Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 32. Mimpi Buruk


__ADS_3

Seperti sebuah alarm yang telah disetel sebelum tidur. Azzam terbangun tepat pukul dua dini hari. Di waktu-waktu seperti ini orang-orang memang masih terlelap dalam tidurnya. Tapi tidak dengan Azzam matanya senantiasa terjaga disepertiga malam untuk memunajatkan doa pada sang khalik.


Azzam membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Tiba-tiba debaran jantung Azzam berpacu lebih cepat. Ada sesuatu yang menimpa di bagian perutnya. Tangan Dhanisa. Azzam kaget dan menahan napas. Ia kemudian menoleh ke arah wanita di sebelahnya. Dia masih terlelap, matanya terpejam. Azzam sedikit mengangkat kepala mendekat ke wajah istrinya.


“Nisa, ayo kita ....” Kalimatnya terhenti.


Sebenarnya Azzam berniat ingin membangunkan istrinya untuk ikut sholat malam bersamanya tapi dia tidak tega membangunkan Dhanisa yang masih terlelap. Azzam yakin tubuh istrinya itu pasti masih keletihan karena insiden semalam. Azzam menarik selimut dalam-dalam ke tubuh istrinya, kemudian dengan hati-hati ia menyingkirkan tangan Dhanisa yang mendarat di dadanya. Dia sedikit menggeliat merubah posisi tidur berbalik badan memunggungi Azzam. Membuat Azzam senyum-senyum sendiri.


Tidak ingin membuang-buang waktunya, Azzam turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian pergi mengambil wudhu untuk menyucikan diri. Setelah selesai dia langsung mengenakan sarung dan melekatkan kopiah di kepalanya yang masih sedikit basah karena air wudhu. Azzam menghadap kiblat dan menggelar sejadah, lalu memulai sholatnya. Banyak orang yang mengatakan kalau sholat disepertiga malam atau tengah malam doanya akan cepat dikabulkan Allah. Selain itu seorang muslim melakukannya untuk mendapatkan ketenangan haqiqi.


Allah subhanallah wa ta’ala yang telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an pada banyak ayat dan juga Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadist tentang besarnya pahala yang diperoleh dari melaksanakan sholat malam.


Sebagaimana firman Allah subhanallah wa ta’ala yang terdapat dalam Al-Qur’an surah Al-Israa’ ayat 79 yang artinya: “Hendaknya engkau gunakan sebagian waktu malam itu untuk sholat tahajjud, sebagai sholat sunnah untuk dirimu, mudah-mudahan Tuhan akan membangkitkan engkau dengan kedudukan yang baik.” [Al-Israa’ [17]:79].


Selain itu dalam surah lain juga di sebutkan demikian.


“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Rabb-mu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan kami dan bertasbilah dengan memuji Rabb-mu ketika kamu bangun berdiri, dan bertasbihlah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari dan waktu terbenam bintang-bintang (di dalam waktu fajar).” [Ath-Thuur [52]: 48-49].


“Dan sebutlah nama Rabb-mu pada (waktu) pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam, maka bersujudlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.” [Al-Insaan [76]: 25-26].


“Dan bertasbilah kamu kepada-nya di malam hari dan setiap selesai sholat.” [Qaaf [50] : 40].


Allah subhanallah wa ta’ala memuji para hamba-Nya yang shalih yang senantiasa melakukan shalat malam dan bertahajjud, sebagaimana firman Allah subhanallah wa ta’ala dalam surah Adz-Dzaariyaat [51]: 17-18.


Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). [Adz-Dzaariyaat/51: 17-18].


Dada Azzam bergemuruh, tampak ada kepayahan di atas pundaknya. Dia sama seperti manusia lainnya yang lemah. Manusia hanya dapat berserah diri dan memanjatkan segala doa yang terbaiknya kepada yang Maha Kuasa.


Alhamdulillahirabbil alamin.


