Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 103. Bukan Kesengajaan


__ADS_3

Udara yang dingin ditambah dengan angin kencang, membuat dahan-dahan pohon berguncang hebat menjatuhkan dedaunan yang kering di atasnya. Tanpa rasa bersalah angin menghempaskan daun kering yang gugur, tubuhnya yang ringan dan ketidakmampuannya melawan angin mengharuskan dia mengalah.


Hal itu sama dengan yang aku alami saat ini. Mata yang masih sembab menyertai malam kelam. Tak mampu berbuat apa-apa karena takdirlah berkuasa. Manusia sudah berusaha namun Allah mengetahui yang mana baik bagi manusia, dan bukankah takdir telah ditetapkan Allah. Jodoh dan maut sudah ditetapkan di lauh al-Mahfuz. Semua titip Allah, Allah punya hak untuk mengambil kapan saja apa yang menjadi kepemilikannya termasuk manusia, makhluk bernyawa yang dibekali akal dan pikiran.


Tim dokter yang menangani kasus kecelakaan, mengatakan bahwa jenazah akan di antar ke rumah duka esok pagi. Umi dan abah pun tak mengizinkan aku untuk ikut bersamanya ke rumah sakit. Alasannya demi menjaga kondisi kesehatan dan kehamilanku. Mereka sangat takut akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.


Di kamar, aku ditemani Kak Soraya. Aku mendekap lututku dengan erat. Sampai saat ini aku belum bisa menerima semuanya. Aku bahkan menyangkal ini hanyalah mimpi. Tapi kenyataan membawaku, untuk mengakui bahwa sungguh ini real kehidupan yang harus aku alami. Sungguh aku masih syok.


"Nisa, ayo dek. Makan dulu, dari sore tadi kamu belum menyentuh makan sedikitpun. Ingat kau sedang mengandung," bujuk Kak Sarah, yang aku balas dengan gelengan. Masih mendekap lututku dengan kuat.


Kak Soraya memperbaiki ikatan rambutku, lalu mengusap dua mataku yang bengkak karena menangis.


"Atau nggak minum dikit ya?" Kak Soraya memberikanku segelas susu.


"Ayo dek. Kalau nggak mau makan oke. Setidaknya kakak mohon minum ini ya." Titah Kak Soraya memohon. Aku tahu semua mengkhawatirkan aku tapi ditengah perasaanku yang kalut begini. Aku sama sekali tak menginginkan untuk melakukan apapun.


Sejenak kemudian, aku teringat kembali pesan Azzam dalam mimpiku tadi untuk menjaga anak ini dengan baik, mendoakannya dengan doa-doa yang baik agar sejak dalam kandungan ia dapat tumbuh membawa karakter yang disenangi Allah.


Aku mengangkat kedua bibirku demi mengesap segelas susu yang diangsurkan kak Soraya. Kak Aya tersenyum saat melihat aku merespon permintaannya.


Gema bacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an dan burdah terdengar dari mix pengeras suara. Beberapa warga sekitar yang telah hadir memulai bacaan kalam Allah.


"Ibu dan Ayah Nisa tadi telpon malam ini mereka akan terbang dari Singapura pulang ke Indonesia," kata Kak Soraya, meletakkan kembali gelas yang aku gunakan untuk minum tadi.


"Iya Kak."


***


Di rumah sakit. Ridho benar-benar merasa bersalah telah menyia-nyiakan istri yang telah ia nikahi 4 tahun silam itu. Pria itu memukul dinding rumah sakit dengan keras, membuat buku buku jemarinya memerah.


Ridho baru saja diminta untuk melihat apakah benar di ruang mayat yang menjadi korban kecelakaan beruntun tadi adalah mayat Rara, istrinya.


"Ini semua gara-gara Azzam!" Amarah Ridho membuncah. "Coba, dia tidak menawarkan untuk menebengi Rara, pasti Rara saat ini akan baik-baik saja.


Ridho tahu Rara bukan siapa-siapanya lagi saat ini. Tapi, pria itu tetap merasa kehilangan. Kini, Ridho bukan hanya jauh dan berpisah dengan Rara. Tetapi, semalanya dia tidak akan dapat lagi melihat wajah Rara lagi.


"Ra, maafin aku Ra. Aku pria BODOH! Aku melupakan janjiku untuk menjaga dan melindungimu," ucap Ridho penuh penyesalan.


Dokter yang baru saja ditemuinya keluar dari ruang jenazah. Ridho berlari mengejarnya.


"Dokter... Dokter! Tunggu, Dok"


"Ya"


"Kapan kira-kira saya bisa membawa jenazah Rara pulang ke rumahnya Dokter?"


"Karena ini korban lakalantas, maka ada prosedur yang mesti kami lakukan lebih dulu. Termasuk berkoordinasi dengan polisi yang menangani kasus ini."


