Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 28. Fitting Baju


__ADS_3

Mataku masih lekat memandang layar handphone, membaca novel-novel online yang berhasil aku download. Kisah yang disajikan cukup menarik, membuatku betah membacanya. Tidak tahu kenapa tumben malam ini mataku masih segar, belum ada rasa kantuk menghampiri padahal sudah pukul 11 malam. Aku berpikir mungkin ini efek dari obat yang baru aku konsumsi tadi.


Pintu kamar terbuka pelan. Azzam melangkah masuk menuju tempat tidur, dengan tenang dia membaringkan tubuhnya di sampingku. Aku saja tidak merasakan kehadirannya karena masih asyik membaca novel lewat ponsel.


Azzam menarik selimutnya dalam-dalam, mencoba memejamkan mata. Aku masih diam tak bergeming hanya mulutku saja yang komat-kamit ketika membaca, kadang sesekali aku tertawa saat mendapati adegan yang lucu. Maklum novel yang aku download bergenre komedi. Azzam merubah posisi tidur menyamping persis menghadapaku saat ini.


“Kenapa belum tidur!?”


Tubuhku sontak menggeliat kaget saat suara teguran itu datang. Aku mengelus dada. Astagfirullah dia hampir membuatku mati muda! Untung aku tidak mengidap penyakit jantung.


Dia begitu risih kalau melihatku belum juga membenamkan kepala di tempat tidur.


Aku mengerling ke arahnya. “Sebentar lagi ya Abang. Kasih Nisa waktu 10 menit baru Nisa akan tidur," jawabku kembali menatap layar handphone.


“Tidurlah lebih awal supaya nanti bisa sholat tahajjud,” tegurnya lagi.


Aku mengernyit seraya membatin, Dia yang mau bangun tahajjud, kenapa aku yang mesti tidur lebih awal?


“Hmm... Kan Abang yang mau bangun untuk sholat tahajjud bukan Nisa, jadi Abang pergilah tidur duluan.”


“No...no...no...” Azzam menggoyangkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan dengan cepat. “Abang mau nanti Nisa ikut sholat tahajjud dengan Abang,” pintanya dengan nada melembut.


Aku mengerlingkan sebelah mataku ke arahnya, dan berujar dengan nada memanis.


“Abang, kalau Nisa ikut sholat tahajjud dengan Abang karena dipaksa, nanti niatnya akan lain. Yang seharusnya niat sholat karena Allah, berubah jadi niat sholat karena dipaksa Abang,” kataku memberi alasan.


Azzam menghela.


“Tidak masalah, Nisa. Awal mula memang mesti dipaksa dulu, nanti lama kelamaan akhirnya akan terbiasa juga untuk bangun. Dan kalau sudah terbiasa nanti niatkanlah dalam hati untuk bangun sholat tahajjud karena Allah ta’ala. Jadi, Abang rasa tidak masalah kalau Abang paksa Nisa dulu untuk bangun sholat dengan Abang nanti ya?"


Azzam menjeda sebentar, lalu kembali berujar, "Tapi, satu hal Nisa mesti ingat, jangan sampai Nisa capek-cepek bangun di sepertiga malam lalu menggerutu karena menahan katuk, hanya karena abang paksa untuk ikut menjalankan sholat tahajjud. Jadi cobalah mengikhlaskan hati untuk melaksanakannya karena Allah,” ucapnya seraya bibir mengumbar senyum.


Hooaamm!


Tiba-tiba saja rasa kantukku datang ketika mendengar ceramah singkatnya.


“Ihh! Okelah. 10 menit lagi! Setelah itu baru Nisa tidur!” balasku menggerutu.


Aku lanjut membaca tapi mataku sedikit mengekor ke arah Azzam. Aku merasa tidak tenang dan risih karena dia belum juga merubah posisinya. Dia masih begitu intens menatapku. Yang tidak tahannya dia menatap seraya melemparkan senyum tipis dari bibirnya.


Aku tidak tahu apa yang sedang ada dipikirannya, entah dia sedang menghayal? Entah dia memang ingin mengerjaiku? Aku tidak tahu. Yang jelas aku sekarang jadi merasa canggung dan salah tingkah kalau dia terus-terusan melakukan hal itu. Aku menyingkirkan sebentar handphone dari padangan mata dan menoleh ke arahnya.


“Abang, kenapa abang belum tidur juga?”


“Abang tunggu Nisa.”


