
Aku terdiam sambil memainkan ujung kuku di atas pangkuan. Ujung kuku ibu jariku beradu dengan ujung jari telunjuk. Jika didengar dengan saksama akan ada suara gesekan yang terdengar.
"Apa sebenarnya yang kamu cari Nisa? Apa mau kamu? Kelakuan kamu itu sudah buat kita malu!" Ibu berbicara dengan emosi yang meluap-luap.
Ayah menarik napas dalam-dalam. "Ibu sudahlah. Emosi itu kerjaannya syaitan. Sekarang ibu duduk, tenangkan diri. Dengan emosi semua tidak akan selesai." Ayah semangkin risau dan pusing melihat ibu yang selalu marah-marah daritadi.
"Ayah, siapa yang tidak marah jika anaknya berbuat kesalahan besar. Bahkan dosa besar sudah diperbuat pada suaminya sendiri!" ujar ibu setelahnya duduk lagi di kursi sofa berhadapan dengan aku. Sorot matanya menatap tajam.
Aku diam tertunduk dalam-dalam, mataku terus menatap lantai.
"Nisa, sini, Nak." Ayah menepuk kursi di sebelahnya, menyuruhku supaya duduk di di dekatnya.
Aku menurut dan melangkah, kemudian duduk tepat di samping ayah. Satu yang aku salut dari ayah di saat seperti ini ayah masih bisa bertutur dengan lembut tidak seperti ibu yang terus ngegas dan naik darah.
"Apa karena keterpaksaan itu Nisa melakukan nya?"
Aku diam, masih belum menyahuti pertanyaan ayah.
"Bukan Yah, karena cinta," celetuk ibu tiba-tiba membuat aku semangkin merasa bersalah.
"Ibu!" Ayah melempar tatapan melotot, membuat ibu menghentikan cibirannya.
"Nak, Nisa itu sudah besar. Sudah 18 tahun. Nisa mestilah tau nak, mana yang baik dilakukan dan mana yang buruk. Yang baik itu maka kerjakan dan yang buruk jangan dilakukan," nasehat ayah.
Wajah Ibu semangkin kesal. Ia menghela berat. "Ayah itu terlalu lembut dengan dia! Lihat itu hasil didikan ayah. Dia tumbuh menjadi anak yang bebal dan manja."
Ayah memicingkan mata ke ibu. Memberi kode supaya biarkan dirinya dulu yang berbicara dengan anaknya. Menghadapi sesuatu memang perlu dengan kepala dingin. Supaya keputusan yang diambil pun tidak salah.
Ayah menarik napas dalam.
"Kalau Nisa tau, sebenarnya cinta itu hanya bumbu pelengkap. Yang paling utama dalam sebuah pernikahan adalah niat. Pernikahan yang diniatkan untuk mengikuti sunnah rasullullah dan hanya mengharapkan ridho dari allah saja. Pernikahan itu ibadah yang paling lama yang harus kita jalani, Nak. Maka kita harus menikah dengan orang yang tepat. Orang yang bisa diajak bekerjasama untuk meraih surga"
Mata ibu mengekor ke arah jam dinding. "Ayah tidak usah bertele-tele seperti itu, mau bagaimana pun kita nasehati dia, nanti dia akan ulangi lagi." Ibu bersuara. Ibu geram sekali melihat suaminya yang tidak langsung saja to the point berbicara tentang apa yang akan mereka sepakati sebelum pulang ke Indonesia.
Aku menatap wajah ayah dan ibu bergantian.
"Ayah, Nisa mengaku sudah berdosa dan salah besar. Nisa janji akan menembus kesalahan itu, dan akan berusaha menjadi istri yang baik untuk suami Nisa." Aku merasa mataku mulai berembun.
Ayah mengusap pucuk kepalaku. "Bagus kalau Nisa memang mau melakukan itu."
Ibu Hamidah menatap wajah suaminya, kemudian merujar dengan mantap. "Nisa, ayah dan ibu sudah putuskan, akan menyampaikan semua ini dengan keluarga Hamzah dan memohon maaf sebesar-besarnya."
Aku terkesiap. "Ma... Maksud Ibu, Ibu mau cerita semuanya ke Azzam dan keluarganya tentang apa yang Nisa lakukan," kataku tidak percaya.
