Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 48. Gelisah


__ADS_3

Aku masih duduk di tepian kolam renang. Semalam aku sudah berperang dengan perasaanku sendiri. Ada kerisauan di dalam hati, aku tidak bisa menyembunyikan ini lagi.


Jihan keluar dengan membawa minuman berwarna orange ditemani dengan beberapa stoples kue yang sepertinya memang menjadi stok untuk tamu yang datang ke rumahnya.


"Tumben bertamu malam-malam? Biasanya kamu bilang nggak bisa keluar malam lagi karena takut dimarahin tante atau keluarga bibi kamu itu." Jihan menuangkan minuman dari teko kecil ke dalam gelas yang ada di nampan.


"Ada sesuatu yang mau aku ceritain ke kamu. Setidaknya kamu bisa memberi aku sedikit solusi, karena kamu satu-satunya teman perempuan yang aku punya, Han."


"Ya udah kamu cerita aja. Siapa tau aku bisa bantu."


"Hmm gini, mudah-mudahan kamu nggak kaget." Aku memberi intro supaya Jihan bisa pasang badan.


"Iya. Apa?" tanya Jihan penasaran, aku lihat dia menatapku dengan serius sepertinya Jihan sudah siap.


"Jihan aku mau memberitahu kalau sebenarnya aku. Aku sudah... "


Aku sangat ragu untuk mengatakan semua ini ke Jihan. Tapi, mungkin ini saatnya aku beritahu Jihan dulu.


Jihan mengernyit. "Sebenarnya sudah apa? Kamu jangan ragu gitu dong!"


"Kamu jangan kaget ya," kataku lagi.


"Hm" Jihan menyeruput minuman orange dengan tenang dan santai di pinggir kolam berenang miliknya.


"Sebenarnya aku sudah menikah, Han"


sroottt...


Minuman yang baru masuk ke dalam mulut Jihan langsung tersembur begitu saja.


Jihan mengorek-ngorek kupingnya. Takut apa yang barusan ditangkap gendang telinganya adalah salah.


Melihat reaksi Jihan, mencoba memperjelas lagi kalimatku. "Jihan, kamu nggak salah dengar. Aku bilang, aku sudah MENIKAH," kataku, yang diujung kalimatnya sengaja aku tekan.


Jihan gelagapan sambil mengelap bibirnya yang basah. Ia menatap aku yang duduk dengan raut wajah bingung dan tak percaya.


"Nisa, gimana bisa?" tanya Jihan tak percaya, sambil menggaruk kepala setelah usai aku berbicara.


"Ya. Bisa," kataku singkat.


"Bu... Bukan maksud aku gimana cerita kamu main nikah-nikah aja diam-diam. Nggak ngasih tau kita-kita!" kaget Jihan luar biasa.


"Ya, gimana mau bilang, orang aku dijodohin mendadak gitu."


Jihan menatap aku, semangkin bingung.


"Kamu kapan Nikahnya? Kemarin atau lusa?"


"Sudah lebih dua bulan lalu, Jihan."


"Hah!?" Mata Jihan berbelalak. Jihan tidak menyangka sahabatnya bisa merahasiakan pernikahan sampai selama itu. Harusnya dia memberitahu hari bahagianya supaya teman-teman yang lain bisa turut mendoakan sahabatnya bahagia.


"Serius Nisa?" tanya Jihan lagi, memastikan kebenaran ucapanku.


Aku mengangguk cepat.


"Di jodohin?" seloroh Jihan masih tidak percaya. Ia masih menatap kosong ke depan. Entah apa yang ada dibayangkannya saat ini.


"Kamu sebenarnya dijodohin dengan siapa sih?"


"Dengan Ustadz Azzam," sahutku tanpa ragu.


"Hah!" Mulutnya terbuka sempurna. Jihan kembali meloncat terkaget, malam ini sepertinya dia bakalan banyak berolahraga jantung.


Setiap apa yang keluar dari mulutku, Jihan selalu saja dibuat terkejut. Aku paham. Mungkin karena aku menyampaikan semua ini secara mendadak, dan tentu itu akan membuatnya terkaget-kaget.


