Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 94. Prahara Rumah Tangga


__ADS_3

Seketika aku terjaga dari mimpi burukku. Aku bangun dengan peluh telah membasahi tubuhku seperti habis berolahraga. Jantungku masih berdetak cepat, dengan napas masih memburu. Tiba-tiba ketika itu pula aku menyimpan ketakutan meski hanya mimpi.


"Ya allah, astagfirullahal'adzim," ucapku.


Ku lihat wajah suamiku yang tidur di sebelah. Dia masih terlelap seakan hanyut dalam mimpi indahnya.


Perasaan yang masih tak karuan, aku menarik napas dalam-dalam. Aku mengusap wajahku, pipiku pun basah.


"Apa aku juga menangis tadi?" gumamku. "Ya Allah kenapa aku bisa mimpi buruk seperti ini."


Jika aku teringat mimpiku tadi, air mataku kembali luruh. Tiba-tiba aku sangat ingin mecerukan kepalaku di dadanya Azzam. Namun, sebelumnya aku tatap wajah lelapnya yang tengah dibuai mimpi. Gemetar tanganku, hendak menyetuh pipinya. Cairan bening dari mataku jatuh pula di pipi Azzam.


Pelan Azzam mulai mengerjapkan matanya, demi mengangkat kelompak mata yang masih lengket begitu erat. Tangannya mengusap pipi kanan yang baru saja terkena tetes air mataku yang jatuh mendarat pipinya.


"Nisa?" katanya saat pertama kali membuka mata, dan melihatku menatapnya dengan mata sembab.


Mendengar suaranya, membuat air mataku semangkin mengalir deras, bahkan aku mulai segugukan.


Azzam mengangkat punggungnya. Ia beringkut bangun, menyadarkan punggung di kepala ranjang.


Sementara manik mataku tak lepas menatap setiap garis wajah kebingungan yang tersirat di air muka Azzam.


"Hei, Nisa kenapa, Hmm?"


Aku tak menjawab pertanyaannya. Azzam membantu mengusap air mataku.


"Apa Nisa sakit? Apa yang sakit, sayang?" tanyanya dengan tatapan sendu diikuti dengan menyelipkan anak rambut ke belakang telingaku.


"Nisa sangat takut, abang." Aku cepat mendekap tubuh Azzam.


"Takut. Apa yang Nisa takutkan? Apa pria itu menganggu Nisa lagi?" Tanya Azzam sambil melihat ke arah jendela dan sekitar. Tapi semuanya masih seperti biasa. Jendela dan gorden kamar masih tertutup rapat.


Aku menggeleng.


"Nisa takut kehilangan. Takut abang pergi meninggalkan Nisa," lirihku.


Ia menghapus bekas lelehan air mataku. "Nisa, abang akan terus di samping Nisa, abang tidak akan pergi meninggalkan kalian. Lagi pula kenapa Nisa berkata demikian?"


"Nisa tadi mimpi buruk. Dimimpi Nisa abang sambil tersenyum manis sambil bilang pamit, abang ingin pergi meninggalkan Nisa."


"Sayang, itu hanya mimpi." Tutur Azzam lembut. "Pasti Nisa tadi tidur tidak baca do'a makannya jadi mimpi yang bukan-bukan."


Sayup-sayup terdengar orang-orang melantunkan kalam ilahi di pintu-pintu penjuru masjid. Sebentar lagi adzan subuh akan segera dikumandangkan oleh muadzin di masjid.


Aku memilih beranjak dari tempat tidur saat Azzam memintaku untuk segera menuju kamar mandi, menyegarkan wajahku dengan air wudhu.


Bersujud mengetuk pintu di langit-langit mendoakan agar suamiku dan keluarga kami senantiasa diberikan kesehatan dan keselamatan dalam menjemput rezeki yang bertabur di bumi Allah, panjang umur serta keberkahan dalam menjalani hidup.


***


Ridho tidak tahu harus memulai darimana. Bagaimana ia memulai ucapan untuk menyampaikan ucapan yang disampaikan ibunya siang hari kemarin.


Dirinya sadar saat ini ia kurang menaruh perhatian pada Rara sejak menyadari kalau dirinya telah menyukai istri orang lain. Meski Ridho tahu untuk merebut dan mendapatkan istri Azzam tak semudah yang ia pikirkan. Hati Ridho bimbang, bahkan saat ini ia seperti benar-benar frustasi ditambah permintaan ibunya.


