Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 111. Manisnya Kesabaran


__ADS_3

"Kamu sudah sadar Nisa?" pertanyaan itu langsung menyeringai di telingaku.


Aku memijat pelipisku berulang kali. "Aku dimana Fey?" pandanganku memendar melihat sekitar. Ada Jihan dan Jovan juga berdiri di sebelahku. Aku tak mendapati Kak Soraya dan Ali di sini. "Kalian semua ada di sini? Aku kenapa lagi Fey?" pertanyaanku beruntun.


"Kita sedang di rumah Ustadzah Nilam, pengasuh pondok sekaligus TPQ Al-Hasanah, kami tadi menemukan kamu pingsan di depan toilet."


"Pingsan di depan toilet?" batinku. Otakku kembali meretrief apa yang terjadi sebelum aku hilang kesadaran.


Jihan meraih beberapa helai tissue dan mengusapnya ke keningku. "Kamu masih pucat Nisa. Nampaknya kau masih perlu beristirahat."


Aku menarik seulas senyum, saat aku mengingat sesuatu. Pandanganku aku edarkan, mencari orang yabg telah lama aku nantikan.


"Jihan apa tadi kamu mendapati seseorang di dekatku saat aku pingsan?"


Jihan belum menyahut. Ia menghentikan aktivitasnya dan malah mengalihkan pandangannya ke arah Fey dan Jovan yang berdiri di sebelah tempatku berbaring saat ini.


Aku melihat Jihan, Jovan dan Fayzulen secara bergantian.


"Kenapa kalian diam?"


"Aku benar nggak salah lihat Jihan, Fey, Jo, sebelum aku pisan aku melihat. Az-"


"Aps! Nisa. Aku rasa kau perlu istirahat." Fayzulen memotong cepat ucapanku.


"Iya benar Nisa," Imbuh Jovan.


Jihan membenarkan selimutku. "Nampaknya mereka berdua benar, demi menjaga istirahatmu. Kami tinggal sebentar ya. Selamat beristirahat Nisa."


Mereka semua berjalan keluar kamar dan tinggallah aku seorang diri di kamar ini. "Mereka semua kenapa sih. Kenapa gelagat mereka aneh." Aku membatin.


Aku mengusap perut yang telah membuncit, mengajak bayi yang ada dalam perutku berbicara. "Sayang, benar bunda tadi melihat Abi dengan mata kepala bunda sendiri sayang. Abi masih hidup." Aku tersenyum bahagia.


"Sekarang aku harus mencari suamiku. Aku yakin dia ada di sini." Perlahan aku beringsut bangun.


Baru hendak berdiri Kak Soraya telah datang menyusulku ke kamar yang tak aku tahu ini kamar milik siapa. Mungkin saja milik Ustazah Nilam. Seperti nama yang disebutkan teman-temanku tadi.


"Eh adik Kakak sudah bangun ya?" Kak Soraya datang dengan wajah bahagia, matanya berbinar-binar. Ia langsung menyambut dengan kecupan yang lembut di kedua pipiku.


"Kak Aya?"


"Iya."


"Kakak pasti khawatir tadi ya. Maafkan Nisa ya Kak. Kalau sudah ngecokin acara Kak Aya," kataku tak enak hati padanya, karena dari awal aku memang yang memaksa Kak Soraya agar mengabulkan keinginanku supaya bisa ikut dengannya ke Bazar Buku.


"Oalah. Nggak sayang."


Kak Soraya tersenyum kembali sangat bahagia nampaknya. "Kak, Nisa boleh tanya sesuatu."


"He'em, boleh dong. Apa memangnya, Dik?"


"Kakak kenapa bahagia sekali nampaknya?" tanyaku mengerutkan dahi, ya pastinya sangat heran.


"Nanti kamu tau sendiri, kenapa kakak bisa sebahagia ini. Dan kamu bahkan mungkin lebih bahagia daripada kakak, Dik," ucap Kak Soraya dengan penuh yakin.


Tak lama suara ketukan pintu terdengar. Kak Soraya dengan semangatnya berjalan membukakan pintu untuk si empunya ketukan tadi.


Aku lihat Kak Soraya mengangguk, sambil berbisik pelan di belakang pintu. Aku belum tahu apa yang dibicarakan dan dengan siapa yang berdiskusi di belakang pintu. Aku tak bisa melihatnya.


Kak Soraya kembali menutup pintu, sebelumnya aku melihat tangan Kak Soraya membentuk huruf O diikuti kata "Oke" tak tahu kesepakatan apa yang dibuat.


"Dik, kakak ada kejutan spesial buat Nisa."


"Ah, hari gini ada kejutan. Kejutan apa memangnya?"


"Haha penasaran ya?" Ia mengambil tanganku dan meminta aku untuk menutup mataku dengan kedua tanganku. "Sekarang tutup matanya, karena bakalan ada orang spesial yang akan menemui Nisa hari ini."