Mendengar kalimatnya aku menggaruk tengkukku yang sebenarnya tidak gatal. Kenapa mau tidur saja mesti harus menunggu aku? Kan dia bisa tidur sendiri! Mata, mata dia! Aiihh, entahlah ada-ada saja sikap abang nih yang aneh-aneh!


Aku lalu memutar bola mata jengah, sambil sedikit menggerutu dalam hati. Sepertinya aku harus segera tidur malam ini sebelum aku mati berdiri karena terus diawasi oleh CCTV berwujud manusia. Katanya dua hari lagi dia akan berangkat ke Balikpapan untuk acara pelatihan. Rasanya aku mau menyuruh dia supaya cepat-cepat berangkat kesana, supaya tidak ada orang yang riweh, yang selalu menganggu segala kegiatanku. Huft! Setidaknya aku bisa bernapas lega.


Aku menghela napas berat, lalu menaruh handphone di atas nakas.


“Iya, Nisa tidur nih! Hah!” Aku mendelik sebal ke arahnya dan membanting tubuhku di atas kasur.


Azzam tersenyum gemas kalau melihat istrinya itu ngambek.


“Lampu tuh matikan, sayang,” pintanya lagi. Bukan hanya nada melembut tapi kata sayang diujungnya membuat aku semangkin sebal.


“Aisshh!” Aku mengeram seraya mematikan lampu. Aku sangat yakin dia pasti tersenyum menang malam ini.


***


Bola panas matahari seakan tiada puasnya menjulurkan lidah ke bumi, meskipun sudah sore namun panas teriknya masih memancar hebat. Di jalan debu-debu menggulung-gulung karena hembusan angin. Musim memang kadang tidak selalu jelas, kadang panas masih memuncak tapi tiba-tiba hujan berderai turun. Malam pun kadang lagaknya siang karena hawa panas, tidak lama hujan pun turun juga.


Sarah Afsana, wanita single berumur 25 tahun itu sangat bersyukur sekali dianugerahkan wajah yang ayu dan tubuh yang ideal. Ia selalu berusaha untuk menjaga kehormatannya dengan mengenakan pakaian-pakaian yang syar’i yang bisa menutupi lekuk tubuhnya. Banyak teman-teman yang selalu memuji karena keanggunan dan sifat keibuan wanita itu. Tapi agaknya nasib tak secantik rupa. Di usia yang sudah matang untuk menikah, dia belum mampu untuk membuka hati bagi lelaki lain yang datang mendekat. Sekelebat kisah silam masih terus mengerayang dipikirannya. Kali ini dia ingin berhati-hati, tak ingin jatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya.


Di depan cermin besar, Sarah tersenyum menampilkan giginya yang tersusun rapi tanpa rusuh, sungguh ciptaan Tuhan yang indah. Itulah yang patut Sarah syukuri. Dia tampak sedang mencoba salah satu koleksi hasil rancangannya, dirinya tersenyum puas. Memang Sarah kerap menyibukkan dirinya dengan pekerjaan mendesain berbagai rancangan baju, baik itu untuk menambah koleksi busana muslimnya maupun berbagai model gaun termasuk gaun pesta, gaun pengantin.


Sarah kembali menyimpan gaun itu dan beranjak menuju mejanya kembali melanjutkan sketsa rancangannya yang belum kelar. Beberapa hari kedepan sepertinya dia harus lembur dan bekerja ekstra karena melihat banyaknya pesanan yang masuk.


“Selamat datang dibutik Sarah. Ada yang bisa saya bantu?” Suara Tante Arini yang ngebas terdengar dari ujung pintu. “Eh, ini bukan Mas yang kamarin pernah ke butik dengan Umi, ya?”


Azzam mengangguk. "Iya, betul."


"Ada yang bisa dibantu, Mas?"


“Kami kemari ingin membahas tentang fitting gaun pengantin untuk.... " Belum selesai Azzam berujar Tante Arini sudah menyerobot.


Mata Arini melirik pada wanita yang mengekor di belakang Azzam.


“Ini calonnya, Mas. Wah cantik sakali,” tutur Tante Arini memuji.


Azzam tertawa pelan.


“Oh, bukan. Dia saudara perempuan saya."


Meskipun Azzam anak bungsu. Agaknya stereotip anak manja tidak melekat dalam diri Azzam. Dia tumbuh besar dibarengi dengan ketaatan akan tanggung jawab sebagai seorang anak hingga menuntutnya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Sebagai anak bungsu, ia selalu mempunyai kesempatan untuk menyaksikan kegagalan dan kesuksesan kakak-kakaknya sehingga membuatnya bisa belajar banyak dari orang yang lebih tua dan lebih matang darinya.