Ridho mengigit keras-keras bibirnya sampai meninggalkan bekas memerah.


"Menjadikan Rara sebagai maduku? Atau aku menceraikan dia!" lirih Ridho.


Rara keluar membawa roti buatannya untuk sarapan Ridho. Pria tersebut tak menyadari bahkan ia masih menatap ke depan dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang-layang tak jelas. Ucapan ibunya, seolah menjadi mantra yang membuat Ridho seperti tengah dirasuk sosok pemburu alam bawah sadar.


"Mas" Rara mendaratkan telapak tangannya di pundak Ridho.


"Ya," ucapnya terkejut.


"Kamu kenapa? Dari kemarin sampai hari ini kamu kebanyakan melamunnya. Apa ada masalah di kerjaanmu?" tanya Rara sambil menarik kursi duduk mendekat ke Ridho.


Ridho menatap dua manik mata Rara. "Bagaimana? Apa aku katakan saat ini, tentang ucapan Mama." Batin Ridho.


"Ih, tuhkan melamun lagi." Cemberut Rara.

__ADS_1


Ridho tergagap, setelahnya mendehem. Ia sudah mengambil keputusan.


"Ra, kemarin Mama datang ke kantorku."


"Iya terus."


"Mama, menyampaikan sesuatu membuat aku bingung" ucap Ridho.


"Memangnya apa yang Mama katakan?"


"Kamu gimana Ra kamu mau mendengarnya langsung dari Mama, atau dari mulutku sendiri tentang apa yang disampaikan Mama kepadaku?"tanya Ridho serius.


Rara menghela napas. Perkataan Ridho membuat Rara tak bisa bernapas nyaman. Bahkan ia sudah merasa ada sesuatu yang mungkin sangat penting mungkin akan diutarakan Ridho. Apalagi jika ini menyangkut ibu mertua. Rara tahu Mama Naya tak menyukai dirinya sejak dulu.


Melegakan tenggorokannya dengan mengesap minuman susu cream dihadapannya.


"Apa bedanya baik Mama atau kamu yang menyampaikan pasti isi pesannya juga akan samakan?" senyum Rara. "Jadi bilanglah," ucapnya.


Ridho mengenggam tangan Rara. "Tapi apa kamu akan kuat mendengar ini, Ra?"


"Kuat. Aku yakin." Wanita itu menarik seulas senyum.


"Mama minta aku untuk...untuk... "


"Untuk apa, Mas? Kok kamu malah gugup gitu?"


"Mama minta aku untuk menceraikanmu atau aku akan menikah lagi dengan wanita lain."


Deg.


Bagai geleran petir keras menyambar penguhuni bumi yang tak bersalah. Namun harus harus menjadi korban keganasan kilatan dan sabaran keras sang halilintar. Jantung Rara tak mampu lagi terkontrol, bahkan ia tak lagi mengikuti irama sedia kala. Batu yang beratnya jutaan ton juga telah menimpa pundaknya.


Di sudut mata sudah menggumpal buliran bening yang siap tumpah dengan deras. Sakit hati? Tentu ia. Rara tahu Mama Naya dulu sangat tidak menyukainya, bahkan mungkin sampai kini. Tapi Mama Naya selalu bersikap baik di depan Rara. Rara tidak tahu apa benar dari dalam hati Mama Naya benar-benar menerimanya sebagai menantu.


"Itu pilihan yang diberikan untukku, Mas?" Air mata Rara telah luruh. Sungguh tak kuasa dan berat bagi Rara. Dalam hati, bahkan sejak dulu ia sudah berjanji akan menjaga keutuhan rumah tangga ini. Bahkan tidak ada terlintas dipikiran Rara untuk mengucapkan kata cerai. Lalu bagaimana? Apa dirinya memilih untuk dimadu dengan wanita lain. Itu sama saja membunuh diri sendiri dengan perlahan-lahan.


"Rara, maafkan aku dan ibuku. Maafkan aku telah membuatmu sakit. Aku tahu pilihan ini sakit untukmu Ra."


"Ra?" Ridho mengusap pundak Rara.


"Mas, kenapa semua pilihan yang diberikan kepadaku pilihan yang membuat aku sakit?" ucapnya kecewa. "Aku bahkan tidak bisa memilih keduanya. Tapi sekarang aku ingin sekali tahu dari kamu, Mas. Apa kamu mau bercerai dengan aku?"


