
BRAKKK
Suara hentakan mistar penggaris berdebam ketika dipukul ke dinding. Seluruh siswa yang berbaris di lapangan terpelonjat kaget secara bersamaan. Mereka semua bergidik ngeri mendengar suara gelegaran Pak Herwin memberi intruksi di lapangan.
“Pak Herwin, seram banget kalau lagi teriak gitu! Nggak takut putus apa urat lehernya!” cibir salah satu siswa.
“Nggak tau dari tadi ngegas mulu, kuping aku rasa mau rontok,” celetuk Aldion menanggapi. “Kali Pak Herwin rasa-rasa puasa ya, kalau dia nggak teriak-teriak gitu waktu nyuruh kita baris,” imbuhnya lagi.
“Rontok? Rambut kali ah. Lagian kalau tuh kuping lepas gampang tinggal pasang kuping gajah. Banyak!” balas laki-laki itu lagi.
Aku yang mendengar ocehan mereka ikut tertawa kecil. Menyetujui juga apa yang dia katakan.
“Hust! Bisa diam nggak! Kalian laki-laki tapi mulut kayak cewek ngerumpi terus!” ujarku yang merasa terganggu dengan kebisingan mereka.h
“SEMUANYA TIDAK ADA LAGI YANG BERSUARA!” teguran Pak Herwin datang.
Setelah memastikan semua murid berbaris tertib dan rapi. Pak Herwin memulai inspeksi dadakan yang kerap dilakukan rutin sebulan sekali. Pak Herwin kembali menyisir barisan-barisan siswa sekaligus memeriksa kelengkapan atribut seragam mereka. Setiap siswa yang melanggar aturan sekolah akan dikenakan sanksi tegas.
Dengan bermodalkan sebuah gunting yang mengkilap di tangan kirinya, dan sebilah penggaris panjang di tangan kanan digunakan untuk menakut-nakuti muridnya. Pak Herwin menyusuri setiap barisan dengan teliti tanpa ada satupun siswa yang bisa mengelak dan lolos dari pemantauan Pak Herwin. Setiap siswa akan membentuk barisan tersendiri sesuai dengan jenis pelanggaran yang dilakukan.
“CHARISA KUKU KAMU PANJANG, CEPAT SANA POTONG!”
Charisa segera menyingkir dari barisannya dan ikut berbaris dengan siswa yang melakukan pelanggaran yang sama.
“RENO, KAOS KAKI HARUS PUTIH, KENAPA KAMU PINK?”
“RENO NYOLONG KAOS KAKI MBAKNYA MUNGKIN, PAK!” celetuk teman Reno.
“ANJANI, KAMU TAU INI SEKOLAH AGAMA?”
Anjani mengiyakan pertanyaan Pak Herwin.
“ITU JILBAB SARINGAN TAHU, KENAPA MASIH KAMU PAKAI?!”
Pak Herwin menyebut jilbab yang tipis dan menerawang dengan sebutan jilbab saringan tahu.
PERCUMA KAMU MENGENAKAN JILBAB TAPI RAMBUT KAMU MASIH KELIHATAN, ITU SAMA SAJA BOHONG,” cela Pak Herwin. “PINDAH BARISAN!”
“JOVAN MANA JOVAN? SUDAH POTONG RAMBUT BELUM?”
“BELUM PAK, TADI PAGI MAU CUKUR TAPI TUKANG PANGKASNYA MASIH TIDUR!” sahut Jovan asal-asalan.
Pak Herwin melotot “SEKARANG MINGGIR KE BARISAN SANA!”
Aku mulai harap-harap cemas, aku menyadari kalau aku sendiri sedang melakukan pelanggaran dari apa yang menjadi tata tertib sekolah. Karena aku mengenakan sendal bukan sepatu. Aduh! ******!
“DILLA, KAMU MAU SEKOLAH APA MAU LENONGAN! BEDAK TIDAK PERLU SETEBAL ITU! CUCI MUKA SANA!”
“DILLA KAN PULANG SEKOLAH LANGSUNG MANGGUNG, PAK!” timpal Shasa di sebelahnya.