Azzam menyudahi sholatnya dan dilanjutkan dengan berdoa.


“Ya Allah, izinkan hamba memiliki sesuatu yang mungkin tidak tercatat dalam takdir hamba. Tetapi hamba sadar kala apa yang menjadi keinginan hamba itu memang tidak ada dalam lauh al mahfuz maka hamba harus siap menanggung segala sesuatu yang harus hamba terima kehinaannya. Ya Allah memangkah rumit sebuah rasa yang bernama cinta? Atau kami manusia yang hanya membuatnya seolah-olah menjadi rumit? Begitu banyak yang tidak hamba pahami Ya Allah. Maka hamba hanya bisa memohon bimbinganMu. Hamba tau bahwa rasa cinta dengan sesama manusia harus sesuai dengan kadarnya dan tidak melampaui cinta kami, umat manusia kepadaMu ya Rabb. Hamba hanya ingin mencintaimu dan menjadi hamba yang juga engkau cintai.”


“Jadikanlah hamba suami yang baik bagi keluarga hamba, bantulah hamba untuk menjaga dan membimbing istri hamba pada ketaatanmu. Jadikanlah istri dan anak-anak hamba kelak sebagai sumber kebahagiaan dalam hidup hamba. Hamba sangat tenang bila melihatnya, tenang kala menatapnya dan bersyukur karena hamba memilikinya sebagai bagian dari separuh hidup hamba. Semoga engkau senantiasa memberkahi rumah tangga kami sehingga dengan bersama lebih memudahkan kami untuk meraih ridho dan SurgaMu ya Allah. Ammiin,” doa Azzam dipenghujung sholatnya.


Selesai berdoa. Azzam melanjutkan mengambil Al-Qur’an, lalu membuka Al-Qur’an yang mana adalah kitab umat islam yang paling sempurna karena diturunkan kepada nabi terakhir yakni Nabi Muhammad saw. Begitu indah lantunan bacaannya ketika membacakan surah Al-Fatihah, dengan penuh khitmat dan penghayatan.


“Jangan. Tidak. Lepaskan Aku. Aku tidak mau. Tidak. Tidak.”


Azzam menghentikan lantunan ayat suci yang dia baca ketika mendengar suara teriakan dari belakang. Dia melihat Dhanisa masih memejamkan mata. Azzam yakin Dhanisa sedang mengigau karena mimpi buruk.


Shadaqallahuladzim ...


Azzam lalu menutup Al-Qur’an di depannya dan bangkit mendekat ke arah istrinya yang masih memejamkan mata. Tampak peluh membanjiri tubuhnya. Wajah Dhanisa seperti menahan ketakutan. Napasnya tersengal-sengal seakan tidak sanggup bernapas lagi.


“TIDAK!!!”


Nisa masih saja terus berteriak.


Azzam menepuk pelan pipi Dhanisa.


“Nisa..., Dhanisa. Bangun.” Azzam berusaha untuk segera menyadarkan istrinya.


Mata Dhanisa langsung terbelalak dengan kedua iris matanya tampak memerah. Pandangan matanya memutar melihat sekitar. Suasana kamar yang remang-remang membuat Dhanisa merasa masih berada di tempat kejadian semalam. Sehingga dia masih terus berteriak dan memberontak. Azzam mencoba menenangkannya.


“Jangan. Aku tidak mau. Jangan Sakiti Aku. Lepas... Lepaskan Aku. Ayah ... Ibu tolong Nisa.”


Azzam mendekap erat tubuh istrinya. “Tenang, Nisa! Tenangkan dirimu!”


Bola mata Dhanisa masih liar menatap kesegala arah, dia seperti orang linglung.


Kedua tangan Azzam menangkup pipi Dhanisa. “Nisa, Nisa lihat Abang! Ini Abang! Nisa tenanglah,” ucap Azzam berusaha menenangkan.


Bola mata Dhanisa intens menatap mata laki-laki yang di depannya. Tangannya meraba-raba wajah Azzam.


