Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 24. Bertemu Kembali


__ADS_3

“Ayo biar aku bantu!”


Aku mengerjap saat mendengar suara itu. Suaranya yang maskulin membuatku ingin cepat-cepat melihat siapa pemilik suara itu.


Aku mendongak ke atas, tapi silauan panas matahari membuat pandanganku tidak jelas menatap wajahnya, ditambah lagi rasa ngilu karena sakit di kepala membuat padangan mataku menjadi kabur dan berkunang-kunang.


Namun detik berikutnya, dia berjongkok dan memapah tubuhku yang tadi jatuh tersungkur supaya cepat bangun, kemudian mencari pertolongan untuk segera mengobati luka yang masih terus meleleh di kening. Suaraku sedikit meringis ketika mulai menggerakkan badan sewaktu berdiri.


“Kamu siapa?” Aku bertanya demikian karena aku masih belum bisa melihat wajahnya yang tertutup kaca helm berwarna hitam.


Tidak lama dia menyingkap kaca helm, hingga menampakkan seluruh bagian wajahnya.


Aku tercengang dan terbelalak, kala mendapati pria tampan itu datang untuk memberi pertolongan. Aku benar-benar tidak menyangka kalau aku akan berjodoh untuk bertemu dengannya lagi. Dia benar-benar bak malaikat penolongku.


“Kok kamu bisa di sini juga?” tanyaku kaget.


“Sebagian mahasiswa UKM Jurnalistik turut hadir di sini untuk meliput aksi. Kebetulan aku ketua UKM-nya. Jadi aku ikut untuk mengarahkan mereka. Mereka itu adik-adik junior yang baru bergabung beberapa bulan dengan UKM ini.” Dia berbicara dengan sedikit tersengal, mungkin tadi dia datang menghampiriku dengan berlari kencang.


“Sepertinya tidak pas kalau kita harus mengobrol di sini. Kondisi tidak memungkinkan. Mendingan kita cepat menjauh dari kerumuman dan mengobati lukamu,” kata pria itu khawatir.


“Sebentar kamera aku,” kataku menahan langkahnya.


Kamera berwarna hitam itu turut jatuh tersungkur ke aspal bersama tuannya. Tidak tahu lagi bagaimana nasib kamera ini. Tapi beruntung tidak ada yang menginjak kameraku, saat orang-orang berlarian tunggang langgang menjauhi massa.


“Sini, biar aku yang bawa,” serunya. Dia menyelempangkan kamera ke sisi samping tubuhnya.


Aku berajalan dengan terseok-seok dan sangat berusah payah. Sesekali tubuhku terhuyung-huyung hampir tumbang, mirip naik kapal laut. Tapi dia masih terus membimbingku sampai ke seberang jalan.


Di saat dia memapah tubuhku, aku menoleh ke wajahnya yang masih dibalut helm. Sikap dia masih sama seperti waktu di toko buku kamarin, humble dan peduli. Buktinya dia mau membantu aku untuk mencari buku, dan sekarang dia menyelamatkan nyawaku. Aku berpikir begitu karena bisa jadi dia cuman pura-pura baik dan cari muka di depan gadis-gadis Mall yang sibuk meminta berswafoto.


Aku menghela napas halus.


Dia meminta aku untuk menunggu di depan ruko yang sepertinya sudah lama tidak diisi, di depannya terpampang tulisan besar Ruko Disewakan silahkan hub. 085273XXXXXX, aku mengedarkan pandanganku ke arah lain. Sementara dia masuk ke area parkir untuk mengambil motor. Aku semangkin merasakan rasa nyeri di bagian wajah. Tidak berani aku menyentuhnya kalau darah masih melekat di sana. Yang ada tambah membuatku bergidik ngilu.


Beberapa detik kemudian, dia datang menunggangi motor gede dengan list hitam bercampur merah.


“Kalau aku bawa kamu ke rumah nggak masalah? Aku jamin kakakku juga bisa mengobati lukamu.” Tangannya menunjuk ke area wajahku. “Karena sebelumnya dia juga pernah lama bertugas di rumah sakit sebelum akhirnya memilih resign.”


Aku mengiyakan ajakannya.


