Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 104. Suasana Duka


__ADS_3

Pagi hari, bendera kuning sudah berkibar di depan halaman rumah. Satu per satu pelayat berdatangan turut berbelasungkawa dan mengirimkan do'a bagi almarhum suamiku.


Papa besar bertuliskan berita duka cita juga berjajar di depan pagar. Kursi kursi yang semula kosong, lambat laun mulai terisi bahkan sudah hampir penuh.


Para pelayat yang datang adalah rekan-rekan dosen, universitas islam tempatnya bekerja. Beberapa juga ada guru-guru MA muallimin tempat dimana Azzam dulu mengajar, dan lainnya ada pula kerabat-kerabat dekat Abah Hamzah, Ayah Ahsan.


Ayah yang baru tiba tadi subuh, tampak sibuk mengurus pemakaman bersama Abah dan anak-anak abah Hamzah lainnya.


Lantunan surah Al-Ikhlas menggema. Bunga-bunga mawar merah di datangkan dan mulai dirangkai untuk hiasan keranda. Suasana duka menyelimuti keluarga besar Abah Hamzah, berbagai ucapan bela sungkawa mulai diucapkan dari para pelayat yang datang silih berganti.


"Yang kuat ya anak Ibu sayang." Ibu sedari tadi mendekap dan selalu berusaha menguatkan aku.


Aku yang semula tersedu-sedu, sekarang sudah mulai tenang. Sungguh aku tak bisa mengendalikan suasana hatiku. Semalam aku tidak bisa tidur, sampai membuat mataku bengkak karena menangis. Bagaimana tidak, setiap kali aku memejamkan mata, bayangan wajah, ciri khasnya dalam senyum, perhatiannya senantiasa mengiringi ketika mataku mulai terpejam kembali.


Tak percaya dan sungguh aku tak percaya, kebahagiaan dan kebersamaan bersama keluarga dua hari lalu adalah kebersamaan terakhir kami. Jika aku ingat kembali. Luruh kembali air mata ini.


Aku tidak menyangka, Azzam akan meninggalkan aku secepat ini. Khas candaannya selalu membekas dibenakku.


Perlahan tanganku aku arahkan ke atas perut, mengelus calon anak kami yang harus pula menerima kenyataan pahit harus kehilangan sang abi. Meski ia belum melihat dunia.


"Sayang, kalau Nisa merasa letih atau merasa tidak enak badan. Nisa di kamar saja ya, Nak." Ibu mengusap wajahku yang pucat, di sekitar mataku menghitam karena tak tidur. Aku bahkan merasa badanku sangat lemas saat ini.


"Nggak, Ibu. Nisa mau tunggu abang pulang. Abang katanya pulang hari ini," kataku dengan tatapan nanar menatap lurus ke depan.


Ibu meneteskan air mata, menatapku sendu sambil membenarkan hijab hitam yang menutup kepalaku. Ibu mencium kedua mataku.


"Anak ibu sayang," ucapnya lirik dan serak dibarengi dengan eratnya tangan ibu mengenggam jemariku yang dingin. Umi Salamah yang juga duduk di sebelahku berusaha tegar menerima kenyataan ini. Umi mungkin mampu menunjukkan beliau kuat dan bisa kepergian putranya. Karena ia tahu betapa pilunya kehidupan yang menimpaku datang silih berganti.


Menjelang pukul 10 suara sirine mobil jenazah pertama mulai terdengar. Aku mendengar orang-orang saling berbisik, menyebutkan bahwa itu suara sirine mobil jenazah yang membawa jenazah Mbak Rara. Sementara, mobil yang membawa jenazah Azzam akan tiba lebih lambat 15 menit.


Ikhlas. Itu kata-kata yang aku dengar setiap menerima ucapan belasungkawa dari pelayat yang datang. Dalam hati aku terus merapalkan itu. Berusaha. Aku sudah berusaha, tapi kenapa masih sulit. Butuh waktu bagiku.


"Mobil sudah tiba," bisik Abah Hamzah ke Umi.


Umi Salamah memberi isyarat pada Ibu, dimana aku masih dalam dekapannya.


"Sayang, Nak jenazah sudah datang." Ibu tersenyum samar dan singkat, tidak kuasa melihat keadaanku.


