
"Tadi ada tamu ya?" tanya Azzam yang baru keluar dari kamar. Ketika aku masih tengah membuatkan minuman jahe hangat untuknya, usai ia berendam dalam kolam ikan tadi.
"Iya, Mbak Rara tadi kesini," sahutku seraya mengaduk minuman. Lalu membawakan untuknya.
Layar televisi yang semula hitam saat ini memantulkan bayangan warna. Kami berdua duduk di sofa mengahadap televisi yang tengah menyala.
"Bang, tadi Rara banyak bercerita ke Nisa. Nisa, yang mendengarkan ceritanya jadi turut sedih dan prihatin sama Mbak Rara."
"Memangnya dia bercerita apa?"
"Mbak Rara bilang, dia diminta untuk memilih di antara dua pilihan yang berat, yaitu diceraikan oleh Ridho atau dia menjadi madunya Ridho."
Azzam yang mendengarnya hampir saja tersedak oleh minuman yang diteguknya tadi.
Ia lalu meraih tissue di sebelah meja dan mengusap bibirnya yang basah.
"Astagfirullahaladzim, apa yang ada dipikiran Ridho sampai dia memberikan pilihan yang jelas-jelas membuat hati istrinya sakit."
"Iya Bang, Nisa juga tak habis pikir. Tentu pilihan yang diberikan Ridho untuk Rara adalah pilihan yang sama sekali tak diinginkannya. Tapi, ada yang lebih mirisnya lagi. Tenyata yang Rara tahu bahwa mertuanya hingga saat ini hanya pura-pura saja menyukai Rara. Dari dulu keluarga Ridho tidak pernah menyukai Rara, Bang. Apa lagi saat ini Mbak Rara belum mampu memberikan keturunan pada keluarga mereka semangkin membuat Rara merasa tersisihkan."
Azzam membuang napasnya, dan menyandarkan punggung pada sandaran sofa sambil berujar, "Selalu seperti ini, alasan bermadu dihadirkan dalam lingkungan keluarga hanya berkutat pada masalah keturunan." Azzam memberi jeda. "Ketidakhadiran buah hati di tengah-tengah keluarga bisa jadi Allah hanya ingin menguji kesabaran dua pasangan itu dalam menanti buah cinta itu, dan bisa saja Allah sangat ingin mereka lebih dekat lagi kepadaNya. Bercerita melalui do'a-do'a dalam sholatnya. Allah sangat senang pada orang-orang selalu berdoa dan meminta padaNya, tentang apapun itu."
"Sayang" sambil mengusap punggung tangannya. "Nisa sadar, Nisa merasa sangat beruntung. Hadir di antara keluarga yang sangat peduli, saling menyanyangi satu sama lain. Terlebih lagi Nisa memiliki suami yang selalu setia membimbing Nisa dengan sabar untuk menjalan perintah-perintaNya. Terima kasih ya sayang," ucapku yang diakhiri dengan kecupan di tangannya.
Aku merasa pula Azzam membalasnya dengan mengusap lembut kepalaku, dan menciumnya.
Kami berdua larut dalam obrolan mengenai rumah tangga dan kadang Azzam pula sesekali menyampaikan kisah-kisah hikmah dan menyelipkan amanat didalam kisah yang disampaikannya.
***
Mendapatkan istri yang ideal mungkin adalah impian para lelaki. Begitupun dengan wanita, siapa yang tidak ingin memiliki suami saleh dan sesuai kriteria yang didambakan.
Namun, kita tahu bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Kita hanya bisa mengusahakan supaya dapat menjalankan peran masing-masing semaksimal mungkin dan sesuai dengan apa yang diridhai Allah swt.
Rara sudah semalam tak menemani Ridho di rumah. Ia memilih dulu menepi dan menenangkan dirinya di rumah kakaknya. Yang juga tidak jauh dari rumah mereka.
Menemani Fatih bermain di taman mungkin akan membuat Rara sedikit melupakan kesedihannya, tapi nampaknya tak demkian.
Fatih sangat atraktif hingga membuat ibunya kewalahan. Di ujung kursi kakak Rara itu mendapati adiknya tengah melamun. Ibu Fatih ini paham akan masalah yang menimpa adiknya.
"Fatih" panggil Ibunya. "Fatih main ayunan di sini aja dulu ya, jangan main jauh-jauh. Ibu mau ke sana sebentar." ujung jari telunjuknya di arahkan pada Rara.
"Iya Bu," sahut bocah laki-laki yang tengah asyik menggoyang ayunannya dengan bersemangat.
Sebuah tepukan mendapat tepat di pundak Rara yang cukup membuat Rara menghentikan aksi bermain dengan lamunan yang diciptakannya.
"Dek, kamu jangan begini terus. Kamu harus kuat, kakak yakin kamu kuat, dan percayalah cinta dan rumah tangga kalian hanya sedang diuji."