Jihan tampak masih melongok, setelahnya menggeleng-geleng. "Sumpah ini suprise yang paling luar biasa yang kamu berikan ke aku Nisa!" kata Jihan tak percaya, semua pengakuan yang aku berikan tampak membuat Jihan shock. "Pantes aja selama ini kalau Ustadz Azzam mengajar di kelas, kamu kayak dapat perhatian yang lebih gitu. Pokoknya kayak murid kesayangan Ustadz Azzam lah."


Aku menggaruk keningku.


"Sebenarnya gimana ceritanya kamu bisa nikah dengan Ustadz Azzam. Kan kamu bilang ustadz Azzam abang sepupu kamu. Trus kok bisa kalian nikah berdua?"


"Ya bisa karena kedua orang tua aku itu mau aku jadi anak yang lebih baik, nggak keluyuran malam-malam terus. Yang jelas mereka memilih abang sepupuku untuk dijadikan suami karena mereka yakin kalau Ustadz Azzam bisa merubah aku jadi lebih baik. Katanya gitu," kataku tanpa memalingkan muka dari menatap Jihan.


"Dan yang lebih kaget lagi ternyata Ustadz Azzam bilang kau dia sudah menyukai aku sejak dulu. Ya aku mana ngeh, aku kira kasih sayang dan perhatian yang selalu Azzam beri itu sebatas cinta dan sayang sebagai abang dengan adik saudara sepupunya sendiri."


"What? Jadi Ustadz Azzam yang notabenenya sepupu kamu udah suka sama kamu dari dulu?" Jihan membulatkan matanya mendengar pengakuan dari mulutku.


"Kamu yang dengar aja shock. Apalagi aku yang ngejalanin nasib aku ini, Jihan," kataku sambil menggoyang-goyangkan kaki dalam air.


Jihan diam, tentu saja ia masih terkejut mendengar ucapan aku. Jihan mencoba menetralkan lagi wajahnya.


"Nisa, harusnya kamu itu bersyukur karena Allah begitu cepat mempertemukan kamu dengan jodohmu, melalui perjodohan ini," jelasnya. "Dan Ustadz Azzam sudah dipilih Allah sebagai ditakdirkan atas jodohmu."


Jihan berpindah posisi duduk ke mendekat ke samping aku. "Iya, jodoh. Jodoh yang dipaksakan!"


"Jodoh yang dipaksakan gimana?"


"Ya, awalnya aku nolak keras permintaan orang tua aku. Tapi, mereke keukeuh. Bagaimana pun juga aku menolak tentu hasrat mereka untuk menikahkan aku lebih kuat. Ya pasti aku kalah lah," ucapku dengan tampang frustasi.


"Kamu harus belajar ikhlas. Kamu tau nggak sesuatu yang dilakukan dengan terpaksa itu jadinya nggak baik dan akan berakhir dengan sia-sia. Lagian mana ada orang tua mau menjerumuskan anaknya sendiri. Terkadang kita yang menjadi anak itu selalu membuat mereka sedih. Membuat mereka kecewa. Tetapi tetap saja mereka menginginkan anak-anaknya terbaik. Dan semangkin cepat seseorang menikah semangkin menjauh dia dari maksiat dan fitnah."


"Astagfirullah!" Jihan kaget sambil membekap mulutnya. "Fey!" Jihan menepuk pundakku. "Kamu masih pacaran dengan Fey kan, Nisa?"


Aku mengangguk.


"Ya ampun!" Jihan menepuk jidat, kemudian beralih memegang kedua pundakku membuat kami saling bertatapan. "Ya ampun!" Jihan menggeleng-geleng, tentang pengakuan yang di dengarnya.


"Nisa, kamu sadar nggak sih dengan apa yang kamu lakuin! Kamu sudah ngeduain suami kamu dengan masih menjalin hubungan dengan Fey! Dosa lho. Orang pacaran aja jatuhnya udah zina. Apalagi kamu... " Jihan tidak kuasa melanjutkan kalimatnya.


Aku diam melihat raut frustasi Jihan.


"Apa Ustadz tau kamu masih ada hubungan dengan Fey? Dan apa Fey tau kamu udah nikah?" tatapan Jihan begitu dalam menyelidik wajahku.


"Nggak, keduanya nggak ada yang tau."


