Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 115. ....... Baby (2)


__ADS_3

"Sayang, lihat ini lucu ya"


"Iya lucu" kataku. "Kalau yang ini bagaimana? Lucu nggak?"


"He'em bagus," jawab Azzam.


Tanpa menatap aku yang sedang berbicara dengannya, Azzam mengiyakan apa-apa yang aku tunjuk melalui lembar demi lembar majalah katalog perlengkapan bayi yang aku bawa.


"Terus ini bagusan warna hijau atau biru?"


Azzam melirik sekilas majalah yang ada di pangkuanku. Memperlihatkan box bayi beserta kelambu yang menyertai bergelantungan indah di bagian atas.


"Yang hijau lumayan juga"


"Tapi Nisa sukanya warna biru."


"Ya sudah hijau saja, Nisa."


"Tapi warna hijau juga bagus."


Ada hembusan napas pendek dan samar yang terdengar dari mulutnya. Pria agaknya paham bahwa wanita ketika menangis akan menutup mulutnya, berbeda dengan pria jika menangis maka ia cenderung menutup matanya. Seolah dafi sanalah dosa-dosa tercipta.


Merasa diacuhkan, aku menutup majalah kemudian berangsur menghadap sang suami. Mengamati setiap aktivitas yang dilakukannya bersama dengan lembaran kertas putih yang bertumpuk-tumpuk. Itu mungkin saja laporan tugas-tugas mahasiswanya. Mungkin. Atau bisa jadi laporan mengenai pesantren Mambaul Ulum.


"Azzam...!"


"Iya apa?"


"Nisa mau bicara"


"Bicara saja, abang akan mendengarnya."


Suasana hening sejenak. Aku sengaja tidak berkata lagi agar Azzam bosan menunggu dan segera menoleh padaku. Mana enak bicara tanpa berhadapan dengan lawan bicara. Azzam adalah suamiku, bukannya tembok.


"Kenapa diam? Katanya mau bicara, sayang?"


Benar saja. Tak perlu menunggu lama. Azzam menoleh. Aku langsung saja menghadiahkan kecupan singkat untuknya. Kecupan penuh cinta yang menghangatkan.


Aku berusaha menahan senyum, saat melihat aksi terkejut yang ditunjukkan Azzam. Tapi naluri seorang lelaki dewasa tak mampu menolak tindakan wanita yang tak lain istrinya. Bukannya Allah akan memuliakan istri yang memberikan kebahagiaan batin kepada suami-suami mereka. Seiring berakhirnya kecupan tersebut, kami saling menatap satu sama lain dengan garis horizontal.


"Nisa nggak suka abi kayak gitu. Abi tau kan Nisa harus menunggu lebih dari tiga bulan untuk kita bisa bersama dan menghabiskan waktu hanya berdua seperti ini. Saat ini kita bisa-" tersirat sebuah harapan yang menggantung dari ucapanku barusan.


"A-Aku hanya sedang merindu... "


Azzam menarik napas panjang sambil menarik bibir membentuk lengkung senyum. "Lelaki ini juga sayang. Seberapa besarkah rasa merindu itu?"


"Se.... " Aku menyatukan jari telunjuk dan ibu jari tapi diberi jarak. "....gini"


Azzam buru-buru mengendik. "Kenapa hanya segitu?"


"Lihat dulu makanya, kan belum selesai." Aku membawa tautan jari itu ke dada Azzam, dimana Allah meletakkan hati di dalamnya.


"Itu ukuran rindu padamu sayang. Tidak pula besar, tidak pula kecil. Hanya sebagaimana besarnya hati yang abi berikan untuk Nisa. Cabi sendiri?"


Azzam berpikir sejenak. Setelah sebelumnya merapikan lebih dulu tumpukan kertas miliknya, yang tentunya menganggu suasana saat ini.


"Rindu abi tidak bisa diukur seberapa besar. Tapi sayang pasti tau seberapa dalam cinta yang abi berikan."


Yes. Azzam tersenyum penuh kemenangan, namun tetap menciptakan unsur kehangatan di dalamnya. Kini dua tangan yang tadinya fokus mengunci jemari mungilku, sekarang beralih menangkup pada perut cembung istri Azzam. Ia menatap dengan penuh cinta.


"Sayang abi. Si jagoan. Kamu dengarkan, Nak. Bunda pandai juga merayu dan menggombal sekarang. Lihat dia lebih dulu menggoda Abimu. Terus di cium-cium lagi." Azzam mengajak mengobrol calon bayi dalam perut. Tangannya aktif mengelus permukaan perut besar yang berbalut gamis dusty pink.


"Kan abi yang ngajarin, sayang" elakku tertawa.


"Oh begitu ya. Murid lebih jago dari gurunya."

__ADS_1


"Hahha iya dong."


