Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 88. Kiriman Foto


__ADS_3

Aku tengah sibuk mencampur semua bahan mulai dari tepung, telur, mentega, gula, susu sesuai dengan arahan dari Umi karena aku pelan-pelan aku masih belajar untuk membuat cake.


Nanti malam tentu menjadi malam yang spesial karena malam nanti ulang tahun Azzam. Aku berinisiatif untuk membuat cake ulang tahun dengan tangan buatanku sendiri. Aku harap hasilnya bagus dan juga enak seperti cake yang dijual di toko-toko kue.


Ketika tengah mengaduk adonan, ponselku bergetar. Aku mengira ada pesan yang masuk dari Azzam. Tapi setelah aku melihat, ternyata pesan yang masuk dari nomor yang tak aku kenal. Dengan perasaan malas aku membuka pesan.


Nomor yang tak dikenal itu mengirimkan foto-foto Azzam dengan seorang wanita, wanita itu seperti masih muda, bahkan mungkin seumuran dengan aku. Mulai dari bertabrakan, gadis itu memegang tangan Azzam hingga mereka jatuh berdua.


Aku memegang pelipisku. "Umi Nisa boleh minta izin ke kamar sebentar?"


"Kenapa, Nak? Sakit? Pusing lagi?" Umi memegang lenganku.


"Sedikit. Nisa ke atas ya, Umi."


"Iya, Nak. Istirahatlah dulu. Biar Umi yang melanjutkan ini ya, Nak." Aku berusaha tersenyum hangat di depan umi, meski hatiku panas saat ini. Aku hanya berusaha untuk terlihat biasa di depan mertuaku.


Aku berbalik badan menuju kamar, bersamaan dengan itu pula air mataku berderai. Dada terasa sesak dan hati perih. Yang semangkin membuatku kesal ketika aku membaca pesan di bawahnya.


0899-XXXX-XXXX


"Laki-laki macam dia, tidak pantas dipertahankan! Lebih baik kau hidup denganku Dhanisa. Aku jamin hidupmu akan senang."


Aku duduk terkulai lemas, takut peristiwa yang dulu terulang lagi.


"Tidak! Aku yakin ini pasti ada yang memfitnah Azzam," pikirku. "Ini hanya kecelakaan biasa. Sudah pasti Azzam tidak mungkin begitu. Dia laki-laki paham agama, dan tau batas-batas pergaulan dengan wanita yang bukan muhrimnya. Iya, aku yakin Azzam pasti hanya dijebak," ucapku lirih.


Tidak lama, pesan kembali masuk.


0899-XXXX-XXX


"Bagaimana bunga kirimanku? Kamu suka sayang?"


"Siapa sih pemilik nomor ini, dia pasti hanya ingin mengusik rumah tangga kami," kataku mengeram kesal. Aku mengusap pipiku yang basah. Kesabaranku sudah habis. Aku tidak bisa membiarkan suamiku difitnah dengan foto-foto yang belum tentu kebenarannya.


"Dasar bodoh! Dia pikir aku percaya begitu saja. Awas kalau aku tau dia siapa!!"


Aku mencoba menghubungi nomor yang tak dikenal tadi.


"Halo, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, sayang. Aku senang akhirnya kau menghubungiku sayang."


"Kamu siapa sebenarnya?"


"Aku?" Dari ujung telepon terdengar suara pria itu tertawa keras. "Aku yang mengirim bunga untuk sehari lalu sayang."


"Stop! Yang aku tanya kamu siapa?" suaraku mulai tak bisa dikontrol, ucapan pria di seberang telepon ini benar-benar membuat aku kesal.


"Ups! Jangan marah gitu dong. Memangnya kamu nggak kenal dengan suara cool ku ini? Haha"


Aku mengerutkan keningku. Wajahku sudah mulai merah padam. Kalau pria itu di depanku, sudah pasti aku tonjok wajahnya.


"Kamu kira aku percaya begitu saja dengan foto yang kamu kiri. Aih! Foto sangat mudah untuk diedit. Aku nggak akan percaya! Aku tau suamiku, orang yang baik dan tidak akan macam-macam dengan wanita lain. Tidak sepertimu yang menganggu istri orang."


"Ha-ha... Yakin?"


"Tentu. Aku sangat yakin. Sekarang cepat katakan kamu siapa?" kataku dengan lantang.


Tut... Tut...


Telepon terputus.


