
Aku segera menemui Azzam usai menyiapkan makan siang hari ini bersama umi tadi. Umi menyuruhku untuk menyusulnya saja ke lantai atas, karena aku sudah berteriak berkali-kali memanggil namanya namun Azzam tak juga turun dari atas.
"Sayang, kenapa nggak turun-turun dari tadi Nisa panggil tapi tidak menyahut. Memangnya harus nian Nisa jemput ke kamar dulu baru abang turun?" kesalku.
Azzam belum menjawab pertanyaanku. Ia masih menghadapkan tubuhnya ke arah jendela hanya menampakkan punggungnya yang tegap.
"Bang!" panggilku.
"Bang!" panggilku sekali lagi saat dia belum merespon.
"Bang, kenapa?" tanyaku ketika Azzam melihat mengepalkan tangannya dan memukul pelan dinding kamar. Kemudian, menempelkan kepalanya ke tangan yang masih melekat di tembok. Aku mulai bingung dengan sikapnya kali ini.
"Sayang, kenapa sih?" Tanganku menyentuh pundak Azzam. Membalik tubuhnya menghadapku.
Azzam masih enggan mengangkat kepalanya untuk melihat wajahku.
"Sayang," panggilku lembut sambil mengangkat dagu Azzam.
Sekarang aku bisa melihat dari manik mata yang ditunjukkan Azzam bahwa ada sesuatu yang sedang dirisaukannya.
"Ayo kita turun makan. Sudah di tunggu Umi di bawah." Aku menarik tangannya.
"Sayang... Sebentar! " Azzam mencekal pergelangan tanganku sebelah kiri. Sementara tangan kanan masih memegang pergelangan tangan Azzam. Kami berdiri saling berhadapan.
"Ada apa?"
"Sayang, masih mencintai abang kan?"
Aku mengerut dahi. Heran dengan pertanyaan Azzam sekaligus raut wajahnya yang berubah.
"Sayang, sebenarnya kenapa? Kenapa pertanyaan seperti itu yang abang tanyakan, memangnya tidak ada pertanyaan lain?"
Azzam menarik tanganku hingga tubuhku tersentak dan kedua tanganku tanpa sengaja menyentuh dadanya.
"Jawablah sayang. Pengakuan Nisa sangat penting bagi abang."
Aku membuang pandanganku, ketika mulai merasa gugup saat Azzam menatap wajahku dengan sangat dekat. Meski Azzam sering berlaku demikian, tapi tetap saja aku merasa gugup.
"Ya-ya... Tentu," kataku memaksakan senyum dibibir. "Aku masih mencintai suamiku ini dan akan selalu mencintainya."
Azzam tersenyum singkat. "Kenapa gugup sayang, bukankah abang suamimu?" bisik Azzam lirih.
"Ee... Ee... Abang kita turun makan yuk. Tidak enak umi udah nunggu di bawah," ucapku, terbata-bata karena salah tingkah menahan debaran di dada.
Azzam semangkin mengunci tubuhku dengan dekapan erat ketika aku mencoba untuk melepasnya dan mengajak Azzam turun.
"Kita sudah enam bulan lebih membangun biduk rumah tangga. Jikalau benar cinta yang abang lihat dimata Nisa adalah cinta untuk abang. Sekarang sebagai seorang suami, abang ingin bertanya suatu hal. Apakah cinta dan perhatian yang abang beri masih kurang, sayang?"
Aku terdiam. Azzam mendekatkan wajahnya. Aku segera memejamkan kedua mataku.
Azzam menatap dengan perasaan tak menentu.
"Sayang, pertanyaan macam apa itu? Cinta yang abang berikan sungguh berlebih untuk Nisa. Perhatian abang juga selalu tercurah seutuhnya untuk Nisa," kataku tulus. "Ketika Nisa tau dan paham akan ketulusan itu, maka Nisa juga akan memberikan cinta ini seutuhnya untuk sosok laki-laki bernama Azzam Alhuzayn Zahidi."