Tante Arini membekap mulutnya. “Ya ampun, saya kira istri Mas lho,” ujar Tante Arini seraya menepuk manja pundak Azzam.

__ADS_1


Azzam sedikit merasa risih hanya membalasnya dengan senyum samar. Sementara Kak Soraya tampak melempar senyum geli melihat ekpresi adiknya itu.


Bercerita tentang Tante Arini memang kadang dia tidak dapat mengontrol sikapnya jika sudah bertemu dengan customer laki-laki, maklum saja sudah tiga tahun menjanda. Jadi mungkin dia ingin sedikit menghibur dirinya yang masih hidup sendiri. Ya, dengan cara mencoba akrab dengan pria-pria yang dia temui. Maksudnya siapa tahu ada yang kecantol satu, kan lumayan. Jadi nanti dia bisa membuat kisah cintanya tentang jodoh janda kembang di butik Sarah. Ha-ha-ha.


“Halo, perkenalkan saya Soraya,” Kak Soraya menyodorkan tangan, memperkenalkan diri.


“Halo juga Mbak. Saya Arini. Manager Sarah,” balas Tante Arini lagaknya mengaku manager Sarah, padahal dia hanya sebulan diminta membantu Sarah di butiknya. Huft!


“Oh, iya-iya,” sahut Kak Soraya. “Sebelumnya saya sudah menghubungi yang namanya Sarah, dan membuat janji dengan beliau untuk membahas rancangan tentang gaun pengantin yang akan dipesan.”


“Emm, Sarah ya? Sebentar ya saya panggil ke dalam dulu. Sambil menunggu Mbaknya bisa lihat-lihat galery kita dulu. Ada banyak produk baru, siapa tau Mbaknya tertarik.”


“Iya, saya coba lihat-lihat dulu.”


“Saya tinggal sebentar ya." Tante Arini pamit.


Tante Arini menghilang sebentar masuk ke dalam ruang kerja Sarah untuk memintanya menemui customer di depan.


“Sarah,” panggil Tante Arini.


“Hmm”


Tangannya masih sibuk membuat sketsa rancangan desain baju-bajunya.


“Ada customer di depan.”


“Bukannya Sarah sudah mempercayakan semuanya dengan tante, tante pasti sudah paham dan tau selera para konsumen kita,” ujarnya masih menatap kertas sketsa tanpa menoleh ke arah Tante Arini.


Tante Arini mendesis sebal.


“Ini lain.”


Dia berjalan mendekat ke meja Sarah.


“Di depan ada perempuan yang namanya Soraya, kakak perempuan dari Mas yang kemarin pernah datang ke sini itu lho, si Mas Azzam. Dia bilang mau menanyakan tentang gaun pengantin pesanannya. Dia juga sudah buat janji dengan kamu katanya.”


Sarah tersentak. Dia mengingat kembali lebih kurang seminggu lalu memang ada perempuan yang bernama Soraya menghubunginya, dia meminta untuk dibuatkan gaun pengantin.


“Oh begitu. Iya sebentar lagi Sarah keluar.”


Sarah menyingkirkan sebentar pekerjaan demi menemui customer. Tidak berselang lama Tante Arini keluar dari bilik berbarengan dengan Sarah di belakangnya. Sarah menemukan Azzam yang sedang berdiri di dekat kasir pembayaran. Sementara dia masih mencari-cari mana yang namanya Soraya, tentu saja dia belum tahu karena sebelumnya mereka belum pernah bertemu.


Dilihatnya Azzam masih di sana. Sarah pergi menghampirinya.


“Assalamu’alaikum, Mas,” sapanya dengan senyum merekah.


“Wa’alaikumsalam,” sahut Azzam, lalu menoleh pada suara yang menyapanya. “Eh, Sarah.”


“Mas, kemari dengan Umi?”


“Tidak, aku kemari membawa my sister. Itu disana.” Azzam menunjuk pada sosok wanita. Mata Sarah lalu mengekor mengikuti arah telunjuk Azzam. Dia menangkap sosok perempuan berhijab sedang berdiri sambil melihat-lihat beberapa dress yang terpajang disetiap sisi toko. Dari kejauhan Sarah melihat penampilannya begitu feminim dan sopan.


“Kak Soraya,” suara Azzam memanggil kakak kandungnya. “Ini yang namanya Sarah,” Azzam memperkenalkan teman karib kuliahnya itu.


