
Dari arah pintu masuk RESTO, Azzam melangkah masuk. Aku diam mematung, tapi aku sudah punya alasan kalau Azzam bertanya nanti.
Dan akhirnya..... Azzam sudah berdiri di hadapan kami dengan tatapan binggung. Aku tahu dia pasti binggung kenapa teman-teman and the genk ku bisa kumpul di sini.
Azzam sempat berpikiran bahwa istrinya lah yang telah mengundang teman-temannya untuk datang ke sini. Tapi ia mencoba menepis pikiran itu, karena Azzam sendiri tidak memberitahu kemana dan dimana lokasi makan yang akan ditujunya. Jadi itu mustahil, dan ini hanya sebuah kebetulan teman-teman Nisa bisa kumpul di sini juga.
Sama seperti Azzam. Fey, Jovan, Sadam, dan Requeensha, mereka semua sama-sama menatap Azzam dengan raut bingung. Melihat gurunya itu berdiri dihadapan mereka. Sadam dan Jovan mengerjap-ngerjap bak orang bodoh!
“Di depan kita ini Ustadz Azzam kan?” Jovan mendekatkan kepala ke Sadam dan bertanya dengan sedikit berbisik.
“Iya. Dia guru kita di sekolah,” bisiknya membenarkan perkataan Jovan.
“Kenapa ustadz terlihat beda sekali malam ini? Coba deh liat brewoknya nggak ada lagi, mukanya kinclong gitu.” Jovan masih tidak percaya melihat penampilan gurunya.
Azzam memperhatikan anak muridnya satu per satu. Sadam dan Jovan berdiri di sisi meja. Pandangan terakhirnya di jatuhkan ke Fayzulen yang duduk di sebelah kanan Dhanisa, sedangkan di sebelah kirinya berdiri seorang gadis remaja yang sibuk memegangi pergelangan tangan Fayzulen. Azzam tidak mengenali gadis remaja itu, karena menurutnya wajah perempuan itu asing. Dia yang baru datang sebenarnya bingung apa yang terjadi. Dan apa yang mereka lakukan di sini. Tidak mungkin mereka reunian.
Sadam mendekat ke Azzam dan menyalimi tangan gurunya dengan sopan. Sadam besikap selayaknya di sekolah yang menghormati guru. Sedetik kemudian di susul tangan Jovan yang juga ikut menyalami.
“Wow...” Jovan terkesima. “Ustadz berbeda sekali” matanya tiada henti menatap Azzam dari bawah sampai ke atas.
Azzam masih berdiri di tempat. Sepertinya dia belum bersedia duduk selama teman-temanku masih ada di sini.
“Berbeda apanya?” tanya Azzam kemudian.
“Penampilan Ustadz. Ustadz bukan seperti guru kami lagi. Tapi lebih mirip seperti mahasiswa. Terlihat lebih tampan, gagah dan berwibawa,” Jovan memuji gurunya itu habis-habisan. “Ustadz, kalau bergabung bersama kami pasti orang mengira kita seumuran.” imbuh Jovan menambahkan.
Azzam terkekeh pelan. “Memang selama ini saya tidak seperti yang kamu katakan? Hem, Jovan?”
Sadam menyenggol pundak Jovan yang kerap berbicara asal-asalan. “Jo, kalau ngomong di saring dulu kenapa? Ntar Ustadz Azzam tersinggung terus nilai kita yang ambyar!” protesnya.
Jo, hanya cengengesan dan menyugar rambutnya yang menutupi kening.
“He-he kalau sebelum-sebelumnya ustadz itu juga cool dan handsome. Cuman kali ini levelnya lebih meningkat, Ustadz.” Koreksi Jovan.
Azzam tersenyum dan mengangguk paham perkataan anak muridnya. Lagian ia juga tahu dan maklum kalau mereka hanya melempar gurauan belaka.
“Di sekolah memang saya guru kalian. Tapi kalau di luar saya adaah teman kalian. Kalian semua bisa berteman dengan saya, tanpa harus ada sekat pembatas bahwa saya guru dan kamu siswa, maka kalian bisa berteman baik dengan saya, selama itu masih di batas kewajaran.” Azzam memberi ruang bagi siswa-siswanya supaya lebih merasa terbuka dan nyaman mengobrol bersamanya.
