
Waktu sudah bergeser dari senja yang kemerah merahan merayap menggelap, langit telah terhapus kelam.
Tiba di rumah sakit terkenal di kawasan Pondok Indah, Jakarta, Angga segera berlari membopong Fikri masuk ruang UGD. Sarah turut berada di sebelahnya, mengkhawatirkan laki-laki yang beberapa hari ini terus berusaha menarik perhatiannya. Dokter dan dua perawat langsung sigap memberi penanganan pertama, memeriksa tensi darah, memasang oksigen, dan infus.
Dokter Harun turut menangani laki-laki yang baru datang tadi. Sarah tentu mengenal Dokter Harun, rekan satu praktiknya sewaktu mengikuti koas. Sarah turut menawarkan diri supaya turun tangan membantu Dokter Harun dalam menangani luka tusukan yang dialami Fikri karena Sarah sangat mengkhawatirkan keadaan Fikri. Ia tentu tidak akan bisa memaafkan dirinya, jika pada akhirnya sesuatu yang buruk terjadi pada laki-laki yang berbaring di atas bangsal itu.
Dokter Harun menyadari kondisi pasien di ruang UGD ini semangkin memburuk. Ia meminta perawat terus melakukan pengecekan-pengecekan umum sampai akhirnya Dokter Harun memberikan aba-aba kepada Sarah supaya bisa melakukan tindakan cepat agar nyawa Fikri bisa selamat.
“Ini urgen, Dokter Sarah, kita harus harus mengambil keputusan cepat dengan melakukan tindakan untuk menghentikan darah yang terus mengalir dari luka tusukannya,” kata Harun bagaikan alarm siaga.
Tak lama, perawat memindahkan pasien atas nama Fikri untuk ditangani Dokter Sarah dan Dokter Harun di ruang ICU. Sarah dengan buru-buru menggunakan baju scrub, hair cup, sarung tangan serta perlengkapan lain yang dibutuhkan Sarah untuk masuk. Sekarang, dua dokter, teman sejawat itu telah mengenakan pakaian dokter lengkap dan memasuki ruang operasi. Segala perlengkapan medis telah disiapkan, alat pendeteksi tekanan jantung telah menampilkan grafik detak jantung pasien. Sarah dengan masker yang menutupi hidung serta bagian atas tertutup surgical-hut. Empat lampu besar menyorot luka sayatan pisau di dekat bagian dada pasien.
“Pendarahan dalam di deat jantung, arterinya terllau kecil untuk dijahit,” ucap Sarah spontan. Sementara Harun meminta Sarah untuk tetap fokus pada lukanya karena sebentar saja dia kehilangan fokusnya maka grafik EKG akan berubah.
Pikiran Sarah semangkin bercabang saat ini. Pertama, ia sangat mengkhawatirkan pria yang berbaring lemah tak berdaya di depannya saat ini. Kedua, Sarah tahu Fikri masih terus menjaga perasaan itu untuknya, Sarah hanya berharap semoga ia masih diberi kesempatan untuk memberi kesempatan pada laki-laki ini.
“Dok, pasien semangkin lemah, ia kekurangan darah? Pasien membutuhkan darah.”
“Lalu bagaimana, apakah stok darah di rumah sakit masih tersedia?” tanya Sarah khawatir.
Dokter Harun memperintahkan pada perawatnya untuk mengecek persedian golongan darah A rhesus positif.
Sarah menatap sendu wajah Fikri dengan mata masih terpejam rapat. “Fikri kamu harus kuat, kamu harus tetap berjuang. Seperti kamu berjuang untuk mendapatkan ku. Kamu harus terus berjuang untukku, Fik!” batin Sarah, mengenggam tangan Fikri.
Tak lama, perawat tadi membawakan dua kantong darah yang dibutuhkan untuk membantu pasiennya.
Di ruang operasi, Sarah berusaha sebaik mungkin dengan memberikan obat paling baik untuk mencegah pendarahan pada Fikri. Tusukan pisau tajam itu benar-benar hampir mengenai bagian jantung Fikri, hanya tinggal berjarak dua centi lagi. Sepanjang Sarah membersihkan luka serta menjahit luka terbuka di bagian dada Fikri, sepanjang itu pula Sarah senantiasa berdoa agar apa yang dilakukannya berhasil. Ia akan berjuang sekuat tenaganya demi menyelamatkan nyawa Fikri.
Sekitar dua jam lebih Sarah dan Dokter Harun bergulat dengan ketegangannya, sampai akhirnya Sarah bisa menghela napas panjang. Perjuangan saat ini terbayar sempurna proses operasi berjalan dengan lancar. Grafik EKG, menujukkan garis normal. Kondisi pasien masih stabil.
“Semua stabil...” kata Dokter Harun. Sarah menghela napas lega begitupun dengan Dokter Harun. Seolah beban dipundak Sarah juga ikut stabil.
__ADS_1
Senyum Sarah mengembang, tetesan air mata haru turut menyertainya. “Terima kasih Fikri, kamu masih mau bertahan. Sekarang aku yakin kamu laki-laki yang kuat dan penuh keyakinan serta keteguhan. Aku bahkan bisa lebih yakin untuk bisa menerimamu, Semoga kamu mendengarkan tentang apa yang aku ucapkan saat ini,” ucap Sarah dalam hati, senyum harunya masih belum pundar dipersembahkan untuk laki-laki itu.
Sarah menunjukkan salah satu as-op untuk melanjutkan menjahit sayatan bekas operasi. Setelahnya semua selesai Sarah dan Dokter Harun tersenyum puas telah berhasil menyelamatkan pasien yang telah ditanganinya. Sekarang, semua sudah diserahkan kepada perawat untuk membereskan semuanya.