"Abang percaya pada cintamu, sayang. Kalau Nisa tidak akan pernah mengkhianati abang. Hanya saja mungkin Nisa yang belum siap mencerikan semuanya."
"Cerita? Apa yang mesti Nisa ceritakan?"
__ADS_1
Azzam menangkupkan kedua tangannya ke wajahku. "Apa ada pria lain yang Nisa cintai selain abang?"
"Hah? Apa maksud pertanyaan yang Nisa dengar barusan?" tanyaku tak percaya.
Azzam berjalan ke meja dan mengambil bunga yang telah aku tata di atas meja. Sebuah bunga mawar yang sehari lalu aku pajang di vas bunga berwarna putih.
"Abang tau benda ini bukan dari wanita, ungkapannya pun lain. Ini pasti dari seorang pria yang nampaknya menyukai Nisa."
Aku melihat bunga yang berada di genggaman Azzam. Mungkin ini yang dimaksudnya.
Aku menarik sudut bibirku, membentuk garis senyum. "Iya. Bunga itu memang dari pria yang sangat menyayangi Nisa."
Tangan Azzam gemetar hingga membuat bunga yang dipegangnya terjatuh ke lantai.
"Si-siapa dia?" suaranya gemetar pula.
Aku memungut tangkai bunga itu kembali. "Lho kenapa dibuang!?"
"Siapa yang memberi benda itu, Nisa?" suaranya mulai meninggi, tatapannya pun memandang dengan mata berkaca-kaca.
"Kan, abang yang memberi ini untuk Nisa. Lihat ungkapannya begitu maniskan? Makannya Nisa simpan."
Azzam membulatkan mata, terkejut. Ia kemudian memegang kedua pundakku. "Nisa, abang tak pernah memberikan ini," ungkap Azzam.
"Tapi sehari lalu ada seorang kurir yang mengantarkan ini dan mengatakan kalau bunga ini dari pria yang sangat menyayangi aku. Umi yang bilang, Nisa yakin itu dari abang."
Azzam menatap tak percaya. Setelah membuang pandangan ke arah lain, ia kembali balik menatap ku lekat.
"Abang tidak pernah mengantarkan barang apapun pada Nisa."
"Hah, tapi ini? Ini jelas-jelas abangkan yang mengirim."
"Lalu siapa kalau bukan abang coba?"
Azzam memegang pelipisnya. "Ya allah. Siapa pria yang menganggu istriku. Apa Nisa memiliki penggemar gelap," gumam Azzam lirih yang ucapannya itu bisa aku dengar.
"Penggemar berat gimana?"
"Entah, abang pun tidak tau sayang. Apa selama ini ada pria yang mencoba dekat dengan Nisa?"
Aku berpikir, mencoba mengingatnya. Tapi sungguh aku merasa tidak ada laki-laki yang mendekatiku.
"Nggak ada," jawabku.
"Benar, tidak ada sayang?"
Aku mengangguk.
"Lagian kitakan belum sampai seminggu tinggal di komplek ini. Nisa pun belum banyak keluar atau bergaul dengan orang di sini, ya karena orang-orang sinikan yang tinggal orang dengan waktu bekerja super sibuk. Mereka ada hanya diwaktu malam hari. Kapan Nisa bisa turut ikut mengenal orang-orang di kawasan elit ini. Dan selama ini, Nisa hanya dekat bergaul dengan Mbak Rara."
"Rara itu siapa?"
"Abang lupa? Mbak Rara itu yang kemarin datang juga di acara syukuran pindahan rumah kita, yang Nisa pinjamkan baju karena bajunya basah. Perempuan bermata sipit dan chubby itu lho," terangku. "Oh iya, suaminya laki-laki yang minta ganti rugi dengan Nisa karena menuduh Nisa yang bersalah atas semuanya."