"Kak, aku sudah berusaha kuat dan terus berjuang. Tapi sepertinya keadaan memang tidak berpihak pada kami. Mungkin ini saatnya aku melepas semuanya," ucap Rara dengan perasaan hancur. "Bagaimana pula aku mempertahankan ini semua, sementara jika aku lihat Ridho tidak pula ada keinginan untuk mempertahankan ini semua, kalau aku lihat Ridho sekarang berubah kak, tidak seperti dulu. Dia tidak membelaku seperti dulu ketika ibunya trus merendahkan aku di depannya."
"Itu perasaanmu saja, Dek," duga Ibu Fatih.
"Tidak kak. Memang demikian adanya dari apa yang aku rasakan saat ini. Dan perubahan itu benar adanya." Teguh Rara.
Saudara kandung Rara, tak mampu berbuat apa-apa. Dari dalam hati yang paling dalam melihat nasib adiknya yang hancur ia juga demikian, karena dirinya juga seorang wanita, apalagi mereka memiliki hubungan sedarah. Jadi, perasaan dan ikatan batin adik-kakak itu musti sama pula pada apa yang dirasakan Rara.
__ADS_1
Ia berusaha menabahkan adiknya. "Jadi, apa keputusanmu, dek?"
"Mungkin aku akan melepaskan Ridho kak, mungkin jalinan rumah tangga kami hanya bisa sampai di tahun ke empat ini. Dan keputusanku ini akan aku sampaikan nanti dihadapan Ridho dan mertuaku kelak usai aku pulang dari mengisi penyuluhan di sekolah setingkat SMA tepatnya di ponpes Mambaul Ulum."
Pelukan penuh kasih sayang kakak langsung direkatkan pada tubuh Rara. Ia merengkuh tubuh Rara, yang memang raganya utuh tapi tidak dengan hati yang remuk. Tidak dipungkiri hati Rara setiap malam menangis memikirkan nasib muram dirinya.
***
Dengan gerak cepat aku meraih ponselku dan tas selempang kecil di atas nakas. Aku sangat takut Rara kenapa-kenapa. Aku selalu tak habis pikir dengan tingkah laku Ridho kenapa dia bisa berlaku kasar begitu istrinya sendiri.
"Umi" panggilku ketika melihat umi tengah menyiram tanaman di teras depan.
"Umi, Nisa keluar sebentar ya?"
"Mau kemana, Nak?" tanya umi melihatku terburu-buru.
Aku mulai menunggangi motor tanpa mengenakan helm, karena aku pikir rumah Rara masih dekat.
"Nisa, mau ke rumah Rara, umi. Bilang sama Azzam ya. Nisa ke rumah Mbak Rara sebentar."
"Kenapa seperti buru-buru begitu?" tanya umi lagi nampaknya sangat ingin tahu ada gerangan apa hingga aku terlihat begitu panik.
"Ada sesuatu, Umi," jawabku singkat. "Nisa, on the way umi. Assalamualaikum," kataku saat mesin telah menderu.
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati, Nak. Jangan ngebut-ngebut kamu sedang hamil lho," pekik Umi. Yang samar-samar suaranya memudar ketika motor mulai melaju pelan.
Dengan memutar gas motor dalam-dalam aku melaju ke rumah Rara yang berada di Blok B beda satu blok dengan rumah kami.
Tak butuh waktu lama. Aku tiba di pelataran rumah Rara dan Ridho.
"Assalamualaikum, Mbak Rara" panggilku.
Sudah berkali-kali aku memanggil nama yang sama namun tak ada sahutan dari dalam. Aku coba mengintip dari jendela. Sepi. Seperti tak ada orang. Tapi, Rara bilang ada di rumah.
Karena takut terjadi apa-apa aku langsung mendorong pintu rumah Rara dan beruntungnya tidak di kunci. Mataku memendar melihat keadaan sekitar.
"Mbak, mbak Rara!" teriakku hingga berkali-kali. Tapi tetap tak ada jawaban.
Setelah mengecek bagian bawah aku tak menemui Mbak Rara. Akhirnya aku mencoba naik ke lantai atas. Dengan hati-hati aku menaiki anak tangga. Memahami kondisiku pula yang tengah mengandung.
"Kamar Mbak Rara dimana ya?" gumamku sendiri, ketika telah tiba di balkon atas.
"Apa ini kamar Mbak Rara?
Dengan keteguhan hati, aku mutar kenop pintu kamar bercat cokelat dihadapanku.
KRIEKK
Pintu terbuka. Suara engsel pintu berderit saat pertama klai dibuka.
Masuk ke dalam kamar yang dihiasi bunga-bunga, seketika jantungku berdetak cepat. Tubuhku pun bergetar. Batinku terus bertanya-tanya tentang apa yang aku lihat saat ini.
"Mbak, mbak Rara. Apa mbak ada di sini." Aku masuk lebih dalam lagi ke dalam kamar, mengecek keadaan sekitar siapa tahu ada Mbak Rara di kamar ini. Tapi tidak ada tanda-tandanya. Aku mengucek hidungku, kamar ini begitu wangi terlebih dihiasi bunga-bunga mawar. Aku menoleh pada lemari hias di sebelah kananku.
