Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 22. Kamu Cantik, Istriku


__ADS_3

Semua rumah-rumah di sekitaran kompleks gelap mengulita. Malam ini listrik padam. Cahaya bintang dan bulan pun telah lama menghilang disapu awan gelap. Suara gemuruh terdengar dari ujung langit. Jika sudah begini orang-orang tak mampu berkutik. Suara nyala televisi tidak lagi terdengar begitupun suara lantunan lagu yang diputar dari tape milik tetangga sebelah juga tidak menyeru lagi. Biasanya dialah yang selalu membuat bising satu kompleks dengan memutar musik sampai larut malam. Tanpa berpikir kalau ulahnya telah mengusik tidur malam tetangga-tetangganya.


Di ruangan ini hanya diterangi cahaya lilin. Apinya meliuk-liuk kala diterpa hembusan angin yang merengsek masuk. Umi sudah beberapa menit lalu meninggalkan kami untuk istirahat di kamarnya. Aku masih fokus menghadap ke layar laptop yang menayangkan serial drama Korea berjudul Doctor Jhon . Aku baru menyelesaikan lima episode, dan malam ini aku ingin melanjutkan episode berikutnya. Lagian tidak ada cara lain untuk menghidupkan suasana gelap dan sunyi ini kecuali dengan menonton drama Korea. Sementara, Abang Azzam fokus membaca buku tafsir hadist. Untuk menambah pencahayaannya ketika membaca dia menggunakan lampu emergency.


Pukul 10.05 WIB. Sudah satu jam berlalu aku masih asyik menonton film yang diperankan Ji Sung, dan rekan-rekannya. Aku yang terbawa suasana terkadang merasa gemes sendiri hingga aku lampiaskan pada bantal yang ada di tempat tidur. Sampai-sampai tanpa sadar aku berteriak melihat adegan romantis Cha Yo Han bersama Lee Se Young. Ini adalah kali keduanya aku berteriak gemes. Aku hanya bisa membekab mulutku dengan kedua tangan kala Abang Azzam menoleh ke arahku karena suara jeritan yang melengking. Sepertinya Ustadz Azzam harus banyak-banyak bersabar kalau dekat-dekat dengan aku. Aku membatin.


Terkadang sesekali aku mencuri pandang ke arahnya yang juga masih tekun membaca hadist sama sepertiku. Cuman bedanya kalau dia melakukan sesuatu yang lebih berfaedah ketimbang aku. Tapi nggak apa-apalah, setiap orang punya hobi dan selera yang berbeda-beda. Akupun menyadari kalau aku dengan dia tidak memiliki kesamaan selera.


Tanpa terasa aku telah melewatkan satu episode. Kalau aku sudah merasa pegal dengan posisi saat ini, aku terkadang merubah posisi dengan menelungkupkan badan.


Suasana malam yang sunyi dan keadaan kasur yang empuk semangkin membuatku betah berlama-lama menatap screen laptop. Sekarang yang aku harapkan mudah-mudahan baterai laptop dapat bersahabat.


Azzam yang terpandang olehku baru saja mengakhiri kegiatannya. Dia membereskan meja kerjanya, merapikan buku-buku yang berserakan dan mengembalikannya lagi ke rak buku. Ia melangkahkan kaki menuju tempat tidur, dan duduk dengan tenang tepat di sampingku yang masih dalam keadaan menelungkupkan badan.


“Nonton apa itu?” tanya abang Azzam, menilik-nilik layar laptop.


“Kalau abang mau tau, inilah yang namanya drakor,” jawabku seraya kembali merubah posisi badan dalam keadaan duduk, dengan tangan mendekap bantal guling.


Abang Azzam mengangguk.


“Tidak bosan dari tadi menatap layar laptop?”


“Nggaklah!" ketusku.


Azzam menghela napas. "Kalau abang hitung nampaknya sudah sejam laptop itu menyala. Mendingan Nisa sekarang sudahilah menonton dan pergi belajar."


Aku mengerutkan dahi. “Ih, sebentar dikit lagi."


Azzam memilih lebih mendekat ke sisiku. “Kalau kita betah berlama-lama menonton drama-drama seperti itu, kenapa kita juga tidak mengimbangi dengan betah berlama-lama membaca ayat-ayat Allah. Setidaknya bisa juga kita mendapat pahala dan hikmahnya. Coba bayangkan dalam waktu satu jam kita membaca Al-Qur’an sudah berapa banyak ayat yang bisa kita baca. Apalagi kalau itu rutin dilakukan setiap hari maka pahala membaca Al-Qur’an kita akan terus bertambah dibarengi dengan pahala-pahala lain seperti sholat, shodaqah dan lainnya.”


Aku menghela berat. "Hmm... selalu, dia selalu saja membuat moodku jelek," Aku membatin kesal.


Azzam Pov.