“Kalian kemari ada acara apa?” Azzam menatap wajah anak muridnya bergantian. “Oh, atau ada janji dengan Dhanisa, ya?” Azzam menatap ke arahku yang duduk diam.
“Nggak. Kita nggak ada janji dengan Nisa. Cuman nggak sengaja aja ketemu dia di sini.” Cengir Sadam.
“Iya ustadz. Kita iseng-iseng aja makan di sini! Mumpung di trakhir Requeensha. Eh! Tenyata makanan di sini enak-enak lho, Ustadz. Ustadz udah coba belum? Kalau belum di coba aja. Dijamin mantul. Mantap betul!” Jovan terus berbicara tiada hentinya, tanpa ada yang mempersilahkan.
Sadam melototi Jovan. “Jo, nyecoros mulu! Heran itu mulut apa tong kosong nyaring bunyinya!” tegur Sadam geram dengan teman di sebelahnya.
“Tong kosong nyaring bunyinya. Itu pribahasa panjul!” Jo balas melototi Sadam balik.
Sadam mengela napas dalam-dalam.
“Ini temannya Nisa juga ya?” Azzam menatap perempuan yang dari tadi berdiri di sebelah Fey. Dari wajahnya dia seperti sedang kesal.
Gadis itu tersenyum singkat. “Saya Reqeensha, Pak.” Requeensha memperkenalkan diri dibarengi dengan senyum yang terlihat dipaksakan.
“Dia anak baru di sekolah kita, Ustadz,” tambah Sadam, untuk memperjelas.
“Permisi,” Di sela-sela obrolan mereka. Pelayan resto datang dengan membawa tumpukan makanan yang aku pesan, semua di tata dengan rapi dan telaten. Memang mungkin itulah hal yang diperintahkan atasannya dalam melayani para pengunjung RESTO.
Azzam menarik kursi yang semula ia duduki. “Jovan, Sadam, dan siapa namanya tadi?” Azzam menunjuk gadis yang masih berdiri sebelah Fey.
Dia menyengir lagi. “Requeensha, Bapak.” Requeensha mencoba menjawab dengan sopan.
“Oh, iya.” Tangan Azzam meraih tissue dan menyeka keningnya. “Ayo, kalian duduk sini.” Azzam mempersilahkan teman-temanku untuk ikut bergabung. Kalau aku pribadi biasa saja jika Azzam mengajak teman-temanku ikut bergabung, tapi aku hanya malas kalau ada perempuan licik ini di sini.
Jovan tanpa rasa malu, cepat-cepat duduk di sebelah Azzam dengan senang hati.
“Dam, Sha. Ayo sini duduk. Tidak usah malu-malu,” tawar Azzam lagi. Melihat dua teman Dhanisa itu tidak bergeming dari posisinya.
Jovan mendehem melihat tangan Requeensha belum lepas dari merangkul lengan Fey. “Sha itu tangan lepasin dulu kenapa? Lagian Fey nggak bakalan lepas kok! Nggak kasian dengan joker di samping kamu!” Mata Jovan mengekor ke Sadam yang stay di dekat Requeensha.
Sadam melotot dan meremas kedua tangannya. “Kamu apaan sih!” Sadam mencebik geram. "Lagian nggak tau malu banget tadi udah makan sekarang makan lagi," cibir Sadam, geleng-geleng.
“Sadam ....” Ia memandang teman seperjuangannya. “Pura-pura bahagia itu, juga butuh energi. Kayak mereka di depan ini," Jovan tersenyum singkat, matanya menatap pada tiga sosok di depan dia duduk.
“Jo, kamu ngomong apa sih makin ngelantur aja. Mendingan kita pulang sekarang!” celetuk Fey, lalu berdiri dari kursi dengan kasar.
__ADS_1
Jovan ikut berdiri. “Segitiga itu lancip setiap sisinya tajam, sama kayak cinta segitiga masing-masing mereka bakalan ada yang tersakiti.” Sorot mata Jovan mendelik ke arah Requeensha, Fey dan aku.