"Iya. Ibu akan sampaikan tentang hubungan Nisa dengan Fey." Ibu menelan salivanya, kemudian lanjut berujar, "Sekaligus kita akan membawa Nisa tinggal kembali dengan ayah dan Ibu di Singapura."
Aku syok mendengar penuturan ibu.
"Ibu, Nisa udah nggak ada hubungan apa-apa dengan Fey." kataku jujur, dengan mata mulai berembun. "Nisa nggak mau ke Singapura! Nisa maunya di sini"
"Ibu nggak peduli kamu masih ada hubungan atau tidak dengan Fey. Yang kami ingin saat ini adalah kamu jujur dengan suamimu. Dalam hubungan rumah tangga tidak ada kebohongan yang disembunyikan!"
"Sudah habis waktu hanya untuk berdebat. Sekarang bersiap-siaplah! Kita akan berangkat sekarang," imbuh ibu.
Aku kira sifat otoriter ibu mulai hilang, tapi ternyata tidak. Ibu masih bersikap demikian, mengatur segalanya dan ia selalu menginginkan itu berjalan sesuai kehendaknya. Tapi sebenarnya dibalik sifatnya itu, ibu juga sama dengan wanita lainnya, ia juga penyang. Meskipun itu tidak terlalu ditampakkan dan hanya disembunyikan lewat sikapnya yang keras.
***
Lima belas menit kemudian, mobil sudah terparkir di depan halaman rumah mertuaku.
Tok... tok... tok...
Tak lama setelahnya, sosok laki-laki muncul di balik pintu.
Aku tersenyum seraya mencium tangannya.
"Assalamu'alaikum"
Ia balik tersenyum dan membalas salamku. "Wa'alaikumsalam, Nisa apa kabar?"
"Nisa, baik. Abang bagaimana?"
"Alhamdulillah, seperti yang Nisa lihat saat ini."
Aku mendekat satu langkah. Gemetar tanganku saat menyentuh wajahnya yang bersih. Tidak tahu, naluriku ingin sekali melakukan itu. Mataku menatap wajahnya dengan tatapan bahagia. Sudah tiga hari aku merindukan pria di depanku saat ini.
Tiada henti netraku menatap dan mengamati wajah Azzam. Aku merindukan wajah rupawannya untuk aku tatap dan aku sentuh. Rindu menjalankan ibadah sholat bersama, rindu saat dia terus memarahiku jika aku telat bangun untuk menunaikan sholat lima waktu.
Beberapa saat ini, aku bahkan mengakui pria di depanku ini semangkin berkharismatik. Aku masih melengkungkan bibir ke atas. Ada hal lain dalam diriku, yang membuat aku menjadi senang.
"Abang, Nisa—"
Azzam tiba-tiba langsung memelukku. "Abang merindukanmu!" ucap Azzam, merengkuh erat tubuhku.
Aku membalasnya pelukan hangat itu. Sebenarnya aku ingin mengucapkan kata itu lebih dulu, tapi Azzam telah dulu mengucapkan kalimat rindu itu.
"Sama, Nisa juga," ujarku membalas pelukan Azzam. Membenamkan kepala di dada bidangnya. Merasa sangat nyaman saat berada dalam pelukannya.
Aku memejamkan mata. "Abang jangan pernah jauh dari Nisa."
__ADS_1
Azzam mengusap kepalaku. "Nisa benar, menginginkan itu dari abang?"
Aku mengangguk dengan senyum senang. Kemudian melepaskan perlahan rengkuhan pelukan Azzam. Meletakkan tangan kananku di dadanya. "Jangan pernah hilangkan cinta ini untuk Nisa," ujarku dengan mantap. Lalu tangan kiriku mengambil tangan kanan Azzam dan meletakkannya juga di dadaku. "Dan hati ini akan menjadi milik abang," kataku tersenyum.
Azzam tak percaya semua ini. Berkali-kali ia mencoba mencerna tentang situasi yang dihadapinya saat ini. Tentang apa yang baru saja di tangkap gendang telinganya.
"Apa yang abang dengar ini tidak salah, Nisa?"
"Nggak, nggak sama sekali," kataku penuh yakin.
Azzam menarik sudut bibirnya. Senyum merekah seketika terpancar. Aku bisa melihat matanya berbinar-binar.