"Ya deh. Nisa turutin ucapan Kakak. Tapi jangan aneh-aneh ya, Kak."


"Siap. Jangan buka matanya sebelum kakak bilang buka ya."

__ADS_1


Aku tidak bisa melihat apa-apa. Semuanya gelap karena Kak Soraya memintaku untuk menutup kedua mataku. Cukup penasaran pula aku dibuatnya.


"Udah belum, Kak?"


"Belum, sebentar ya... "


Lirih aku dengar suara Kak Soraya berbisik. Gendang telingaku bisa menangkap kalau dia tengah berbicara dengan pria, meski samar-samar nada suaranya terdengar.


"Sekarang orangnya sudah di sebelah Nisa."


"Orang siapa Kak? Nisa buka matanya ya?"


"Belum. Belum. Sebentar Kakak hitung sampai tiga ya" Kak Soraya memberi instruksi.


Satu... Dua... Tiga...


"Sekarang Nisa boleh buka matanya," kata Kak Soraya bersemangat.


Perlahan dan sedikit blur aku melihat Kak Aya berdiri di depanku. Aku masih menyandarkan pundakku di kepala ranjang dengan tenang.


"Taraaaa.... Coba lihat ada siapa di sebelah kiri Nisa?"


Usai aku berhasil memfokuskan pandanganku. Aku menoleh ke arah kiri. Seperti apa yang dikatakan Kak Soraya.


"Assalamu'alaikum sayang. Ya zaujaty ku... " ucapan itu langsung menyapaku.


Aku diam terperanjat saat melihat laki-laki yang telah hilang lebih sebulan itu, kini duduk tepat di sebelahku. Ia mengumbar senyum manisnya. Senyum sangat aku rindukan selama ini. Sungguh benar adanya. Dugaanku benar tak salah. Filingku benar selama ini. Ya Robb. Batinku tiada henti mengucap syukur Alhamdulillah. Sungguh indah apa yang aku saksikan selama ini. Ini adalah mukjizat bagiku.


"Wa'alaikumsalam," jawabku perlahan.


"Abang Azzam... ?"


Aku meraih tangannya yang memegang tongkat dan mengecupnya lama tanpa mampu berkata-kata. Lidahku terasa kelu. Aku tak tahu bagaimana harus menceritakan apa yang ada dan aku lihat dihadapanku saat ini.


Air mata mengalir deras dari pelupuk mata. Mengisyaratkan kerinduan yang teramat dalam. Tak ingin kehilangan momen aku langsung mengambil tubuhnya dengan mendekap tubuh Azzam begitu erat.


"Sama sayang, abang pun sangat rindukan istri abang," balasnya mengusap lembut kepalaku naik turun.


Sangat lama aku membenamkan wajahku dalam pelukan yang selama ini aku rindukan. Aku seperti tengah berpuasa, berpuasa menahan kerinduan.


Lantunan sholawat qur'aniyah semakin menambah suasana haru, sholawat itu dibawakan oleh anak-anak yang berusia sekitar 10 tahunan ke atas.


Seperti sudah direncanakan mereka semua berbaris rapi sembari melantunkan sholawat. Dan mungkin saja memang sudah direncanakan oleh mereka, bisa jadi ketika aku pingsan tadi. Di belakang anak-anak itu berdiri pula Fey, Jihan dan Jovan serta Ustadzah Nilam. Kak Soraya yang turut menyaksikannya ikut menagis terharu.


Aku mengusap wajah Azzam, janggutnya dibiarkan menghias dagunnya, ia biarkan sedikit rambut yang bergaya Curtains itu terlihat, dan peci putihnya terpasang menutup sebagian rambut belakangnya yang agak memanjang.


Saat ini aku merasakan keganjalan, berkali-kali Azzam salah menempatkan tangannya saat ingin menyentuh wajahku.


Aku lihat ia nampak meraba-raba. Tatapannya pun seperti kosong. Aku melihat ke arah Kak Soraya yang masih mengusap bekas luruhan air matanya.


"Kak, abang kenapa?" tanyaku pada Kak Soraya. Ia mengambil posisi dan duduk di tepian ranjang juga melihatku dengan tatapan sendu dan iba.


"Azzam tidak bisa melihat kita, Dik" Kak Soraya berbisik ke telingaku.


Setitik buliran bening itu kembali tumpah. Aku menatap suamiku dari kepala sampai pada tangannya yang ternyata sedari tadi memang memegang tongkat, aku bahkan tak menyadari itu sebelumnya.


"Sayang... " Aku mengusap wajahnya. "Apa yang terjadi?"


Ia tertunduk dalam-dalam. Wajahnya murung. "Maafkan Abang sayang. Nisa harus menanggung beban kesedihan ini sendirian. Maafkan abang tak bisa berada di sisi Nisa. Menghilangkan kesedihan itu. Sekarang abang buta sayang. Abang tak bisa melihat manisnya senyum istri di depan abang saat ini. Sebenarnya, abang belum siap di pertemukan dengan Nisa saat ini dengan kondisi abang yang cacat begini, sayang. Sekali lagi maafkan abang."


