
"Brownies kismis sudah matang!" seru ibu mengeluarkan loyang dari oven. Perempuan paruh bayah itu tersenyum lebar ketika aroma harum kue buatannya memenuhi dapur.
"Humm, wangi sekali! Ibu sedang buat apa?" ujarku ketika memasuki ruang dapur langsung disambut aroma menyeruak yang sangat harum dari kue buatan ibu.
Ibu menoleh sebentar. "Ibu baru aja selesai membuat kue brownies," ucapnya dari jarak dua meter.
Aku yang baru saja usai joging sore langsung mendekat ke ibu yang sedang menata kue browniesnya.
"Hem, kayaknya enak ya, Bu."
Aku mencoel bagian atas kue brownies yang masih berada di dalam loyang. Namun, ibu dengan cepat menepis tanganku, sambil mengeram kesal.
"Hmm Nisa, jangan diganggu dulu kue ibu. Kamu belum cuci tangan lagi kan?"
"He-he," Aku menyengih lebar.
Tanganku memainkan spatula dengan memukul-mukulnya ke loyang yang telah kosong.
"Bu?" panggilku, sambil melihat aktivitas ibu menghias brownies. Aku merapatkan tubuh ke ibu.
"Bu," ujarku lagi kali ini tepat di telinganya.
"Apa, Nisa?"
Sepasang lenganku sudah merangkum pinggang ibu. Aku menaruh dagu di pundak kanannya, sedang bermanja.
"Kenapa, pake peluk-peluk ibu segalak nih Nisa," ibu mengendikkan bahu, tempat aku menyandarkan daguku. "Kalau seperti ini pasti ada maunya, ibu tau," teka ibu, yang pernyataannya itu memang benar. Memang aku sedang merayu ibu supaya mau membantuku.
"He-he. Ibu kok tau, sih" cengirku.
"Ya taulah. Ibu udah lama serumah dengan Nisa, ibu sudah hafal semua gerak gerik Nisa, entah itu berbohong, jujur, ada maunya. Semua ibu tau."
Aku masih betah memeluk pinggang ibu dengan manja. Tanpa peduli bahwa sebenarnya keringat sudah membasahi tubuhku usai joging tadi.
"Bu... "
"Udah nggak usah panggil-panggil trus. To the point aja, mau kamu apa?"
Aku menggaruk kening. "Bantuin Nisa dong."
"Bantu apa? Lepasin ibu ah, ibu mau masak buat makan malam dulu." Ibu menepuk kaitan tanganku yang masih melekat di perut ibu.
Aku menggeleng tanpa merubah posisiku. "Nggak mau. Bantuin Nisa dulu" rengekku, tidak lepas dari memeluk ibu dari belakang."
"Bantuin Nisa, masakin masakan spesial buat abang" bisikku sangat lirik ke telinga ibu.
Ibu terkekeh pelan. "Hmm dasar, kalau ada maunya aja langsung pura-pura baik, masuk dapur mau bantuin tapi ada maunya. Coba klau nggak ada, masuk dapur pun malas."
"Ibu kayak nggak tau Nisa aja." Aku menyengih kembali.
"Kok ibu mencium bau masam ya." Ibu mulai mendengus bau tidak enak.
Aku menggaruk tengkukku. "Nisa habis joging, belum mandi" Aku menyengir lebar.
Ibu mengeram sebal. "Udah ah sana, mandi!"
"Nggak mau, bilang iya dulu buat bantuin Nisa."
"Iya. Udah sana cepat mandi!"
Aku berlari cepat menuju kamar mandi.
***
__ADS_1
"Dokter Sarah sakit?" Tanya seseorang membuat Sarah yang sedang memijat pelipisnya mendongak. Perawat Dinda datang masuk membawakan daftar pasien yang harus diperiksa.
"Hanya sedikit pusing... "jawabnya sembari meminum sedikit air putih dari tumblernya. "Banyak pasiennya, Din?"
Perawat yang berusia 20 tahun itu mengangguk. "Sepertinya bakalan non stop sebelum jam istirahat, Dok," ujar Dinda menatap tumpukan kartu pasien di atas meja yang baru ia bawa dari tempat pendaftaran.
Sarah menghela, sepertinya hari ini cukup melelahkan baginya. "Ya sudah, nikmati saja Din," seru Sarah menyemangati dirinya sendiri.
Benar yang dikatakan Dinda sampai jam istirahat, dirinya masih sibuk mengatasi pasien yang membutuhkan penanganan cepat. Sekarang memang musim pancaroba, siang panas, tiba-tiba sore atau malam hujan turun. Apalagi anak-anak yang belum memiliki imun kuat.
