Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 113. Halal Love


__ADS_3

Di ruang rumah sakit serba putih, tampak terbaring seorang lelaki yang matanya terbalut perban. Ia berusaha bangkit ketika mendengar pintu terbuka.


Aku, Umi dan saudara Azzam, serta dokter mata yang membedah kedua bola matanya mendekati tempat ia terduduk. Dokter itu memberitahukan bahwa perbannya hari ini sudah boleh dibuka. Bibir Azzam bergerak membentuk senyuman. Bahagia rasanya menantikan detik-detik setitik warna cahaya itu akan hadir kembali.


Perlahan dokter itu membuka perban dari kedua kelopak matanya. Sang dokter memberikan instruksi sembari menenangkan pasiennya, agar mempersiapkan diri ketika dirinya membuka mata.


Aku pun tak luput memberikan semangat untuknya.


"Semangat sayang, semuanya akan baik-baik saja."


"Ayo mulai," ucap sang dokter, usai seluruh perban yang memutupi kelopak mata Azzam dibuka.


Azzam membuka matanya sekarang juga. Sejenak, ia hanya bergeming, kemudian mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya.


"Pelan-pelan saja. Untuk pertama kalinya mungkin memang agak lebih sensitif karena retina mata perlu penyesuai lebih dulu dengan cahaya yang masuk."


Dan benar saja apa yang dikatakan dokter. Azzam mengatakan bahwa ia belum bisa melihat dengan jelas, karena silau membuat matanya kesakitan seperti tertusuk-tusuk. Namun tak lama kemudian, ia tampak menatap orang-orang di sekelilingnya dengan tersenyum.


Melihat reaksinya, tanpa sepatah kata pun terucap, aku semangkin merapat ke sisinya.


"Mashaallah, alhamdulillah... " tutur Azzam yang menjadi pertanda bahwa dirinya kini sudah bisa melihat kembali.


Mendengar Azzam berkata demikian sontak membuat aku mengigit bibirku menahan haru.


"Apakah Anda sudah bisa melihatnya ?” tanya dokter.


"Iya, dokter," sambil mengangkat alisnya seperti tak percaya.


"Dhanisa, istriku... " tangannya bergetar menyentuh wajahku. Luruh tak terbentuh cairan bening yang telah tertumpuk dipelupuk mata.


"Iya, sayang.... "


Tak kuasa menahan haru, aku menjatuhkan pelukan dalam dekapan sang suami tercinta.


Azzam juga mempersilahkan ibu dan saudaranya untuk bergabung, mendapatkan pelukan hangat bersamanya. Perasaan haru dan senang bercampur menjadi satu.


"Ya Allah, Nak. Ibu rindu mata indahmu, Nak" Umi tertawa bahagia, lalu mencium pipi putra bungsunya penuh kasih sayang.


"Dan doa ibu selalu menyertaimu, sayang."


"Terima kasih, Umi. Yang selalu menyayangi kami semua tanpa batas." Seluruh keluarga yang masuk dalam ruangan itu tesenyum bahagia.


"Ibu salut dan kagum padamu. Selama ini kami hanya bisa meratapi nasib saat kami harus menerima kenyataan ditinggalkan olehmu."


Umi mengambil tangan Azzam dan juga tanganku, menyatukan kulit telapak tangan kami berdua. "Dia. Istrimu adalah orang yang sangat merasa kehilangan. Sebuah penderitaan yang menyayat dan begitu kelam dalam hidup saat kami harus menerima kenyataan pahit itu."


"Umi, Azzam pun tak menyangka akan semua ini. Azzam tak menyaka akan selamat dari kecelakaan maut itu. Allah masih memberi kesempatan kepadaku untuk lebih lama memandangkan kalian semua. Memberi kesempatan padaku untuk lebih mendekatkan diri pada-Nya dan terus memperbaiki amalan yang masih kurang."