Jihan tertawa sinis. "Hebat!" Jihan bertepuk tangan, salut dengan kemampuan Nisa menjaga rahasia besarnya itu dari suaminya.


Jihan mencoba mengatur napasnya. "Aku cuma mau peringatin kamu, karena kamu sudah menikah maka taatnya kamu dengan suami adalah jaminan surga untukmu."


Aku menghela napas berat. "Terus aku gimana?"


"Kamu harus putuskan sekarang juga, kamu pilih tetap mempertahankan rumah tanggamu. Atau kamu tetap memilih tetap melanjutkan hubungan cinta monyetmu itu dengan Fey!"


"Cinta monyet!" Aku mengernyit.


Jihan mengalihkan tatapannya. "Kamu sudah mendapatkan suatu yang pasti, Nisa. Ustadz Azzam laki-laki yang satu sekolah tau. Dia pria idaman kaum perempuan di sekolah. Jujur aku juga jatuh hati dengan Ustadz Azzam dulu."

__ADS_1


Jihan menoleh menatapku lagi. "Ingat dulu, ya!" tegas Jihan "Tapi aku sadar aku cuman murid, dan masih jauh untuk kata menjadi pendampingnya. Tapi terserah kalau kamu mau milih Fey. Yang jelas Fey itu belum tentu akan menjadi jodohmu."


"Jihan kamu suka dengan Ustadz Azzam?" kataku kaget.


"Aku menyukainya tapi perasaan itu cuman aku pendam, dan sekarang aku coba untuk hapus perasaan itu. Udah kamu tenang aja. Nggak akan rebut Ustadz Azzam kayak Bu Lydia." Jujur Jihan. "Eh iya, tapi kamu taukan kalau Bu Lydia juga suka dengan Ustadz Azzam?"


Aku mangut-mangut. "Tau. Udah lama tau."


"Bu Lydia bahkan sudah menyatakan perasaannya dengan Ustadz Azzam lho! Tapi apa jawaban Ustadz Azzam. Dia menolaknya, dan bilang kalau dia sudah punya satu wanita pengisi hatinya. Dan aku nggak nyangka ternyata perempuan itu kamu, Nisa!"


Aku gelagapan. "Nyatain perasaan?"


"Iya. Itu baru Bu Lydia. Entah dengan rekan-rekan Ustadz Azzam yang lain di luar sekolah. Kamu baru tau kan?"


"Iya. Aku baru tau."


Jihan tersenyum paksa. "Kamu itu egois. Terlalu sibuk dengan urusan percintaanmu sendiri dengan Fey, tanpa memikirkan orang lain."


"Kamu kok ngomong gitu, Jihan."


Jihan balik menatap. "Ego kamu yang buat aku kesal Nisa. Aku nggak habis pikir aja kok bisa-bisanya gitu, ya!" Jihan benar-benar kecewa dengan sahabatnya.


"Ustadz Azzam sudah mati-matian menjaga pandangan matanya, supaya tetap bisa menjadi lelaki yang setia hanya pada satu wanita. Tapi kok kamu nggak peka sih. Udah jadi istri dia juga!"


Jihan meneguk air di sebelahnya untuk melegakan tenggorokan yang kering. "Sebelum terlambat. Sebaiknya kamu pertimbangkan baik-baik, kamu harus memperbaiki semuanya," nasehat Jihan.


Drrtt... Drtt...


Aku mengerjap saat ponsel di dalam sakuku bergetar. Aku langsung menggeser panel hijau ketika membaca nama yang tertera di layar ponsel.


"Halo, Bu" sapaku lebih dulu.


"Nisa, kamu dimana?"


"Di rumah Jihan sebentar. Kenapa, Bu?"


"Besok lusa, tepatnya hari Rabu, Ayah dan Ibu akan bertolak ke Indonesia."


"Lho, kok mendadak. Bukannya kata Ibu, ayah masih sibuk di sana?"


"Pekerjaan Ayah di tunda dulu sementara waktu, lagi pula ada staf lain yang bisa diminta bantu untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum rampung."


Aku mengangguk.


