Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 68. Menunaikan Kewajiban


__ADS_3

Seperti sedang menahan napas, semata karena keindahan gemintang. Bagaimana langit malam sedang indah-indahnya. Bintang-bintang itu sangat cantik, berkelip manja, seolah menggoda pada penghuni bumi yang sedang menyanjungnya. Rembulan tiada dapat juga bersembunyi dari gegapnya malam.


Sangat agung dan tak dapat terkatakan sungguh Allah swt ahli estetika terhebat karena menciptakan segenap alam semesta yang sungguh luar biasa ini. Selama ribuan tahun manusia terpesona oleh bintang-bintang dan benda-benda langit. Di luar sana, kita dapat memahami apa sesungguhnya arti kehidupan dan menemukan sedikit lebih banyak makna untuk dibawa ke dalam dunia ini.


Aku menatap bingung ketika sebuah benda jatuh tepat mengenai pelipisku. Aku menatap dalam diam, sebuah kertas origami berwarna merah hati yang dibentuk seperti pesawat terbang. Pelan tanganku menggapainya.


Siapa lagi yang main pesawat kertas malam-malam begini? gumamku sediri di beranda rumah.


Aku mengangkat tangan ke udara. Ingin menerbangkan kembali pesawat itu. Tapi baru hendak aku melambungkannya. Netra mataku berhasil menangkap sebuah barisan kata yang tertanda di baling-baling pesawat.


Ikuti tanda yang ada di belakangmu...


Aku menoleh ke belakang. Ternyata di belakangku duduk saat ini ada sebuah kertas lipat yang dibuat pesawat lagi. Tanganku mulai memungutnya satu persatu. Ini seperti sebuah tanda yang sengaja di buat dan di susun untuk mengiringku ke suatu tempat, yang mengarah ke dalam rumah. Hingga akhirnya aku tiba di depan pintu kamar utama. Karena di situ pesawat kertas itu berakhir.


Krieekk...


Pelan dan perlahan aku menutar kenop pintu kamar. Pemandangan di dalam sukses membuat mataku terbelalak sempurna. Mataku menyapu seluruh ruangan di dalam kamar. Tidak ada siapa-siapa. Namun, kamar ini lebih mirip dengan kamar pengantin. Nuansanya sangat berbeda.


Kamar yang biasanya aku gunakan untuk tidur berdua dengan Azzam, sekarang tampak berubah. Kamar ini dihiasi lilin-lilin indah, di atas tempat tidur dengan sprei berwarna putih sudah diberi mawar merah yang harum. Cahaya kamar yang tamaram menambah keromantisan kamar itu.


"Siapa yang mempersiapkan ini semua?" gumamaku sendiri, sambil berpikir sejenak. "Apa iya abang Azzam? Kalau memang iya. Romantis sekali suamiku." Mataku lagi-lagi berpendar mencari seseorang. Aku sedang mencari Azzam, kemana dia?


Tiba-tiba sebuah tangan melingkar sempurna di pinggangku. Aku bisa mengenalnya dari bau parfum yang aku hirup dalam-dalam. Dengan cepat aku menolehkan kepalaku.


"Abang?" kataku kaget.


Kami masih berada di posisi semula, belum bergerak. Azzam memeluk tubuhku dengan erat kemudian meletakkan dagunya di pundakku.


"Sayang?" lirih Azzam.


Dengan manis aku mengarahkan tangan mungilku mengusap manja wajahnya yang putih bersih.


"Iya"


"Istri abang cantik dan wangi sekali malam ini," godanya.


Aku tersenyum kikuk mendengar pujiannya.


"Abang pun nampak sangat gagah dan sangat tampan malam ini," balasku balik melempar pujian.


Azzam masih bergelayut manja di pundakku.


"Sayang?" panggilnya lagi.


"Hmm... "


"Kita melakukan ibadah malam ini?"


Ibadah? Sekarang pukul 10 malam. Sholat isya, sholat magrib pun sudah kami lakukan berdua tadi. Sholat tahajud? ah mana mungkin! Apa ibadah sholat sunnah yang lain?


"Ibadah sholat ya maksud abang? Tapi kita tadi bukannya sudah menjalankan sholat magrib dan isya, apa sayang mau mengajak Nisa untuk ibadah sholat sunnah lainnya?" tanyaku mengernyit bingung.


Azzam tegelak pelan. "Bukan itu sayang."

__ADS_1


"Terus apa?"


Azzam berujar dengan lirih. "Ibadah yang biasa dilakukan oleh sepasang suami istri."


Deg...


Azzam meminta itu malam ini?


"Jadi kita akan melakukan malam ini, sayang?" tanyaku.


Azzam mengiyakan apa yang menjadi pertanyaanku.


Sebagai seorang istri tidak ada alasan untuk menolak keinginan suamiku. Dan bukannya itu juga kewajiban bagi istri dan suami berhak untuk menagihnya.


