Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 77. Sick


__ADS_3

"Sayang, ini minumnya." Aku meletakkan secangkir teh hangat di atas meja di tepian kolam renang. Aku lihat dia sedang menikmati waktu senggang sorenya dengan berenang di kolam renang ada yang di rumah.


"Terima kasih, sayang," ucap Azzam sambil membawa tubuhnya berenang ke tepian kolam.


Aku menutup kedua mataku saat melihat Azzam bertelanjang dada, dengan hanya mengenakan celana pendek di atas lutut.


"Nisa kenapa?" tanya Azzam melihat aku menutup mataku dengan kedua tangan.


"Abang nggak malu apa polos gitu di depan Nisa?"


Azzam melihat tubuhnya sendiri dari bagian atas sampai ke bagian bawah yang dapat dilihat dalam jangkauan matanya.


"Siapa bilang ini abang masih memakai bawahan kok," elak Azzam.


"Iya tapi abang sexy," kataku tertawa dengan masih menutup meta dengan kedua telapak tangan.


Akhirnya Azzam memilih untuk turun kembali masuk ke dalam kolam berenang.


"Ya sudah ambilkan handuk abang sekarang!" serunya.


"Dimana?"


"Di kursi itu sayang," gemas Azzam. "Makannya matanya jangan ditutup gitu."


Aku meraih handuk berwarnah putih yang tergantung di kepala kursi, dan memberikannya pada Azzam.


"Menghadap ke belakang, kalau tidak mau melihat badan sexy abang!" canda Azzam sambil tegelak pelan.


Aku mendesis sebal. "Dasar! Kebiasaan dari dulu!" cebikku.


Ia berusaha naik ke atas kembali dengan tetesan air yang masih banyak menetes dari tubuhnya yang basah kuyup usai merendam tubuhnya. Baru kemudian mengenakan handuk miliknya.


"Sudah belum?" tanyaku ketika belum juga aku mendengar intruksi Azzam untuk berbalik badan.


"Belum"


"Ih, lama banget! Itu makai handuk apa dandan lama banget!" kataku karena dia selalu saja ingin membuat aku cemberut dan kesal.


Aku mencoba sedikit mengintip dari sela jari jemariku. Ia sedang tersenyum menggoda dan berjalan beberapa langkah mendekat ke arahku.


Kini aku malah merasa bagian belakangku terasa dingin dan sedikit basah.


"Bang!"


Azzam tidak menyahut.


"Abang!" panggilku lebih keras.


"Hmm"


"Abang jangan usil ngerjain Nisa. Awass!" ancamku.


"Awas kenapa? Hem."


Aku mulai merasa aneh. Ada deru panas yang terasa dekat wajahku. Aku membuka mata, dan benar saja Azzam telah berada di belakangku. Aku berusaha membalik badan, namun ditahannya. Ia melingkarkan lengannya dengan erat ke tubuhku, membuat baju yang aku kenakan menjadi basah pula.


Aku mengeram kesal. "Issh... Jangan gini ih, basah baju nisa. Awas!" Aku mencoba melepaskan lengannya yang menjepit tubuhku dengan mencari cela mencubit pinggang Azzam.


"Aww... "


Dan akhirnya berhasil. Azzam melepaskan rengkuhannya dari tubuhku. Tapi, alhasil badanku juga basah.


Azzam menatap menggoda. Ia mengitari tubuhku, kemudian berhenti tepat di depanku, memamerkan dada bidangnya yang atletis dan sedikit bulu di dadanya. Aku sendiri merasa gugup melihat Azzam demikian. Akhirnya, aku memilih untuk menghadap ke samping, berdiri sedikit menyerong demi menetralisir wajahku yang gugup.


"Kenapa sayang, kenapa muka Nisa tegang gitu?" Azzam mengarahkan kembali tubuhku menghadapnya, hingga kedua tanganku tak sengaja menyentuh dada Azzam.


"E... E.. E.. Mana ada. Muka Nisa biasa aja!"


"Jangan bohong." Azzam menyentil hidungku gemas. Pelan dan perlahan Azzam mendekatkan wajahnya. Aku mundur perlahan ketika ia berusaha melakukan itu, sampai aku tidak menyadari bahwa aku sudah berdiri di ujung tepian kolam. Aku menoleh ke belakang, sekali lagi aku melangkahkan kakiku. Maka aku akan tercebur. Semangkin aku mundur semangkin pula Azzam mendekat, seolah tak ingin sejengkal pun, ia jauh dariku.