Setelahnya aku kembali merasakan ada yang menyentak-nyetak di perut. Azzam terdiam sambil fokus meraba permukaan perut. Mencoba mengetahui keberadaan sang bayi.


"Yang sabar ya anak abi. Insyaallah tiba saatnya kamu lahir dan tumbuh menjadi anak sholeh yang taat kepada Allah dan orang tua." Diakhiri dengan kecupan lembut darinya. Aku turut menyatukan kedua tangan di atas perut menyertakan diri dalam tautan pernuh kasih. Menanti lahirnya generasi baru yang akan menjadi penerus hamba Allah yang senantiasa beriman hanya kepada-Nya.


***


Acara pernikahan itu berlangsung dengan khidmat. Belum lagi suara Azzam melantunkan ayat suci Al-Qur'an di acara pernikahan kakak tertuanya, Bang Fikri yang sempat tertunda karena musibah yang menimpa adiknya waktu. Dan sekarang alhamdulillah dapat terselenggara juga akhirnya. Tepatnya dikediaman Sarah.


Semua keluarga juga tamu undangan turut berbagi kebahagiaan bagi kedua mempelai.


Dapat terbaca sekali bagaimana rona bahagaia pasangan Fikri dan sarah yang tengah duduk di atas pelaminan, tiada hentinya mengumbar senyum kebahagiaan.


Aku masih mengobrol dan berbagi suka ria bersama dengan adik kandung Sarah, yang nyatanya ia baru saja mendaftarkan diri sebagai mahasiswa di negeri Sakura. Sungguh aura ketampanan Hanan kian mencuat, lebih dari awal saat aku berjumpa dengannya dulu.


Kami tengah duduk berdua. Azzam sedang sibuk membantu kelangsungan acara. Ada banyak kisah dan cerita yang Hanan bagikan kepadaku, baik itu tentang ungkapan kebahagiaannya karena akhirnya Kakak perempuannya telah menemukan lelaki yang tepat untuk mendampingi Kak Sarah, menyempurkan separuh agamanya. Juga cerita tentang pendidikan dan karir. Ia sangat bersedia untuk membantuku jika kelak aku ingin melantunkan study S1 di sana.


Aku tak hanya mengobrol berdua dengannya tetapi juga ada Jihan yang ikut nimbrung di sela percakapan kami. Hingga tiba saatnya untuk bersalaman dengan kedua mempelai. Aku dibantu Jihan untuk berjalan, agaknya merasa sedikit kesulitan dengan kondisiku demikian, membuat aku sulit bergerak.


Saat sampai di atas, aku memeluk Bang Fikri dan Kak Sarah bergantian. Memberikan ucapan selamat dan doa untuk kedua mempelai yang tengah berbunga-bunga.


"Duh, ponakan Om kapan keluarnya?" tanya Bang Fikri antusias. Ada binar bahagia yang begitu jelas.


"Sabar ya Om. InshaAllah sebentar lagi," kataku. "Entar dedenya mau diajikan abang main bola sama om Fikri dan mau jadi teman baik buat Tante Sarah."


Sarah tersenyum. "Oke sayang. Tante siap kok."


Setelah itu, aku menatap Kak Sarah tulus. "Kak, Nisa turut bahagia dengan pernikahan Kakak dan Bang Fikri semoga kalian bahagia selalu, menjadi keluarga yang samawa, Kak"


"Alhamdulillah, terima kasih Dhanisa. Doakan semoga kita bisa cepet dapat debay juga kayak kamu, ya sayang."


"Amiin."


Telah mengantri para tamu undangan yang lain, akhirnya aku pamit undur diri turun dari panggung. Dan kembali duduk. Kakiku sedikit sakit saat harus berlama-lama dan terus-terusan berdiri.


***


Obrolan keluarga masih terdengar begitu berapat di ruang tengah. Sementara aku dan Kak Sarah masih berada di kamarnya.


Aku menutup jendela kamar milik Sarah sambil tersenyum. Ah, malam ini agaknya sudah lama di tunggu-tunggu oleh pasangan yang baru menikah. Mereka ingin menikmati malam-malam termanis mereka di atas ranjang. Aku melongok melihat langit yang dipenuhi bintang-bintang. Sayangnya, bulan tidak terlihat dari sisi jendela kamar ini.


Sarah sudah mematut diri di depan kaca. Melihat penampilannya.


"Wah, pengantin baru ternyata selalu punya aura sendiri ya," pujiku memandangi Sarah dari bayang pantulan cermin.


Sebuah ketukan disertai panggilan namaku menggema dari luar.


"Suara suamimu sepertinya, Nisa."


"Iya, sebentar aku keluar dulu ya Kak."


