
Azzam tengah menikmati udara pagi sambil berolahraga kecil. Ketika berlari keluar pagar netra Azzam menangkap seorang pedagang sayur yang sedang menjajakan dagangannya. Ibu-ibu juga tampak berkumpul di sana, menyerbu dagangan yang dijajakan.
Kebetulan pula nanti malam acara syukuran dilaksanakan di rumah baru mereka. Azzam ingin sedikit membeli bahan-bahan yang menurutnya diperlukan untuk bahan sajian bagi para tamu. Meskipun sebenarnya, umi mengatakan kalau biar keluarga besar mereka saja yang menyiapkan segala jenis bahan, terkait dengan menu makanan yang akan disajikan. Tapi, tidak apa. Paling tidak dirinya menambah stok bahan-bahan memasak untuk sehari-hari. Kebetulan di almari es juga stok beberapa sudah habis.
Azzam memperhatikan beberapa sayur yang terlihat segar. Nampak ibu-ibu di sekelilingnya sedang berbisik ria. Azzam menatap ibu-ibu itu sebentar, tapi kemudian tatapannya dialihkan kembali ke sayuran yang segar dan juga memilih ikan segar yang dijajakan di sana.
"Mas warga baru ya?" tanya seorang ibu.
Azzam menoleh. "Iya, Bu."
"Oh, tadi malam ada undangan dari pak RT, untuk acara syukuran pindah rumah gitu, itu acara benar nanti malam ya, Mas?"
"Iya Bu, insyaallah nanti malam. Saya memang meminta bapak Damar selaku RT di sini, untuk mengundang para warga kompleks untuk acara sykuran nanti malam karena saya rasa pak Damar paham tentang wilayah sini dan juga warganya."
Si ibu yang bertanya tadi nampak mengangguk paham.
"Mas, namanya ini Az... Azzam bukan?" tanya ibu sebelahnya.
Azzam mengiyakan ucapan ibu itu.
"Mas nya masih singgle?"
"Single apanya, Bu. Bukannya RT kita kemarin bilang bapak Azzam ini sudah punya istri," sahut ibu berkacamata dengan masih memilah sayur.
"Oh iyaya? Saya nggak tau, karena waktu pak Damar ke rumah saya nggak ada, Bu," jawabnya.
"Kalau udah nikah, istrinya mana, Mas. Kok Masnya yang belanja?"
Baru Azzam hendak menjawab ibu tadi cepat memotong. "Bu Fida ini nggak tau aja. Ginilah suami yang baik dan pengertian, mau membantu istri untuk belanja, bukannya terima beres aja" cetus ibu bernama Bu Fida.
Si ibu mengangguk. "Aduh, suami idaman dong ya," tutur Bu Fida.
"Kebetulan saya tadi olahraga di sekitar rumah mendapati tukang sayur di sini, maka itu saya membeli beberapa bahan sekaligus untuk acara nanti malam."
Tak beberapa lama, ibu - ibu yang telah berbelanja bahan masakan satu per satu pamit pergi menuju rumah masing-masing. Sementara tinggallah Azzam sendiri masih membeli masakan yang lain yang kira-kira di perlukan nanti.
"Eh, mbak Rara beli apa, mbak?" sapa si tukang sayur pada pelanggan yang setia menjadi langganannya.
"Biasalah Mang ujang." Rara mengambil satu ikat kangkung juga beberapa wortel dan kol.
"Oh iya pesan saya kemarin sudah ada Mang?"
Mang Ujang mengeluarkan plastik bening yang seperti sengaja telah disiapkan.
"Bakso dagingkan? Ini dia" Mang Ujang memberikan satu kantong kresek bakso pesanan Rara.
"Iya, Mang. Makasih ya," ucap Rara usai menerima pesanan yang ia pesan dengan Mang Ujang. "Ini semuanya berapa, Mang?"
"55 ribu, mbak Rara."
Wanita bernama Rara tersebut kemudian mengangsurkan uang pecahan dua puluh ribu ke pedagang langganannya. Namun, baru hendak mengeluarkan uang dari dompet yang dibawa Rara seorang pengendara dari samping tiba-tiba merampas dompet Rara. Sontak Rara terkaget dan spontan pula berteriak keras.
Azzam yang ingin membayar belanjaannya juga turut kaget melihat perempuan di sebelahnya berteriak keras.