BURRRR...


Kaki yang tanpa alas di tambah licinnya lantai membuat aku terpeleset dan jatuh tercebur ke lantai. Alhasil aku harus kembali mandi untuk kedua kalinya.


Azzam balas tertawa melihat aku yang tercebur.


Aku memukul air dengan keras sampai menimbulkan percikan. "Abang!" gerutuku begitu sebal.


Azzam menjongkok. "Kenapa sayang?"


"Tanya kenapa...kenapa lagi." Aku memercikkan air ke wajahnya. Mukaku sudah cemberut.


"Ya sudah sini abang bantu naik." Azzam mengulurkan tangannya.


Hmm... Waktunya aku juga mengerjai dia.


Aku tersenyum jahat, lalu menerima uluran tangan Azzam dan menariknya dengan keras supaya tubuh Azzam juga tercebur ke kolam.


BYARRRR ...


Aku tertawa senang, saat badan Azzam juga tercebur kembali ke kolam.


Azzam memasang wajah datar, meski aku tahu dia pasti kesal.

__ADS_1


"Ha-ha rasain!" kataku terkekeh.


Azzam tidak tinggal diam. Ia menyiram air kolam ke wajahku berkali-kali. Sampai mataku terasa perih karena terus terkena air. Tapi, aku mencoba mendorong tubuh Azzam menjauh dariku dan berenang kembali ke tepi kolam bermaksud ingin naik karena aku merasa tubuhku sudah dingin.


"Mau kemana? Sini, abang belum puas, masih ingin mandi berdua"


"Aku menoleh mandi apanya? Ini bukan mandi! Tapi berenang!" komentarku.


Azzam tak mau tahu. Ia kembali meraih panggulku dan memeluk dengan mesra. Aku berusaha melepaskannya, bukan tidak ingin aku melewati waktu seperti ini dengannya. Tapi aku merasa tubuhku mulai tak enak. Rasanya perutku kurang bersahabat. Aku memegang kepalaku.


"Abang, Nisa boleh naik ke atas. Nisa nggak tahan lagi?" kataku lemas.


Azzam mengamati wajahku. "Nisa, kenapa? Sakit? Kenapa pucat begitu mukanya?" tanyanya khawatir.


"Nggak tau. Kepala Nisa pusing." Dengan tangan yang sudah gemetar aku mencoba naik dan menjauh dari kolam.


Rasanya perutku semangkin melilit seperti ingin mengeluarkan isi perutku, sembari membekap mulutku. Aku berlari ke toilet memuntahkan apa yang daritadi bergejolak dalam perutku.


Hoeek!!


Tanpa aku sadari Azzam mengekor di belakangku sampai ke toilet.


"Kenapa Nisa?"


Aku tidak menjawab pertanyaan Azzam karena aku masih menahan kondisi perut yang sedang tak bersahabat.


Azzam membantu memijat pelan punggungku.


"Nisa sakit? Kita ke dokter ya?"


Aku menggeleng lemah. "Nggak. Nggak usah," kataku dengan mengangkat tangan, sementara tangan sebelah kiri menumpu tubuh pada wastafel toilet. "Ini pasti karena Nisa tadi lama berendam di kolam renang dan kecapean aja. Dah nggak papa," ujarku meyakinkannya.


Melihat wajah pucatku, membuat Azzam merasa bersalah.


"Harusnya biar abang yang ngurus semuanya tadi"


Aku memutar badan. "Nggak papa lagi pula cuman memberi donasi ke yayasan, trus ngundang anak yatim. Nggak masalah lah."


"Ya sudah kalau begitu sekarang Nisa ganti baju. Biar abang ambilkan bajunya." Azzam menghilang sebentar dari toilet dan mengarah ke almari kamar utama di lantai dua mengambil baju.


Aku mengusap wajahku, dari pantulan cermin. Aku bisa melihat mukaku memang memucat. Tapi saat ini aku juga merasa pening.


"Apa vertigoku kambuh lagi?" batinku.


Azzam mengangsurkan satu stel baju untukku. "Ini. Cepatlah ganti baju. Sementara abang buatkan jahe hangat."