Ekspresi dari raut wajah yang ditunjukkan Istrinya membuat Azzam menyadari bahwa ucapannya tadi mungkin membuat dia tidak suka. Di saat demikian, terkadang Azzam merasa bahwa begitu besar dan berat tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Tapi, inilah cara yang bisa dia lakukan untuk mengubah sedikit demi sedikit perangai yang kurang bagus yang ada dalam diri istrinya. Mengingat ia adalah kepala keluarga yang mempunyai tanggung jawab untuk mendidik, membimbing istrinya pada akhlak yang dicintai Allah.


Adakalanya dalam kehidupan rumah tangga seorang istri melakukan kesalahan. Dan itu tentu menjadi tanggung jawab suami untuk menegur, mengarahkan, mengingatkan istrinya supaya kembali ke jalan yang lurus.


Sementara islam sendiri telah jelas memberikan tuntunan dan arahan bagi suami untuk melakukan kewajibannya mendidik istri dengan cara yang baik dan benar.


Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya. Berwasiatlah kepada wanita dengan kebaikan. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika engkau meluruskannya, engkau akan mematahkannya dan jika engkau membiarkannya, ia akan tetap bengkok. oleh karena itu, berwasiatlah kepada wanita dengan baik.”


Sebagaimana yang sudah diumpamakan bahwa seorang wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, maka perlu bimbingan untuk meluruskannya. Namun, untuk meluruskannya juga butuh kelembutan dan kesabaran.


Ini mengisyaratkan agar suami meluruskan istrinya dengan lembut dan tidak berlebihan. Tidak berlebihan seperti kasar, dan kurang ajar. Jika itu terlampau keras maka resikonya tulang rusuk itu akan patah. Dengan kata lain, perempuan akan teraniaya. Apabila seorang suami ingin meluruskannya dengan selurus-lurusnya dan tidak ada kebengkokan pasti akhirnya akan membawa perselisihan dan perpisahan. Tapi, kalau si suami bersabar dengan keadaan si istri maka hubungannya niscaya akan panjang dan langgeng.


Azzam menarik napas dalam-dalam. Berharap nasihatnya tadi dapat diterima oleh Nisa. Supaya ia bisa membawanya pada kepatuhan dan ketaatan untuk mendapatkan surganya Allah.

__ADS_1


Tubuhnya dirapatkan disisiku dengan tangan merangkul pundakku. Saat ini, aku bahkan bisa mencium bau parfum Abang Azzam yang wangi. Aku memejamkan mataku. Rasanya sulit aku menelan saliva karena menahan rasa gugup. Kalau begini aku bahkan berpikir bahwa Abang Azzam telah mendengar degup jantungku yang berdebar hebat.


"Apa judulnya?"


“Doctor Jhon,” jawabku lirih.


Aku melihat wajah abang Azzam sedikit bingung, terkadang dalam hati aku tertawa terkekeh-kekeh kalau melihat Azzam menutup atau memalingkan muka saat melihat adegan berciuman mesra. Aku yakin dalam hati sembari dia menonton sambil pula dia beristigfar seratus kali ha..ha..ha.


Tidak lama dia beranjak dari tempat tidur. Aku lihat dia sedang mencari sesuatu di dalam lemari pakaian.


“Nah, ini dari Sarah.” Azzam menyodorkan sebuah paper bag ke arahku.


“Perasaan Nisa nggak punya teman perempuan yang namanya Sarah."


“Iyalah, teman Nisa mana ada yang perempuan, semuanya laki-laki," sindirnya lagi.


“Abang berhentilah nyindir-nyindir Nisa terus,” kataku cemberut.


“Sarah itu teman Abang. Teman kampus Abang waktu kuliah strata satu.”


“Ouh,” seraya mengangguk.


“Nah, cobalah Nisa pakai dulu.”


Aku mengangkat keningku sebelah, “Kenapa harus sekarang?”


Aku menghela pasrah. “Ihh! Iya-iya, begitu pun merajuk. Tidak sadar umur apa?” ujarku dengan memanyunkan bibir.


Dengan cepat tanganku menyambar paper bag yang masih menggantung di tangannya. Bukan terlalu bersemangat, hanya saja aku merasa geram atas keinginan dia itu.


Pelan-pelan aku membuka kemasan plastik yang membungkus baju itu hingga menimbulkan suara kresek... kresek dari plastik pembungkusnya.


Aku menatap ke arah Azzam. Dia membalas melempar senyum lima senti, lalu mengendikkan dagunya. Menyuruhku supaya cepat mengenakannya.


“Ish!” Aku mendesis kesal, dengan kaki aku hentakkan ke lantai. Kemudian melangkah masuk ke kamar mandi. Menuruti keinginan dia malam ini.


Baju itu sekarang sudah melekat di badanku. Benar-benar pas. Aku meraih jilbab instan sepasang dengan gamis ini.


Aku tidak merasa puas karena cermin kamar mandi terlalu kecil, sehingga hanya memantulkan bayangan wajahku yang mengenakan jilbab instan.


