
Ucapan syukur tiada henti terhanturkan atas nikmat yang Allah karuniakan pada keluarga kami. Alhamdulillah, acara tasyakuran kecil-kecilan telah diadakan malam ini berjalan dengan lancar. Semoga doa-doa yang mengalir dan dilantunkan dari para anak-anak yatim dapat terkabulkan. Kami hanya berharap agar rumah yang kami tinggali ini, bisa membawa ketenangan, kebahagiaan serta menjadi wasilah lahirnya penerus baginda Nabi Muhammad SAW untuk terus berdakwah menyiarkan islam sesuai dengan sunnah wal jama'ah.
Kami sangat bersyukur akhirnya kita bisa memiliki rumah sendiri dan tinggal berdua di rumah berlantai dua yang lumayan besar menurutku. Di rumah ini, kami akan memulai kisah kami yang baru.
Anak-anak yatim telah beranjak satu per satu mengambil box nasi dan amplop yang telah aku dan Azzam sediakan khusus untuk dibagikan pada anak yatim yang bersedia hadir malam hari ini.
Dalam islam, do’a anak yatim adalah do’a yang mustajab dan memiliki kemungkinan besar akan dikabulkan oleh Allah SWT. Dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda:
“Ada seseorang yang datang kepada Rosulullah Saw dan mengeluh kekerasan hatinya. Nabi pun bertanya,”Suka kah kamu jika hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu terpenuhi? Kasihanilah anak yatim, usaplah wajahnya, dan berilah makan dari makananmu, niscaya hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu akan terpenuhi”
Dari hadist tersebut menunjukkan bahwa dengan berbuat baik dan merawat Anak yatim yang memang membutuhkan akan memberikan manfaat bagi kita. Dengan berbuat baik pada anak yatim, maka kebaikan tersebut juga akan kembali kepada kita dalam bentuk yang tidak kita duga-duga.
Berbuat baik kepada anak yatim juga akan mendatangkan pahala serta ganjarana yang setimpal. Tanpa anak yatim tersebut mendo’akan, merawat mereka dengan baik adalah suatu perbuatan terpuji yang tentu akan sangat disukai oleh Allah SWT.
Dengan begitu, maka Allah akan memberikan ganjaran yang akan bermanfaat bagi kita, baik di dunia serta di akhirat nanti. Dengan begitu kita juga akan mendapatkan keberkahan hidup yang luar biasa. Sebaliknya, ketika kita berbuat tidak baik pada anak yatim, akan diberikan ganjaran yang setimpal pula bagi kita.
"Bu, saya dan istri saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran Ibu dan juga anak-anak panti Media Asih. Jika ada waktu kita akan kembali ke yayasan ibu," tutur Azzam.
"Iya Pak Azzam dan juga Bu Nisa. Sama-sama terima kasih juga sudah mau bekerja sama dengan yayasan kami, dan terima kasih juga untuk undangannya malam ini. Anak-anak nampaknya senang sekali pak dengan acara ini. Semoga bapak dan ibu diberi kelapangan rezeki dan rumah ini menjadi rumah yang tentram dan barokah."
"Ammiin" ucapku dan Azzam berbarengan.
"Oh iya, bu. Bagaimana kabar Arumi?"
"Alhamdulillah baik, Arumi sehat," senyum Bu Fida, pengasuh yayasan.
Azzam menggerakkan kepalanya ke arahku, dan bertanya. "Siapa Arumi?"
"Arumi it—"
"Arumi itu anak yang manis dan cantik juga menggemaskan." Ridho tiba-tiba ikut nimbrung, muncul di sebelahku. "Dia cantik dan manis sama seperti dengan wanita yang ada diselah ini ya kan, Bu?" Ridho menaik turunkan alisnya dan melihat ke wajahku.
Bu Fida nampak tersenyum. "iya betul."
Ridho bergeser selangkah sambil memasukkan tangannya ke saku celana. "Dan bahkan menurut aku, Dhanisa itu mirip dengan Arumi."
"Ah masak?" responku atas ucapan Ridho.
"Iya benat, Dhanisa," balasnya langsung. "Sama-sama ngangenin." Ridho tegelak pelan.
'Apa-apaan sih Ridho!' gerutu dalam hati.
"Kamu ngomong apa sih, hah!" kataku berbisik pelan, melototi Ridho yang berdiri di sebelahku.
Aku menoleh menatap Azzam. Melihat wajahnya merah padam. 'Pasti Azzam marah dan tidak suka dengan perkataan Ridho. Ya Allah, ampun kenapa aku mesti kenal dan bahkan bertetangga dengan pria ini. Dia tidak sadar apa sudah beristri tapi masih suka goda perempuan lain. Ya meskipun itu cuman beguyon ya tapi tetep,' kataku membatin.