"Oh itu." Azzam mengubah posisinya, lalu tampak menarik napasnya. "Bukannya apa Nisa, abang kan jarang di rumah dan bekerja juga. Entah kenapa abang hanya sedikit khawatir kalau nanti ada laki-laki yang menganggu istri abang di rumah. Abang semangkin khawatir karena beban abang bertambah karena harus mengawasi dua orang yang dicintai. Kamu dan janin ini, sayang."
Aku mengusap pipinya saat melihat ekpresi mukanya yang gusat. "Sayang, nggak usah khawatir gitu. Kan ada Umi di rumah."
__ADS_1
Azzam menarik napas panjangnya dan membuangnya perlahan.
"Jadi tentang bunga ini kita lupakan ya. Mungkin orang hanya salah kirim. Nyasar ke sini." Senyumku.
"Iya. Mungkin saja begitu. Meskipun abang belum terima duga itu karena namanya jelas-jelas namamu sayang."
"Iya sih. Awalnya Nisa juga curiga karena kalau abang menuliskan ungkapan abang sangat jarang menggunakan nama panggilan Dhanisa."
"Sayang, coba kamu lihat tulisan tangan ini. Kalau pun ini dari abang, apa tulisan tangan abang begini?"
Aku mengamati tulisan yang menggunakan bulpoin hitam itu. "Nggak sih. Tulisan abang dengan tulisan di note ini memang berbeda."
'Ya Allah, kenapa aku tidak pula menyadari perbedaan tulisan tangan Azzam dengan tulisan yang tertera di note ini?' batinku.
"Nah, tambah jelaskan kalau bunga ini bukan abang yang mengirimnya."
"Trus gimana? Ini masih kita simpan apa dibuang?"
"Sudahlah biarkan saja, sayang. Yang penting semuanya sudah terungkap, dan tidak ada keraguan ataupun kesalahpahaman."
"Tapi abang nggak marah atau curigakan dengan Nisa?"
Azzam mengiyakannya.
Aku menyiratkan gurat senyum dan mencium punggung tangannya. "Terima kasih, sayang."
"Ya sudah, tadi Nisa mengajak makan kan? Ayo kita turun. Anak abi di dalam perut ini pasti juga lapar," ucap Azzam mengusap perutku dan menggandeng pinggangku.
"Tunggu sebentar! Nanti sore boleh izin keluar nggak?"
Kita berdua menghentikan langkah sejenak. "Mau kemana memangnya?"
"Mau menemani Mbak Rara. Sebentar saja. Nggak enak soalnya udah janji juga."
"Mau kemana dulu?"
"Kata mbak Rara mau ke salon gitu," jawabku. "Mau perawatan supaya Ridho semangkin klepek-klepek sama istrinya," bisikku tersenyum.
"Kenapa Rara tidak meminta untuk diantar dengan suaminya?"
"Nggak tau, kata Mbak Rara cerita sedikit tadi. Ridho selalu nggak mau setiap kali diajak keluar sama Rara. Entah, kenapa. Tapi alasannya selalu sama sibuk, pokoknya banyak alasanlah, katanya."
"Entah karena menurut Mbak Rara kurang menarik maka dia mau ke salon dulu hari ini. Mau mempercantik diri. Nggak salah kan?" sambungku.
"Kalau Ridho tidak mau mengantar biar abang yang antarkan kalian ya."
"Huft! Bang, tapi Mbak Rara bilang biar kita berdua aja."
"Nggak Nisa. Abang pun ikut tidak apalah. Hitung-hitung cuci mata."
"Cuci mata apanya? Kan kita nggak jalan-jalan. Kita mau ke perawatan kecantikan untuk wanita," tegasku. "Oh apa jangan-jangan sayang mau intip wanita-wanita cantik di sana ya?" Aku menggelitik pinggang Azzam.
"Tenang, abang akan jaga pandangan. Memang Nisa lirik kiri-kanan," ledeknya.
"Ih, mana ada!"
"Udah ah! Laperrr... Nisa mau makan" Aku pergi ke bawah meninggalkan Azzam yang terus mengajak aku berbual sementara aku sudah sangat lapar.
__ADS_1
"Sayang, tungguuu!!"
***