Saat ini aku benar-benar rapuh, hatiku hancur. Tulangku seolah melunak, merasa tubuh kian lemas ketika melihat peti dibawa masuk ke rumah duka.


Tangis pun pecah, hujan air mata seketika mengiringi ketika petih diletakkan di tengah keluarga.


Ketika yang lain histeris. Aku diam termangu menatap apa yang aku lihat di depanku saat ini. Seolah air mataku telah habis.


Kak Soraya dan Umi Salamah dan sanak family lainnya meminta supaya peti segera dibuka. Untuk memastikan benarkah jenazah di dalam itu jenazah Azzam.


Jujur semenjak kabar duka itu, aku belum ada sekalipun melihat wajah Azzam, dan mungkin ini terakhir kalinya aku bisa melihat wajahnya sebelum dikebumikan.


"Fikri, tolong buka petinya, Nak. Umi ingin melihat adikmu!" pinta Kak Soraya dan Umi Salamah, yang telah beranjak lebih dulu mendekati peti anaknya. Mereka juga sama sepertiku belum pula melihat wajah Azzam untuk terakhir kalinya.


"Maaf Umi, tidak bisa karena Fikri yakin Umi nggak akan kuat melihat kondisi jasad Azzam."


Umi hanya ingin memastikan apa benar itu jenazah anaknya.


Abah Hamzah langsung mendekap umi.


"Umi, yang sabar. Relakan anak kita, supaya dia tenang ditempat peristirahatannya," ucap Abah Hamzah.


"Bagaimana bisa aku merelakan anakku. Sementara aku belum tau pasti, apa benar dia jasad anak kita Abah!" isak Umi Salamah.


Mataku mengerjap berkali-kali. Aku menggerakkan kepala melihat pada ibu.


Ibu melihat kepada keluarga Azzam yang berkumpul di mengelilingi peti jenazah.


"Bu... "


Ibu menoleh ketika aku memanggilnya. "Iya sayang, kenapa?"


"Ni...Nisa, mau melihat Azzam untuk yang terakhir," ucapku lemah.


"Ayo sayang." Ibu membantuku berjalan dengan merangkul pinggangku. Tangan yang masih dingin menggenggam erat pergelangan tangan ibu.

__ADS_1


Aku memberanikan untuk mendekati peti tersebut. Dengan tangan gemetaran aku menyentuh peti berwarna putih tersebut, entah perasaan apa yang aku rasa saat ini. Seketika hatiku tersentak.


"Nggak! Ini bukan jasad Bang Azzam. Nisa bisa merasakannya. Ini jenazah orang lain, ini bukan jenazah Bang Azzam!" teriakku.


"Nisa yakin Azzam masih hidup!" ucapku lantang.


Umi Salamah terkejut bukan main mendengar ucapanku. Sementara, ibu langsung menutup mulutku dan mengajakku beristigfar.


"Istigfar, Nak. Astagfirullah'aladzhim," bisik ibu ke telingaku.


Seluruh pelayat juga ikut terkejut. Entah mereka percaya atau tidak dan malah menganggap aku gila. Yang jelas aku yakin di dalam peti bukan jasad suamiku.


"Tapi polisi menemukan bukti tanda pengenal ini di sebelah tubuh pria yang tergeletak di sebelah mobil minubus berwarna merah yang terbakar. Siapa lagi kalau bukan jasadnya adek, Mi. Kita sangat sulit mengenalinya karena luka bakar yang mengenai seluruh tubuhnya Umi," tutur Abang Ali yang prihatin karena ia ikut mengurus jenazah sang adik ipar.


Aku terduduk lemas di depan peti jenazah. Meratapi betapa berat kemalangan yang menimpa keluargaku.


Ketika aku duduk terdiam, tiba-tiba saja aku mengingat sesuatu.


Flashback on...


Aku mengeram kesal bukan main saat Azzam mengobrak-abrik sprei dan kasur yang sudah aku rapikan barusan.


"Abang cari apaan sih? Nisa capek beresin tempat tidur tapi diobrak-abrik lagi." Aku ngedumel.


Ia menyingkirkan semua bantal di atas tempat tidur. Lalu menjongkok mengintip bagian kolong bawah ranjang.