"Kenapa, Bu?"
Rara tergagap sambil menunjuk ke arah jalan raya. "I-itu dompet saya di jambret! Tolongin Mas!"
Netra Azzam masih dapat melihat si pengendara yang dimaksud wanita di sebelahnya tadi. Sebelum semangkin jauh, dengan sekuat tenaga Azzam berusha menggejar si pelaku sampai keluar komplek dan menembus jalanan yang mulai menggeliat dengan kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang.
Azzam berhenti sejenak, napasnya sudah tersengal-sengal mengejar pelaku yang telah menghilang di antara pengendara roda empat. Ia begitu lihai mengalihkan perhatian dari kejaran dengan meliuh-liuh indah di antara kerumunan kendaraan.
Dengan rasa kecewa Azzam kembali berlari memasuki gang kompleks dengan tangan hampa, ia tidak berhasil membawa pulang dan menyelamatkan barang yang dirampas pria berhelm itu.
"Maaf, Bu. Saya tidak berhasil mengejar pelakunya," tuturnya dengan napas masih ngos-ngosan.
"Ya ampun." Rara cemas sambil mengigit ujung kukunya.
"Aduh! Sekali lagi maaf ya, Bu. "
Akhirnya hari ini dengan rasa kecewa, Rara harus mengikhlaskan dompet beserta uangnya di ambil si penjambret.
"Atau begini saja, Bu. Bagaimana kalau kita lihat CCTV yang di pasang di jalan kompleks ini!" usul Azzam yang diiyakan oleh Rara.
"Berarti kita ke rumahnya Pak Damar aja ya, karena dia RT kita di sini?"
"Iya. Kita ke rumahnya Pak Damar saja."
Azzam merapikan barang-barang yang dibelinya tadi baru kemudian membayarnya sebelum turut menemani Rara mengecek CCTV kasus penjambretan.
__ADS_1
Ia tentu tidak merelakan barang-barang berharganya seperti kartu pengenal, uang, ATM dan beberapa barang lainnya yang di simpan di dompet raib begitu saja. Setelah melihat hasil rekaman CCTV tentang wajah pelaku. Rara tentu akan memperkarakannya ke kantor polisi terdekat.
Keduanya kemudian beranjak dan pergi menuju rumah Bapak Damar.
Sesampai di sana tepat sekali, Pak Damar sedang memyiram tanaman depan rumahnya.
"Selamat pagi Pak Damar!"
"Lho Ra, ada apa pagi-pagi kemari?" tanya Pak Damar mendapati salah satu warganya menemui dia dengan wajah yang gusar. "Pak Azzam? Ada perlu apa juga ya, Pak?"
"Oh laki-laki ini namanya Azzam." Rara membatin. Kemudian matanya di arahkan pada belanjaan yang ditenteng Azzam. "Laki-laki seperti dia hobi juga belanja dapur ya." Rara mengerjap, tak seharusnya dia memikirkan dan memperdulikan hal itu yang seharusnya dipikirkan itu adalah nasib dompet beserta isinya.
"Pak begini saya habis kecopetan di depan tadi. Jadi, saya ingin tau wajah pelakunya supaya saya bisa cepat melaporkan pelaku ke kantor polisi"
"Kecopetan? Astagfitullah!"
Netra Pak Damar mengekor ke arah Azzam. "Pak Azzam juga bernasib sama?"
"Tidak Pak, saya hanya membantu ibu ini."
"Nama aku Rara," potong Rara.
"Iya, maksud saya, saya tadi hanya membantu ibu Rara ini untuk mengejar pelaku tapi saya tidak berhasil menjangkaunya karena pria itu menghilang dengan cepat menggunakan sepeda motor."
"Oh begitu, kalau demikian Pak Azzam dan Bu Rara mari ikut saya, jika cek hasil rekaman CCTV nya semoga wajah pelaku berhasil terekam."
Akhirnya sesuai dengan instruksi Pak Damar, mereka berdua diperkenankan untuk masuk dan mengecek hasil rekaman CCTV yang sengaja di pasang di jalan perumahan elite ini.
***
"Lho bang dari mana? Nisa cariin dari tadi nggak nemu-nemu"
Azzam meletakkan barang belanjaan yang baru di belinya tadi.
"Nisa sudah sehat?"