"Nanti setelah kamu pulang, tolong sampaikan dengan keluarga Paman Hamzah, kalau kita akan datang malam Rabu, karena ada hal penting yang akan kami sampaikan dengan keluarga mereka."


"Hal penting apa?" Aku mengerutkan dahi, mendengar penuturan ibu.


"Ada yang ingin kita selesaikan. Ibu juga ayah sudah berunding untuk membahas tentang rumah tangga kamu dengan Azzam."


"Lho memang kenapa?!"


"Ada-lah pokoknya. Ibu tutup dulu teleponnya masih ada klien yang menunggu. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam"


***


Tok... Tok.. Tok..


"Pemisi!"


"Fey!"


Kriekk ...


Fey langsung muncul dari balik pintu sambil menggaruk kepalanya. Seketika dia diam terpenjat, meresapi situasi yang sedang menerpanya. Ia kaget melihat sosok penampakan gadis yang tiba-tiba ada di hadapannya sedang melempar senyum manis.


Fey menatap bingung. Kenapa perempuan ini bisa ada di sini, dia seperti jin selalu tau aku ada dimana.


Tak mau cari masalah Fey, menutup pintu kembali, tapi gadis itu berhasil mencegahnya lebih dulu. Fey tak berhasil menutup pintu.


Fey menatap jengah. "Kenapa sih!?" tanya Fey kesal. "Requeen, aku nggak terima tamu malam-malam gini. Apalagi cewek!" celetuk Fey cuek, memandang sosok di depannya dengan tatapan tidak suka.


Requeensha tidak memperdulikan omelan yang dilontarkan pria di depannya itu. Dengan cepat ia malah menarik tangan Fey masuk dalam.


Fey menahan langkahnya. "Heh! Kamu seenaknya aja main tarik-tarik. Asal masuk ke rumah orang lagi!" protes Fey geram.


Requeensha menyegir dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Di luar!" bentak Fey sambil melayangkan arah telunjukkan ke luar pintu.


Requeensha mendesisi. "Ish! Iya-iya"


"Kamu duduk sana! Di kursi yang ada di teras!" pinta Fey acuh tak acuh, tapi dengan suara yang mulai turun.


"Siapa Fey malam-malam gini?" pekik ayah dari arah ruang keluarga, mungkin ia mendengar kegaduhan kita berdua. Sebenarnya kami berdua tadi sedang nobar pertandingan sepak bola team favorite ayah Inter Milan vs Barcelona.


"Bukan siapa-siapa, Pah. Cuman orang mau minta sumbangan!"


"Ya udah, kamu kasih aja uang 5 ribu. Sudah itu tutup pintu!" perintah ayah dengan suara agak samar.


"Iya, Pah," sahut Fey balik.


Requeensha yang mendengar hanya bisa menatap kesal, sambil melipat kedua tangannya. "Tega kamu bilang aku tukang minta sumbangan, Fey!" Raut wajah Requeensha cemberut.


Tak lama setelahnya Fey juga duduk di kursi rotan depan teras, tak peduli sikap protes yang dilontarkan gadis itu.


Fey mencoba menarik napas, butuh kesabaran ekstra meladeni perempuan tengil ini. "Kamu itu datang disaat yang nggak tepat!" cetus Fey langsung.


"Kok nggak tepat?" bantah Requeensha cepat.


"Iya! Aku lagi seru-serunya nonton bola. Kamu malah ujuk-ujuk datang," ketus Fey sambil menyugar rambutnya yang mulai gondrong.


Requeensha terpana sebentar, matanya berbinar-binar. Saat Fey melakukan itu, ia merasa ketampanan Fey lebih dari 100 persen.


"Tapi aku yakin info yang aku bawa ini lebih penting, ketimbang permainan sepak bola itu, Fey!" Requeensha bertutur, tidak lepas dari melihat muka Fey.


"Kenapa liatin aku gitu? Ada yang salah?" Fey melihat penampilannya.


"Nggak Fey. Kamu nggak salah. Tapi aku yang salah karena udah terpesona sama kamu!?" gumam Requeen tidak jelas.


Fey bergidik sekaligus aneh. "Dasar cewek nggak jelas!" celetuk Fey.