"Abang cari cincin, sayang."


"Cincin apaan?"


Azzam kembali bangkit.


"Cincin pernikahan kita. Lihat tidak? Tadi itu perasaan abang taruh di atas tempat tidur kenapa tidak ada ya," katanya sambil berkacak pinggang, raut wajahnya bingung.


"Oh cincin itu. Ada nih Nisa simpen lagi."


Aku memberikan kotak kecil berwarna maroon. Tempat dimana aku menyimpan cincin pernikahan aku dan Azzam.


"Makannya jangan sembarangan naruhnya. Untung nggak Nisa buang," kataku seraya duduk ditepian ranjang.


"Jangan dong sayang. Ini bukti yang ingin abang tunjukkan ke Ustadz Kafie. Habisnya dia selalu meledek dan meremehkan abang. Dia tidak percaya kalau abang memang sudah menikah, dan bahkan lebih dulu darinya. Kebetulan abang hari ini akan berangkat ke pesantren Mambaul Ulum. Sekaligus abang menunjukkan padanya." kata Azzam.


"Hem, sombong... "


"Bukan sombong, sayang. Kafie memang begitu orangnya, menyebalkan dan nggak percayaan. Makannya abang mau membuktikannya."


Aku mengangguk berkali-kali. "H'em iya-iya... "


"Sayang, tidak mau ikut dengan abang. Kan ada temannya juga, itu ada Rara. Abang merasa tidak enak harus berangkat berdua dengan Rara, apalagi Rara kan usai bercerai dengan Ridho. Takutnya akan timbul fitnah"


"Nggak ah sayang. Nisa takut mual lagi. Yang ada malah merepotkan perjalanan abang." Aku mengambil tangan Azzam dan menciumnya. "Sayang, insyaallah tidak akan ada yang fitnah. Kan istri Azzam yang meminta. Abang dan Rara kan tidak jalan berdua tanpa sepengetahuan Nisa." Aku mengulum senyum, mengusap wajah Azzam.


"Iya, Nisa mungkin berkata demikian. Tapi, bagaimana kalau Ridho tau. Bisa-bisa dia berkata yang aneh-aneh pada tetangga kiri-kanan."


"Hussttt.... Dah, siap-siap berangkat. Selamat untuk setijabnya ya, sayang." Aku mencium pipinya.


"Belum, sayang. Sudah main selamat selamat aja." Gemas Azzam menarik kedua pipiku.


"Kenapa abang jadi tidak tega ya meninggalkan Nisa. Maunya dekat terus dengan kalian berdua." Azzam membuang napasnya pelan. "Huft, masyaallah. Jujur Nisa kian hari kian angun dan cantik. Mungkin bawaan dedek bayinya ya." Senyum Azzam.


Aku mecubit pinggang Azzam, membuatnya menggeliat. Bukannya sakit dia malah tertawa geli.


"Bisa aja. Nisa melayang nih... Haha," tawaku.


"Pantes ya banyak lelaki yang mengincar Nisa," ucapnya. Diikuti dengan merapikan sprei yang diacak-acaknya tadi. Oh iya bagaimana kabar mantan terindah Nisa sekarang?"


Pertanyaan Azzam membuat aku mengernyit bingung. "Mantan terindah?"


"Iya. Kenapa mukanya bingung begitu. Sedang menghitung jumlah mantan ya, " ledek Azzam tertawa puas.


"Kan. Mulai, Nisa nggak suka ah," ucapku dengan wajah cemberut dan berdiri dengan posisi bersedekap. "Nisa, nggak punya mantan terindah," lanjutku sambil berlalu dengan muka kecut. "Beresin tuh sampai rapi!"

__ADS_1


Azzam menarik pergelangan tanganku dengan cepat, membuat tubuhku berputar arah. Tidak mampu menjaga keseimbangan ketika Azzam menarikku, membuat aku terjatuh di atas tubuhnya. Tubuh kami terhempas di atas tempat tidur, dengan posisi menindih tubuh Azzam.


Azzam tersenyum. Tatapan kami terkunci beberapa saat. Moment itu membuat kami mengambil kesempatan untuk saling menumpahkan rindu dan cinta sepasang suami istri.


