
Aku mengingat kajian salah satu ustadz saat mengikuti jamaah subuh. Allah akan selalu memberi cobaan kepada semua makhluknya. Tipe manusia dibedakan menjadi dua pengibaratan.
Kayu adalah ibarat manusia yang tidak sabar menghadapi ujian, ketika cobaan yang dianalogikan api membakarnya ia akan menjadi abu. Sementara emas adalah pengibaratan manusia sabar saat diberi cobaan. Ketika dia dibakar ia bukan menjadi arang yang tidak berharga. Melainkan semangkin mengkilat dan harganya pun semangkin bernilai.
Aku kembali menatap nanar foto suamiku. Mendekapnya erat-erat. Air mataku terkuras habis
Pupus sudah harapan dan cita-cita yang telah dirangkai.
"Bang, abang kemana? Bukankah malam ini harusnya kita menikmati waktu kita berdua. Kenapa abang? Kenapa?"
Sedari tadi Kak Soraya dan Ibu silih berganti membujukku untuk makan.
"Ingat Nak ada buah hati yang harus kamu jaga. Kamu tau sayang Azzam akan sedih kalau melihat Nisa begini terus. Ayo makan ya sayang. Sudah itu minum susunya."
Ibu mengusap kepalaku, merapikan rambut yang berantakan karena sejak tadi siang aku belum menyisirkan rambutku.
"Bu, Nisa banyak dosa ya? Kenapa Nisa dikasih cobaan gini, Bu"
Air mataku kembali luruh dipelukan ibu yang mendekapku.
"Yang kuat ya, Nak. Ini bukan akhir dari semuanya. Nisa harus bangkit dan semangat lagi."
Aku mengangguk sambil menutup wajahku dengan kedua tangan, sakit yang kuderita beruntun ini begitu menguras air mata.
Setelah sholat magrib, acara tahlilan diadakan di kediamanku.
Aku masih tak percaya jika lelaki yang dulu pernah berjuang untuk mendapatkan cinta dariku harus pergi begitu cepat meninggalkan meninggalkan aku dan buah hati kami untuk selama-lamanya. Meski aku berusaha untuk tegar tapi tetap saja aku rapuh. Aku bahkan tak menyangka jika mimpi yang datang sebelum Azzam pergi adalah sebuah isyaroh. Jika saja aku tahu pasti, hari itu juga aku tak akan mengizinkan Azzam untuk berangkat. Aku menyesal karena membiarkan Azzam pergi.
Aku tak kuasa menahan gejolak di hati manakala mengingat bahwa senyum dan canda serta kehangatan yang saling kami tumpahkan adalah momen termanis dan terakhir kami lakukan. Dekapan tubuh Azzam pahi itu adalah adalah dekapan perpisahan. Ciuman pagi itu adalah pesan cinta yang terakhir kalinya yang aku rasakan.
Jika bukan karena buah hati ini. Rasanya aku ingin sekali menyusulnya ke alam barzakh. Sungguh aku sangat rapuh, ujian yang begitu berat membuat hidupku terombang ambing bahkan serasa karam.
"Bu, udah ya Nisa kenyang."
Ibu mengambil piring sisa makanku. "Ya sudah. Kalau gitu sekarang Nisa naik ke atas tempat tidur ya. Jangan duduk di bawah begini, dingin."
Umi Salamah menyusul masuk ke kamarku.
"Bagaiman dia sudah makan?" tanya Umi Salamah pada ibuku.
"Sudah."
Ibu menarik selimut berwarna dongker bermotif bunga tulip.
__ADS_1
"Bu, ibu sama Umi percayakan sama Nisa. Kalau Azzam itu masih hidup. Nisa yakin, Bu."