"Halo! Halo!" Tidak ada lagi sahutan lagi. Telepon itu sudah diputus oleh pria misterius itu.

__ADS_1


***


"Kamu habis teleponan dengan siapa, Mas? Kok ketawa-ketawa gitu?" tanya Rara membawakan coffie late untum Ridho.


"Oh, nggak kok sayang. Biasa Galang. Orangnya agak usil gitu."


"Galang?" Rara duduk di merapat dengan Ridho di kursi ruang tengah menghadap televisi yang tengah menayangkan berita olahraga. "Mas, kenapa kamu masih berhubungan dengan Galang?"


"Kenapa memangnya?" tanya Ridho tak suka.


"Bukannya apa, Mas. Sedikit banyak aku tahu watak Galang itu. Dia pria yang suka main wanita sayang. Aku hanya takut kamu... "


"Kamu apa, Ra?" Ridho menatap Rara dengan melotot.


"Aku takut kamu teracuni oleh pergaulan Galang. Kamu seringkan beberapa pekan ini menghabiskan waktu dengan pria itu. Sampai kamu lupa pulang," jelasku tentang sikap Ridho yang memang pulang selalu larut malam sejak ia mengenal Galang. Aku tau Ridho berkenalan dengan Galang dari hubungan kerjanya dengan Galang, yang juga sebagai staf kampus.


"Ahlah...!! Nggak usah sok tau kamu, Ra. Masih bagus aku pulangkan?"


Rara menarik napas panjang. Rara tahu ucapannya barusan hanya akan memancing emosi Ridho, maka kali ini ia memilih untuk diam. Tak melanjutkan perdebatan mereka berdua.


"Mas nanti aku mau ke SPA, mau perawatan gitu. Kamu ikut ya temanin aku?" Basa-basi Rara. Meskipun ia tahu jawaban Ridho tapi setidaknya Ridho tahu kalau hari ini ia akan keluar meski tidak ditemani suaminya.


"Nih!" Ridho menyodorkan uang untuk Rara. "Aku nggak menemani kamu dulu ya."


"Terima kasih, Mas." Rara menerima uang yang diberikan Ridho. "Tapi, aku maunya keluar dan pergi bareng kamu, Mas," pinta Rara sekali lagi, mengutarakan keinginannya.


Ridho segera memutup buku yang dibacanya dengan kesal.


"Kamu punya telinga atau nggak sih? Aku bilang nggak bisa," jawab Ridho kesal.


"Mas, kamu kok beberapa minggu ini selalu marah-marah gitu sama aku. Aku salah apa sih sama kamu. Atau kamu udah nggak menganggap aku ini sebagai istrimu! Aku cape mas di acuhkan begini. Kalau Aku punya salah coba kamu bilang dimana salah aku, supaya aku tau dan bisa membenarkan sikapku yang salah terhadapmu," pinta Rara dengan nada bergetar, matanya pun mulai berkaca-kaca.


Ridho mengebrak meja hingga membuat gelas di atas meja bergetar. Rara sontak terpelonjak kaget.


"Pertama, aku sudah memergoki kamu jalan dengan Angga. Aku melihatnya bukan hanya sekali Ra. Sudah tiga kali. Kalau sekali oke, wajar. Tapi kalau sudah berkali-kali apa coba maksudnya?


Kedua, aku frustasi dengan desakan orang tuaku, Ra untuk selalu memberikan cucu untuknya. Itu membuat aku tertekan."


Rara meraih tangan Ridho yang mengepal di atas meja. "Ya Allah, Mas. Mas Ridho kamu hanya salah paham saat itu Bang Angga hanya sebatas membantu membawa barang bawaanku, habis aku kerepotan, Mas. Dan kamu setiap aku ajak untuk ikut denganku kau selalu menolak."


"Aku bukan orang bodoh, Ra." Ridho menarik tangannya yang digenggam Rara.


"Kalau kamu nggak percaya, aku akan panggil Angga dan menjelaskan semuanya. Supaya nggak salah paham."


Ridho terdiam.


"Dan untuk masalah orang tua kamu, Mas. Bagaimana kalau besok kita ke rumah orang tua kamu. Kita jelaskan semuanya dan beri penjelasan supaya orang tua kita mengerti sayang."


"Ya sudah kalau itu mau kamu. Besok kita ke sana," ucap Ridho seraya pergi meninggalkan Rara sendiri.


Rara menangis, hatinya teramat sakit.