"Baiklah kalau begitu dokter."


Ridho berbalik badan dan duduk dikursi panjang rumah sakit.


Tak lama seorang pria datang tergopoh-gopoh, menatap tajam pada Ridho tatapannya penuh amarah.

__ADS_1


"Sini kamu!" pria paruh baya dan sebagian rambutnya sudah beruban itu ternyata adalah ayah Rara. Ia menarik kerah baju Ridho dan menyeretnya menjauh. Sementara, di belakang ibu Rara, menangis tersedu-sedu. Meratapi nasib putri keduanya.


"PUAS KAMU! setelah kamu menyakiti anak saya. Sekarang kamu membunuhnya! PUAS KAMU HAH!"


Tak mampu menahan amarah. Akhirnya, satu tonjokan keras mendarat di wajah Ridho. Pria berkulit kuning langsat dengan mata sipit tersebut langsung tersungkur ke lantai.


Ia terlihat pasrah. Sembari memijat wajahnya bekas tonjokan ayah Rara tadi. Ridho menangkat sedikit kepalanya melihat ke arah ayah Rara. Kemudian kembali bangun, meski sedikit terhuyung.


Ayah Rara memasang ancang-ancang ketika Ridho bangun dan mendekatinya.


Bukannya membalas, Ridho meraih tangan pria di depannya. Memeluk sang ayah mertua.


"Ayah, maafin Ridho karena menyakiti anak ayah."


Pria tadi mendorong keras tubuh Ridho. Seperti merasa jijik dipeluk seorang pembunuh. Ridho melangkah mundur beberapa langkah.


"Jangan pernah kau menyentuh tubuh kami, pembunuh!"


"Yah, aku bukan pembunuh!"


"Apa namanya kalau bukan pembunuh!" teriak Ayah Rara tanpa peduli dimana mereka berada.


"Pak! Pak! Kalau mau ribut jangan di sini. Kalau bapak dan mas nya masih ribut kami tidak segan-segan mengusir bapak dari rumah sakit ini!" tegas pria bergeram putih berseragam satpam itu.


"Iya, maaf Pak. Saya hanya emosi!"


Ayah Rara, menggulung ujung kemejanya, sambil menghembukan napas dengan kasar.


Sementara, satpam tadi telah pergi usai memperingatkan kami.


"Sungguh ayah menyesal Bu. Telah menikahkan anak kita dengan laki-laki macam Ridho ini. Andai dulu kita tidak mempercayai ucapannya. Pasti Rara sudah hidup bahagia!"


Tepat sekali setelah pak satpam rumah sakit pergi, ayah dan ibu Ridho juga datang menemuiku di rumah sakit.


"Hey, kalian jangan coba-coba menyalahkan anak kami." Bela ayah Ridho.


Ridho menatap pada kedua orangtuanya yang datang dan langsung mencerca orang tua Rara.


"CUKUP! CUKUP AYAH! Jangan ribut tentang masalah keluarga di sini!" pinta Ridho geram.


"Jangan salahkan aku terus! Bukankan ini semua karena kalian semua yang selalu menuntut untuk menjadi keluarga sempurna dengan kehadiran anak di antara kami. Tapi, kalian tak pernah memberi waktu, kesempatan dan bahkan dukungan untuk keluarga kami. Kalian semua terlalu memikirkan kepentingan kalian masing-masing. Tanpa tau apa yang tengah aku dan Rara rasakan. Jujur aku pribadi tertekan saat harus terus ditekan begini. Itu AKU. Lalu, bagaimana dengan Rara!"


"Kalau pun kau memikirkan Rara, lalu kenapa kau menggoda wanita lain. Apa dengan begitu kau memikirkan perasaannya!" cerca Ayah Rara pada Ridho.


Ridho tak tinggal diam, dia membalasnya dengan ucapan menohok pula. "Aku melakukan itu, karena aku sudah... Aku sudah tidak tau harus berbuat apa. Aku seperti terpojokkan karena kemauan kalian. Hingga aku lampiaskan pada wanita itu. Jujur dari dalam hati, aku sama sekali tak menyukainya. Aku masih mencinta Rara. Bukan wanita lain!"


Mereka semua terdiam, dan berpandangan satu sama lain.


Ridho duduk bersimpuh.


"Ridho mohon, supaya kalian semua bersatu dan mendukung serta menerima satu sama lain. Meski kita berdua sudah berpisah. Tapi, hubungan kekeluargaan itu masih ada dan terjalin. Supaya arwah Rara bahagia di alam sana." Ridho menitihkan air mata kepedihan. Kepedihan ditinggalkan oleh mantan istrinya.


"Ridho bangunlah. Maafkan ayah, Nak" Ayah Ridho mengangkat tubuh lunglai Ridho yang duduk bersimpuh di dasar lantai.