“Emang rumah kamu di mananya?” tanyaku menyambung obrolan lagi.


“Dekat banget dari sini. Ini pakai helmnya!” Tangannya menyodorkan helm berwarna hitam. Aku meraih helm itu, lalu duduk diboncengan belakang. Dia laki-laki yang benar-benar langka. Di jalanpun dia masih terus mengajakku mengobrol. Hingga selama diperjalanan aku merasa tidak terlalu asing dan canggung.


“Tadi sebenarnya aku ke sana dengan Aksa, tapi dia pulang bareng adik tingkatnya yang rumahnya searah,” katanya dengan suara hilang timbul karena tersapu angin.


Aku mengangguk. “Kamukan pernah bilang kalau sekarang kuliah. Semester berapa memangnya?”


Kepalanya menoleh ke arah samping supaya suaranya bisa terdengar. “Semester 6.”


“Kamu lebih tua, rasanya nggak sopan kalau manggilnya kamu, jadi aku mesti panggil kakak atau abang?”


Suaranya terkekeh. “Nggak perlu. Kamu cukup panggil nama aku juga nggak masalah, supaya terdengar akrab.”


Dalam hati aku hanya bisa tersenyum gemas. Aku mengeratkan pelukanku ke pinggangnya. Bukan Dhanisa namanya kalau hanya diam dan tidak bawel. Lagian selama beberapa menit perjalanan dia juga tidak henti bertanya sekedar untuk mengajakku mengobrol begitupun dengan aku, dan aku rasa kami sangat cocok. Cocok untuk saling bertukar cerita.


Di jalanan orang-orang yang berpapasan silih berganti melihatku. Mungkin mereka sangat excited melihat darah yang mengalir dari keningku, atau bisa jadi mereka mengira aku adalah korban kekerasan dari laki-laki yang sedang memboncengku saat ini. Kalau aku berteriak bisa jadi iya, mereka akan menghadang dan menghajar laki-laki yang aku peluk saat ini. Aku terkekeh dalam hati.


“Ehemm, kamu masih ingat nama aku? Kita sebelumnya pernah ketemu lho di Gramedia waktu itu.”


Dia terlihat menggerakkan kepalanya dengan pelan. “Iya.”


“Siapa coba?”


“Dhanisa kan?” Dia bertanya balik untuk memastikan.


Aku tersenyum gemas. “Iya.”


“Kalau aku siapa?” tanyanya.


Kamu adalah malaikatku dari langit yang dikirim Tuhan hari ini, gumamku dalam hati seraya berteriak gemas.


Aku tidak tahu tentang apa yang terjadi dengan diriku saat ini. Sebelum berangkat aku hampir mendapat tamparan dari Abang Azzam. Eh, tapi dia malah mengecup mesra keningku. Dia memang suami aneh! Kemudian kepalaku harus dihantam benda sialan yang nggak tahu siapa yang melemparnya. Kalau aku tahu orangnya bakalan aku lempar dia pakai batu bata sekalian. Dan yang terakhir ini sesuai dengan impianku untuk bisa bertemu lagi dengan dia, dan ternyata Tuhan mendengar ucapanku. Mungkin lama aku diam membisu, sampai-sampai dia mengoyang-goyangkan tanganku yang melekat dipinggangnya.


“Kamu nggak apa-apakan di belakang? Nggak pingsan kehabisan darah?”


Merasa ada yang mengguncang tanganku, seketika aku mengerjap dan tergagap saat menjawab, “Ng.. ngak kok, aku aman-aman aja.”


Motor sudah berbelok ke pekarangan rumah. Dia menanggalkan helmnya pada kaca spion. Pandangan mataku mengedar melihat keadaan sekitar. Rumahnya tidak terlalu besar mungkin bisa dibilang pas buat ditinggali oleh keluarga inti. Aku juga belum tahu dia berapa bersaudara. Rumah yang bergandengan dengan sebuah toko butik. Apa itu usahanya, atau usaha orang tuanya. Aku belum tahu persis. Seorang wanita muncul dari arah butik yang tadi aku amati. Perempuan itu mengenakan pakaian syar’i, dari wajahnya nampak kalau dia wanita kalem, lembut dan penyayang. Wajahnya putih bersih mirip dengan cowok yang ada di sampingku ini.