“Kamu ngomong apa sih Jo! Kamu nyindir aku?” Suara Reequensha keras. Ia tidak terima perkataan Jo yang seperti menyudutkan dirinya.
Netra Sadam menyorot ke arah Ustadz Azzam, ia melihat raut wajah gurunya itu sedikit tidak nyaman dengan arah pembicaraan mereka. “Hust.... Kalian sadar nggak kalau di sini ada guru kita, harusnya kalian lebih bersikap sopan, nggak perlu ribut kayak gitu.”
Di antara Fey, Jo dan Sadam, memang Sadam-lah yang bersikap lebih dewasa.
Azzam menghela napas berat. Tidak tahu masalah pelik apa yang dihadapi anak muridnya ini. Dalam hati ia hanya berharap semoga mereka semua tidak menghancurkan dinner pertamanya malam ini.
“Sudah! Sudah! Sebaiknya kalian duduk dan makan di sini,” pinta Azzam melerai, supaya masalah yang dihadapi anak muridnya tidak larut berkepanjangan.
“Nggak Pak. Aku nggak selera harus makan satu meja dengan perempuan di hadapan Bapak!” Requensha memutar bola mata jengah, lalu mendelik tajam ke arahku.
Aku mengertapkan gigi, kedua tangan yang mulanya merenggang sekarang rapat-rapat hingga membentuk gepalan tinju. Menahan gejolak emosi. Aku yang sedari tadi diam, tidak bisa lagi menahan emosi. Ucapan perempuan ini benar-benar menguji kesabaranku.
Azzam sedari tadi mengawasi gerak-gerik istrinya di depan. Dia berharap semoga Dhanisa tidak berbuat yang tidak-tidak, karena terkadang tingkahnya tidak bisa dikontrol.
Aku menyingkirkan kursi dengan kasar dan berjalan mendekat ke Requeensha.
“Heh! Mau kamu apa sih!” kataku dengan ketus.
Requeensha tergelak jahat. “Mau aku, kamu jauhin Fey!” Requeensha berbicara dengan sangat dekat, sehingga aku pastikan hanya aku yang mendengar ucapannya. “Anak sial!” bisiknya ke telinga.
Kata itu membuat telinga dan dadaku terasa panas. Wajahku yang putih sudah memerah dengan kedua rahang mengencang tegas. Sekarang rasa kesal dan emosi sudah sampai ke ubun-ubun. Aku sudah tidak tahan.
PLAK!
Tamparan keras mendarat dengan mulus di satu pipi Requensha. Ia memejamkan mata merasakan panas dan ngilu di pipi kanannya. Beberapa detik kemudian Requeensha mengeram kesakitan sambil memegang pipinya.
Azzam dan Fey seketika berdiri, terperanjat kaget melihat apa yang aku lakukan. Sadam dan Jovan menatap tak berkedip.
Requeensha menatap nyalang. Seperti belum puas, Requeensha kembali berujar dengan sangat menyakitkan. “Memang kenyataannya begitukan, kamu sudah membunuh orang tuamu di hari ulang tahunmu sendiri. Orang tuamu dengan sengaja pulang lebih cepat demi memberi kejutan untuk anaknya. Tapi nasib malang tidak bisa di tolak. Mereka meninggal ....”
“CUKUP!” Aku terpekik keras, dengan deru napas tak beraturan. Tanganku masih gatal dan sekali lagi dia berujar, satu tamparan dipastikan akan mendarat di wajahnya.
“Kenapa? Memang faktanya begitukan? Kamu itu sudah membunuh tiga orang nyawa!”
PLAK!
Tamparan itu benar-benar mendarat dengan sempurna di pipi sebelah kiri. Lengkap sudah.
Requeensha terisak pelan. Kemudian menjatuhkan kepalanya ke dada Fey dengan pelan. Ia tentu tidak mau membuang kesempatan emas ini. Apalagi ketika Fey mulai merasa kasihan dan membela dirinya. Aku tahu dia pasti sedang bersandiwara. Muka temboknya itu tidak akan kebal dengan tamparanku. Dasar wanita licik!