“IYA PAK!” sahut Dilla, malu kemudian pergi menuju kran air di pinggir lapangan untuk mencuci muka.
Aku meremas jari jemariku, seraya mata mengerap-ngerjap takut dan cemas. Jantungku semangkin berdebar tak beraturan karena rasa kecemasan yang berlebih.
Fey yang berdiri di belakang memajukan selangkah kakinya demi bisa mendekat dan berbisik ke telingaku agar tidak terdengar oleh Pak Herwin kalau kami sedang mengobrol di belakang.
“Husttt! Hustt!”
Fey mendesis ke telingaku.
“Apa?” Aku menoleh ke arahnya, lalu berujar dengan nada sangat lirih.
“Kamu kok pake sendal sih? Bisa-bisa kamu kena tegur dengan Pak Herwin,” tutur Fey mengingatkan.
“Iya, aku tau,” ujarku mengakui.
“Terus kenapa sepatunya nggak dipake kalau gitu?”
“Bukannya aku nggak dipake, cuman habis sholat dhuha berjamaah tadi sepatu aku nggak tau di mana. Kayaknya ada yang usil ngerjain aku deh Fey,” kataku dengan masih berbisik.
Fey menyudahi obrolannya, demi membiarkan otaknya berpikir sebentar.
Di sisi lain Requeensha sedang tersenyum puas, dia yakin sebentar lagi si Dhanisa akan menerima hukuman dari Pak Herwin.
Mata Fey terus mengekor mengawasi gerak Pak Herwin yang terus menyusuri setiap barisan para muridnya. Sekira-kira berkelang lima murid lagi Pak Herwin sampai pada barisan Dhanisa. Dia tentu tidak akan tega melihat Dhanisa menerima hukuman dari Pak Herwin yang super galak dan tegas itu.
Tanpa Fey sadari si Requeensha juga terus mengewasi gelagat Fey dari belakang. Dari barisannya berdiri saat ini, netra matanya menangkap Fey berjongkok seperti sedang melakukan sesuatu. Requeensha mencondongkan sedikit badannya ke depan demi melihat aktivitas Fey.
“Kamu ngapain sih, Fey?” Requeensha menepuk-nepuk punggung Fey berkali-kali.
“Hustt! Jangan berisik.”
“Iya kamu ngapain?” tanya Requeensha penasaran.
__ADS_1
Fey tidak menjawab lagi pertanyaan Requeensha yang menurutnya sangat menganggu dan selalu ingin tahu urusan orang lain.
“Nisa!”
“Hust!”
“Nisa!”
Aku menoleh lagi ke belakang.
“Ini” Fey mengangsurkan sepatunya ke arahku.
“Buat apa?” Aku mengerutkan kening saat Fey tiba-tiba menyodorkan sepatunya.
“Kamu pakai sepatu ini supaya nggak kena dengan Pak Herwin!”
“Tapi, kamu?” balasku cemas.
“Hustt! Buruan nggak usah banyak tanya! Pak Herwin udah dekat tuh!” Mata Fey mengekor pada tubuh Pak Herwin yang gempal telah berdiri di depan Danu, dia tampak masih sibuk mengecek pelanggaran yang dilakukan Danu.
Aku meraih sepatu yang menggantung di tangannya dengan cepat sebelum ketahuan Pak Herwin.
“Terus kamunya gimana?”
“Sudah. Aku laki-laki, amanlah.”
“Hustt! Fey” colek Requeensha. “Kok kamu ngasih sepatu kamu sih, ntar dihukum gimana?”
“Biarin! Lagian apa pedulinya kamu!” balas Fey cuek.
Mendengar pernyataan Fey, membuat Requeensha semangkin sebal dan membenci Dhanisa. Sepertinya misi dia kali ini gagal untuk membuat Dhanisa di hukum Pak Herwin. Dia berdecak sebal.