“Ini benar Abang kan?” tanya Dhanisa takut-takut.


“Iya, ini Abang,” balas Azzam iba. “Sekarang Nisa tenang dan tarik napas dalam-dalam.”


Dhanisa mengikuti apa yang Azzam perintahkan. “Sebentar Abang ambilkan minum dulu.”


Dhanisa menarik tangan Azzam ketika dia baru hendak beranjak dari duduknya, membuat Azzam berhenti dan duduk kembali.


“Abang Azzam, jangan tinggalin Nisa sendirian.” Peluk Dhanisa saat Azzam duduk di sampingnya, ia membenamkan wajahnya di dada Azzam.


“Nisa jangan takut, tidak akan terjadi apapun dengan Nisa." Azzam berbicara seraya memeluk erat tubuh Dhanisa. Perempuan itu mendongak melihat ke arah wajah Azzam.


“Sekarang istirahatlah.” Azzam mulai melonggarkan kungkungannya.


Azzam meluruskan kembali kaki Dhanisa, sementara kepala perempuan itu masih terbenam di dada Azzam. Sebelah tangannya menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya, dan tangan satunya lagi menahan kepala Dhanisa. Dia membiarkan wanita itu terus memandangnya.


“Kenapa sayang?” tanpa sadar Azzam mengucapkan kalimat itu ketika melihat Dhanisa terus memandangnya.


Azzam menyingkirkan anak rambut yang menutupi kening Dhanisa ke belakang telinga dengan lembut. Azzam melihat Dhanisa tersenyum, senyum yang menenangkan dan teduh, tak sadar Azzam ikut tersenyum juga.


“Tidurlah,” kata Azzam dengan tenangnya.


Azzam mengusap pipi Dhanisa dengan lembut. Keadaan mulai hening kembali. Hanya helaan napas yang keluar dari mulut mereka masing-masing.


Tiba-tiba rasa kantuk menyerang. Kedua matanya terpejam secara perlahan. Dhanisa mengikuti insting, membiarkan kedua matanya terpejam dan napasnya teratur beberapa saat kemudian.


Azzam masih setia duduk di sampingnya. Memperhatikan perempuan itu dengan intens. Azzam tidak keberatan membiarkan Nisa tidur dalam pelukannya. Perlahan dia juga membaringkan tubuhnya mendekap tangan Dhanisa. Tak lama mereka berdua terlelap ke alam mimpi.


Beberapa jam kemudian ...


Suara mengaji di masjid bersahut-sahut. Pertanda Adzan subuh sebentar lagi akan berkumandang. Hawa dingin masih begitu terasa di luar, usai hujan mengguyur beberapa wilayah.


Pukul 5 Azzam terbangun kembali. Tangan Azzam terasa kram karena lama tertindih oleh kepala Dhanisa, dia menyingkirkan tangannya perlahan-lahan, lalu memijatnya sebentar. Azzam menoleh lagi ke samping. Istrinya masih terlelap.

__ADS_1


“Nisa.” Bisik Azzam lembut dibarengi dengan mengguncang tubuh Dhanisa pelan.


“Hm” dehem Nisa singkat, setelah itu dia mengeratkan kembali pelukannya.


Azzam menggeleng dengan senyum cerah, ia memegang tangan Dhanisa berusaha melepaskannya. “Nisa, bangun. Abang mau sholat.”


Dhanisa masih tidur dengan posisi miring dan terbungkus selimut tebal. Ia mulai mengerjapkan mata. Pelahan kelopak matanya mau terbuka juga. Perempuan bermata cokelat itu terbangun dan duduk. Mulutnya mangap dan matanya terbelalak. Sial! Apa yang sedang dia lihat saat ini. Wajah Azzam begitu dekat memandang dia. Dhanisa benar-benar sulit menelan salivanya. Lebih terkejutnya lagi kala ia melihat tangannya memeluk erat tubuh pria di dekatnya. Dhanisa tidak pernah tidur dengannya sedekat ini. Bola matanya berputar mengedarkan pandangan ke sekeliling. Semantara tangannya masih melekat pada tubuh Azzam.