Ketika pasangan pria dan wanita telah sah secara agama menjadi pasangan suami istri maka melakukan Jima atau bercinta bukan lagi haram dilakukan, tapi berubah menjadi ibadah yang diganjarkan pahala besar jika dilakukan.


Jima diartikan hubungan intim pasangan suami istri merupakan salah satu kebutuhan biologis. Jika istri tidak memenuhi keinginan suami dengan segera, maka siksa di akhirat sangatlah pedih untuknya.


Rasulullah SAW bersabda: “Bilamana seorang suami mengajak istrinya (untuk berhubungan seksual), maka penuhilah dengan segera sekalipun istri sedang sibuk di dapur!” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban).


Ibnu Qayyim al Jauziy menjelaskan dalam kitabnya Zadul Ma'ad fi Hadyi Khairil Ibad. Menurut Ibnu Qayyim, petunjuk Rasulullah SAW dalam masalah jimak adalah yang paling sempurna. Dapat memelihara kesehatan, menyempurnakan kenikmatan, menyenangkan perasaan, dan mencapai tujuan.


Menurut Ibnu Qayyim, tujuan pokok jimak ada tiga perkara. Pertama, memelihara dan melestarikan keturunan hingga mencapai jumlah yang ditentukan Allah untuk tampil ke muka bumi. Kedua, mengeluarkan air yang apabila ditahan akan dapat menimbulkan mudharat pada tubuh. Ketiga, menyalurkan nafsu seksual, memperoleh kenikmatan, dan bersenang-senang merasakan nikmat. Ini juga yang kelak diperoleh di surga.


Hal yang tak kalah penting, kata Ibnu Qayyim, jimak mampu menjaga pandangan, menahan nafsu, dan dapat mengendalikan diri dari perbuatan haram (zina). Manfaat ini juga yang diperoleh di dunia dan akhirat bagi suami dan istri. Maka, Nabi SAW bersabda, "Di antara urusan dunia yang aku dijadikan senang kepadanya ialah wanita dan wangi-wangian.


Selain istri, suami pun memiliki kewajiban yaitu menggauli istrinya dengan cara yang baik, dengan penuh kasih sayang tanpa kasar dan dzalim (surah An-Nisa ayat 19). Suami juga wajib memberi bimbingan agama kepada istrinya dan rasulnya. (Al-Ahzab:34, At-Tahrim:6)


Tanpa menunggu lama, Azzam langsung menggendong tubuhku. Aku tersenyum sambil melingkarkan tanganku ke bagian leher Azzam karena takut jatuh. Azzam meletakkan tubuhku di atas ranjang dengan pelan.


Aku menyingkirkan sedikit kelopak bunga mawar yang ditaburi di atas tempat tidur.


"Lho kenapa kelopak mawarnya di singkirkan, sayang?"


"Nisa, nggak suka, terlalu ramai sih."


"Tapi abang suka. Kan romantis sayang."


"Hmm... Yaudah. Nisa pungutin lagi." Baru aku hendak beringsut turun dari ranjang Azzam menarik tanganku untuk tetap berada di posisiku kembali.


"Tidak perlu sayang, hadirnya Nisa di sini sudah membuat suasana kamar jadi romantis." Azzam tersenyum sambil mengerlingkan matanya.


Azzam beringsut membaringkan tubuhnya di sampingku. Ia menempatkan wajahnya di atas kepalaku. Jarak wajah kami sangat dekat. Aku bisa merasakan hangatnya napas Azzam. Dan saat ini aku sendiri bisa melihat dengan sebegitu dekat wajah damai dari laki-laki yang aku cintai saat ini.


"Aku mencintaimu," ucap Azzam lirih. Tangannya membelai wajahku dengan lembut. Kalimatnya barusan semangkin membuat aku membeku seketika.


Tanganku juga balik membelai wajah Azzam dengan penuh kehangatan. "Nisa juga. Terima kasih, sayang. Sekarang Nisa merasa sebagai wanita yang paling beruntung bisa memilikimu."


"Abang pun, tak kala merasa beruntung selalu bisa berada dekat dengan wanita yang paling abang cintai setelah umi," kata Azzam seraya menyelipkan anak rambut ke telingaku.


Kami menatap, senyum satu sama lain. Dan ketika dua pasang mata saling bertemu, meresapi keinginan jiwa masing-masing, menikmati malam indah berdua sebagai pasangan suami istri.


Sekarang tangan Azzam mulai merambat menelusuri wajahku dengan gerakan lembut. Membelai lamban bagian atas kepalaku. Entah mengapa rasanya jantungku lebih bekerja ekstra saat ini. Merasa aliran darah sedang menguncur deras mengaliri setiap urat-urat nadi. Perasaan semangkin berdebar tak karuan... Dag... Dig... Dug.

__ADS_1


Aku bisa mendengar Azzam dengan lirih mengajaku untuk melafadzkan doa sebelum memulai jima' aku mengikut melafdzkan dengan lirih.