Tangan Azzam meraih tanganku yang masih melekat di dadanya, lalu mengecup punggung tangan dengan mesra.
Aku balik mengusap pipi kanan Azzam seraya tersenyum. Tatapan kami terkunci beberapa saat. Suara jangkrik di malam hari seperti hendak mengusik kita berdua. Tapi itu tidak berpengaruh sama sekali. Kami berdua bahkan menikmatinya dan menganggap itu sebagai nyanyian yang merdu mengalun mengelilingi kami berdua.
"Lho sudah datang ya. Kok umi nggak dengar ya?" Suara umi yang muncul tiba-tiba membuat aku dan Azzam memutus kontak mata.
Umi bersuara dari arah kamar dan berjalan keluar menghampiri kami dengan masih mengenakan mukena. Mungkin umi habis menjalankan ibadah sholat isya. "Mana Ahsan dan Hamidah, Nisa?"
"Ada Umi, itu." Mataku mengarah ke ayah dan ibu yang berjalan berdampingan di belakang.
"Assalamu'alaikum," salam ayah dan ibu bersamaan.
"Wa'alaikumsalam." Azzam menyambut hangat mertuanya sambil menyalimi satu persatu tangan yang juga sudah dianggap sebagai orang tuanya sendiri.
"Silahkan masuk," ajak Umi mempersilahkan.
Ayah dan Ibu melangkah masuk. Azzam mengarahkan mereka duduk.
"Saya ke dalam sebentar ya, mau mengganti pakaian dulu. Kami baru saja melaksanakan sholat isya," ujar umi setelahnya berlalu masuk kembali ke kamarnya.
"Azzam, ini tolong kamu bawa ke dalam ya. Oleh-oleh sedikit," senyum ibu, menyerahkan paperbag yang di bawanya.
Azzam menyambutnya, dan menghilang ke arah dapur.
Aku menoleh ke ibu. Perasaanku mulai cemas, mungkin melebihi rasa cemasnya orang yang akan dieksekusi hukum pancung. Ya, malam ini aku akan segera dieksekusi. Mataku terpejam rapat. Tak bisa membayangkan, keluarga Azzam pasti akan marah dan kecewa dengan menantunya.
Tak lama Azzam bersama Umi keluar membawakan nampan berisi minuman, kue brownis dan puding coklat. Lalu menaruhnya di meja tamu.
"Aduh, tidak usah repot-repot," kata ibu tak enak.
"Ah, tidak masalah, Hamidah."
Ayah menilik-nilik melihat ke sekitar, Ahsan sedang mencari seseorang. "Mana Hamzah?" Ayah menanyai saudara laki-lakinya.
"Assalamu'alaikum" sapa seseorang di ambang pintu, mengenakan baju koko bawahan sarung lengkap dengan peci menghias kepalanya.
"Wa'alaikumsalam" sahut kami bersamaan sambil berdiri.
"Nah, panjang umur. Baru saja Ahsan menanyainya," ujar ibu tertawa.
"Wah, tamu dari jauh sudah data rupanya." Hamzah mendekat dan menyalami ayah serta ibu.
Ayah Ahsan terkekeh sambil memeluk Hamzah.
"Kapan sampai?" tanya Hamzah.
"Tadi jam 3 sore."
Hamzah mengangguk. "Azzam juga baru tiba tadi." Hamzah memberitahu. "Jam 7 ya, Zam?" tanya ayah melihat ke Azzam.
Azzam mengiyakan perkataan abah.
Sesaat setelahnya Hamzah terkekeh dan mempersilahkan kami duduk kembali. Begitupun dengan Ahsan yang turut ikut tertawa. Tampaknya mereka sangat menikmati setiap apa yang mereka perbincangkan, sementara aku di sini duduk terpaku dan cemas.
Bagiku, sudah waktunya mencukupkan semua kisah dengan dua laki-laki di dalam hidupku. Jika tidak sekarang di akhiri akan banyak hati yang nanti akan terluka. Meskipun melepas salah satu tetap akan ada yang tersakiti. Fey adalah korban kesalahan dan kebodohanku. Aku sadar itu. Sungguh aku menyesali kenapa aku bisa masih menjaga hubungan itu. Kenapa tidak dari dulu aku melupakannya dan memberi perhatian itu untuk suamiku. Kenapa aku kurang bersabar menunggu perasaan itu hadir.
