pasrah? Tapi aku tidak biarkan Azzam dengan mudah mencium pipiku. Setidaknya aku harus membuatnya kesal dulu. Haha.


"STOP!" kataku menahan wajahnya, dengan telapak tangan.


"Kenapa?"


"Tadi ada Mou bawa tikus di belakang abang?"


"Hah?" Azzam menoleh. "Mana?"


"Ada tadi disitu tuh!" kataku seraya tangan meraba-raba permukaan pintu, mencari kenop pintu.


Krekk... Pintu berhasil terbuka.


"Wleekk, abang kena tipu."


Aku langsung masuk dan menutup pintu rapat-rapat.


"Nisa! Buka pintunya!" suara Azzam mengedor pintu dengan keras.

__ADS_1


"Oh, abang tau. Nisa mau mengajak kita melakukannya dengan lebih privasi lagi ya. Oke!"


"Apa nggak dengar, sayang!" teriakku dari dalam.


"Buka pintunya, Nisa. Abang hitung sampai tiga ya kalau tidak juga di buka. Awas!" ancam Azzam.


"Satu!"


Satu? Terdengar suara Azzam menghitung angka pertama berurut.


"Satu...satu aku sayang kamu..."


"Dua!"


"Dua... Dua aku cinta kamu..."


"Abang dobrak nih. Ti.. Ti..."


Percuma saja dia dobrak sekalipun tak akan bisa. Pintunya aku kunci. Aku tertawa puas. Tak lama setelahnya aku mendengar Azzam meringis kesakitan di luar.


Aku segera berlari, membuka pintu. "Abang, kenapa?" ujarku menatapnya panik. Aku lihat dia meremas lengannya.


"Apa yang sakit?" Aku membolak-balik pergelangan tangannya, melihat sebenarnya apa yang diringiskan.


Bukannya menjawab, Azzam malah membalas dengan kekehan.


Kedua alisnya terangkat ke atas. "Nisa, tertipu... "


"Histtt... " Aku mendesis sebal.


Bukannya meminta maaf. Azzam malah menyeret manja tubuhku ke atas tempat tidur dan mengunci pintu rapat-rapat.


Azzam turut merebahkan tubuh usai badanku terhempas di atas tempat tidur.


"Sekarang abang mau balas dendam!" ucap Azzam gemas.


Tangannya mulai merangkul tubuhku, diikuti kaki yang menindih lututku pula.


Kecupan itu mesra itu benar-benar berhasil di dapatkan. Azzam tak kuasa menahan tawa saat melihat wajah aku yang menegang.


Aku berusaha menyingkirkan wajahnya dari hadapanku tapi dia malah asyik membelai pipi dan menjalar ke rambut.


"Hum, harum" ucap Azzam usai mencium helaian rambutku.


"Abang, ish!" Aku menarik dagunya gemas.


"Apa sayang."


"Minggir, Nisa mau bangun!" Aku berusaha melepaskan rengkuhannya.


"Tidak mau."


"Lepas" kataku sambil melotot.


"Nggak" balas Azzam sama.


Huft! Aku hanya bisa menghela napas pasrah.


"Ya Allah Yah, siapa yang berantakin rumah kayak gini!" Aku dan Azzam mendengar seruan ibu dari luar.


Kami menatap satu sama lain. "Kan, gara-gara abang, tuh!"


"Kenapa abang? Kan Nisa duluan!"


Aku mengeram sebal. "Hmm iyalah, Memang Nisa selalu salah. Nggak pernah benar!"


"Hust! Jangan marah sayang. Abang salah. Biar tidak begini, nanti kita beli rumah sendiri ya"


Selama ini memang aku dan Azzam memang masih tinggal berdua dengan ayah dan ibuku. Alasannya memang mereka yang meminta supaya rumah ini kami tetap tinggal di sini saja. Mengingat ayah dan ibu juga sibuk dengan urusan pekerjaannya di Singapura. Hingga kadang sebulan ia baru bisa pulang ke Indonesia.

__ADS_1


Namun, Azzam masih punya rencana untuk tetap membeli rumah untuk kami berdua. Rencananya pula bukan di Jakarta lagi tapi di Tangerang. Sekaligus pindah bekerja. Azzam mendapatkan tawaran untuk menjadi dosen di sana.


__ADS_2