“Ini di kamar,” gumamnya lirih. Matanya kembali menatap apa yang dia lakukan.


“Aaaaaakkkkkhhhh...” pekik Dhanisa seketika, tidak dapat menerima tentang apa yang dilihatnya.


Azzam meringis dan menutup telinganya rapat-rapat.


Dhanisa langsung duduk meringkuk dan membungkus tubuhnya dengan selimut.


Azzam menyugarkan rambutnya. Lalu menarik napas pelan dan menghembuskannya kembali.


“Sudah teriaknya?”


“Abang ngapain kayak tadi. Apa kita melakukannya?” Dhanisa malah berkomentar yang lain.


Azzam menarik sudut bibirnya hingga membentuk lengkung senyum.


“Kan Nisa yang minta,” ucap Azzam. Dia tersenyum jail.


“Hah?!” Dia melotat. Setelah itu tubuhnya tidak bereaksi lagi. Dhanisa diam tertegun. Dia masih shock.


“Ayo sholat subuh,” ajak Azzam.


Nisa mengigit bibir bawahnya dengan keras hingga bibirnya berubah menjadi merah. Azzam sudah berlalu masuk ke kamar mandi.


Dia melepas napas keras-keras, lebih seperti mengeluh. “Ya ampun kenapa bisa!? Bodoh!” Nisa menarik rambutnya kuat-kuat.


Azzam keluar, lalu melanjutkan menghamparkan sajadah untuk mereka berdua. Dia mengekor ke arah Nisa. Dalam hati dia tertawa kala mendapati raut wajah istrinya itu masih panik dan memucat. Dia takut sekali kalau aku melakukannya, Azzam memantin lalu menggeleng.


“Mau sampai kapan duduk di situ? Ayo cepatlah ambil air wudhu. Semangkin lama Nisa diam semangkin lama kita memulai sholat,” suara Azzam menyahut.


Nisa hanya berdecak. Kakinya mendadak lemas saat menginjak lantai.


***


Azzam keluar kamar mematikan satu per satu lampu yang masih menyala di setiap ruangan. Ia membuka gorden jendela. Sinar matahari langsung menyerobot masuk tanpa permisi menembus kaca bening. Dia membuka daun pintu dan udara sejuk langsung menjamah tubuhnya. Setelah itu, ia berjalan kembali ke arah dapur. Meja makan masih bersih. Belum ada satupun makanan yang tersedia.


Azzam membuka kulkas, lalu menyambar susu full cream yang bertengger di daun pintu kulkas. Ia menuangkannya ke dalam dua gelas yang sudah dipersiapkannya. Setelah membuat minuman selesai, dia melanjutkan dengan membuat nasi goreng dan telur ceplok sebagai menu sarapan pagi ini. Hanya menu sesimpel itu yang bisa dibuat untuk waktu pagi yang singkat ini.


Tidak butuh waktu lama, dua piring nasi goreng dan dua gelas susu sudah terhidang di atas meja makan.


Di sisi lain, tepatnya di kamar utama. Aku sedang pusing mencari sesuatu. Ruangan ini sudah seperti kapal pecah. Lihatlah, buku-buku berserakan di lantai, sperei dan kasur berantakan serta alat-alat make up yang telah berhambur-hamburan di atas nakas samping tempat tidur. Lemari sudah aku otak atik dan aku bongkar tapi masih juga belum menemukan barang yang aku cari.


“Abang!” pekikku.


Mendengar teriakan Nisa, pria yang baru saja menuntaskan masaknya langsung masuk menuju kamar mereka. Ketika pintu pertama kali dibuka, lantas membuat Azzam terperanjat kaget.