Umi Salamah mengecup keningku. "Yang sekarang perlu kita lakukan adalah berdoa, Nak. Jika memang jenazah yang terkubur adalah jenazah Azzam, maka semoga dia wafat dalam keadaan husnul khotimah, diampuni segala dosanya, dan diterima semua amal ibadahnya. Tapi, jika memang Azzam masih hidup semoga Allah swt senantiasa melindunginya dimana pun ia berada dan semoga ia segera pulang agar dapat berkumpul bersama kita lagi," ujar Umi, yang diaminkan oleh Ibu begitu juga denganku.
"Umi tau perasaan Nisa. Mungkin berat bagi kita semua merasa kehilangan. Tapi Nisa harus tetap kuat demi menjaga buah cinta kalian," ujar umi lagi.
Wanita itu mengusap lembut perutku sembari merapalkan do'a. Do'a yang sama biasa dibacakan Azzam setiap kami selesai menjalankan sholat.
Hujan deras itu seolah mewakili duka kehilangan yang menghujam. Duka karena kehilangan, begitu menyayat hati. Apalagi jika harus kehilangan orang yang kita cintai selama-lamanya.
Dalam insiden yang sama di jalan raya yang telah merenggut nyawa kedua orang tua kandungku. Sekarang, karena kecelakaan pula aku harus kehilangan lelaki, yang menjadi pemimpin dalam rumah tanggaku.
***
Siang tadi baru saja dilakukan penyelidikan masih berkaitan dengan indikasi adanya dugaan percobaan pembunuhan dengan memeriksa rumah kami dan CCTV di lingkungan komplek.
Tim penyidik Ditlantas mensahkan adanya kebenaran bahwa kecelakaan bukan karena adanya human error tapi ada unsur kesengajaan. Dugaan sementara adalah adanya kasus percobaan pembunuhan. Maka dari itu, dihari kedua pasca kecelakaan, polisi melakukan tindak lanjut dengan memeriksa TKP dan juga rumah kami, termasuk tadi memeriksa CCTV.
Aku kaget bukan kepalang. Kenapa ada orang yang tega ingin mencelakai suamiku. Apa salah Azzam pada si pelaku.
Kepada tim penyidik, aku mengatakan bahwa di dalam rumah ini tidak dipasang CCTV. Polisi tidak tinggal diam, mereka semua bergerak cepat mengungkap kasus ini. Diskrimsus polda setempat membantu mengecek CCTV milik tetangga depan rumah yang berhadapan langsung dengan rumah yang kami tinggali, karena CCTV dibuat menyala demi merekam aktivitas di depan rumahnya. Polisi berharap jejak pelaku dapat terekam dari pengambilan gambar yang ada di CCTV milik warga sekitar.
Seluruh keluarga masih berkumpul di ruang tamu. Mereka semua berunding, untuk membulatkan tekad agar kasus ini diselesaikan dengan cepat. Keluarga hanya ingin keadilan, atas lenyapnya nyawa seseorang.
Suara ketukan pintu disertai salam terdengar samar-samar di tengah pembicaraan keluarga.
"Bang Fikri kayaknya ada tamu coba cek dulu," titah Kak Soraya pada kakak tertuanya.
"Ayah, Ibu Nisa ke belakang dulu, ya."
Merasa sangat haus aku beranjak menuju dapur. Sepertinya tensi darahku kurang, akhir-akhir ini kepalaku kerap pusing. Ketika mulai kembali pusing aku memijit pelipisku sambil berpegang pada daun pintu kulkas.
Usai aku meneguk air mineral hingga habis. Betapa terkejutnya aku ketika berbalik badan mendapati seorang pria berdiri menghadap utara dengan posisi memunggungiku. Ia seperti sedang mengerjakan sesuatu. Aku menyipitkan mata, mencoba memfokuskan apa yang terlihat di depan mata. Kalau dari potongan rambutnya, aku sungguh tak asing. Orang ini kerap aku jumpai, bahkan selalu bersamaku.
Aku memelankan derap langkahku. Melangkah lebih dekat pada sosok pria berbaju brown itu. Baju yang dikenakan pun, bisa aku kenali.
"Azzam!" suaraku begetar menyebut namanya. Pria yang lebih banyak mengenakan peci hitam dikesehariannya itu belum menoleh.