Sekoyong-koyong wajahnya yang semula murung dan kecut berubah menjadi sumringah setelah sebuah ide melintas di otaknya. Dia duduk menjongkok dan melepas sepatunya mirip dengan apa yang dilakukan Fey. Ia mau hari ini dihukum berdua dengan laki-laki yang berdiri di depannya, supaya bisa lebih lama untuk berdua dengan pria cuek itu dan sekaligus membuat hati Dhanisa menjadi panas. Satu misi yang masih ia terus jalankan adalah membuat Dhanisa membenci Fey dan menjadikan Fey sebagai pacarnya. Titik.
Requeensha menarik sudut bibirnya, membentuk senyum miring.
“Sha, kamu lakuin apa sih?” tegur Nora dengan tenang di sampingnya.
“Aku lagi ngelakuin sesuatu supaya di hukum Pak Herwin.”
Nora menautkan alisnya tanda tidak paham dengan apa yang dilakukan wanita ini. “Heh! Orang bukannya menghindar buat dihukum, lha kamu malah mau dihukum, gimana?” protes Nora.
“Biarin, ini salah satu cara buat aku bisa curi perhatian dan dapetin Fey, Nora. Kamu nggak usah sewot. Aku udah atur semuanya dan kali ini aku yakin rencanaku akan berjalan mulus,” tutur Requeensha penuh yakin.
“NORA!” tegur Pak Herwin
“IY-IYA PAK!” balas Nora terbata-bata.
“KENAPA SEPATU KAMU BLINK-BLINK, MAU KONSER?”
Nora menyengir. “Ini model, Pak!”
“MENYINGKIR DARI BARISAN SEKARANG!” Pak Herwin menggiring Nora dengan mistar panjangnya.
Nora hanya bisa pasrah, lagi-lagi dia harus menerima konsekuensinya di hukum hari ini.
Belum di tanya Fey sudah menyingkir duluan dari barisannya.
“FAYZULEN!”
Fey menoleh saat Pak Herwin menyebut namanya.
“MAU KEMANA!? SAYA BELUM SURUH KAMU BUBAR YA!”
“Sebelum Bapak menyuruh saya keluar dari barisan, saya sudah sadar diri kalau melanggar peraturan dengan tidak mengenakan sepatu, Pak!”
Netra Pak Herwin mendelik ke bawah melihat kaki Fey yang tanpa alas menginjak lapangan yang berisi kubangan air. Tampaknya hujan semalam masih membekas dengan meninggalkan genangan-genangan air di beberapa lapangan Madrasah.
“BAGUS KALAU KAMU SADAR DAN MENGAKUI KESALAHAN!”
Dhanisa mengigit bibirnya dengan kuat saat mendengar ucapan Fey, ada perasaan tidak enak. Harusnya dia yang menerima hukuman ini.
“Pak! Saya sadar kesalahan saya!” Requeensha mengangkat tangan ke udara. Padahal Pak Herwin belum menyisir barisan ke arahnya.
“KAMU, APA!?”
“Saya nggak bawa sepatu, Pak!”
Pak Herwin mengendikkan dagunya. “SANA! KELUAR DARI BARISAN!”
“SIAP PAK!” Hormat Requeensha bersemangat, dengan cepat dia berlari menyusul Fey yang sudah bergabung duluan dengan para pelanggar aturan sekolah.
Pak Herwin hanya menggelengkan kepala, karena baru kali ini dia mendapati murid yang sumringah kala dirinya mendapatkan hukuman. Dirinya memang mengakui selama 35 tahun mengabdi sebagai guru di Madrasah ia telah menghadapi berbagai macam kelakuan muridnya yang aneh-aneh dan banyak rupa.
__ADS_1
Pak Herwin kembali melanjutkan tugasnya menyisir barisan demi barisan sampai pada barisan yang peling belakang alias barisan terakhir.
“Sekarang bagi kalian yang tidak melakukan pelanggaran silahkan membubarkan diri ke kelas masing-masing!” perintah Pak Herwin, tanpa berteriak lagi.