“Kamu perempuan macam apa, hah! Kamu nggak ada bedanya dengan perempuan yang lain,” ketus Fey.
Mataku berkaca-kaca, dada penuh sesak. Aku tidak menyangka Fey akan berkata demikian dan membela perempuan itu. Tingkah Requeensha benar-benar mirip belut. Licik dan picik. Dia selalu punya cara untuk menjatuhkan aku di depan Fey.
“Fey! Aku nggak salah dengar. Kamu bilang aku nggak ada bedanya dengan wanita lain?”
“Iya!” balas Fey penuh yakin.
Aku mendorong pundak Fey keras-keras dengan kedua tangan, hingga membuat kursi di belakang berderit karena terdorong oleh tubuh Fey yang melangkah mundur.
“Kamu pikir, kamu nggak sama dengan pria lain di luar sana! Hah! Belum apa-apa kamu udah main dinner dengan perempuan lain.”
Azzam melihat ke kiri dan ke kanan, ia tahu orang-orang sedang melihat ke arah meja mereka yang masih ribut adu mulut.
Azzam mendekat ke sisiku, dan mengelus punggungku naik turun. “Nisa istigfar. Tenanglah, turunkan emosimu.” Tangannya kemudian berpindah ke jari-jemariku yang masih dingin dan kaku. Ia meremasnya dengan erat.
“Fey, kita pulang aja yuk!” ajak Requeensha telah menarik lengan Fey.
“Ustadz, kami permisi dulu,” ujar Fey, melangkah menjauh dari meja keduanya.
Sekarang tinggalah Jovan dan Sadam yang diam mematung. Mereka berdua tidak habis pikir dengan tentang apa yang terjadi saat ini. Apa persahabatan mereka akan pecah.
Sadam berujar dengan ragu-ragu. “Nisa, maaf kalau sikap dan tutur Fey tadi sudah membuat kamu sakit atau sedih.” Tatapannya beralih ke Azzam. “Ustadz, kita semua minta maaf atas kejadian tadi, karena kami sudah menganggu acara makan malam ustadz.”
Jovan mengangguk dan turut merasa bersalah. “Nisa, aku tau ini semua berawal dari ucapanku tadi. Aku minta maaf, semoga kita masih bisa menjalin pertemanan lagi.” Jo berujar dengan tulus, tanpa ada unsur gurauan lagi.
Aku menghirup napas dalam-dalam, mencari rakus-rakus oksigen. “Jo, Sadam. Kalian masih akan tetap menjadi teman dan sahabat aku sampai kapan pun,” kataku dengan tenang.
Mereka berdua tersenyum hangat. Rasanya mereka berdua ingin memeluk sahabat wanitanya, tapi tidak etis bila dilakukan di depan guru sekolahnya.
“Kalau gitu kita pamit pulang dulu, ya Nisa, Ustadz,” pamit Jo dan Sadam meninggalkan kami berdua.
__ADS_1
Baru beberapa detik kemudian, mereka berdua kembali lagi seperti ada sesuatu yang tertinggal.
“Ustadz, saya lupa." Sadam menyengir. "Lupa salaman, dan mengucap salam.”
“Saya juga Ustadz.” Jo muncul dari belakang. “Ustadz, semoga ustadz nggak ngurangin nilai kita ya karena keributan di depan ustadz tadi.”
“Udah, ayo pulang!” Sadam menarik kerah baju Jo dan menyeretnya menjauh.
“Assalamu’alaikum,” teriak keduanya dari jarak dua meter.
“Wa’alaikumsalam warahmatullah ...”
Azzam merangkul pundakku dan mengajak aku untuk duduk lagi di tempat semula. Begitupun dengan Azzam ia merapatkan juga duduknya pada kursi makan.
Di sisi lain, aku masih mencoba untuk menata kembali mood-ku malam ini yang hancur karena Requeensha. Sebenarnya aku masih tidak terima dengan judge yang dilontarkan Fey terhadapku. Tapi, sekarang yang masih mengalihkan pikiran aku adalah darimana Requeensha tahu tentang masa laluku. Tentang kecelakaan tragis yang merenggut nyawa ayah, ibu dan Abang Khalid. Apa sedalam itu dia mengorek kehidupanku, tapi apa untungnya.