Ia meyelidik sedikit ke pipi Requensha. "I... Itu pipi kenapa?" Fey memiringkan sedikit kepalanya melihat pipi kiri Requeensha tampak memerah.


"Oh, ini. Biasa!" sahut Requeensha seadanya sambil mengusap pipi.

__ADS_1


Dahi Fey berkerut. "Biasa?"


"Iya. Biasa dapat tanda tangan dari telapak tangan Papah," jawab Requeensha santai.


"Kamu habis di tampar?"


Requeensha terkekeh singkat. "Bagi aku ini udah biasalah."


Kursi terdengar berderit saat Fey beringsut dari duduk.


"Fey, mau ke mana? Kan aku belum cerita!" panggil Requeensha saat Fey masuk ke dalam rumah.


"Fey!" teriak Requeen.


Requeensha berdiri. Ia berkeinginan untuk menyusul Fey masuk ke dalam, tapi itu tidak mungkin. Akhirnya, dengan berat hati. Requeensha berbalik badan menuju motornya lagi.


"Sha, mau kemana?"


Mendengar suara Fey, Requeensha berhenti di tempat, lalu berbalik badan. "Bukannya kamu udah masuk tadi?"


"Sini!" Fey melambaikan tangannya.


Requeensha menurut, berjalan balik lagi mendekat ke Fey dan duduk di tempat semula.


"Ini, kamu bisa kompres pipi kamu pake sapu tangan itu." Fey mengangsurkan sapu tangan bergaris-garis navy, meletakkan di atas meja kecil, di sebelah.


Requeensha mengambilnya, kemudian menaruh pipi kiri.


Fey cukup prihatin sekaligus simpati dengan perempuan ini. Dia hanya seorang anak perempuan yang kurang perhatian dari orang tua. Fey belum leka mengamati Requeen, ketika mengompres pipi. Ia menyudahi aksinya saat Requeen menegur.


"Makasih" ucapnya yang hanya dibalas anggukan kecil oleh Fey.


"Aku mau tanya, dari mana kamu tau rumah aku?" tanya Fey kemudian.


"Dari dua teman kamulah, siapa lagi!"


"Memang dasar dua curut!" cebik Fey. "Kamu mau ngomong apa? Buruan!"


"Yee bilang aja mau ngusir," ngotot Requeensha.


Fey menghela napas pelan. "Bukan mau ngusir. Kamu perempuan. Pulang malam-malam gini nggak pantes, apalagi sendirian." Fey mulai melunak.


Requeensha senyum-senyum sendiri. "Kamu perhatian banget, Fey. Aku makin kagum," puji Requeensha, dirinya merasa begitu senang saat mendapatkan perhatian dari Fey, meski Requeensha tahu kalau Fey menganggap itu biasa, tapi bagi Requeensha ini sudah luar biasa.


Fey menggeleng-gelengkan kepala. Memantulkan setiap ucapan Requeensha agar tidak masuk ke dalam telinganya. Ia takut itu akan menjadi virus mematikan.


"Udah. Cepat cerita apa?" pinta Fey tak sabaran.


"Ini cerita tentang Dhanisa. Aku bawa berita terbaru tentang dia."


Requeensha mendekatkan kepalanya. "Asal kamu tau Fey. Sebenarnya Dhanisa itu sudah... "


"Lho Fey kamu ganti gebetan lagi?" suara Kak Rinda muncul dari belakang, hingga membuat kami terkejut. Kalimat Requeensha pun terputus juga.


"Gebetan apa Kak?"


"Noh," Fey mengikuti arah tatapan kakaknya.


"Nggaklah kak. Aku juga baru kenal dia."


Requeensha langsung berdiri dan mendekat ke Kak Rinda. "Kak ipar, kenalin Requeensha." Requensha memperkenalkan diri dengan penuh percaya diri, dan tak canggung sedikit pun dengan memanggil Kak Rinda dengan panggilan Kakak Ipar.


Fey cengengesan, dan menggaruk belakang kupingnya sampai memerah. "Kak, harap maklum. Cewek ini memang suka nyablak, tanpa tau sikon (situasi dan kondisi)"


Kak Rinda tersenyum. "Ya udah kalian lanjutin ngapelnya. Kak masuk dulu."