Senyumku seketika mengembang. Senyum yang merah merona. Tanda aku menyukai pemandangan ini. Wajah cantik menjadi terlihat semangkin cantik dengan balutan hijab yang menjuntai panjang. Aku sengaja melama-lamakan diri di kamar mandi, supaya Azzam penasaran. Dan aku yakin sebentar lagi dia akan mengetuk pintu kamar mandi.


Tok ... Tok ...


“Nisa, lama sekali! Nisa ganti baju sekaligus mandi, ya?” pekik Azzam dari luar.


Aku tertawa geli karena berhasil membuatnya sedikit kesal karena menunggu lama.

__ADS_1


Tak lama setelah itu, baru aku melangkahkan kaki keluar. Kosong. Tidak ada siapa-siapa di kamar ini, termasuk Azzam yang tadi mengetuk pintu kamar mandi.


Cermin setinggi 150 cm yang terpajang di kamar memantulkan bayangan diriku tengah mengenakan gamis berwarna tosca dengan desain indah dan begitu memukau. Aku bahkan tidak menyangka wanita itu akan memberikan Azzam pakaian sebagus ini. Ini pasti mahal, batinku. Gamis yang panjang menjuntai menutupi mata kaki, jilbab dengan warna senada menutupi bagian dadaku hingga lengan.


Aku masih sibuk menarik jilbabku ke atas karena merasa kelonggaran pada bagian wajah yang membuat rambut keluar sana sini termasuk poniku juga.


Tanpa aku sadari, Azzam sudah berdiri di sampingku dengan tampang geli melihat aku kepayahan membenarkan jilbab yang kebesaran.


"Sini, Abang bantu"


Azzam memegang kedua bahuku, supaya aku bisa menghadap ke arahnya. Aku merasa agak risih dan canggung saat Azzam membantu memperbaiki jilbab dan memasukkan rambutku yang tadi keluar.


Berselang beberapa menit muncul suara dari ambang pintu kamar.


"Nisa, pasang jarum pentul saja kalau kelonggaran," saran Azzam.


Azzam kembali memegang kedua pundakku dan menghadapkan aku ke cermin.


“Cantik." Satu kata tapi berefek luar biasa. Aku merasa semu merah mencuat dari pipiku. Aku hanya bisa tertunduk malu menutupi pipi yang sudah memerah seperti tomat.


“Coba Nisa lihat ke depan!” Dia naikkan daguku, hingga aku bisa menatap lurus ke depan cermin. Senyum mengembang saat berhasil melihat pantulan wajahku di cermin.


“Nisa istri abang cantik sekali.” Dia memuji setengah mati penampilanku. “Lihat baju itu sangat pas di badan Nisa.”


Dia melihatku dari hingga ujung kepala hingga ujung kaki yang tertutup kain. Aku cuman diam menatapnya dari pantulan bayangan cermin.


Dalam keseharianku aku bukanlah wanita feminim, tapi aku juga tidak menyebut diriku sebagai gadis yang tomboi.


Kalau sehari-hari aku lebih senang mengenakan celana jeans, baju kaos lengan panjang, tapi kalau keluar masih tetap aku mengenakan jilbab. Aku memang tidak terbiasa dan jarang sekali mengenakan pakaian seperti ini kecuali diajak ibu ke acara pengajian.


Aku terkagum melihat diriku yang sedikit berbeda saat ini. Nah, kalau seperti ini aku rasa barulah pas aku bersanding dengan ustadz di sampingku ini


Aku tahu kenapa ayah dan ibu lebih memilih memasukkan aku ke sekolah agama setingkat madrasah. Supaya aku tidak salah pergaulan, tetap disiplin dan berpegang pada agamaku. Tapi meskipun demikian aku merasa tidak ada yang berubah dari dalam diriku. Aku masih sering membantah, pulang larut malam, suku nongkrong dengan teman-teman laki-laki. Aku sih memang tidak punya banyak teman wanita lebih banyak teman laki-laki. Satu-satunya teman wanitaku ya, Jihan. Tapi aku bersyukur deh untung ibu dan ayah tidak mendepak aku buat pindah ke pesantren.


“Udah puaskan? Sekarang Nisa mau ganti baju.”


“Sebentar.” Dia mencekal langkahku.


“Ish! Apalagi sih?”


“Nisa, mau kalau merubah penampilan Nisa menjadi seperti ini terus?”


Aku diam-diam menghela napas pelan, mencoba menimbang-nimbang permintaan Azzam.


“Sebentar Nisa pikir-pikir dulu,” kataku sambil menepuk-nepuk kening. “Hmm... Ahhaa... Kayaknya belum deh,” ucapku, kemudian berlalu ke kamar mandi lagi.


Azzam mendengus napas sabar, dalam hati dia berpikir meyakinkan Nisa untuk mencintainya saja dia belum mampu. Apalagi dia harus merubah fashion-nya. Tapi, Azzam selalu punya keyakinan pelan-pelan dia akan terus membimbing istrinya.

__ADS_1


__ADS_2