"Bang? Abang Azzam?"
"Nisa? Apa yang kamu lakukan disitu," suara teguran itu langsung membuatku menoleh cepat melihat ibu.
"Bu"
__ADS_1
"Ayo sini! Ada Kiyai Hasbullah dan beberapa anggota pengasuh pondok Mambul Ulum berkunjung. Ayo, kita keluar sayang."
Ibu menarik tanganku.
"Tap... Tapi tadi itu" Aku menunjuk ke arah dimana aku melihat Azzam berdiri tadi.
"Itu apa? Sudah ayo," Ibu membawaku keluar.
Aku menggaruk keningku, merasa bingung. Bahkan lebih mirip orang linglung pada kejadian barusan.
"Apa iya tadi itu Bang Azzam. Ah, mungkin ilusi aja karena aku terus mengingat wajahnya, sampai otakku membentuk bayangan seolah Azzam sedang berdiri di sana." Batinku.
Bukan tanpa alasan. Dapur menjadi teman yang banyak menyimpan kenangan pula bagiku. Di sana kami kadang menghabiskan waktu pagi ataupun sore untuk belajar memasak bersamanya. Candaannya selalu terngiang saat tingkat keusilannya meningkat di level tertinggi.
"Nisa, kok melamun sih, ditanya tuh sama ustadz Kafie"
Aku mengerjap kaget, mengulas sedikit senyum pada lelaki yang bernama Ustadz Kafie.
"Ini istrinya Azzam ya."
"Iya, Pak. Eh, ustadz," koreksiku.
Ustadz Kafie bercerita tentang Azzam ketika sewaktu satu pondok di salah satu ponpes di Jawa Barat. Aku menanggapi ceritanya dengan mangut-mangut saja. Sesekali aku pula turut merespon pertanyaannya. Dia adalah ustadz yang pernah diceritakan Azzam padaku.
Obrolan kami sekeluarga baru berakhir ketika adzan dzuhur berkumandang. Kiyai Hasbullah mengajak untuk sholat berjamaah sembari mendoakan arwah almarhum.
***
Dari balkon atas aku bisa melihat bulan purnama bersinar begitu terang. Ditemani bintang-bintang. Malam itu terlihat cerah. Aku tersenyum perih, disini pula aku mengingat sedikit kisah romantis kita berdua.
"Sayang, maafin bunda ya. Kalau bunda terus mengingat Abi Azzam, karena bunda yakin dia masih hidup kan sayang." Aku bergumam sendiri sambil mengusap perut yang mulai membuncit. Mengajak cabang bayi berbicara.
Aku dengan keyakinanku bahwa Azzam masih hidup. Ku pandangi foto-foto Azzam. Jari-jemariku mengusap bingkai foto kebersamaan kami saat ditempat wisata taman bunga yang kerap kami kunjungi tiap akhir pekan.
"Sayang, Nisa rindu... " ucapku lirih.
Ku cium foto tadi dan mendekapnya dengan posisi mata terpejam rapat. Semilir angin malam turut menyapa malam itu, turut mengiringi setiap apa yang membekas dalam ingatanku.
Aku menyalakan ponsel dan menyetel murotal surah Ar-Rahman. Surah Ar-Rahman adalah surah yang kerapa Azzam bacakan untukku. Suara murotal yang aku putarpun adalah suara Azzam yang sengaja aku rekam tanpa sepengetahuannya. Rekaman ini yang selaku aku putar setiap aku hendak tidur, dan apabila rindu mendengar suara lembutnya.
Azzam laki-laki yang penyabar yang pernah aku temui. Ketika ia marah pun, suaranya tidak pernah tinggi. Namun, watak dan pembawaannya tegas, mirip abah.
Aku mengusap lenganku, merasakan hawa dingin kian menusuk. Aku rasa malam sudah sangat larut. Jika Ibu dan Ayah tahu aku belum tidur pasti mereka akan memarahiku.
__ADS_1
Bersambung....