Langkah kaki Pak Herwin sekarang diseret menuju barisan siswa-siswa yang melakukan pelanggaran. Di sana sudah ada tiga baris. Baris pertama, jenis pelanggaran kuku panjang. Baris kedua, jenis pelanggaran jilbab tipis. Baris ketiga, pelanggaran tidak mengenakan sepatu hitam dan kaos kaki, dan barisan keempat, merupakan jenis pelanggaran rambut panjang.
Seluruh siswa pelaku pelanggaran menyimak dengan seksama segala apa yang disampaikan laki-laki paruh baya bertubuh tambun, berwajah tegas dan garang itu, mereka seolah tak ingin melewatkan sedikitpun dari kalimat yang diucapkan Pak Herwin. Setiap jenis pelanggaran, diberikan sanksi berbeda dari Pak Herwin. Setelah masing-masing siswa mengetahui sanksi apa yang diterima, mereka semua mulai mengacir dari barisan untuk melaksanakan hukumannya termasuk Fey.
“Fey, tunggu!” Suara Requeensha ikut mengacir mengejar Fey yang telah berjalan lebih dulu.
Fey tetap berlalu tanpa memperdulikan panggilan Requeensha. Ia tak bergeming sedikitpun ataupun menolehkan kepalanya. Dia fokus melangkahkan kaki menuju ruang perlengkapan untuk mengambil serokan sampah, ember dan kain pel.
Air yang keluar dari kran telah mengisi setengah volume wadah ember yang di bawa Fey. Setelah itu, kembali melewati lorong koridor sekolah menuju perpustakaan untuk membersihkan bercak-bercak lantai yang kotor dan menguning di sepanjang lantai yang putih akibat hujan. Sementara Requeensha masih menguntit di belakang. Fey yang tak mau ambil pusing, langsung melaksanakan hukumannya. Ia ingin cepat-cepat menuntaskan hukuman hari ini supaya bisa menjauh dari wanita yang selalu memberikan bayangan buruk baginya.
Sebelumnya mata Fey memendar ke ruangan bagian dalam perpustakaan, memastikan apakah sudah disapu atau belum. Jika belum ia hendak menyuruh pengawal di belakangnya ini untuk menyapu ruangan dalam perpustakaan. Tapi, sepertinya Nora sudah menyapu lebih dulu bagian dalam dari ruangan perpustakaan itu. Jadi, dirinya tinggal mengepel bagian teras perpustakaan saja.
Fey berkacak pinggang, matanya melesat ke sepanjang lantai keramik putih yang kotor. Dengan posisi badan menjongkok, Fey menyinsingkan lengan bajunya hingga siku. Menampakkan lenganya yang kokoh. Jari jemari tangan kemudian meraih peralatan bersih-bersih.
“Fey, aku ngapain?” tanya Requeensha masih berdiri di samping Fey, menyaksikannya memeras kain pel.
“Terserah kamu!” balas Fey cuek.
Tidak lama Nora muncul dari dalam ruang perpustakaan dengan tangan kanan memegang kemoceng. “Sha, kamu ngapain berdiri doang?” tanya Nora saat dirinya tahu kalau Requeensha belum melakukan apapun daritadi. Padahal mereka masing-masing harus bekerja sama membersihkan setiap sudut ruangan perpustakaan ini.
Requeensha melipat kedua tangannya di depan dada. “Ya, aku harus ngapain? Ruangan dalam perpustakaan udah kamu bersihin.”
“Ya apa gitu, mungut sampah di got atau bantuin Fey tuh!”
Mendengar saran Nora. Requeensha menurunkan kembali tangannya dan ikut menjongkok mendekat ke Fey.
Requeensha menatap wajah Fey, dia mengamati setiap lekuk bagian wajah laki-laki itu. Rahangnya yang tegas, kulitnya yang mulus, senyumnya yang manis, hidungnya yang mancung di dukung dengan rambutnya yang hitam tebal sedikit tersibak karena hebusan angin kecil, membuat mata Requeensha menyadari laki-laki di depannya memang tampan.
“Fey?”
Tangan Requeensha menyentuh pergelangan tangan laki-laki yang ia kejar-kejar selama ini. "Sini biar aku aja Fey.”