“Hanan, siapa?” Tangan wanita itu menunjuk ke arahku.


Aku mengumbar senyum ramah. Menyapa sambil mengajak bersalaman.


“Kak kenalin aku Dhanisa.”


“Halo, saya Sarah.”


Mata wanita bernama Sarah mengekor ke arah Hanan. Mereka berdua sama-sama melontarkan pandangan. Hanan merubah posisinya beberapa langkah demi mendekat ke arah Sarah. Dia berbicara dekat telinganya. Aku mengerutkan dahi, mencoba menguping tapi tidak berhasil hanya suara mendesis yang terdengar. Setelah itu, Sarah melempar senyum lagi ke arahku.


“Kamu awas ya? Kakak nggak suka kamu jadi cowok playboy, cowok yang suka tebar-tebar pesona,” suara kakaknya ngedumel pelan.


Playboy? gumamku dalam hati. Apa sebelumnya dia udah pernah bawa cewek juga? Dan dia sudah punya pacar?


Kak Sarah merangkul bahuku, pembawaannya akrab dan bersahaja.


“Ayo sayang masuk ke dalam. Ya ampun itu lukanya harus segera di obati. Supaya nggak infeksi.”


Aku tersenyum singkat, ditambah perasaan canggung. “Iya, Kak.”


Sementara kami berdua jalan di depan, Hanan mengekor di belakang. Sampai di dalam rumah. Kak Sarah pamit sebentar untuk mengabil kotak obat dan cairan anti septik untuk membersihkan lukaku.


Melihat Kak Sarah pergi. Aku menepuk pundak Hanan untuk bertanya tentang perempuan itu.


“Yang tadi itu beneran kakak kamu? Atau kakak-kakak’an? Atau istri kali?”


Dia melempar senyum, “Itu kakak aku beneran. Kakak kandung yang aku cerita tadi waktu di jalan.”


“Ouh,” ujarku seraya mengangguk.


“Kalau gitu aku tinggal sebentar ke dapur ya. Menyiapkan minuman.”


Baru beberapa detik Hanan bangkit dari kursinya. Kak Sarah datang dengan membawa perlengkapan medis simpanan miliknya. Beberapa perban putih, betadin, cairan anti septik sudah keluar bertebaran dari kotak P3K. Aku sedikit mengernyit saat tangan Kak Sarah mendarat di wajahku. Dengan sangat hati-hati dia membersihkan lukaku dengan menggunakan kapas yang telah diberi cairan anti septik untuk menghindari supaya tidak terjadi infeksi. Meskipun demikian aku tetap meringis karena rasa ngilu dari luka ini.


Suasana hening dan sunyi. Karena tidak ada obrolan yang berlangsung beberapa menit akhirnya aku membuka percakapan.


“Kak, Hanan itu adik Kak Sarah, ya?”

__ADS_1


“Iya,” sahutnya dengan tangannya masih sibuk membalut luka di kening dengan perban.


“Tadi, Hanan bilang kakak spesialis ngobatin orang, tapi itu dulu. Kenapa kakak nggak lanjutin karir jadi dokter?”


Kak Sarah tiba-tiba menghentikan aktivitasnya, dia diam termangu sejenak. “Ini berkaitan dengan kejadian yang Kakak alami dulu. Tapi Kakak nggak bisa cerita ke kamu.”


“Iya Kak, maaf kalau pertanyaanku sedikit mengusik kejadian Kakak di masa lalu.”


Kak Sarah tersenyum getir. “Iya, tidak apa-apa.” Kak Sarah meraih gunting kecil di dalam kotak untuk memotong sebagian kain perban yang digunakan untuk menutup luka di keningku. “Udah ini sudah selesai, jangan lupa untuk mengganti perbannya ya.”


“Iya Kak, terima kasih Kak.”


“Gimana ceritanya tadi kamu bisa luka gitu, Dhanisa?” tanya Kak Sarah, seraya sibuk membereskan dan merapikan kembali perlengkapan yang digunakan.


“Tadi aku .....”