Perempuan itu melepas jas putihnya sembari merenggangkan ototnya. Matanya melihat terbuka dan menampilkan sosok Dinda yang baru selesai dari kamar mandi.
"Dokter Sarah, tadi dokter Erna memintaku supaya menemui Dokter Sarah katanya ada yang mau disampaikan."
"Dokter Erna dimana? Sudah datang?"
Dinda mengangguk. "Barusan datang, Dok. Sekarang ada di ruangannya."
"Oke saya ke sana ya, Din." Sarah melangkah sambil menenteng jas putihnya beserta alkes. Perempuan berjilbab navy itu tersenyum, menyapa para pasien yang sedang menunggu di ruang tunggu.
"Dokter Erna!" teriak Sarah ketika matanya menangkap sosok perempuan yang baru keluar dari ruangan yang memang ia ingin tuju.
Dokter Erna menghentikan langkah dan berbalik. Kedua sudut bibirnya tampak tersenyum saat melihat Sarah berjalan ke arahnya. Dokter Erna, perempuan itu berjalan ke arah ruang rawat yang letaknya di ujung.
"Siang, Dok," sapa Sarah tersenyum sopan. Dokter Erna adalah dokter spesialis dengan usia yang terbilang muda. Salah satu dokter yang ia kagumi ditempatnya bekerja, karena beliau bisa menjalankan perannya sebagai istri, ibu juga dokter spesialis tanpa mendzolimi satu sama lain.
"Siang Dokter Sarah," sapa balik Dokter Erna.
"Ada apa Dok? Kata Dinda tadi, Dokter meminta supaya ditemui di ruangan."
"Hari ini saya boleh minta, untuk cek sebentar pasien di ruang Melati atas nama Bu Salamah karena saya harus ke ruang operasi saat ini."
"Oh begitu ya, Bu. Iya tidak apa-apa. Kebetulan saya sedikit agak longgar setelah ini."
Usai percakapan itu, Sarah langsung berjalan menuju ke ruang rawat Melati. Ketika sampai di sana, Sarah baru teringat bahwa di ruang Melati tempat dimana umi Salamah di rawat.
Dengan mengenakan sneli putih, dengan stetoskop menggantung di leher. Sarah melangkah masuk menghampiri wanita paruh bayah yang terbaring di ranjang pesakitan. Matanya terpejam dengan infus masih menempel di pergelangan tangannya.
Di sisi lain, Fikri—anak pertama umi Salamah sedang melangkah gontai menuju ruangan dimana ibunya di rawat. Ia berjalan sembari membalas pesan di WhatsApp. Setelah menerima pesan itu, ia langsung mempercepat langkah, tampaknya ada sesuatu yang penting.
Hari ini ia berganti shif dengan saudaranya yang bergantian menunggui ibunya. Abah tidak bisa setiap saat menjaga umi Salamah karena harus mengajar mahasiswanya.
Brukk!
Tiba-tiba tanpa sengaja Fikri menabrak seseorang yang juga hendak keluar dari ruangan yang sama. Hingga membuat kantong plastik yang dibawa laki-laki itu terjatuh. Beberapa buah berserakan di lantai.
"Aduh, maaf-maaf, Dok," ucap Fikri sambil memungut buah yang terjatuh. Tanpa melihat siapa yang ia tabrak karena sibuk memunguti buah yang berserakan tapi sekilas ia melihat, orang itu mengenakan pakaian berwarna putih lebih tepat pakaian layaknya seorang dokter.
"Iya, tidak apa-apa. Biar aku bantu." Dokter itu ikut juga membantu membereskan beberapa buah apel yang tergeletak.
Setelah seluruh buah dimasukkan kembali dalam kantong plastik bening. Fikri itu mendongak melihat dokter tersebut dan seketika melongo dengan mulut sedikit terbuka.
Bagaimana tidak, sosok dokter wanita di depannya cukup membuat Fikri terkagum-kagum, dokter berjas putih itu mengenakan khimar berwarna navy membuat wajahnya kontras sekali, apalagi pipi dan bibirnya.
Fikri bangkit dan berdiri dengan masih melempar senyum merekah, matanya pun tak leka memandang dokter dihadapannya.
Hijab panjang yang dikenakannya tertiup angin sehingga membuat kesan anggun semangkin tampak dari dokter yang tanpa sengaja ia tabrak tadi.
"Haloo" Ia melambaikan tangannya tepat di muka Fikri yang masih terpukau dan melingo seperti orang bodoh.
"Ma-maaf Dok." Fikri mencoba bersikap biasa kembali.