Usai mengantarkan pakaian gantiku. Ia pergi menuju dapur seperti apa yang ia katakan ingin membuatkan aku minuman jahe hangat. Aku menutup pintu toilet, guna mengganti kembali pakaianku yang basah.


***


Cup


Satu kecupan singkat berhasil dilabuhkan ketika ia terlelap, hal itu membuat tubuh Nisa yang masih terlelap sedikit menggeliat. Azzam mengusap pelan pucuk kepalanya ketika Niaa mulai memberikan gerakan kecil. Wajahnya mendusel seakan sedang mencari kehangatan. Hal yang dilakukan itu membuat Azzam menarik sudut bibirnya, membentuk lengkung senyum lebar.


Setelah memastikan aku terlelap kembali dengan tenang. Azzam menarik bedcover hingga menutupi sebagian tubuhnya.


"Kasihan Nisa pasti lelah sekali. Sampai tubuhnya lemas begini."


Azzam tahu bagaimana lelahnya menjalani rutinitas sebagai seorang istri yang mempersiapkan segalanya dan mengurus rumah tangga. Apalagi Azzam sedikit paham bahwa istrinya bukanlah wanita yang terbiasa melakukan pekerjaan rumah yang demikian. Meski demikian, Azzam tetap salut karena keinginan istrinya untuk berubah dengan menjalani kewajibannya dalam rumah tangga.


Jam memang masih menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Tapi belum waktunya Azzam untuk terlelap malam ini. Ia tengah mempersiapkan keperluan acara syukuran malam besok. Meski sebenarnya masih ada pekerjaan campus yang harus ia laporkan ke ketua program studi besok. Nampaknya malam ini, Azzam harus merelakan jam tidurnya kembali.


Azzam kembali menghela napas dan menatap istrinya. Setelahnya ia melangkah keluar kamar menuju dapur untuk meracik kopi yang akan menemaninya malam ini untuk lembur alias begadang.


Aroma khas kopi begitu menusuk hidung. Membuat ia kembali bersemangat. Saat kopi racikan spesialnya selesai ia membawanya keluar ruang tengah. Lalu mempersiapkan beberapa bingkisan dan juga amplop beriskan uang untuk diberikan pada anak yatim, pada acara malam esok.


Malam ini, Azzam mengerjakannya sendirian tapa ditemani Nisa. Pria itu paham istrinya itu butuh istirahat.


Ponsel yang tergelatak di sebelah Azzam berdering. Ada panggilan masuk dari umi.


"Assalamualaikum, Nak" suara umi Salamah dari seberang.


"Wa'alaikumsalam, umi"


"Nak, gimana kabar kalian berdua di sana?"


"Baik alhamdulillah umi."


"Syukurlah. Umi, hanya ingin memberitahu nak. Insyaallah besok, umi dengan orang tua Nisa jadi berangkat ke sana. Hanya abahmu yang tidak bisa ikut, Nak. Tidak apa-apa ya?"


"Iya mi, tidak apa-apa. Berarti besok umi jadi berangkat besok kan?"


"Iya."


"Apa umi sekeluarga mau Azzam jemput?"


"Tidak usah, Nak. Kami berangkat bersama dengan Ahsan dan umi Halimah."


"Oh begitu, ya umi."


"Apa ada Dhanisa di sebelahmu, Zam?"


"Nisa sudah tidur, mi. Ia sedang tidak enak badan"

__ADS_1


"Istrimu sakit?"


"Sepertinya hanya masuk angin umi. Ada apa umi, kalau ada perlu dengan Nisa biar Azzam sampaikan nanti"


"Oh tidak. Ini Halimah ingin berbicara dengan Nisa katanya kangen."


"Ibunya Nisa ada di situ Umi?"


"Iya, Zam. Sebenarnya saat ini umi sedang berada di rumah Umi Hamidah. Malam ini umi menginap di sini, kami rencananya akan berangkat lebih awal, supaya bisa membantu mempersiapkan acara esok, Nak."


"Begitu, Umi. Syukurlah sebenarnya aku juga bingung kalau begini umi. Apalagi Nisa sedang sakit, tidak mungkin dia dapat mempersiapkannya. Aku tidak akan tega menyuruhkan, Mi."


"Iya, biarkan dia istirahat dulu. Kalau begitu Umi akhiri dulu teleponnya ya. Azzam jangan lupa jaga kesehatan pula ya, Nak."