"Nih cicip kue buatan umi, enak." Azzam memberikan satu potongan kue brownis untukku.
"I... Iy...iya" Aku tergeragap menyambut kue pemberian Azzam.
Sebuah deringan ponsel berbunyi. Itu dering handphone Azzam.
Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak asing baginya. Nomor yang sudah beberapa hari ini menghubungi dan menanyakan kabarnya pula. Azzam masih menatapnya dalam diam.
"Siapa?" tanyaku saat melihat Azzam diam menatap ponsel.
Azzam menggeser posisinya dengan mendekatkan kepala sambil berbisik. "Bu Lydia"
"Ya udah, angkat aja" kataku datar.
Azzam menggeser panel hijau, namun sebelumnya ia pamit untuk mengangkat telepon dengan sedikit menjauh.
Netra mataku mengekor tubuh Azzam yang berjalan ke depan teras. Aku berpikir Azzam selalu berkata jujur dengan apa yang dilakukannya termasuk tentang Bu Lydia yang selalu menghubunginya.
Otakku berputar mencerna semuanya. Allah punya cara sendiri untuk membuatku tersadar. Putus dengan Fey dan memberikan cinta sepenuhnya untuk Azzam adalah pilihan tepat untuk membangun kembali istana rumah tanggaku dengan Azzam.
Ini takdir Allah, kita menikah adalah takdir Allah... Ucapan Azzam kembali terngiang di telingaku.
__ADS_1
Azzam benar. Harusnya aku bisa menerima takdir ini. Seharusnya sejak awal aku bisa berjuang lebih keras untuk belajar menerimanya dan membuka hati untuk Azzam, hingga aku tidak perlu menghianati Azzam.
Dari arah luar, tiba-tiba Azzam masuk ke dalam dengan langkah cepat dan terburu-buru. Azzam menatap dengan kobaran berapi-api. Aku tidak paham.
"Abang mau bicara sebentar! Ayo ikut Abang!" bisik Azzam.
Azzam mengedarkan tatapannya pada abah dan umi, juga mertuanya. "Kami permisi sebentar"
Kemudian balik menyeretku keluar.
"Ke-Kenapa?"
"Apa yang terjadi di sekolah?" Sorot mata Azzam tak biasa.
"Nggak... Nggak ada." Aku menggelengkan kepala.
"Ini apa?" Azzam menunjukkan screenshot pesan-pesan facebook.
"Dari si-siapa abang dapat itu?"
"Dari Ibu Lydia"
"Jujur satu sisi abang tidak tega jika Nisa dihujat dengan kata-kata kasar seperti ini. Tapi, lain hal Abang kecewa dengan sikap Nisa."
Aku mengerutkan dahi.
"Kenapa bisa Nisa bisa pacaran dengan Fey, saat kita sudah menikah. Awalnya abang memang menaruh curiga tentang pertemanan kalian yang menurut abang tidak wajar. Tapi, abang tepis semua itu, abang masih coba untul bersuudzon. Kenyataannya ternyata dugaan abang selama ini benar." Azzam membuang tatapannya, usai menyelesaikan kalimatnya.
"Abang, tapi itu kemarin. Sekarang Nisa nggak ada hubungan lagi dengan Fey. Nisa sudah mengubur dalam-dalam tentang hubungan yang pernah terjalin." Aku menelan salivaku dengan susah payah. "Nisa salah dalam memaknai perasaan Nisa selama ini," kataku dengan suara tercekat.
Sekarang aku memahami satu hal bahwa bersama Fey bukan cinta tapi rasa butuh karena terbiasa. Kesalahannya adalah karena menganggap perasaan itu adalah sebuah cinta, padahal bukan. Karena cinta seharusnya tidak menjadikan diri jatuh dalam kesalahan yang lebih besar dan seharusnya cinta yang benar tidak akan membuat dirinya berdosa.
Sesungguhnya cinta yang benar adalah cinta yang Azzam berikan. Yang membuat aku semangkin taat dan dekat kepada Allah.
Azzam memejamkan mata kemudian memijat pelipisnya, merasa pusing. Setelah itu, ia menarik napas dalam, membuangnya dengan pelan.
"Berarti benarkan selama ini?"