Sarah keluar mendahului Dokter Harun untuk melepas baju scrub. Usai mencuci tangan di wastafel, perempuan itu menatap bayangan wajahnya di cermin toilet, membasuh wajahnya. Ini seperti mimpi, ia masih tidak menyangka tentang apa yang sedang dilaluinya saat ini, seperti mimpi dan semua berlalu begitu cepat.
***
Hal pertama yang aku lakukan ketika masuk ke dalam rumah adalah menyalakan lampu karena rumah ini nampak tidak berpenghuni.
“Abang, kemana ya ayah sama ibu?” tanyaku sambil menaruh tas di kursi sofa. Beruntung aku memang terbiasa memegang satu kunci serep rumah ini sehingga meskipun pintu dikunci, aku masih punya satu kunci cadangan. Begitu juga dengan Azzam.
“Tidak tau, memangnya tidak ada telepon atau pesan yang dikirim untuk Nisa?”
Aku menggeleng pelan. “Gak ada. Tapi ya udahlah, mungkin ada acara seperti biasa.”
Azzam berjalan ke belakang menuju dapur. Di atas meja, ponselnya berkedip-kedip ada pesan sepertinya yang masuk ke ponsel Azzam. Aku menekan layar kunci, beruntung aku hapal sandi kunci handphone milik Azzam karena dia memang pernah memberitahu dan sandinya masih tidak berubah.
Bunyi bait pesan itu.
Kak Sarah? Kak Sarah punya nomor abang Azzam? Ah, wajar sih kan mereka temanan baik.
Aku meletakkan handphone itu kembali di atas meja. Ingin menyusul Azzam ke dalam memberitahukan tentang pesan yang dikirim Sarah. Tapi aku baru sadar saat membaca pesan Sarah tadi ternyata sudah ada banyak berbaris-baris pesan yang pernah dikirim Sarah sebelumnya, dan itu diwaktu yang berbeda-beda. Itu bisa dilihat dari tanggal kapan pesan itu masuk.
Netra mataku mulai membaca pesan-pesan yang sudah pernah dikirimkan Sarah pada Azzam. Sungguh tersentak dadaku saat selesai membaca pesan itu. Dadaku terasa panas, dan sesak juga turut mendera. Bagaimana tidak isi pesan Sarah semuanya ungkapan tanda cinta, meski tidak secara langsung tapi kalimat yang dibuatnya menyiratkan demikian. Semangkin air mataku luruh saat pesan terakhir yang dikirim Sarah tanggal 23 dipesan itu jelas tertulis kalau Sarah benar menyukai Azzam. Bahkan ia rela mengorbankan dirinya untuk menjadi istri kedua. Sungguh air mata kesedihan dan pesakitan tidak bisa aku bendung. Meskipun, aku melihat tidak ada pesan balasan yang dikirim Azzam tapi aku tetap saja tidak menyangka Sarah bisa demikian.
Perasaanku hancur, aku bahkan tidak tahu bagaimana perasaan kecamuk yang aku rasakan saat ini. Rasanya baru tadi kami menikmati waktu bersama dengan penuh cinta. Tapi kenapa mesti dirusak dengan adanya pesan ini.
Drrtt... Drttt....
Handphone yang masih digenggaman tanganku berdering. Nama abah tertera di sana.
__ADS_1
“Assalamualaikum, Azzam.”
“Wa’alaikumsalam abah, maaf ini bukan Azzam tapi Nisa.”
“Nisa, kenapa? Abah dengar suaranya kok begitu?”
Aku mengusap wajahku, mengingkirkan buliran yang baru saja jatuh membasahi pipiku. Sekaligus mencoba menetralkan suaraku kembali.
“Gak papa, Abah. Tunggu sebentar ya Bah, Nisa panggilkan Azzam dulu.”
“Tidak usah, Nak. Nanti kamu beritahu saja Azzam, kalau Fikri sedang di rumah sakit Mutiara dia baru saja mengalami insiden penusukan tadi.”
“Astagfirullahaladzim. Abang Fikri jadi korban penusukan, Abah?”
“Iya. Dan kami sedang menuju rumah sakit saat ini.”
“Iya Abah, nanti Nisa beritahu Azzam.”
Usai percakapan telepon itu berakhir. Aku berlari ke belakang menemui Azzam. Saat menatap wajahnya, hatiku kembali sakit. Tapi aku mencoba untuk tegar dan berusaha bersikap biasa di hadapannya.
“Abang, ada sesuatu yang buruk terjadi dengan abang Fikri”
“Ada apa dengan Fikri?” tanya Azzam heran, melihatku yang tampak panik.
Aku mencoba tenang, sebelumnya aku menarik napas dalam-dalam kemudian berujar, “Abang Fikri di rumah sakit. Abah tadi telpon menyuruh kita ke sana.”
“Kenapa tiba-tiba Abang di suruh ke sana? Apa yang terjadi dengan Fikri?”
“Kata Abah. Abang Fikri jadi korban penusukan tadi.”
Azzam tentu juga tatkala terkejut. “Astagfirullah, ya sudah kita bergegas ke rumah sakit sekarang. Tapi sebelumnya kita sholat isya dulu, baru berangkat ke sana.”
__ADS_1
Aku dan Azzam bergegas untuk segera membersihkan badan sebelum menunaikan ibabdah sholat berjamaah, baru bersiap ke rumah sakit melihat bagaimana kondisi Fikri. Meski dengan perasaan yang masih berkecamuk saat ini.