“Ya, sudah nih!”
Fey menyelupkan kembali kain pel ke dalam ember yang telah diberikan cairan pewangi lantai, kemudian bangkit masuk ke dalam ruang perpustakaan untuk membuang keranjang sampah yang telah terisi penuh.
Di sisi lain, Requeensha sibuk ngedumel masalahnya dia tidak mengerti bagaimana cara mengepel lantai, dirinya sendiri memang tidak pernah melakukan perkerjaan mengepel ataupun menyapu rumah, semua biasanya dikerjakan pembantunya di rumah.
Requeensha mengeraskan rahangnya, ia benci melakukan pekerjaan ini. Tapi demi mencari perhatian dari Fey, ia rela melakukan sesuatu yang tidak ia mengerti. Selanjutnya, Requeensha menuangkan sembali sabun lantai dengan begitu banyak ke dalam ember. Seluruh sabun. Ia berjalan dan berdiri dengan punggung menempel pada tembok, mengambil tongkat pel, mendorong ember air dengan ujung tongkat pel. Pada akhirnya air yang bercampur dengan sabun tumpah ke lantai hingga menciptakan genangan air di sepanjang lantai. Hal itu tentunya membuat lantai menjadi licin.
BRUUKK!
Requeensha menoleh ke asal suara. Tubuhnya berjengit karena terkejut ketika mendapati tubuh Fey telah telentang di lantai dengan sampah berserakan di samping tubuhnya. Ia terjatuh karena kaki polosnya menginjak lantai yang basah dan licin belum lagi didukung oleh sabun lantai yang dituang Requeensha dengan begitu banyak.
Dia langsung menutup mulutnya rapat-rapat, tapi matanya masih melotot tak percaya.
“Sha, kamu apaain tuh anak orang?” tanya Nora tiba-tiba kala mendapati Fey jatuh di lantai yang dipenuhi genangan air.
Requeensha merespon pertanyaan Nora dengan mengangkat kedua bahunya tanda dia benar-benar tidak tahu.
“Fey!” Requeensha berlari, mendekat ke arah Fey tanpa sengaja dirinya pun terjerembab jatuh ke atas tubuh Fey.
Nora menggeleng dramatis, pada dua orang yang di depannya. Dia mengeluarkan ponsel untuk menjepret dan merekam aksi mereka berdua dari belakang.
Suasana menjadi agak canggung. Tidak. Ini memang canggung. Tubuh Requeensha benar-benar jatuh di atas badan Fey. Muka Requeensha memucat seketika. Melihat wajah Fey dari jarak satu senti, bahkan deru napas panas yang keluar dari hidung Fey bisa Requeensha rasakan.
Sadar aksinya ditonton Nora. Fey segera mendorong tubuh Requeensha kuat-kuat hingga membuat tubuhnya berguling-guling ke sisi kubangan air pel.
Fey lalu terduduk di lantai, seraya memegangi bokongnya yang terasa sakit.
"Fey, aku minta maaf," ujarnya merasa bersalah, melihat Fey kesakitan.
Fey pelan-pelan bangkit, dengan masih sedikit meringis.
"Kamu bisa ngepel ngasih!? Kalau nggak tau nggak usah sok-sokan makanya!"
Fey mengacak-acak rambutnya tanda dia frustasi dengan perempuan ini. Ia memilih pergi.
"Fey"
"Fayzulen. Belum kelar ini!" pekiknya melihat Fey pergi tanpa pamit. Sementara sampah masih berserakan di lantai.
Fey mengangkat tangan ke udara, tanpa menoleh ke belakang. Dia sudah menyerah. Sementara Requeensha masih terduduk sambil menatap nanar Fey yang semangkin menjauh.
Dia lalu menoleh ke arah Nora.
"Kamu ngapain? Ngerekam ya?" tegur Requeensha.
Nora senyum meringis kala menyadari aksinya diketahui Requeensha. Ia menyudahi kegiatan merekamnya.
__ADS_1
"Sekarang bantu, aku!" kata Requeensha.