"Iya tidak apa-apa," senyum mengembang di wajahnya. "Saya baru saja mengecek kondisi Umi Salamah," ujarnya kemudian.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan umi saya?"
"Alhamdulillah, Umi kamu baik dan kondisi sudah stabil, tidak ada yang perlu khawatir."
Fikri tersenyum, lalu menoleh ke arah uminya. "Alhamdulillah. Saya senang mendengarnya."
"Kenalkan, Fikri." Fikri mengangsurkan tangannya mengajak berkenalan.
Tangan Fikri disambut hangat. "Sarah."
"Kamu saudaranya, umi?"
Fikri terkekeh. "Bukan, aku anaknya."
"Anak? Berarti kamu saudaranya Azzam, ya?"
Fikri mengangguk. "Dokter Sarah kenal dengan Azzam?"
"Iya, dia teman kuliah saya dulu."
Fikri melihat jam. Pukul 12.02. "Sekarang sudah jam istirahat kan Dokter? Berarti dokter tidak ada jam melayani pasien dulukan. Bagaimana kalau kita mengobrol sebentar."
Fikri berusaha mengambil ruang untuk mengenal Dokter Sarah. Ia menarik sebuah kursi dan mengajak Sarah untuk duduk bersamanya.
"Hari ini Azzam tidak kesini ya?" tanya Sarah menyoal.
"Aku dengan Azzam bikin shift pembagian jatah untuk menunggu umi di rumah sakit."
"Kira-kira kapan Azzam akan kemari?"
Fikri mengernyit nampaknya ia menyadari Dokter Sarah seperti sangat mengharapkan bahwa ada Azzam disini. "Dokter kenapa tampak excited sekali sedari tadi menanyai Azzam trus?" tanya Fikri heran.
Sarah mengusap wajahnya pelan. "Oh nggak kok."
"Dok, kalau boleh saya tahu dokter sudah berapa lama bekerja di sini?"
"Baru dua minggu lebihlah kira-kira. Awalnya saya hanya membuka butik kecil-kecilan di rumah. Tapi tiba-tiba pikiran terbuka kembali untuk mengabdikan diri sebagai dokter," jelas Sarah singkat. "Oh iya ngomong-ngomong bagaimana Mbak Soraya. Kapan akan menikah? Karena waktu itu Azzam bersama Soraya datang untuk fitting baju pengantin di butik."
"Kak Soraya dua minggu lagi akan melaksanakan akad," sahut Fikri. "Azzam memangnya belum mengundang, dokter?"
Sarah mengendik bahu. "Belum."
"Kalau begitu biar aku yang mengundang dokter ya." Kekeh Fikri. "Acaranya itu insyaallah dua minggu lagi. Akad digelar sabtu berbarengan dengan resepsinya di hotel Latansa."
"Beritahu juga dengan suami Dokter Sarah, ya" lanjut Fikri menyoal. Sebenarnya kalimat itu hanya ingin digunakan Fikri untuk mencari tahu apakah dokter Sarah telah menikah atau belum, jika memang belum dia tentu memiliki peluang untuk mendekati Dokter Sarah.
"Terima kasih untuk undangannya. Tapi untuk mengajak suami mungkin saya belum bisa."
Mendengar kalimat Sarah, Fikri menghela lemas. 'Ternyata Dokter Sarah telah memiliki suami. Itu artinya tidak ada peluang bagiku untuk mendekati Sarah. Wajar sih, wanita secantik dan seanggun Sarah mana mungkin belum memiliki pasangan hidup. Tentu banyak pria yang mendekatinya. Aku mengakui Dokter Sarah adalah wanita sosok wanita yang dicari selama ini, meskipun baru kenal, aku merasa dia wanita yang humble, suaranya yang kecil dan lembut membuat yang mendengarnya seperti luluh.' batinnya.
"Bagaimana saya mau mengajak suami, menikah saja belum, Fikri. Belum ada laki-laki yang mau mengkhitbahku," guyon Sarah seraya tertawa pelan.
Fikri pun menyernyit dahi, dan ikut tertawa lepas setelahnya. "Mana mungkin tidak ada laki-laki yang mau mengkhitbah wanita sholehah dan selembut Dokter Sarah, sudah cantik, pintar lagi," puji Fikri.
"Aku saja tertarik dengan Dokter, " gumam Fikri, keceplosan.
Kening Sarah berkerut. "Apa yang barusan kamu bilang Fikri."
Fikri menggaruk bagian kepalanya.
Obrolan mereka terputus saat umi mulai menggeliat menunjukkan reaksi. Fikri dan Sarah beringsut mendekat ke sisi ranjang.
***
__ADS_1
SKIP