"Heh, kamu bisa jaga sikap nggak sih!" Fey melototi Requeensha, usai Ka Rinda masuk.


"He-he maaf-maaf"


Fey mengangkat tangan kirinya, melihat jam sebentar. "Tadi ngomong apa. Aku nggak ada waktu nih! Mau lanjut nonton."


"Oh, iya. Tadi sampe mana yah!" cengir Requeensha.


"Sampai, 'Sebenarnya Dhanisa itu sudah...' "


"Oh iya-ya he-he" cengir Requeesha kembali karena malu.


"He-he," Fey mengikuti cara Requeensha menyengir.


"Sebenarnya Dhanisa alias Nisa, pacar kamu itu sudah NIKAH Fey. Iya, sudah Nikah," tekan Requeensha sekali lagi, penuh yakin.


Fey terkekeh keras-keras.


"Fey kok ketawa sih?" Requeensha memgerut dahi, bingung sekaligus heran melihat respon Fey, yang hanya di balas dengan tawaan. "Fey, plis aku lagi nggak stand up comedy. Aku bilang yang sebenarnya. Jujur dah!" Requeensha mengangkat kedua jari membentuk tanda vis.


"Kamu tuh ya, sukak banget nyebar berita hoax. Cobalah untuk insyaf sedikit"


"Nggak Fey" Requeesha menggeleng cepat. "Ini nggak hoax sama sekali. Ini aku tau juga dari Pak Chandra!"


Seketika Fey berhenti tertawa. "Pak Chandra?"


'Dari mana coba Pak Chandra tau, dan bisa bilang begitu.'


Requeensha mengiyakan. "Katanya, Ustadz Azzam yang kasih tau sendiri, di sekolah masih beberapa guru aja yang tau. Ya, salah satunya Pak Chandra. Ustadz Azzam bilang, jangan di sebar dulu, karena Dhanisa belum siap. Gitu!"


Fey terkesiap. "Apa iya, Sha?" Fey mulai bimbang, antara percaya atau tidak percaya. Awalnya dia memilih tidak percaya karena pengakuan itu keluar dari mulut Requeensha, yang bisa jadi itu omong kosong belakang. Tapi sisi lain dia bisa percaya saat Requeensha mengatakan itu informasi yang diterima dari Pak Chandra. Dan tidak mungkin Pak Chandra memfitnah Ustad Azzam dengan mengatakan hal demikian.


Fey masih bingung dan mengigit ujung kukunya. Yang mana kenyataan yang harus diterima.


"Trus kalau memang iya, kenapa Pak Chandra mau memberitahu kamu, karena Pak Chandra bilang ke kamu, ini rahasia."


Requeensha memutar bola mata malas. "Ya, jelaslah. Secara Pak Chandra itu Om aku, Fey. Aku masuk ke sekolah aliyah aja dibantu dia. Soalnya aku udah daftar pindah ke sekolah lain tapi pada nolak aku kesemua. Mungkin karena catatan Raport penilaian sikap aku kurang bagus. Jujur aku memang suka buat onar. Tapi kalau yang masalah ini, aku beberan jujur. Nggak nipu sama sekali. Kalau kamu nggak percaya tanya langsung dengan Pak Chandra atau nggak hubungin Nisa saat ini juga."


Fey berpikir sebentar, mendengar opsi dari Requeensha. Daripada dia mati penasaran, sebaiknya dia telepon Dhanisa sekarang juga.


Tangan Fey menggulir kan layar mencari contact Dhanisa dan mendial-up nomornya. Tapi sayang nomor Nisa sedang tidak aktif. Fey kecewa.


"Nggak aktif, Sha."


"Ya udah besok aja di sekolah kamu dengar penjelasan dari dia."


Fey menatap Requeensha, ia mencoba mengamati raut wajahnya. Ia tampak seperti bersikap biasa, tidak tampak ada kebohongan di wajah Requeensha.


"Ya udah, tugas aku sekarang selesai. Dan aku mau pulang. Nih sapu tangannya. Makasih," kata Requeensha meletakkan sapu tangan itu di atas meja lagi.


Fey mengacak-acak rambutnya, frustasi. Tak habis pikir. Apa benar iya?

__ADS_1


***


__ADS_2