"Sudah mendingan kok," kataku sambil duduk di dekatnya.
"Abang belanja?"
"Menurutmu apa sayang?" Colek Azzam ke pipiku.
"Astagfirullah pagi-pagi udah main colek-colek aja!" kataku terkekeh.
Azzam beringsut berdiri dari duduknya dan membawa masuk ke dapur kantong kresek berisi ikan dan juga sayur mayur. "Tadi tetangga kompleks kita dijambret" ucap Azzam sambil mengeluarkan satu per satu sayuran itu.
Aku mendekat. "Kecopetan? Gimana ceritanya?"
Azzam mengendik bahu. "Tiba-tiba saja ada pengendara motor yang melintas dan langsung merampas dompet milik Bu Rara waktu hendak membayar belanjaan."
"Rara?"
Azzam menoleh. "Iya Rara kalau tidak salah namanya. Kenapa Nisa kenal?"
"Mbak Rara itu istrinya Ridho, laki-laki menyebalkan itu, bang!"
"Astagfirullah..." istigfar Azzam.
Aku menatap bingung. "Abang kenapa? Ridho juga buat masalah dengan abang?"
"Tidak." Azzam menggeleng pelan.
"Trus?"
"Tadi malam dia kemari" beritahunya.
"Ngapain dia malam-malam ke sini?"
Azzam merogoh kantong celananya dan mengeluarkan dompet berwarna cokelat. "Ini, dia menyerahkan KTP, Nisa."
Aku menggaruk keningku, lalu menatap Azzam. "Bang, bukan Nisa yang mau ngajak Nisa buat ikut dia mengganti barangnya yang katanya aku yang harus bertanggung jawab tapi dia trus maksa aku."
"Iya tidak apa-apa," balas Azzam datar.
"Abang, kalau abang marah karena Nisa keluar dengan dia Nisa minta maaf ya."
"Iya, tapi Nisa jangan terlalu percaya dengan orang, apalagi kalau ada orang yang mengajak Nisa pergi ke suatu tempat, apalagi kita orang baru di sini. Kita belum paham karakter, tabiat warga sini. Bukannya kita menaruh curiga hanya saja kita perlu waspada."
"Iya, bang. Nisa, ikut dengan Ridho kemarin karena Nisa kenal dengan Mbak Rara dan nampaknya mbak Rara, perempuan yang baik. Makannya Nisa percaya Ridho nggak bakal ngapa ngapain, dia cuman mau Nisa gantiin ponselnya."
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu." Azzam lanjut mencuci sayur mayur tadi sebelum di masukkan ke freezer.
"Abang nggak ngampus hari ini?"
"Nggak, abang izin hari ini untuk acara kita."
Sembari Azzam mencuci sayuran. Aku membuat roti panggang untuk sarapan pengganjal perut pagi ini.
"Oh iya, Umi tadi malam telepon katanya pagi ini akan datang, mau membantu masak-masak untuk acara nanti malam."
"Jam berapa umi kira-kira sampainya?"
"Insyaallah paling lambat jam 9."
Azzam telah menyelesaikan kegiatan mencuci tadi, ia kemudian berlalu meninggalkan dapur untuk duduk di depan televisi. Dari arah dapur sayup-sayup aku mendengar suara ceramah yang disiarkan di televisi. Memang itu rutinitasnya sembari sarapan atau kadang ketika menunggu fajar menyising Azzam memutar channel televisi yang menayangkan siraman rohani, atau acara-acara islami seperti ceramah atau dakwah.
"Ini, sarapan rotinya dulu." Aku membawakan beberapa potong roti juga susu untuknya.
"Makasih ya, sayang. Sini kita makan sama-sama." Azzam memeluk pinggangku erat, memaksa aku duduk di dekatnya.
"Ih, maksa ya!" Aku mencubit pipinya.
Azzam tertawa usai aku melakukan itu padanya.
"Oh iya uang belanjanya bagaimana? Sudah habis belum sayang?"
"Gimana mau habis. Orang yang beli keperluan kebanyakan abang semua. Ya duitnya masih ada lah sayang."
"Ya, tidak apa-apa buat ditabungkan bisa. Atau kalau Nisa mau pakai sedekah sebagian pun tidak masalah."
"Abang!"