Kak Soraya menoleh sembari mengulas senyum, kemudian melangkah mendekati mereka berdua.


“Salam kenal Mbak, saya Sarah.” Sarah menjabat tangan Kak Soraya.


“Soraya,” balasnya.


“Oh, ini Mbak yang kemarin menghubungi saya ya.”


Kak Soraya mengangguk. “Iya.”


“Kalau begitu Mbak Soraya, Mas Azzam mari kita duduk dulu.”


Sarah membawa mereka untuk duduk pada kursi sofa yang tersedia di dekat kasir yang sedikit diberi sekat pembatas.


“Begini, kemarin saya minta dipesankan gaun pengantin ke Mbak Sarah. Ini sebenarnya saran Umi, tapi saya yakin bahwa rancangan desain tangan Mbak Sarah tidak akan mengecewakan. Makanya saya mempercayakan dengan Mbak Sarah untuk merancangnya.”


“Yups tepat sekali, Mbak tidak akan salah mempercayakan kami untuk menciptakan gaun pengantin impian Mbak Soraya!” serobot Tante Arini yang langsung duduk di sebelah Sarah tanpa diminta. Dia seperti mengambil alih kekuasaan. Sarah mengakui Tante Arini memanglah pandai dalam hal promosi.


Sarah hanya mengulas senyum getir melihat sikap tantenya yang satu ini. “Oh iya, Mbak Soraya. Alhamdulilah kalau Mbak yakin dengan hasil rancangan saya,” ujarnya dengan nada yang ramah.


“Jadi, desain bagaimana yang Mbak Soraya inginkan?” Sarah memulai pembahasan. “Oh atau nggak saya punya beberapa koleksi desain yang telah jadi, siapa tau salah satunya ada yang membuat hati Mbak Soraya terpikat. Sebentar ya.”


Mata Sarah lalu berkeliling mencari seseorang. “Vin, Vina! Sini sebentar Vin!”


Vina datang menghampiri Sarah yang memanggilnya. “Iya. Kenapa, Mbak?”


“Tolong ambilkan IPad saya di meja, ya.”


“Kak Sarah, Hanan berangkat dulu, ya!” teriak Hanan dari kejauhan, dengan posisi sudah menunggangi motor.


“Hanan, mau kemana lagi?” tanya Sarah


Sepertinya suara Sarah yang kecil tidak terdengar oleh Hanan, karena tidak ada sahutan balasan dari adiknya itu. Sarah ingin memanggilnya kembali tapi rasanya tidak enak kalau berteriak dari dalam sementara di depannya sedang ada customer.


“Saya permisi sebentar.”

__ADS_1


“Hanan! Kamu boleh meliput kesana-sini tapi perhatikan juga situasi, ya?! Jangan sampai kejadian seperti kemarin terulang lagi.” Suara Sarah terdengar sedang menasehati Hanan.


“Iya Kak, aman. Kalau gitu Hanan berangkat dulu. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”


Bersamaan dengan deru mesin kendaraan Hanan yang semangkin menjauh meninggalkan pekarangan. Sarah masuk kembali untuk melayani customer yang telah menunggunya.


“Aduh! Maaf ya, tadi saya tinggal sebentar,” nada Sarah tak enak.


“Itu siapa, Sarah?” tanya Azzam.


“Itu adik aku, Mas. Si Hanan.”


Hanan? Hanan ... Azzam mencoba menetralisir nama itu pernah melintas digendang telinganya.


“Hanan itu perlu selalu dinasehati karena tidak mau diam alasannya sibuk cari berita untuk mengisi redaksi peliputannya. Itu idenya untuk menambah penghasilan sambil kuliah, katanya.”


“Bagus dong kalau begitu, dia belajar untuk mandiri,” timpal Kak Soraya.


“Iya Mbak. Cuma saya khawatir saja karena beberapa hari lalu dia kesini membawa seorang wanita dalam keadaan terluka akibat terkena lemparan batu waktu meliput juga.”


“Oh begitu.” Kak Soraya mengangguk-angguk. “Iya sih memang resiko seperti itu perlu diminimalisir perlu juga melihat-lihat situasi dan kondisi saat meliput berita.”


Azzam hanya menyimak pembicaraan mereka. Ada terbesit dipikirannya tentang kejadian yang menimpa Nisa yang juga memang terjadi baru-baru ini. Tapi apa iya wanita yang dimaksud Sarah adalah Nisa, istrinya? Dan Hanan, laki-laki yang sempat datang ke rumahnya adalah adiknya Sarah?