Tangannya semangkin kugenggam erat. Demikian Azzam membalasnya sembari melayangkan tatapan dan senyuman ke arahku. Membuat aku tersipu-sipu.

__ADS_1


"Sayang, Nisa ada buket bunga untuk abang." Aku mendekati nakas, meraih buket bunga warna-warni yang terangkai indah.


"Bunga?"


Aku mengangguk tanda mengiyakan. "Kenapa bunga? Karena seperti rangkaian bunga yang indah dan semarak ini, seperti itu juga perasaan Nisa saat ini."


Azzam menerima bunga itu dengan mata berbinar. Ia meletakkannya di dada lalu menciumnya.


“Aku bersyukur bahwa yang pertama kali abang lihat di saat istimewa dan terpenting dalam hidup abang adalah hal terindah yang ada di depan mata abang."


Senyum di bibirnya kian merekah seperti kelopak mawar di pangkuannya.


***


Sofa lembut berwarna coklat muda berhiaskan kain putih bercorak anyaman timbul berwarna merah memunculkan bentuk bunga disekeliling memenuhi setiap sudutnya seperti sebuah bingkai yang melindungi timbulan-timbulan bunga unik di tengah-tengahnya. Azzam menyandarkan kepalanya tepat di atasnya, rasa rileks menyelimuti seluruh tubuhnya. Sesekali ia menyesapi air jeruk hangatku pada cangkir bening memperlihatkan air jeruk hangat yang masih penuh karena baru dua kali Azzam menegaknya secara perlahan.


"Sudah di sini aja. Memangnya sudah masaknya?" tanyaku yang berjalan perlahan mendekatinya, tangan kananku mengelus-elus perut yang sudah membuncit, sementara tangan kiri memegangi punggung. Aku berusaha berdiri sedikit tegak walaupun terlihat susah karena beban yang di bawa bertambah pada bagian perut.


"Sudah, ini opor ayam ala chef Azzam sudah siap!" dengan wajah sumringah Azzam menunjukkan semangkuk opornya yang ditujukan untukku.


"Sedang apa tadi?"


"Ini Nisa lagi menata foto-foto kita dulu." Aku menunjukkan satu foto ketika berlibur ke kebun teh.


"Kapan-kapan jalan lagi ya?" pintaku.


"Tentu. Abang punya rencana untuk perjalanan kita berikutnya."


"Kita umrah sayang setelah anak kita lahir bagaimana?"


"Mau-mau, Nisa mau banget. Semoga semuanya berjalan sesuai rencana. Dan anak ini akan lahir dengan selamat."


"Amiin. Sekarang, ayo makan dulu, A-" Azzam memintaku untuk segera membuka mulut menerima suapan pertamanya.


"Sebentar." Aku menahan tangannya. "Abang sudah minum obat belum tadi?"


Azzam tersenyum dan mengangguk. "Sudah, Nisa jangan khawatir. Sekarang ayo lanjut cicip opor ayam ini."


Ia menyendokkan satu suap kuah opor buatan Azzam. Setelah suapan itu masuk ke mulutku. Aku mulai mengalami proses pengecapan lidah, beberapa detik kemudian aku mengangguk merasa puas.


"Bagaimana?" tanya Azzam menunggu jawaban dan tanggapan atas masakannya.


"Jangan ditanya. Juaranya. Sekarang coba gantian Nisa yang suapin ya, merasakan gimana enaknya opor ini." Tanganku menyiapkan satu suapan. Sesaat setelah suapan itu mendarat di mulutnya. Azzam tampak mengecap sambil mencerna sebuah rasa yang menurutku memang sangat enak.


"Gimana bener enakkan?"


"Sekali lagi sayang," Seperti masih tak yakin Azzam memintaku untuk menyuapinya lagi.


"Sudah?"

__ADS_1


"Hmmm..." Mengulum senyum. "Ah, belum-belum, abang belum merasakan dimana lezatnya makanan ini." Ini kali ketiga aku menyuapinya. Entah dia ingin menegaskan penilaian yang aku katakan tadi, atau dia memang ingin mengerjaiku dengan terus menyuapinya berkali-kali, padahal saat ini aku yang tengah lapar.