"Sayang, jangan marah ya. Abang hanya bercanda tadi."


"Sayang," palingku dengan lemah lembut. Aku semangkin mendekatkan wajahku hingga ujung hidung kami bersentuhan.


"Nisa nggak punya mantan terindah, yang ada suami terindah."


Azzam menidurkanku dengan posisi menyamping. "Benarkah?"


"He'em," kami berpandangan dengan penuh cinta.


"Abang lega mendengarnya." Dengan cepat Azzam melompat dari ranjang. "Abang mau siap-siap berangkat dulu ya sayang."


Ia menghilang masuk ke toilet. Sisi lain, aku beranjak bangun. Senyum merekah tiada henti terpancar dari wajahku. Aku menyeret kakiku melangkah duduk di depan meja hias. Meraba kulit wajahku sambil tersenyum.


Benar saja. Jika dibuat visual bayangan, mungkin di atas kepalaku tengah dipenuhi bunga-bunga dan bentuk hati yang beterbangan mengelilingi tubuhku.


"Ah, seperti gadis yang sedang jatuh cinta saja." Gumamku.


Azzam mengenakan baju kemejanya dengan rapi. Aku menoleh ke belakang ketika dari bayangan cermin aku melihat ia mulai menyisir rambutnya.


Jantungku berdesir hebat. Penampilannya kali ini sungguh lain. Sangat gagah dan tampan.


"Jangan liatin abang begitu, sayang. Malu soalnya."


Tiada hentinya aku mengulum senyum menatapnya. "Bang? Abang kok tambah tampan sih."


"Iya sayang biar istri abang makin cinta, dan tidak berpaling."


Aku tertawa puas mendengar jawabannya.


"Jangan ganteng-ganteng gitu ih, nanti Mbak Rara terpesona gimana. Nisa nggak mau!"


"Nah kan, mulai cemburu. Siapa yang menyuruh abang berangkat dengan Rara tadi," ledeknya.


Uhuk! uhuk!


Aku terbatuk sambil memegangi dadaku.


"Kenapa, Nisa?"


"Nggak tau, dada Nisa terasa sesak." Aku berusaha menarik napas panjang.


Azzam mengambil air mineral di atas nakas.


"Minum dulu"


Ia mengusap-usap punggungku naik turun. "Sudah-sudah gimana rasanya?"


Aku menelan salivaku. "Sudah enakan."


"Syukurlah." Azzam melirik pada jam dinding di kamar. "Sayang, abang harus segera berangkat supaya tidak telat."


Tidak tahu kenapa perasaanku tersentak. Saat Azzam mengatakan akan segera berangkat. Perasaaku mulai tidak enak, sebenarnya dadaku masih terasa sesak. Seperti ada perasaan nyesek begitu saat dia akan pergi.


'Ya sudahlah hanya perasaan saja.' Gumamku membatin.


Flashback off...


"Kalau memang iya. Lalu mana benda lainnya. Kemana cincin pernikahan kami? Aku ingat persis sebelum Bang Azzam berangkat dia mengenakan cincin pernikahan kami. Seharusnya benda itu juga adakan?"


"Dek, sudahlah. Abang tau ini berat untuk Nisa. Kita semua merasa kehilangan. Ikhlaskan lah kasihan almarhum," ujar Fikri dengan suara agak tinggi.


Mereka semua yang melihat, menggelengkan kepala sambil berbisik satu sama lain. Tidak tahu apa yang mereka bicarakan di belakangku.


Abah mengelus lengan Fikri. "Fikri, wajar Nisa berujar demikian. Karena Nisa adalah orang yang sangat dekat dengan Azzam. Dirinya belum siap menerima takdir ini," tutur Abah Hamzah berkaca-kaca.


"Terserah kalian percaya atau tidak dengan ucapan Nisa. Yang jelas Nisa yakin jasad ini bukan Bang Azzam. Titik."

__ADS_1


Sesaat setelah aku memgucapkan kalimat itu. Napasku tersengal-sengal. Dada terasa sesak, perlahan pandanganku memudar, dan lambat laun menggelap. Hingga aku tak dapat melihat apapun. Tubuhku terkulai lemas jatuh ke lantai.


__ADS_2