"Ya Allah, mudah-mudahan aku bisa mengatasi semua masalah ini," batin Rara.


***


Duduk temenung sambil memegangi kepalaku. Aku masih kesal dengan sikap pria yang mengirim foto-foto mesra Azzam dengan wanita lain.


Di sisi lain, pikiranku masih mengarah pada pria yang tak aku ketahui namanya. Pria itu? Dia yang mengirim bunga dan ungkapan cinta di note kecil itu. Gara-gara bunga dan kalimat itu, aku dan Azzam hampir saja kembali salah paham.


Setelah cukup lama aku bergelayut dengan pikiran yang memenuhi otakku. Aku sadar, aku masih punya pekerjaan melanjutkan buatan cake untuk ultah Azzam.


"Astagfirullah" ucapku beristigfar.

__ADS_1


Baru aku hendak berdiri, tiba-tiba aku merasakan hal yang aneh. Aku merasakan sakit di bagian perut.


"Ssttt... Aw... " Aku tak mampu berdiri dan kembali duduk.


Masih menahan sakit, aku masih mencoba berdiri. Tapi, aku malah terjatuh ke bawah. Menahan rasa sakit. Sambil meremas perutku. Aku meraih nakas untuk mengambil obat.


"Astagfirullah, sakit sekali!" sungutku mengeram kesakitan.


"Sstt... arrgg..." Cairan bening mengalir di pipi.


"Assalamu'alaikum, sayang!"


"Nisa?" panggil Azzam.


"Nisa, dimana sayang?"


"Bang, abang Azzam," lirihku saat mendengar suara Azzam.


"Nisa?" Azzam berjalan ke ranjang. Betapa terkejutnya Azzam melihat aku terduduk bersimpuh di bawah.


"Astagfirullah ya Allah, kamu kenapa sayang?" tanya Azzam begitu khawatir melihat aku sudah berurai air mata, dan meringkuk di lantak.


"Hiks... perutku sakit sekali," ringisku masih menahan sakit. Azzam berusaha membantuku berdiri. Namun, tubuhku benar-benar lemah.


Azzam yang semangkin panik, akhirnya dengan cepat menggendong tubuhku untuk naik ke atas ranjang.


"Sayang, perutmu masih sakit?" Azzam mengusap dahiku yang berkeringat.


Aku mengangguk pelan, sambil menahan gejolak rasa sakit.


"Sabar ya sayang. Se-sebentar abang telepon dokter dulu."


"Umi! Umi..." Azzam berlari turun dari tangga sambil menyebut nama uminya.


"Umi, umi tolong jagain Nisa sebentar di atas. Aku ingin memanggil dokter."


"Ada apa, Azzam? Kenapa kamu panik begitu?"


"Nisa, mengeluh sakit dibagian perutnya, Umi."


"Astagfirullah kenapa bisa tadi baik-baik saja. Kita buat kue berdua tadi, Nak."


"Tidak tau, Umi." Azzam terus mondar-mandir sambil menekan-nekan layar handphonenya. Panggilan Dokter Tommy belum juga tersambung.


"Kayaknya aku sekarang aku harus menjemput dokter Tommy Umi. Nomornya tidak bisa dihubungi. Azzam titip Nisa, Umi. Kalau ada apa-apa, tolong Jmi segera menghubungi Azzam ya. Assalamu'alaikum." Azzam mencium tangan Umi Salamah dan segera berlari keluar.


"Iya, Nak. Wa'alaikumsalam."


Dengan langkah cepat pula Umi menaiki anak tangga menuju kamar Azzam.


"Nisa, Nak." Umi duduk di tepian ranjang dengan raut wajah khawatir melihat aku menahan perih.


"Nak, ayo minum dulu." Umi membantu membangunkan tubuhku demi mengesap sedikit air mineral yang diberikannya.


Umi mengusap perlahan bagian perutku. "Sekarang Nisa coba tarik napas dan hembuskan perlahan, Nak. Supaya meredakan sedikit rasa nyerinya."


Aku mengikuti arahan Umi.


"Azzam, mana Mi?"


"Dia sedang menjemput Dokter Tommy. Nisa bersabar sedikit ya, Nak. Atau Nisa punya kenalan lain di rumah sakit? Umi khawatir, Nak."


"Umi, ambil handphone Nisa saja. Biar Nisa hubungi Mbak Rara, Umi."

__ADS_1


***


__ADS_2