"Lagi sayang" pinta lagi.


Dia mulai membuatku menahan kesal. "Ini ceritanya abang sedang mencicipi atau keadaannya memang abang sedang lapar?" cemberutku.


Azzam mengulum senyum menahan tawa. Melihatku demikian, ia malah mengambil kesempatan melakukan sun di bibirku.


Aku membeku, terdiam di tempat. Aku bahkan merasa saat ini wajahku berubah merah padam menahan malu.


Degup jantungku mulai timbul-membuatku sedikit nervous, kian gugup manakala dia kian mendekat, dan membelai lembut pipiku sambil berbisik, "Abang rindukan ini sayang."


Aku menyingkirkan rambut yang mulai menutupi keningnya. Meresapi dalam-dalam moment ini.


Seperti sudah sangat lama aku tak mengamati air mukanya sedekat ini. Sedekat deru napas kami berdua. Aku tertunduk dalam-dalam usai menatap wajahnya.


"Ya Allah, benarkah ini semua? Apakah aku tidak sedang bermimpi Azzam kini ada disisiku lagi?" ucapku lirih.


Ia mengangkat wajahku kembali. "Nisa tidak sedang bermimpi ini nyata, sayang. Lelaki yang di depan Nisa ini adalah lelaki yang tlah berhasil menaklukkan hati seorang wanita yang sebelumnya telah dicuri hatinya." Sentumnya merekah.


"Nisa hanya tak percaya."


"Maafkan Abang jika telah membuat Nisa bersedih selama abang meninggalkan Nisa." Ia mengecup mesra tangan ini sebelum kembali berujar. "Sekarang mari kita tatap masa indah yang tengah menanti, yang kemarin biarlah, sekarang kita fokus menata masa depan kita."


Azzam menegakkan punggungnya, lalu berdiri tengak dari kursi sofa yang sebelumya didudukinya. "Sekarang coba Nisa berdiri"


Kedua alis mataku bertaut menjadi satu. "Kenapa?"


"Ayo berdiri saja"


Aku mengikuti saja kehendaknya sambil merapikan pakaiam yang aku kenakan. Gamis sutra berwarna magenta. Aroma bunga menyeruak dari parfum yang aku kenakan. Azzam menelan salivanya susah payah, sedetik saja aku tak lagi bisa berkutik manakala melihat Azzam tersenyum menggoda, jantungnya berdetak cepat, darah berdesir hangat menjalari seluruh tubuh.


"Kenapa? Ada yang salah dari penampilan Nisa?"


"Mashaallah. Cantik sekali. Semangkin cantik aura bumil," pujinya mati-matian.


"Nggak usah berlebihan ntar Nisa terbang lagi dipuji melulu."


Azzam tegelak. "Jujur, abang tidk bohong. Nisa menunggu abangkan malam itu? Sekarang abang tagih malam ini juga." Senyumnya menggoda.


Lelaki yang tengah berdiri di depanku ini menjemput dan meraih tubuhku, dirinya membopong tubuhku dan membawanya ke atas ranjang.


"Cinta sudah memenuhi hampir separuh hati abang, hingga tak ada lagi ruang untuk menerima cinta yang lain," bisiknya pelan ke telingaku yang turut juga berbaring di sebelahku.


"Itukan separuh. Seoaruhnya lagi kemana?" tanyaku heran.


“Milik Allah dan Rasulullah,“ jawab Azzam.


Aku tersenyum sembari menatapnya.

__ADS_1


Kedua mata saling menatap, tanpa berkata-kata, dan ketika cinnta halal nan suci menjadi candu yang memabukkan, tak akan ada lagi pembatas bernama malu untuk mengungkapkannya malam ini. Dia telah kembali dalam pelukan nan hangat malam ini.


_____


__ADS_2