Azzam hanya mendehem karena ia sedang mengunyah roti yang baru masuk ke mulutnya
"Nisa boleh tanya sesuatu?"
"Boleh silahkan"
"Abang kenapa sih kok nggak pernah minta Nisa melakukan sesuatu gitu. Atau misalkan minta Nisa buatin apa gitu? Kebanyakan abang yang ngelakuin kayak cuci piring, masak, nyapu, kadang Nisa baru mau belanja eh tau tau abang udah belanja duluan kayak ini nih"
Azzam tersenyum dan mencoleh hidungku.
"Begini sayang, abang mungkin masih terbawa kebiasaan sewaktu kuliah dulu, karena abang terbiasa hidup mandiri dan melakukannya sendiri dan itu abang tekuni selama lebih dari dua tahun di sana. Tapi selama abang masih sempat dan bisa melakukan itu ya abang kerjakan. Abang tidak mau merepotkan Nisa"
"Tapi kan Nisa mau dapet pahala seperti yang pernah abang ajarin waktu Nisa sekolah dulu."
"Iya sayang, abang paham. Abang tahu Nisa juga lelah mengurus rumah, menyapu, ngepel, nyertika baju, beresin rumah. Meskipun ringan itu juga melelahkan, abang tahu. Kalau misalkan abang meminta Nisa untuk mengerjakan atau melakukan ini dan itu, abang tidak mau karena Nisa sudah cepe dan lelah akhirnya Nisa menggerutu dan melakukan itu dengan terpaksa. Pada akhirnya apa? Bukan pahala yang Nisa terima dari melayani suami tapi malah dosa, akibat tidak ikhlas tadi."
Aku benar-benar terharu mendengar jawaban Azzam.
"Bang jujur ya uang bulan kemarin yang abang kasih itu masih ada setengahnya. Setiap bulan abang ngasih nafkah ke Nisa tapi seperti yang Nisa bilang tadi kebanyakan abang yang nyerobot duluan buat beli bahan pokok. Jadi, kalau gitu biar abang aja yang pegang semuanya. Nisa nontonin aja. Atau sskalian nggak usah kasih duit belanja."
Azzam tertawa pelan mendengar kalimatku barusan. "Sayang, memenuhi kebutuhan Nisa itu kewajiban abang. Soal uang itu, itu hak Nisa. Seperti yang juga abang bilang tadi terserah Nisa mau gunakan untuk apa. Untuk belanja baju, makanan, make up, sedekah itu adalah hak Nisa. Semua yang abang miliki adalah hak Nisa, sementara milik Nisa dan yang Nisa dari hasil bekerja misalnya, itu hak Nisa seutuhnya, abang nggak boleh ikut campur."
Lagi-lagi aku dibuat tersanjung.
"Ya Allah Bang Nisa nggak nyangka abang bisa berpikir demikian untuk Nisa," sanjungku.
"Bang juga masih banyak belajar. Belajar bagaimana menjadi suami yang baik, meneladani apa yang dicontohkan Rasulullah meskipun kita tidak bisa melakukan sepenuhnya seperti yang pernah Rasulullah lakukan tetapi kita bisa belajar dengan meneladaninya."
"Iya. Nisa boleh tanya lagi?"
"Apa?"
"Terbuat dari apa sih hati suami Nisa ini? Kok bisa sabar banget ngadepin Nisa selama ini?"
"Hmm, terbuat dari adonan tepung yang diberi mentega dan berlipat-lipat cokelat manis."
Aku melipat kedua tanganku dan memanyunkan bibir. "Nisa mah serius!"
"Qalbu ini diciptakan untuk menyimpan cinta sang bidadari dari surga."
"Wleekk lebay"
"Tidak lebay sayang, jangan marah ya"
"Duh abang Nisa mana bisa marah sih. Abang terlalu menggemaskan untuk dimarahin. Nisa jadi kepingin nyatain cinta tapi rasanya udah telat," candaku menggoda Azzam.
Kami berdua tertawa bersamaan, cicak-cicak di dinding yang semula turut bergerayangan melihat kita berdua pagi-pagi telah dipenuhi tawa senang.
__ADS_1
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
ketika ketidak mood-tan menyatu dengan kesibukan dan kemalasan, alhasil malas up 😅😪 maafkan author, readers😅😂... ini baru sempat bukak apk NT lagi huhu