Bismillahil ‘aliyyil ‘azhim. Allahummaj‘alhu dzurriyyatan thayyibah in qaddarta an takhruja min shulbi. Allahumma jannibnis syaithana wa jannibis syaithana ma razaqtani.


Artinya, “Dengan nama Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Tuhanku, jadikanlah ia keturunan yang baik bila Kau takdirkan ia keluar dari tulang punggungku. Tuhanku, jauhkan aku dari setan, dan jauhkan setan dari benih janin yang Kauanugerahkan padaku."


Satu per satu kancing baju Azzam dibuka. "Sayang, sudah siap?" tanya Azzam berbisik.


Aku diam sebentar, lalu setelahnya mengangguk dan tersenyum. Sebelumnya, aku mencoba menghela napas panjang, mentralisir kegugupan malam ini. Aku sedikit merasa takut.


Pelan Azzam mencium keningku, lalu mengusap bagian kening yang ia kecup tadi. Azzam agaknya menyadari kegugupanku saat ini.


"Sayang, rileks saja, mukanya jangan menegang begitu," goda Azzam. "Abang akan melakukannya dengan perlahan."


Seketika mukaku memerah, rasanya darah menyerbu ke wajahku. 'Aishh, bagimana aku tidak gugup ini kali pertama aku melakukannya' batinku.


Aku memaksa mengukir senyum ditengah ketegangan yang aku rasakan. "Iya sayang, Nisa hanya gugup. Gugup menyaksikan ternyata abang sangat bergairah malam ini," tuturku sambil mengelus dada Azzam.


Azzam menindih tubuhku kemudian memberi kecupan sayangnya dengan mesra. Kami saling mengeja perasaan satu sama lain. Menikmati momen ini.


Cup...


Sebuah sentuhan hangat mendarat ke bibirku dengan lembut bahkan begitu lembut, untuk kedua kalinya. Aku hanya bisa pasrah, tidak bisa berkata apa-apa lagi, dan dapat pula aku membalas mesra kecupan itu dibibirnya. Pelan dan perlahan belaian mulai menjalar ke bagian-bagian tubuh yang sensitif lainnya. Aku menikmati setiap sentuhan yang diberikannya.


"Sayang, semoga kita kelak di kita di anugrahi anak yang sholeh dan sholehah, yang senantiasa mengajak orang-orang di sekitar pada kebaikan." Harap Azzam.


"Amiin. Anak yang mirip dengan ayahnya. Yang mengajarkan tentang kesabaran dan kebaikan yang luar biasa," tambahku.


"Ayah? Ah alangkah bahagianya abang, sayang jika malaikat kecil itu hadir," tutur Azzam tersenyum membayangkannya.


"Sayang, sekali lagi terima kasih. Selalu setia padaku dan selalu mencintai dengan setulus hati."


Azzam mengangguk dan tersenyum, lalu merengkuh tubuhku dengan erat, ia telah menyerahkan dan curahkan segala pembuktian cintanya malam ini.


Bismillah. Alhamdulillahilladzi khala minal ma’i basyara, faja‘lahu nasaban wa shahra, wa kana rabbuka qadira.


Artinya, “Dengan nama Allah, segala puji bagi-Nya yang telah menciptakan manusia dari air, lalu menjadikannya sebagai keturunan dan kekerabatan. Tuhanmu maha kuasa."


Akhirnya, kami mengakhirnya malam ini. Aku beringsut bangun, ingin ke kamar mandi, membersihkan diri. Satu tetes air mata meluruh ke pelipisku. Mataku terpejam rapat, sambil memegangi pinggangku.


"Kenapa, sayang?" Azzam memegangi lenganku, kemudian melingkarkan pergelangan tanganku dipundaknya. "Masih sakit?"


Aku menggeleng pelan. "Nggak papa," Aku tersenyum setelahnya.


"Ya sudah, biar abang yang membersihkan tempat tidur, untuk kita tidur malam ini."


Aku mengiyakannya, kemudian berlalu menuju kamar mandi. Di sisi lain, Azzam sibuk membereskan dan membersikan kelopak bunga yang berserakan di lantai. Kemudian dilanjutkan dengan mengganti sprei tempat tidur.


❤❤❤❤❤❤❤❤❤


Alhamdulillah masih sempat up, meskipun malam-malam, karena sudah new normal, jadi author sudah kembali untuk bekerja. Yaaah... untuk masih sempat untung melanjutkan cerita ini hhehe... semoga bisa sampek selesai ya 😊😁


Maaf kalau nggak bisa up banyak-banyak ya kakak-kakak sekalian. Tapi, diriku senang kalian masih stay di sini.💕

__ADS_1


Dan maaf kalau ceritanya sedikit vulgar... 🙏


Jangan lupa tinggalin vote dan like ya, biar tetap semangat menyelesaikan setiap episodenya. 💪


__ADS_2