“Asragfirullah Nisa, kenapa berantakan begini?” Azzam hanya bisa melafadzkan dzikir dalam hatinya, mencoba untuk bersabar. ‘Sabar Azzam kau sedang diuji, istrimu hadir untuk menguji tingkat kesabaranmu’ Azzam membatin sambil menarik napas sabar.


Nisa tersenyum singkat.


“Abang Nisa nggak ketemu kaos kaki, dimana kira-kira? Perasaan Nisa simpan di dalam lemari deh.” Gerutuku sambil masih membongkar beberapa pakaian di lemari tapi belum juga menemukannya.


“Nisa memangnya mau berangkat sekolah hari ini?”


“Iyalah. Tidak liat Nisa sudah memakai seragam sekolah gini, memangnya mau kemana lagi. Ke pantai!?” Aku berdecak.


“Abang bilangkan jangan masuk sekolah dulu,” bantah Azzam.


Aku menghampiri laki-laki yang masih berdiri di ambang pintu kamar.


“Abang, Nisa mohon bolehin Nisa buat masuk sekolah hari ini. Abang tau kan, Nisa nggak betahan orangnya. Mana bisa Nisa diam terus di rumah. Sumpek. Bosan. Enaknya ketemu dengan teman-teman di luar, kalau Nisa di luar bisa menghirup oksigen sepuasnya,” ujarku dalam satu tarikan napas.


Dia yang berbicara tapi Azzam yang seperti sedang menahan napas. Dia berbicara tiada jeda sedikitpun. Mirip ketika dirinya sedang melafadzkan ijab qabul. Gumamnya dalam hati.


“Iya. Tapi ada syaratnya,” balas Azzam.


“Apa?”


“Nisa harus berangkat sekolah dengan Abang hari ini! Abang tidak akan mengizinkan Nisa membawa motor.”


Aku diam dan berpikir. “Tapi, Abang. Nisa tuh nggak bisa naik mobil. Mabuk perjalanan.” ujarku memberi alasan.


“Jangan kira Abang bodoh, memangnya jarak ke dari rumah ke sekolah sampai 10 jam sampai mabuk perjalanan segalak," bantah Aazam. "Tidak ada alasan, kalau tidak mau yang sudah Nisa tidak akan boleh ke sekolah hari ini,” ujar Azzam memberi penekanan.


Aku menyungging senyum pendek.


“He-he, iya-iya. Nisa ikut dengan Abang.”


“Trus kaos kaki gimana?” kataku mengerucutkan bibir.


“Cari yang lain saja. Daripada telat,” dia memberi solusi. “Setelah itu, bereskan kembali kamar ini, kemudian sarapan.”


“SIAP, Ustadznya Nisa,” aku memberi hormat.


Azzam tersenyum tipis, lalu kembali keluar.


***


“Ayo cepat!” perintah Abang Azzam dari balik kemudi stir.


Aku berjalan dengan sedikit berlari menuju mobil Abang Azzam yang telah menderu sedari tadi. Tanganku membuka pintu belakang mobilnya.

__ADS_1


“Ayo jalan,” kataku setelah duduk diam dan rapi di kursi jok belakang mobil.


“Kenapa duduk di belakang?” protes Abang Azzam.


“Memangnya kenapa?” tanyaku mengernyit dan bingung.


“Nisa duduk di depan saja, sini!” pintanya.


“Nggak mau, Nisa mau duduk di belakang aja!” elakku membuat Abang Azzam membelalakkan matanya.


“Kalau Nisa duduk di belakang nanti orang mengira Abang supir Nisa.”


Aku menghela. Banyak sekali alasan Abang Azzam supaya aku bisa duduk dekat dengannya. “Abang, kenapa nggak sekalian suruh Nisa duduk di atas!? Lagian nggak ada beda kok Nisa duduk di depan atau di belakang. Sama saja,” kataku membuat Abang Azzam kicep.