Aku lihat Ridho menoleh ke arah Azzam, mungkin dia memang sengaja melakukan itu untuk memanasi Azzam. Dasar!
"Ups! Jangan marah ya aku bercanda kok!" Ridho menyembulkan dua jemarinya.
"Oh iya, karena sudah larut juga dan anak-anak sudah menunggu saya di luar. Kalau begitu saya pamit permisi dulu ya Pak Azzam dan Bu Dhanisa, Pak Ridho. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Sekali lagi terima kasih, kami atas nama sekeluarga mengucapkan terima kasih, Bu."
Bu Fidah berlalu meninggalkan kami yang masih berada di ruang tengah. Aku merasa asing di sini, atas kejadian atas ucapan Ridho tadi aku jadi tidak enak. Beberapa menit tidak ada obrolan. Ridho juga belum pergi meninggalkan kami di sini. Aku menatap ke Azzam yang juga masih diam ekspresi wajahnya tapi sudah netral. Sampai akhirnya, Ayah datang menghampiri kami.
"Zam, bantu ayah, nak. Angkat kursi di depan."
"Iya Yah. Nisa, kamu bantu geh umi di dapur," pinta Azzam sebelum menghambur ke luar, mengikuti ayah yang telah berjalan keluar lebih dulu.
__ADS_1
"Iya, bang"
Setelah Azzam pergi. Barulah aku pula melangkah ke arah dapur tapi baru aku sampai di ambang antara ruang teh dengan ruangan dapur, Rara datang menghampiri Ridho sambil menggerutu. Aku kembali membalikkan badan. Melihat mereka berdua. Entah apa yang terjadi dengan Rara, aku lihat baju yang Rara kenakan basah.
"Kenapa, Mbak?"
"Aduh Sa, baju aku basah nih!" Rara menunjukkan sebagian baju yang dikenakannya basah seperti tersiram air.
"Gimana ceritanya, Mbak? "
"Tadi itu, aku kan ke kamar mandi rencannya mau ngebersihin baju aku yang kotor karena terkena tumbahan kecap tadi waktu makan. Nah ketika di toilet tadi aku sudah menyedok air. Eh nggak tau licin kali ya, terus aku jatuh alhasil airnya tumpah ke badan aku, Sa."
"Itu salah kamu sendiri, nggak hati-hati!" tutur Ridho menyalahi istrinya yang menurut dia kurang hati-hati.
"Kamu kok gitu sih Dho. Harusnya kamu khawatir," Aku mendelik tajam ke Ridho.
"Kak apanya yang sakit?" Aku memeganggi lengannya, mengecek bagian tubuh Mbak Rara.
"Tadi pinggang aku, dengan pergelangan tangan aja sih yang sakit."
"Duh, jangan-jangan keseleo lagi."
"Nggak apa-apa lah, Sa."
"Bukannya gitu Mbak, takutnya ada yang benar-benar ke sleo bisa - bisa besoknya bengkak, Mbak."
"Gitu ya. Ya sudah nanti aku coba ke tukang urut lah."
"Oh atau nggak, kalau Mbak masih merasakan sakit. Besok mbak bisa ke sini, untuk di urut gitu."
"Kamu bisa urut?"
Aku menggaruk kening. "Nggak sih. Cuman umi bisa kok"
Aku melihat ke bagian baju Rara yang sudah basah sebagian. "Tapi, baju Mbak basah itu lho."
"Ra, kamu pinjam baju Dhanisa aja dulu" saran Ridho.
"Nggak usahlah, Mas. Ngerepotin."
"Mas, nggak mau tanggung jawab ya kalau kamu yang keras kepala, ujung-ujung sakit dan nanti aku yang bakalan repot." Ridho membuang bola mata malas.
"Benar saran Ridho, Mbak. Gimana? Biar Aku ambil baju buat kakak ya."
"Nggak usah repot-repot lah, Sa," ucap Rara tak enak.
"Nggak apa-apa lah, Mbak. Tunggu sebentar ya."
***
Sambil melipat kursi di depan halaman rumah yang tak terlalu luas, sembari pula ia memikirkan tentang sikap Ridho. Akhir-akhir ini Azzam merasa Ridho kerap melontarkan kalimat yang membuat hatinya panas. Entah di sengaja atau bagaimana yang jelas, sikap demikian membuat dada Azzam bergemuruh hebat. Tidak ada yang boleh merayu dan menggoda istrinya kecuali dia sendiri.