"Iya, mi. Terimakasih."


"Assalamualaikum."


"Wa'alikumsalam warahmatullah... "


Usai percakapan via telepon itu, terdengar bel dari luar. Nampaknya ada tamu malam ini. Azzam kembali namun sebelumnya ia mengambil kopiah hitam dan mengekannya, lalu menghambur ke arah ruang tamu.


Sosok laki-laki yang tidak dikenal muncul di balik pintu, ketika pintu pertama kali dibuka.


"Selamat malam," sapa laki-laki itu dengan datar.


"Assalamu'alaikum" ucap Azzam.


Laki-laki mendengus. Menyadari kalau yang seharusnya yang diucapkan adalah salam keselamatan.


"Wa'alaikumsalam."


"Maaf dengan siapa ya?"


"Aku Ridho. Warga komplek sini juga, hanya beda blok saja."


Azzam mengangguk. "Kalau begitu mari masuk dulu," ajak Azzam.


Ridho nampak celingak-celinguk, melirik ke dalam ruangan.


Azzam yang melihat gelagat pria di depannya sedikit bingung dengan sikap lelaki bernama Ridho itu.


"Ada apa ya?" Azzam turut melihat ke arah dalam rumah, lalu balik menatap Ridho.


"Ada Dhanisa?"


"Ada, hanya dia sedang istirahat. Ada apa kamu mencari istriku," tanya Azzam tak suka.


Ridho tersenyum miring. "Oh, kamu suaminya Dhanisa."


"Iya. Ada apa ya?"


"Tidak apa-apa. Apa aku bisa menemui dia?"


"Kan sudah aku katakan tadi dia sedang istirahat."


"Istirahat bukan berarti tidak bisa ditemuikan?" ngotot Ridho ingin menemui istri Azzam.


Azzam mulai tak menyukai cara laki-laki ini terus saja ingin menemui istrinya.


"Dia tak enak badan. Makannya sedang istirahat."


"Sakit?" ucap Ridho nampak terkejut.


"Iya. Kenapa? Dan ada apa? Sepertinya kau ingin sekali menemui istriku?"


"Aku hanya mengembalikan ini." Ridho menyodorkan tanda pengenal yang tak lain itu adalah KTP Dhanisa.


Kenapa benda itu ada dengan Ridho?


"Kenapa KTP istriku ada padamu?" tanya Azzam seraya mengambil KTP milik Nisa.


"Aku meminjamnya, karena aku lupa membawa dompet maka KTP istrimu menjadi jaminannya di toko ponsel sewaktu, aku memintanya untuk bertanggung jawab mengganti ponselku yang rusak, akibat ulahnya."


Azzam mengernyit. Apa pria ini yang dimaksud laki-laki yang pernah ditemuinya waktu itu? Yang membuat luka telapak tangannya?


"Apa murni seharusnya istriku yang bertanggung jawab atas insiden itu?"


"Ya tentu. Dia menabrakku. Maka aku harus meminta ganti dengannya, dan dia harus bertanggung jawab."


"Istriku bilang kau yang menabraknya lebih dulu. Ketika kau muncul tiba-tiba dari arah selatan"


Ridho terkekeh. "Alasan dia supaya dia tidak mau disalahkan."


"Ya sudah kalau memang begitu. Aku, suami Dhanisa. Mewakilinya, apabila istriku dianggap bersalah. Namun, ia sudah bertanggung jawabkan mengganti ponselmu. Jadi, permasalahan itu sudah selesai."


"Iya sudah selesai." Pria itu bukannya pamit malah masih diam di depan.


"Ada apa lagi? Apa masih ada yang ingin kau sampaikan?"


"Sampaikan ucapan terima kasihku padanya. Semoga Dhanisa lekas sehat ya." Senyum Ridho seraya menepuk bahu Azzam. "Kalau gitu aku permisi dulu." Ridho mengangkat dua jemarinya, memberi salam hormat sebelum meninggalkan Azzam.


Tidak tahu kenapa, dirinya seperti tidak menyukai lelaki yang mengaku tetangga beda blok itu. Dia hanya tidak suka saat ia bersikap seolah-olah sangat memperdulikan istrinya.

__ADS_1


♥♥♥♥♥♥♥♥♥


__ADS_2