“Kenapa diaduk terus dari tadi? Nanti manisnya hilang. Ayo diminum!” Azzam melihat ke arahku yang tampak diam dengan tatapan melamun mengaduk juice yang sudah dipesan beberapa menit yang lalu, namun belum aku sentuh sedikitpun selain hanya mengaduknya dengan terus menerus
"Eh, kenapa Bang?" seketika aku mendongak menatap Azzam. Sedari tadi aku melamun karena memikirkan ucapan Requeensha hingga perkataan Azzam tidak terlalu jelas ditangkap alat pendengaranku.
"Apa yang Nisa pikirkan?"
Aku tersenyum tipis, lalu kembali menatap juice alpukat. "Nggak kok!"
Azzam menyipitkan mata, menyelidik ke wajahku. "Bener?"
Aku mengangkat kepalaku lagi, dan kembali mengulas senyum pendek. Lalu mengangguk. Setelahnya, aku lihat mata Azzam sibuk menyorot serentetan makanan yang tersaji.
“Makanan sebanyak ini, yakin bisa dihabiskan?”
“Ya tadi abang nyuruh Nisa buat pesan makanan. Ya, Nisa pesan beberapa makanan yang menurut Nisa enak.”
“Yaudah, ayo di makan. Awas tidak habis ya?”
Baru mau menyendok bistik shanghai, Requeensha muncul lagi menampilkan muka tak bersalahnya.
“Maaf ganggu! Kunci motor aku jatuh.” Requeensha merunduk memungut kunci motor yang tergeletak di lantai.
Setelah mengambil kunci motornya, ia bangun perlahan sambil berbisik lirih di sampingku. “Aku masih menyimpan satu kebohongan lagi tentangmu!” Kemudian berbalik badan, ingin pergi.
Aku mencekalnya. “Maksud kamu apa? Kebohongan apa?” pergelangan tangannya aku pegang keras-keras sampai meninggalkan bekas merah.
“Aw... sakit! Lepasin!” tegas Requeensha meminta.
Azzam memejamkan mata rapat-rapat, murid yang satu ini memang benar-benar membuatnya pusing, tidak selesai-selesainya dia membuat perkara.
Requeensha menatap ke Azzam. Dia kemudian tersenyum sinis.
“Ah, aku rasa kamu tau!” Ia menepis tangannya kesembarang arah.
“SHA! Apa?” desakku, supaya Requeensha cepat mengatakan maksudnya.
“Nisa... ” Azzam menegur. Azzam memang tidak mengatakan apapun, cukup dengan memanggil nama saja. Namun, berhasil membuat mulut aku bungkam karena sorot matanya mengisyaratakan sebuah perintah supaya supaya aku menyudahi apa yang aku lakukan dengan Requeensha.
“Bye!” Requeensha berlari menjauh.
Aku menarik napas jengah. “Abang dia itu perempuan yang menyebalkankan,” ujarku sambil menyandarkan tubuh ke senderan kursi.
“Berhentilah membahas itu, dan sekarang cepat makan.” Dia menyendokkan beberapa lauk ke dalam piringku. “Lihat sekarang sudah jam berapa?”
Aku menekan layar ponsel. Tampilan waktunya menunjukkan angka 22.05 WIB.
“Hah! Nggak salah!”
“Nisa, tau sudah berapa jam waktu yang dihabiskan hanya untuk mengobrol?”
“Ih! Jangan salahin Nisa. Abang juga lama tadi keluar ngapain coba!”
Azzam terkesiap. Suapannya tiba-tiba tertahan. Dia baru ingat akan memberikan sesuatu dengan Nisa.
“Tadi sebenarnya abang sedang mengambil sesuatu.”
“Iya Nisa tau. Dompetkan?” kataku sambil menguyah lamat-lamat makanan yang masuk ke dalam mulut.
Senyum merekah mencuat dari wajahnya. “Sudah. Selesaikan makan dulu. Baru bicara.”
__ADS_1
***
SKIP