Azzam terus larut dalam pikirannya sendiri, tanpa sadar mertuanya memperhatikan dia daritadi.
"Kamu kenapa, Zam? Kok melamun gitu. Mengangkat kursi kok nggak semangat. Kayak nggak makan dua hari," lucon Ayah Ahsan.
Azzam menyengih. "Iya, ti...tidak apa-apa, Yah. Hanya sedikit kepikiran saja perasaan tadi Azzam kita tidak menyusun kursi sebanyak ini," kilah Azzam.
"Tadi itu, ayah hanya takut kurang kursinya, maka dari itu ayah meminta bantuan Pak Damar supaya mengantar tambahan kursi."
__ADS_1
"Oh begitu."
"Rumah di sini nampaknya juga nyaman, Zam. Bersih dan rapi penataannya. Warganya juga ramah dan bersahabat sepertinya."
"Alhamdulillah Yah. Azzam pun senang bisa menemukan rumah ini. Kita juga merasa nyaman tinggal di sini."
"Iya. Rumah kalian termasuk luas. Namun, hanya halamannya saja yang agak sempit ini."
Jam sudah menunju sembilan malam. Malam ini langit masih sama dengan malam sebelumnya, langit cerah malam ini dihiasi, gemerlap lampu-lampu ciptaan Allah yang membuat langit menjadi semangkin indah dipandang mata. Begitu pujian bagi penduduk bumi.
***
Aku merasa aneh. Seperti ada yang mengikutiku dari belakang. Dengan cepat aku menoleh.
Deg!
"Ridho!"
Aku sontak kaget melihat Ridho telah berdiri di depanku saat aku membalik badan.
Bagaimana dia bisa kemari?
Sangat pandai dia mencari kesempatan untuk mengikutiku, dan jangan-jangan dari tadi hanya aku yang tidak merasakan, ia diam-diam mengekor di belakang. Tapi kemana Mbak Rara?
"Ngapain kamu di sini, Ridho?" tanyaku dengan suara meninggi.
Seketika jantungku berdebar hebat. Rasa takut mengerogoti batinku. Laki-laki ini sampai berani mengikutiku sampai ruangan pribadiku. Tepatnya di kamar aku dan Azzam.
"Maaf, aku cuma mau mengambil baju ganti untuk Rara," dusta Ridho.
"Kamu kan bisa menunggu di bawah. Nggak perlu sampai ngikutin aku ke atas! Lagian apa tadi aku memintamu untuk turut ikut denganmu? Nggak kan?" ucapku sengit.
"Nanti kalau suamiku tahu bagaimana? Perasaan istrimh juga bagaimana. Kalau begini nanti akan timbul salah faham Ridho!" sambungku dengan masih menahan amarah melihat kelakuan Ridho.
Ridho resenyum puas.
Ridho mencebik. "Ah, udah lah! Santai aja. Rara nggak akan berpikiran begitu, slow aja."
'Ya Allah apa sih dipikiran laki-laki ini? Dia benar-benar gila!' batinku.
"Turun sekarang juga. Aku nggak mau melihat kamu di kamar ini. Ini ruangan pribadi aku dan suamiku. Kenapa kamu nekat ikut masuk ke sini! Dasar laki-laki tidak tau sopan santun!" ucapku dengan kasar.
"Aduh! Jangan galak-galak dong cantik. Ntar cantik kamu hilang lho," ucap seraya menyeringai.
Ridho melangkah maju mendskatiku. Membuat aku mundur beberapa langkah ketika dirinya mendekat. Hingga membuat langkahku tertahan, ketika kakiku sudah membentur lemari pakaian.
"Keluar nggak, aku minta kamu keluar sekarang! Atau nggak... "
Ridho menghentikan langkahnya. "Apa?"
"Atau nggak aku teriak!"
"Oke aku akan keluar sekarang! Sampai ketemu laki, di moment berikutnya!" Ridho tersenyum miring, sambil menatapku tajam.
Seketika rasanya tulang-tulangku lemas. Aku terduduk di lantai seketika dengan masih memegang baju gamis yang akan aku berikan pada Rara.
"Ya Allah jauhkan Nisa dari fitnah," ucapku lirih.
"Abang, maafin Nisa yang tidak amanah karena membiarkan laki-laki lain masuk ke kamar pribadi kita."
__ADS_1
Aku menarik napas dalam-dalam dan menghembukannya perlahan. Berkali-kali aku melafadzkan kalimat istigfar. Aku mencoba untuk tenang dan bersikap biasa saja. Supaya Rara dan Azzam tidak curiga.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