"Jika aku bermadu dengan wanita lain. Aku tau kamu pasti akan lebih sakit. Kamu akan tersiksa. Aku rasa kita bercerai adalah pilihan."


"Hiks.. Hiks.. Tapi aku tidak ingin kita melakukan itu, Mas. Itu perkara yang dibenci Allah." Rara menangis segugukan.


"Jika ada tambahan pilihan lagi yaitu nyawaku dicabut saat ini juga. Maka aku akan memilih pilihan yang ketiga, Mas." Rara menatap nanar suaminya juga akan nasibnya.


Ridho tak kuasa menatap tatapan pilu wanita di depannya.


"Aku akan berikan jawabannya"


Ridho langsung mengangkat kepalanya. Tentu ia sangat penasaran dengan pilihan yang dijatuhkan Rara. Jantungnya berdetak lebih kencang, seperti sedang menanti undian berhadiah.


"Tapi bukan saat ini." Kalimat itu terlontar dari bibir Rara. Setelah ia beranjak, meninggalkan Ridho masuk ke dalam kamar dengan hati yang hancur.


***


Di sebuah kolam kecil di samping rumah terdengar gelak tawa yang membuat siapapun mendengarkan tentu akan menilai bahwa ada keluarga bahagia di sana.


Aku tiada henti mengusap ujung mataku karena terlalu banyak tertawa. Di kolam itu, Azzam tengah berusaha menangkap ikan peliharaan kami. Ia bahkan sudah basah kuyup. Sudah 20 menit Azzam berada di dalam kolam yang tidak pula dalam hanya sebatas lutut saja. Namun penghuni ikan di dalam kolam tersebut begitu lincah dan licin untuk ditangkap.


"Sayang, harusnya kita beli serokan untuk menagkap ikan supaya tidak kepahayan begini," katanya.


Aku tertawa melihat Azzam yang mulai frustasi karena belum ada satu pun ikan yang berhasil ditangkap. Kesalnya terlihat semangkin parah, saat aku terus menertawainya. Azzam menepuk permukaan air dengan kesal. Membuat aku memingkemkan bibir.


"Sayang, benar. Abang sudah menyerah." Azzam menoleh melihatku yang berdiri di dekat kolam. Wajahnya memelas, melihat ekpresinya itu, aku menahan tawa lagi.


"Yahh, ayolah sayang satu aja. Nisa minta satu ekor ikan aja," kataku sembari mengerucutkan bibir. Membuat Azzam mengusap rambutnya frustasi.

__ADS_1


"Begini menghadapi istri yang tengah mengidam" gumam Azzam pelan.


Azzam menuruti keinginanku. Ia masih terus berusaha menangkap ikan di kolam.


"Sayang, kalau boleh jujur abang kasihan dengan ikan di kolam ini, dia pasti merasa takut, merasa terancam dan juga pusing karena dari tadi air di kolam ini abang uber-uber. Nisa memangnya tidak kasihan apa?"


Aku mempertimbangkan perkataan Azzam.


"Kasihan sih. Ah, tapi itu pasti alasan abang aja supaya Nisa menyuruh abang berhentikan?" dugaku sambil meledeknya.


Azzam menghela napas panjang.


Tapi jujur pula, aku tidak tega melihat Azzam yang sudah kelelahan. Aku mengusap perut yang telah kentara. "Abi sudah berusaha keras, tapi ikannya lebih jahil dari kita sayang. Jadi, anggap saja abi berhasil ya menangkap ikannya. Oke?" bisikku pada janin diperutku ini yang telah berusia lima weeks.


"Abi" panggilku membuat Azzam menoleh.


Aku tersenyum sebelum berbicara. "Sudah, naiklah."


Azzam menggeleng. "Tidak. Abang belum dapat ikannya," kata Azzam kembali mengejar ikan di kolam. Aku berjalan selangkah semangkin dekat dengan ujung tepi kolam ikan.


"Jangan dekat-dekat kolam, itu licin. Nanti kalau jatuh bagaimana?" omel Azzam dari dalam kolam sambil berkacak pinggang.


Aku mengeram kesal. Laki-laki ini begitu hiperbola sekali menghadapiku yang tengah mengandung. "Ih, cuman di tepi sini kok"


"Iya, kalau kepeleset bagaimana? Abang tidak mau sayang dan jagoan abi kenapa-kenapa."