Terkejut dan terperangah itu ekspresiku saat ini saat melihat cermin lemari hias itu bertuliskan sebuah kalimat. Mataku mengekor membaca setiap kata.
__ADS_1
"Dhanisa, akumencintaimu, Sayang." Bunyi kalimat yang ditulis di cermin, yang aku tahu itu ditulis dengan menggunakan lipstik merah muda. Tanganku gemetar ketika medapati fotoku ada pula tertempel di sana.
"Inikan foto yang hilang itu. Berarti dugaanku selama ini benar. Ridho yang melakukan ini semua padaku. Astagfirullahal'adzim." Aku menyentuh dadaku.
Saat ini, aku mulai curiga, apa ini jebakan yang dibuat Ridho untukku. "Ya Allah lindungilah Hamba dari perbuatan orang jahat," doaku.
Aku benar-benar takut. Perlahan aku memundurkan langkah kakiku mundur ke belakang. Dengan cepat aku berbalik badan hendak keluar kamar besar ini.
Namun, tiba-tiba sosok laki-laki berdiri depan ambang pintu sambil merentakkan tangannya.
"Selamat datang sayangku, akhirnya kamu datang memenuhi panggilanku," Pria itu tergelak jahat.
"Ri...Ridho!" kagetku. "Ka-kamu? Kamu mau apa? Mana Mbak Rara?" tanyaku dengan suara bergetar menahan takut.
Ridho tersenyum menang memamerkan gigi putihnya.
"Iya ini aku Ridho. Sayang, aku sudah lama menanti kehadiranmu di rumahku ini. Selamat datang di istana kita."
"Ka-kamu jangan main-main Ridho. Aku tanya mana Mbak Rara? Aku sudah apakan Mbak Rara? Mana dia, kalau kamu berani melukainya aku akan melaporkan kamu ke kantor polisi atas kasus KDRT!" gertakku meski aku dikurung ketakutan merihat Ridho semangkin bergelagat aneh.
Ridho malah tertawa keras. "Haha laporkan saja. Aku tidak melakukan apa-apa dengan wanita itu. Dia tidak ada di rumah ini, dia pergi sejak semalam ke rumah kakaknya. Dan sekarang hanya kita berdua di rumah ini"
"Jadi, siapa yang mengirim pesan ini... Ya Allah ini pasti semua ulah Ridho. Kenapa aku tidak sadar sejak tadi." Batinku.
"Apa yang kamu pikirkan, Dhanisa Hem?"
"Apa kamu yang mencuri fotoku ini dan kamu juga yang mengirim pesan teror itu"
Ridho menyeringai. "Ya, aku yang melakukan semuanya. SE.. MU...A...NYA. Foto itu sempat lenyap dari tanganku. Tapi aku berhasil mencurinya kembali dari Rara dengan diam-diam."
"Mbak Rara, jadi Mbak Rara tau kamu menyimpan foto ini?"
"Tentu dia tahu buktinya aku menemukan fotomu di dalam tasnya. Awalnya aku takut kalau dia marah atau curiga. Tapi nyatanya dia belum mengatakan apapun tentang foto ini."
Aku mengigit bibirku. "Ya Allah, aku berpikir pasti pikiran mbak Rara begitu kalut. Dia pasti bertanya-tanya kenapa fotoku ada di rumahnya. Tapi, mbak Rara juga tidak menanyakan itu padaku. Apa mbak Rara memendam segala pertanyaan itu di pikirannya. Semoga Mbak Rara tak salah paham dan marah padaku. Tapi, kalau pun ddmikian seharusnya dia tidak ingin bertemu denganku lagi. Tapi kemarin dia datang dan curhat padaku. Berarti mbak Rara tidak menaruh perasaan marah padaku," dugaku demikian.
Aku menatap Ridho tajam. "Mau kamu apa, Ridho!? Kamu sadar tidak sikapku demikian itu sudah melukai Rara. Bahkan kamu hampir saja merusak kepercayaan suamiku padaku, Ridho!" bentakku.
"Mauku? Mauku saat ini hanya memiliki Dhanisa!" sergap Ridho cepat.
Aku membalasnya dengan tawaan yang mengejek. "Sampai saat ini berhenti untuk mengejarku! Kamu tidak punya malu atau memang urat malumu sudah putus! Aku sudah punya suami dan kau sudah punya Rara, dia itu istrimu!" ucapku dengan menatapnya tajam.
Ridho menarik sudut bibirnya, membentuk senyum bibir. "Segala kemungkinan akan terjadi!"
"Dasar GILA!" teriakku lantang.
"Hahahhaah... Iya sayang aku memang gila. Gila karenamu."
Melihat Ridho semangkin menunjukkan reaksi tak wajar seperti orang mabuk. Aku langsung berlari ke luar kamar. Naas Ridho berhasil menangkap tubuhku, dan mencekal kedua lenganku.
"Lepaskan!" teriakku.
****
BERSAMBUNG....
__ADS_1