Aku mengigit bibir bawahku, mencoba tegar.
"Iya," balasku dengan berat hati. Setelahnya aku diam tertunduk lesu, tulang kakiku terasa lemas.
Azzam tidak tahu harus berucap apalagi. Ada banyak kata yang ingin lontarkan tapi hanya tertahan diujung lidah. Lidah Azzam tiba-tiba kelu.
Mungkin Allah tidak mengizinkan Azzam untuk mengucapkam sumpah serapak, atau pun menghardik perempuan yang menjadi istrinya.
Azzam memilih pergi, meninggalkan aku yang diam membeku.
Melihat Azzam pergi, aku ikut beranjak menyusulnya. Aku tahu perasaannya sekarang. Rasa sakit yang lebih dari apa yang aku rasakan saat aku dibully, dicaci maki, dihardik oleh teman sekolah. Azzam sudah pasti kecewa dan marah.
Aku jahat. Aku menyakiti Azzam. Tempat dimana aku bisa meraih surgaku.
Aku melangkah cepat, menyusul langkahnya yang panjang.
"Bang! Abang" panggilku seraya menahan lengan Azzam.
Laki-laki itu menyentak tanganku dan membuang wajahnya.
"Abang dengerin Nisa dulu." Aku kembali mencoba meraih lengan Azzam dan memutar tubuh Azzam sehingga menghadapku. Tapi ia masih enggan melihat aku.
"Bang liat Nisa," ujarku lembut. Ia masih tak bergeming.
Tangan kananku menyentuh lembut pipi Azzam. Aku mengarahkan wajahnya supaya bisa melihatku.
"Abang, Nisa mengaku salah besar dan sudah durhaka dengan suami. Dan sekarang Nisa tidak mengharapkan pria lain, selain pria yang ada dihadapan Nisa saat ini. Yang tlah mengucapkan ikrar pertamanya untuk menjadi pria pendamping bagi istrinya selamanya."
Azzam sekarang balik menatap. "Abang bukan malaikat, bukan laki-laki seperti yang Nisa inginkan, maka sekarang pergilah dengan pria pilihanmu itu. Abang tidak akan mencengah. Silahkan!" Bergetar bibir Azzam saat mengujarkan kalimat itu, matanya pun ikut berkaca-kaca. Sementara aku sudah terisak pelan saat Azzam mengalirkan kalimatnya.
Tanganku turun mengambil kedua tangan Azzam. Menggenggamnya erat, isyarat bahwa aku sama sekali tidak ingin melepaskannya. Aku selalu ingin bersama dia.
"Nisa minta maaf. Beri Nisa kesempatan untuk menjadi istri baik kembali untuk abang. Nisa, janji akan memberi semuanya termasuk cinta seperti apa yang sudah abang berikan untuk Nisa."
Lama Azzam terdiam, kemudian memutuskan untuk menyingkirkan tangan dan pergi berlalu meninggalkan aku yang masih meratap sedih di temani kabut malam. Tiada yang buruk ketika Azzam memilih untuk tak menghiraukan ku.
Aku menatap kepergian Azzam dengan tatapan sendu. Tanpa sadar air mataku kembali jatuh, aku mencoba menghapusnya dengan ibu jari. Dadaku terasa sesak. Aku terus menatap kepergiannya hingga punggung Azzam lenyap dari pandanganku.
Apa yang harus aku lakukan saat ini. Ini kali pertama dalam hidupku melihat Azzam semarah itu. Aku duduk bersimpuh di tanah, bahuku bergetar ketika aku masih trus terisak. Sampai ayah datang merangkulku.
"Nak, kembalilah. Ayah di sini."
Aku mendongak menatap ayah, kemudian memeluknya.
"Ayah" gumamku. Aku mendekap ayah dengan erat.
"Nisa, Azzam butuh waktu. Biarkan dia tenang dulu."
"Apa abang mau kembali lagi, Nisa?" ujarku sambil terisak.
"Insyaallah, yang perlu Nisa lakukan saat ini hanyalah berdoa kepada Allah. Sekarang ayo kita pulang," kata ayah mengangkat tubuhku yang masih bersimpuh di tanah. Ibu sudah berdiri di belakang ayah, mentap iba. Ia pun tidak tega melihat putrinya bersedih. Menerima kenyataan.
__ADS_1