Benar saja. Azzam sudah berdiri di ambang pintu dan pintu pertama kali aku buka. Aku celingak-celinguk melihat keluar. Tepatnya ke arah ruang dimana keluarga masih bercengkrama. Aku dapat melihat satu per satu dari mereka beranjak keluar.


"Mereka sudah mau pulang, sayang?"


"Iya. Nisa mau pulang atau menginap di sini?"


"Ya pulanglah. Ngapain Nisa di sini, yang ada ganggu malam pertama mereka," kataku yang diakhiri dengan gelak tawa.


Azzam pun demikian. "Baiklah, kalau begitu bereskanlah barang Nisa. Kita juga pulang ya, sudah larut malam, waktu kita berdua juga beristirahat sama seperti dua mempelai itu" Azzam mengangkat alis diikuti tolehan melihat ke arah abangnya yang ingin membimbing ayah dan ibunya sampai ke depan teras.


Aku menyentil lengannya. "Mulai. Ya udah sayang tunggu di luar ya. Nanti Nisa menyusul."


Membereskan gaun pesta yang aku bawa tadi usai berganti dengan pakaian biasa, dan berpamitan pulang pada Sarah.

__ADS_1


Orang yang duduk di ruangan tadi benar-benar sudah sepi. Aku melihat tinggalah Hanan, Fikri dan sang Ibu yang berdiri diambang pintu mengantar keluarga Fikri sampai ke depan.


Abah dan Umi serta Kak Aya sudah berada satu mobil. Tinggallah aku dan Azzam yang tertinggal di belakang.


"Bu, Hanan, kita pamit pulang dulu ya"


Sarah menyusul di belakang tak luput dari sapaanku, untuk izin pulang dengannya.


Ia memelukku sambil berujar. "Terima kasih ya Nisa untuk semuanya. Kakak mohon maaf kalau selama kita kenal, kakak pernah melukai perasaanmu. Termasuk tentang kejadian itu"


"Iya Kak, nggak apa. Nisa sudah lupa masa itu. Nisa pun meminta maaf kalau ada hal yang juga nggak berkenan yang pernah Nisa lakuin ke kakak."


"Semoga kamu dan dedek sehat-sehat ya sampai lahiran."


"Amiin makasih ya Kak. Kalau gitu Nisa pamit dulu." Aku kembali merangkulnya sebelum memutar badan masuk ke mobil.


"Han, sukses terus ya," kataku tersenyum padanya.


Hanan juga membalasnya. "Oke, jangan lupa sering-sering ke rumah ya. Aku tunggu," kata pria berparas tampan, dan berkulit putih itu.


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam."


Mobil telah melaju keluar dari pekarangan rumah. Meninggalkan keluarga kecil itu, yang tengah melambai tangan ke mobil yang mulai menjauh.


***


Ibu baru saja keluar karena ada tamu. Aku melanjutkan pekerjaan ibu di dapur. Mengaduk adonan puding cokelat kesukaanku.


Dengan kondisi tangan kanan masih mengaduk adonan puding yang telah mendidih, dan siap dipindahkan ke wadah cetakan. Sebuah tangan besar mengambil alih apa yang aku pegang.


"Biar abi bantu bun."


Seketika semu merah mencuat saat kecupan mendarat di pipiku.


Aneh. Meskipun ia sering melakukan itu tapi tetap saja semburat merah itu selalu muncul.


"Nggak usah. Dikit lagi, tinggal dituang ke sini kok."


Aku memegang dadaku merasa tersentak, saat sebuah tentangan kecil kembali menyentak. Tidak ada ruang di dalam sana, terlalu sempit sampai membuat tendangan bayi seakan mengenai ulu hatiku langsung.


"Kenapa?" Tanya Azzam saat tiba-tiba tanganku terhenti menuang adonan tadi ke cetakan.


"Biasa, Bi. Aktivitas bayi dalam perut," kataku tertawa renyah.


"Perutnya semangkin keras ya, Bun."


"Iya. Lebih sering kram perut juga."


Barusaja dibicarakan. Kram itu kembali lagi. Aku kembali merasakannya. Lumayan lebih kuat dari yang sebelumnya sampai aku menutup mata dan mengigit bibir bawah menahan diri untuk tidak mengeluh kesakitan.


Ketika membuka mata. Aku langsung mendapati wajah cemas Azzam.


"Kram lagi?" tanya Azzam sambil tangannya berputar mengitari perut.


"Kenapa semangkin intens nampaknya sayang. Apa sudah dekat waktunya."


"Deket apanya. Bulannya aja masih jauh. Mungkin kram biasa kali."


Azzam yang tak ingin berdebat nampak mengalah dan meniyakan perkataanku. Ia mungkin pula paham sama denganku.


Tak berbicara panjang lebar, ia mengambil adonan puding tadi, masih tersisa beberapa lagi yang belum di tuang ke wadah.


****

__ADS_1


skip


__ADS_2