“Nisa!” Aku melihat dari pantulan cermin mobil, sorot matanya memberi penekanan supaya aku menuruti perintahnya untuk duduk di depan bersama dia. “Orang yang paling dimurkai Allah adalah orang yang selalu mengajak berdebat. Ayo cepat!” pintanya kembali.


Aku berdecak sebal. “Iya-iya.”


Huft! Akhirnya aku harus mengalah dan pindah ke kursi depan.


Tanpa mengucap apapun Azzam menginjak pedal gasnya. Azzam tak ingin mengeluarkan sepatah kata pun lagi. Ia memilih diam saja. Fokus memegang kemudi stri mobil.


Sepanjang lima belas menit ke depan tidak ada percakapan yang terjadi. Aku menoleh ke arah Abang Azzam, dia masih juga diam. Rasanya tidak asyik kalau hanya diam begini.


“Abang?”


“Hm”


“Abang sakit gigi?”


“Tidak.”


“Kenapa diam daritadi.”


Dia tidak menyahut.


“Abang?” Aku memanggilnya lagi.


“Hm” balasnya sama.


Aku berdesis sebal. “Abang marah lagi?”


“Tidak.”


Ah sudahlah. Dari tadi obrolannya mutar-mutar ke situ aja terus. Aku akhirnya memilih untuk diam juga. Baru aku mau mengalihkan tatapanku ke kaca samping mobil. Tiba-tiba mataku menatap sebuah benda yang ada di dashboard mobil. Tanganku meraihnya.


“Abang? Ini punya siapa?”


Azzam menoleh.


“Itu punya Nisa, dari Hanan semalam.”


Aku terlebih dulu membaca kartu ucapan yang menempel di atasnya.


Hai, Dhanisa aku tahu kita mempunyai selera bacaan yang sama.


Ini sekedar kiriman hadiah untuk kamu.


Semoga kamu suka.


Get well soon, ya


Kalau kamu mau menghubungi aku lebih lanjut, kamu bisa menghubungi aku ke sini. 0878XXXXXXXX


-Hanan-


Aku tersenyum melihat tulisan kiriman Hanan. Tanganku merobek kertas pembungkus kado itu. Isi sebuah novel.


Azzam menoleh dan menyadari kalau aku sedari tadi tersenyum melihat kiriman dari Hanan.


“Kenapa senyum-senyum?”


“Nggak. Abang gimana ceritanya ketemu dengan Hanan?”


“Abangkan semalam datang ke acara syukuran teman Abang, entah tiba-tiba Abang bertemu dengan Hanan. Sudah berapa kali Abang kesana selalu bertemu dengan dia.”


“Siapa nama teman Abang itu?”


“Sarah.”


“Apa Kak Sarah temannya Abang Azzam?” gumamku.


“Kenapa?”


“Nggak kok.”


Tanpa disadari mobil sudah berbelok ke arah Madrasah.


“Abang stop!” Aku menepuk pundak Abang Azzam. “Nisa berhenti di dekat halte depan aja.”


“Lho kenapa tidak turun di depan gerbang sekolah.”


“Nggak apa-apa, nggak enak diliatin temen-temen.”


Dalam hati Azzam sebenarnya tahu maksud Nisa. Dia tidak ingin teman-teman sekolahnya tahu tentang hubungan mereka berdua sebagai suami istri. Meskipun mereka saudara sepupu, dengan mereka selalu berangkat dan pulang bersama tentu akan menimbulkan pertanyaan bagi teman-teman Nisa. Sementara rekan kerja satu profesi Azzam sebagian memang sudah mengetahui kalau dia telah menikahi Dhanisa.


“Nisa, ingat! Nanti pulang tunggu Abang di depan.”


Aku mengangguk. “Iya”

__ADS_1


Mobil Abang Azzam pun mulai berlalu masuk ke dalam perkarangan sekolah, sementara aku berjalan dari halte menuju madrasah jaraknya hanya sekitar lima belas meter lagi. Tidak masalah.


__ADS_2