__ADS_1


Ridho mendekap erat ayahnya, sambil berucap dengan suara parau. "Ayah, aku sudah kehilangan orang yang aku cintai, ayah." Tangis Ridho pecah ketika kembali mengingat Rara lagi.


***


"Polisi masih terus melakukan menyelidiki kasus lakalantas ini. Tapi, dari penyelidikan awal polisi mendapati kalau mobil yang dikendarai Azzam remnya tidak berfungsi alias rem blong, Umi. Mereka menduga bahwa rem blong bukan karena sil piston master aus. Tetapi ada sebuah kesengajaan."


Umi mengernyitkan dahi. "Maksudmu, Ali ada yang sengaja melakukan itu pada mobil Azzam."


"Bisa jadi begitu umi. Bisa jadi ada orang yang tak suka pada dia, hingga mensabotase kendaraannya. Tapi polisi akan mengumpulkan dulu barang bukti dari puing-puing bekas mobil Azzam yang terbakar."


"Ah, masa ia adikku memiliki musuh, Li? Aku tau dia anaknya baik dan bersahabat dengan siapapun."


"Aku tidak tau juga, sayang. Yang jelas penyidik Dirlantas, dan Laboratorium Forensik (Labfor) Polri Cabang Tangsel sedang menindaklanjutinya. Kalau pun benar polisi akan segera memburu pelakunya."


"Astagfirullah ya allah, karena ini begitu banyak korban dari kecelakaan ini." Umi kembali memegang dadanya.


"Iya, Umi, beruntung bus pariwisata yang mengangkut anak-anak menuju perkemahan hanya menderita luka-luka, meski ada juga anak yang mengalami patah tulang. Sementara dua mini bus di belakangnya, juga mengalami rusak berat."


"Terus kenapa, kenapa abang juga tidak selamat. Kenapa dia harus jadi korban juga, Abang!" Aku berjalan ringkih mendekati mereka yang berunding di ruang tengah.


Berdasarkan dari hasil mencuri dengar, potongan-potongan pembicaraan. Mobil Azzam melaju cepat di tengah lebatnya hujan, pandangan yang berkabut membuat jarak pandang menjadi terbatas ditambah mendung yang begitu gelap. Mobil yang dibawa Azzam tak mampu menahan laju hingga tiba-tiba ada mobil truk tronton besar melintang di depan. Mobil seketika menghantam keras bagian belakang mobil tronton.


Kepulan asap hitam membumbung keluar dari bagian depan mobil disertai percikan api. Hanya dalam hitungan detik, sebuah mobil kembali menabrak keras mobil Azzam. Hingga mobil itu terhimpit dan kobaran api membesar. Dua minibus berikutnya menjadi korban.


Diduga Azzam dan Rara terjebak dalam mobil dan kobaran api yang melahap habis mobilnya.


"Nisa, kamu belum tidur. Ini sudah jam sebelas, nak. Kamu harus pedulikan juga kondisimu. Bagaimana kalau perutmu sakit lagi."


Umi Salamah menuntunku kembali ke kamar. Umi membawaku untuk kembali berbaring ditempat tidur, ia menarik selimut menutupi setengah tubuhku.


"Umi temani Nisa tidur ya?" Umi mematikan lampu utama, tinggal lampu tidur di atas nakas yang menyala remang.


"Umi, biar kakak yang menemani Nisa tidur malam ini ya... " Kak Soraya ternyata menyusul ke kamarku.


"Umi, Nisa sendiri juga nggakpapa, Mi. Umi juga butuh istirahatkan," kataku.


"Nggak dek. Kita tidur berdua ya malam ini. Kak Aya tidur dengan Nisa."


Kak Soraya berjalan ke sebelah tepi ranjang untuk ikut pula bersiap tidur.


"Ya sudah, Umi keluar dulu ya. Suamimu sudah pergi lagi Aya?"


"Iya, Umi. Tadi Ali pamit ke rumah sakit menemani Abah dan Fikri di sana."


Umi sudah pergi dan tinggal lah kami berdua di kamar ini.


"Kak, Kak Aya. Apa Nisa masih boleh menaruh harapan untuk mengatakan Azzam masih hidup, Kak," ucapku sambil menatap langit-langit kamar.


Kak Soraya menoleh. "Mungkin harapan Nisa sama juga dengan harapan Kakak. Berharap semoga berita itu salah. Tapi, bagaimana lagi dek. Polisi mengatakan kalau itu benar Azzam. Ia ditemukan dengan kartu identitas tergeletak di dekatnya."


"Tapi Kak. Naluriku bilang Azzam masih ada di sini, Kak."


"Sudah. Ini sudah semangkin malam. Kita tidur ya."

__ADS_1


Kak Soraya memejamkan matanya sementara aku kembali bermain dengan pikiranku, sambil mengelus-elus perutku yang tak lagi datar.


***


__ADS_2