Huft! Kalimat yang selalu sama diujarkan Azzam. Aku sangat hafal dengan sikap dan berbagai kalimat protesnya kalau aku membantah. Setelah hamil ini, Azzam tidak membolehkan aku menyentuh apapun, laki-laki itu sudah mewanti-wanti sama seperti mertuaku. Pesan mereka semua sama. 'Jangan membiarkan Nisa melakukan apapun'


"Sayang, yang katanya calon abi. Ayo! Sudahlah. Itu tangannya sudah keriput kayak kakek-kakek. Ayo sini naik!" pintaku. "Kalau nggak mau Nisa, ikut terjun nih ke kolam!"


"Jangan!"


"Iya abang naik, tunggu di situ. Jangan ikutan turun!"


Seluruh pakaian Azzam sudah basah kuyup, tak terkecuali kepalanya juga demikian.


"Ya ampun basah semua. Sebentar Nisa ambil handuk dulu." Aku meraih handuk yang terlipat di atas meja dan melangkah kembali mendekat ke arah Azzam.


"Abang menunduk sedikit, Nisa harus jinjit nih" ujarku membuat Azzam menunduk agar aku bisa menjangkau penuh rambutnya. Lalu mengalihkan handuk tadi ke punggung Azzam.


"Jangoan Abi. Maafkan abi ya? Ikannya kabur terus. Lain kali mintanya yang gampang saja ya, Nak." Azzam mengusap dan mengecup perutku.


"Sayang, maafin Nisa ya. Nisa mintanya aneh-aneh" kataku sambil melepaskan kancing baju Azzam.


"Kenapa harus meminta maaf? Apa yang anak abi minta pasti abang turuti. Kalaupun Nisa meminta untuk dibelikan pempek palembang. Abang akan rela terbang ke Palembang untuk membelikannya untuk sayang."


Aku memukul dada telanjang Azzam dan mendorongnya pelan. "Dasar gombal!"


"Nih bawa handuknya. Sudah itu langsung mandi."


"Baik Tuan Puteri," ucap Azzam sambil merunduk, seperti tengah memberi penghormatan pada puteri kerajaan. Baru, ia menghilang masuk ke dalam rumah.


Aku mengulum senyum. Dia benar-benar membuatku menjadi bucin padanya. Aku seperti remaja yang pertama kali pacaran. Inginnya nempel kemana-mana.


"Assalamuaikum, Sarah?"


Suara itu terdengar dari arah depan. Nampaknya ada tamu. Aku langsung bergegas meninggalkan lokasi dimana aku berdiri saat ini.


"Wa'alaikumsalam. Iya sebentar." Teriakku.


Saat muncul dari samping rumah, aku mendapati Mbak Rara. Berdiri di depan pintu. Sapaanku dari samping, membuat Rara sedikit kaget.


"Eh, Mbak Rara. Ayo masuk Mbak," tuturku mempersilahkan masuk.


Rara duduk di sofa dan aku pula ikut duduk dengannya. "Maaf tadi aku dan Azzam habis menangkap ikan di samping. Tapi ikannya nggak berhasil kita tangkap." Kataku sambil tertawa gemas.


"Aku iri dengan kalian selalu terlihat bahagia dan romantis. Menangkap ikan saja berdua. Berada di posisimu, pasti hari-harinya akan selalu bahagia dan berbunga-bunga. Keluarga kalian bahagia, kau memiliki suami yang baik, setia dan bahkan lebih lengkap dengan hadirnya buah hati kalian." Rara tersenyum samar bahkan terlihat dipaksakan.


Aku hanya menyengir dan tersenyum malu. "Alhamdulliah, Mbak. Meski sebelumnya juga aku tidak yakin dengan kehidupanku dulu." Kataku ketika potongan rekaman pendek memutar kembali awal kehidupan pernikahan aku dan Azzam. "Eh, tapi Mbak juga beruntunglah, bisa menikah dengan perasaan cinta yang tumbuh bersamaan. Menerima satu sama lain."

__ADS_1


"Dhanisa, aku ingin cerita alias curhat sedikit boleh? Mbak hanya ingin meminta pandanganmu saja sebagai seorang wanita yang juga tlah berkeluarga.


****


__ADS_2