Aku berhenti sesaat, tidak melanjutkan kalimat yang ingin aku katakan. Mulutku tertahan seketika. Bagaimana tidak aku baru ingat sesuatu. Astaga! Gimana nasibnya Fey? Apa jangan-jangan nasibnya sama seperti aku? Atau jangan-jangan dia sudah dianjak-injak massa di sana? Aku membatin. Pikiran aneh-aneh mulai memenuhi isi kepalaku tentang keadaan Fey saat ini.


Aku merogoh isi tasku untuk mencari handphone dan menghubungi Fey. Tanganku beberapa kali menekan-nekan layar handphone namun tak kunjung menyala. Pasti baterainya habis. Tanpa sadar aku menepuk jidatku. Hingga membuatku berteriak kesakitan sendiri.


“Dhanisa, kenapa? Kenapa panik gitu?” tanya Kak Sarah dengan raut bingung.


“Kak aku boleh pinjem handphone kakak sebentar?”


“Boleh.” Kak Sarah menyodorkan ponselnya. “Ini, silahkan.”


Tut...tut...


Suara Fey menyahut di seberang sana.


📞Dhanisa


Fey, ini aku Nisa. Kamu baik-baik ajakan?


📞Fayzulen


Nisa, ya ampun kamu kemana? Aku panik cariin kamu tau nggak. Di telepon-telepon juga nggak aktif.


Terdengar suara Fey yang khawatir di ujung teleponnya.


📞Dhanisa


Fey, aku baik-baik aja. Kamu gimana?


📞Fayzulen


Aku juga baik dan sekarang aku sudah di rumah. Tadi, aku sempat ke rumah kamu, buat nanyain kamu sudah pulang atau belum.


Mataku terbuka lebar saat tahu kalau Fey tadi ke rumahnya, takut kalau dia akan berhadapan dengan Abang Azzam.


📞Dhanisa


Fey, kamu tadi ketemu siapa di rumah?


📞Fayzulen


Tante kamu.


Tante yang dimaksud Fey, pasti Umi, gumamku.


Aku menarik napas lega. Aku kira dia akan bertemu dengan Abang Azzam. Syukurlah.


📞Dhanisa


📞Fayzulen


Kamu buruan pulang. Aku yakin tante kamu pasti khawatir. Sebenarnya kamu di mana sekarang?


📞Dhanisa


Aku di rumah Hanan. Orang yang menolong aku waktu aksi demonstran yang berakhir ricuh. Udah dulu ya Fey, aku minjam handphonenya Kak Sarah ini. Bye


📞Fayzulen


Iya. Bye.


Tut ... tut ...


“Diminum dulu jusnya,” tawar Hanan yang baru muncul dari belakang.


Aku menoleh ke arah Hanan.


“Kayaknya aku harus balik sekarang. Keluargaku udah khawatir nungguin dari tadi.”


“Aku antar ya,” tawar Hanan.


Aku memaksa senyum. “Nggak usah, kamu dan Kak Sarah udah banyak bantuin aku. Nanti aku naik grab aja.”


Sebelumnya aku mengembalikan kembali handphone milik Kak Sarah. “Kak, makasih.”


“Kamu yakin, kalau nggak biar Hanan antar aja ke rumah.”


Sekali lagi aku menolak.


“Bener Kak, nggak apa-apa kok,” ujarku penuh yakin. “Kalau gitu aku pulang dulu Hanan, Kak Sarah. Terima kasih banyak. Assalamu’alaikum.”


“Ya sudah kalau gitu, aku pesanin grab-nya ya.”


Hanan ternyata dari tadi mengekor di belakangku untuk memastikan kalau aku baik-baik saja.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore.


Matahari semangkin menenggelamkan diri ke peristirahatannya. Ekor sinarnya yang berwarna menimbulkan semburat jingga terlihat begitu anggun.


Di rumah Umi masih duduk di depan teras dengan terus memandang ke arah jalanan menunggu Nisa pulang ke rumah. Perasaannya begitu gelisah. Tidak lama sebuah motor berhenti tepat di depan gerbang, melihat itu Nisa. Umi segera bangkit dan menghampirinya.