Lamunan Azzam seketika hilang saat Sarah memintanya untuk bertukar posisi duduk dengan dirinya karena ada beberapa hal yang ingin Sarah jelaskan terkait desainnya dengan Kak Soraya.


“Ini beberapa desain yang saya tawarkan.” Tangan Sarah menggulirkan gambar demi gambar yang ditampilkan layar Ipad-nya


Tidak lama Kak Soraya menghetikan guliran Ipad, seperti sudah menemukan satu desain yang tepat dan sesuai keinginannya.


“Saya rasa yang ini pas untuk kami.”


“Oh yang ini ya, Mbak.”


Mata Sarah mengamati desain yang dipilih Kak Soraya.


“Iya, karena saya mau menyamakan dengan konsep wedding dengan pakaiannya.”


“Baiklah kalau begitu.”


“Kapan kira-kira kami bisa melakukan fitting gaun pernikahannya?” tanya Kak Soraya memastikan.


“Hari apa saja kita siap, asalkan tidak hari minggu karena minggu memang kami tidak membuka layanan.”


"Kalau begitu. Nanti saya akan menghubungi suami saya dulu. Setelah kami dapat waktu yang cocok, kita akan kembali lagi kesini."


"Oh iya, kita bicarakan masalah dananya bagaimana?" lanjut Kak Soraya.


"Kalau untuk masalah itu Mbak-nya bisa ikut saya. Kita bicarakan di bagian administrasi," Tante Arini memotong. "Bagaimana Sarah?" tanya Tante Arini.


Sarah hanya berohriya saja sembari mengangguk mantap. "Sudah sana!"


Untuk masalah pembayaran dan administrasi lainnya Sarah mempercayakan pada tantenya saat ini, sebenarnya setiap orang sudah memegang peran dan bagiannya masing-masing. Namun, berhubung orang yang memegang peran bagian administrasi mengambil cuti, jadi Sarah meminta bantuan Tante Arini.


Setelah keduanya pergi, ruangan sedikit terasa sunyi dan hambar. Sarah tidak tahu topik apa yang mesti diangkat untuk mencairkan suasana krik... krik seperti ini, sama halnya juga dengan yang Azzam rasakan. Mereka berdua sama-sama rikuh.


"Kamu ... " suara mereka berbarengan.


"Ops, maaf silahkan Mas duluan," ujar Sarah menundukan wajahnya, merasa tak enak.


"Ouh, tidak apa-apa Sarah silahkan duluan siapa tau lebih penting dari yang aku tanyakan."


"Oh tadi, maksudku hanya ingin menanyakan tentang Kak Soraya. Kapan rencana pernikahan Kak Soraya akan digelar?"


"Lebih kurang dua bulan lagi."


Sarah mengangguk.


"Alhamdulillah aku sebagai adiknya turut senang karena Kak Soraya telah mendapatkan jodohnya, dan akan segera menyempurnakan separuh agamanya."


Sarah mengangguk paham, lalu tampak ia mengalihkan tatapannya pada objek lain di ruangan, kemudian berujar, "Semua ingin menemukan jodoh yang terbaik, dan memang tidak seorang pun mengetahui dengan siapa dia akan berjodoh, berapa banyak rezekinya dan di mana ia akan menjemput kematiannya. Bicara soal jodoh, maka bicara soal pasangang hidup, bukan hanya pasangan di dunia tapi juga akhirat. Maka semuanya tidak lepas dari kuasa Allah."


"Bagi mereka yang telah menikah tentu juga senantiasa berdoa bahwa dialah jodohnya yang berkekalan dunia akhirat." Azzam turut berkomentar.


Sarah mengusap wajahnya. "Eh, kenapa arah pembicaraannya jadi ke sini"


Azzam melempar senyum tipis. "Memang tadi kita membicarakan tentang pernikahan Kak Soraya kan."


"Oh, iya aku baru ingat. Kita mau mengundang Mas dan keluarga untuk datang nanti malam ke acara doa selamatan di rumah," tutur Sarah.


"Aku nggak bisa janji. Tapi, akan aku usahakan," ujar Azzam.


"Oh iya, terima kasih atas kerja samanya," suara Tante Arini yang baru keluar usai mengurus administrasi.


Azzam berdiri ketika melihat Kak Soraya sudah hendak pulang.


"Kita pamit dulu ya? Terima kasih, untuk kelanjutannya akan dihubungi lagi," ujar Kak Soyara.

__ADS_1


Mereka kemudian pamit dan keluar meninggalkan butik.


__ADS_2