“Ya Allah, Nisa. Kamu buat Umi khawatir. Tadi ada teman kamu ke sini, ngasih kabar kalau kamu hilang di antara kerumunan massa yang berdemo.”


Aku memeluk umi dengan erat. Sikapnya demikian membuatku merasa tidak enak hati, karena terlalu mengkhawatirkan aku.


“Nisa nggak apa-apa, Umi. Alhamdulillah selamat.”


“Itu keningnya diperban gitu, Nisa bilang nggak apa-apa?”


Aku memegang keningku. “Oh ini, tadi sepertinya kena lemparan batu waktu Nisa masih berada di tengah-tengah aksi massa. Tapi Umi tenang aja sudah diobatin kok.”

__ADS_1


“Umi, Abang di mana?” Aku melirik-lirik ke dalam rumah.


“Tadi keluar dengan H. Ustman, katanya beliau meminta bantuan untuk dibuatkan pengajuan semacam proposal begitu. Umi juga kurang tau.”


Aku mengangguk mengerti.


Aku melihat lengan bajuku yang masih menempel bercak darah, aku memutuskan untuk segera membersihkan diri.


“Umi, Nisa masuk dulu ya, mau mandi.”


Umi menghela pelan, lalu mengangguk.


Aku segera mempercepat langkah masuk ke dalam rumah. Badan terasa sudah lengket akibat di penuhi peluh.


Di kamar, aku menghempaskan tubuh di atas tempat tidur. Menarik napas dalam-dalam dengan keadaan mata terpejam. Tubuhku mencoba rileks, menenangkan pikiran. Tidak lama setelah itu terdengar suara orang mengucapkan salam dari luar. Aku meyakini itu suara abang Azzam yang baru pulang. Aku merengsek masuk ke kamar mandi, sebelum dia melihatku di sini dan bertanya macam-macam.


Aku sedikit meringis menahan perih saat air mulai mengguyur kepala dan turun ke bagian tubuh lain. Aku yakin ini pasti efek bekas luka tadi. Aku memutar sedikit tanganku untuk melihat siku yang juga terasa perih. Aku tidak menyadari ternyata sikuku juga terluka dan masih lebam begitupun dengan telapak tangan yang ungu kebiruan. Ditambah dengan air yang dingin membuat pori-pori kulit seperti nyaris tidak mampu menyerap air alami itu.


Lima belas menit kemudian ...


Plester luka sudah aku pasang pada sikuku. Sekarang aku sedang serius menatap keningku di depan cermin, mencoba memasang perban kembali sesuai dengan anjuran Kak Sarah. Tapi siku kananku terasa begitu sakit sampai susah dibengkokkan.


“Sini biar Abang bantu.” Suara itu selalu saja muncul tiba-tiba.


Tangannya meraih perban yang berada di genggamanku. Sepanjang proses itu aku terus menatap wajahnya lekat-lekat. Tak sedikitpun lepas dari pandanganku. Aku seperti sedang menahan napas. Entah kenapa tiba-tiba timbul rasa kagum dalam diriku terhadap laki-laki ini. Aku tidak bisa memaknai arti kagum yang muncul tiba-tiba.


“Sudah,” ujarnya.


Aku mengerjapkan mata, mencoba membuang jauh-jauh perasaan yang tidak jelas itu.


"Kenapa bisa begini?"


Aku menghela.


"Abang Nisa cape, besok aja ya Nisa jelasinnya."


Aku kemudian beringsut menuju tempat tidur. Tapi Abang Azzam menahan tubuhku dengan memegang tangan yang terluka tadi, hingga membuatku sedikit meringis menahan luka disiku.


“Mau Abang belikan obat?”


Aku menggeleng. “Tidak perlu.”


Dia melepaskan kembali genggaman tangannya.


Aku kembali melangkah ke tempat tidur, lalu duduk ditepian ranjang. Tanganku menggapai kamera digital yang terhampar di atas nakas. Aku membersihkan kamera yang aku pakai liputan tadi. Kepala lensa aku tiup-tiup untuk mengusir debu yang menempel. Sesekali mencoba menyalakan kamera dan membidik objek yang ada di kamar, untuk mengecek keadaan lensa.


CKREEKKK


Bunyi khas kamera menandakan kamera itu sudah berhasil mengabadikan suatu objek yang ada di depannya. Aku masih beruntung karena kamera digital ini masih bisa menyala dan membidik objek dengan baik. Meskipun ada sedikit kekecewaan tadi karena tidak sempat melakukan sesi wawancara dengan narasumber, tapi setidaknya kami berhasil mendokumentasikan aksi demonstran.


Mataku mengekor abang Azzam yang beringsut membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Aku mendengar helaan napasnya seperti berat. Kepalaku menoleh ke arahnya. Aku jadi teringat kejadian tadi siang.


Aku mendehem.


“Abang!”


Dia menyahut, tapi matanya menerawang ke atas. Aku juga ikut mendongak ke atas tidak ada apa-apa, hanya ada langit-langit platfon bercat putih.


“Abang tadi siang itu, Abang benar-benar marah dan mau menampar, Nisa?” tanyaku sembari memutar-mutarkan cincin yang melingkar di jemariku.


Dia menoleh, lalu bangkit menyandarkan punggungnya pada senderan tempat tidur.


“Tidak, kenapa?”


“Tapi kenapa tangan abang mengepal hebat dan abang seperti menahan napas emosi?” tanyaku lagi.


Ia menghela pelan.


“Oh itu, Nisa jangan salah paham. Waktu itu Abang nampak nyamuk menempel di kening Nisa. Abang mau memukulnya tadi, tapi tidak tega.”


“Abang membunuh nyamukpun nggak tega?”


Dia tersenyum tipis. “Bukan tidak tega memukul nyamuknya. Tapi tidak tega kalau Abang harus memukul bagian wajah istri Abang.”


Aku diam tak berkomentar sekaligus bertanya-tanya, dia sebenarnya sedang berkata jujur atau berbohong sih?


Tok... Tok ... Tok...


Assalamu'alaikum


Sudah dua kali aku mendengar suara itu mengucap salam seraya mengetuk pintu.


"Abang, itu ada tamu Abang kali."


Abang Azzam bangun. Keluar menuju ruang tamu. Beberapa detik aku juga ikut berjalan menuju ruang tamu.


"Permisi Om, saya Hanan cuman mau mengantarkan ini."


Dari kejauhan aku melihat dia memberikan sebuah dompet kecil berwarna cream, aku sangat familiar dengan dompet itu.


Aku semangkin mendekatkan langkahku menuju ambang pintu depan.


"Hanan, kamu tau rumah aku?"


Dia menyengih. "Hai Dhanisa, gimana sudah baikan?" Seperti biasa dia bertanya dengan nada ramah. "Aku tau rumah kamu lewat alamat yang tertera di KTP yang ketinggalan."


"Astaga, yang bener dompet aku tertinggal di rumah kamu?"


"Iya."


"Kamu dengan siapa?" Aku menilik-nilik keluar. Aku hanya melihat mobil hitam terparkir di depan gerbang.


"Aku dengan Kak Sarah."


Sangking asyiknya mengobrol aku bahkan tidak sadar kalau Abang Azzam memperhatikan keakraban kami yang berbual di depan pintu.


"Abang, ini Hanan. Orang yang nolongin Nisa tadi waktu massa sedang ricuh."


Dia mengangkat sudut bibirnya, hingga yang terlihat senyum samar-samar. Azzam masih ingat tentang laki-laki ini, laki-laki yang dia temui di toko buku dua hari lalu.


"Ayo masuk dulu," suruh Abang Azzam.


"Iya masuk dulu yuk, ajak Kak Sarah juga."


Hanan menggaruk kepalanya, tanda belum bisa memenuhi permintaan mereka. "Aduh, kayaknya belum bisa saat ini. Soalnya Kak Sarah ada keperluan juga. Dia mau ketemu dengan customer-nya malam ini," jelas Hanan. "Kalau gitu aku permisi dulu, maaf kalau ganggu istirahatnya, Nisa dan Om juga," ujarnya sopan. "Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam"

__ADS_1


Melihatnya berlalu masuk ke dalam mobil, Abang Azzam menutup kembali pintu rapat-rapat.


__ADS_2