Aku mengangkat wajahnya kembali membuang rasa penyesalan yang menyelinap di relung hatinya. "Jadi itu sebab abang belum ingin kembali pada Nisa. Sungguh abang, Nisa berpikir kalau abang telah meninggal. Abang tlah pergi meninggalkan kami semua."


Semua di ruangan ini hening. Hanya ada suaraku. Anak-anak yang melantunkan sholawat telah pergi sedari tadi di antar oleh Ustadzah Nilam.


"Iya. Abang sebenarnya ingin kembali ketika abang telah pulih kembali," suaranya tercekat, dia tengah menangis.


"Sayang, harusnya jangan begitu. Bagaimana pun keadaan abang, Nisa akan terima semuanya. Bukankah dulu abang yang selalu mengatakan itu pada Nisa."


Aku mengusap wajahnya. Dan mencium kedua matanya, seperti yang biasa ia lakukan padaku dan sekarang giliran ku yang melakukan itu padanya.

__ADS_1


Kedua kening kami saling menempel dan ujung hidungku dengannya saling menyentuh. Tak ada keraguan dalam hati untuk berbagi kemesraan di depan orang-orang yang melihat kami berdua menumpahkan cinta dan kebahagiaan yang membuncah di dada. "Abang tak perlu menyesal ataupun malu seperti ini, karena Nisa akan terima kekurangan abang. Nisa yakin abang akan tetap pulih. Abang jangan takut akan kehilangan cinta Nisa karena Nisa akan selalu ada dan memberikan cinta untuk satu-satunya lelaki yang Nisa cintai dalan hidup Nisa," bisikku dengan sangat lirih, aku berusaha meyakinkan Azzam akan semuanya.


"Terima kasih, sayang."


Kutarik kedua telapak tangannya, lalu kubiarkan ia menyentuh mukaku. Jemarinya bergerak perlahan meraba-raba setiap lekuk di wajahku, seakan tak ingin ada yang tertinggal walaupun hanya satu senti.


"Kamu semangkin cantik, sayang," katanya.


"Kamu bisa aja." Aku tertawa haru sambil mencubit gemas pipi Azzam.


"Jagoan abang mana sayang?" tanya Azzam.


"Ada ini dia. Dia pun rindu dengan Abi." Aku membawa tangannya mengarah ke perutku. Ia meraba dan mengusapnya lalu mencium dengan penuh cinta.


"Abang tidak sabar ingin melihatnya sayang."


Jemarinya kembali kugenggam erat untuk meyakinkan dirinya. "Doakan saja semoga kita semua diberi kesehatan dan bisa segera melihatnya terlahir ke dunia."


"Nak Nisa?" panggil Ustadzah Nilam


"Iya Ustadzah."


"Saya turut bahagia akhirnya Azzam bisa berkumpul lagi bersama keluarganya. Sebenarnya berkali-kali, saya dan suami berusaha membujuknya supaya segera menemui keluarganya namun dia enggan karena alasan kebutaan yang dialaminya."


"Ustadzah, bolehkah saya tau bagaimana bisa Azzam ada di sini?"


"Awalnya anak-anak pondok yang menemukan jasad Azzam ketika mencari kayu. Dia ditemukan tak sadarkan diri dengan luka di tubuhnya."


"Akhirnya kami membawanya ke tabib untuk memulihkan kondisinya yang sekitar sebulan ia harus terbaring, ia mengalami keretakan tulang dibagian pahanya. Dengan semangatnya untuk segera kembali ke keluarga akhirnya perlahan ia bisa pulih dan kembali bisa berjalan. Meskipun kami hanya melakukan pengobatan tradisional di tabib," jelas ustadzah Nilam.


"Benar yang dikatakan Ustadzah Nilam. Kecelakaan maut yang abang alami, telah merengut penglihatan, abang."


Azzam menceritakan secara runtut kejadian yang menimpanya tiga bulan lalu.


"Cuaca yang buruk juga jalanan berkelok membuat abang yang saat itu mengemudi, menjadi kesulitan mengendalikan mobil. Saat itu juga hujan deras disertai badai, sementara tubuh abang sangat kelelahan. Ketika melewati tikungan tajam, sebuah truk tronton besar yang berlari kencang muncul dari arah berlawanan." Azzam mengambil jeda sejenak untuk mangambil napas. Sedikit kepayahan dalam dada ketika ia meski menceritakan pengalaman buruk yang hampir membawa pada kematian.


"Abang berusaha menghindar namun rem mobil abang tak berfungsi. Akhirnya, abang tak mampu mengelak tabrakan itu. Kejadian terjadi begitu cepat. Rara pisan ditempat. Sementara, kap mobil depan telah mengeluarkan percikap api. Dan dari kaca spion, abang melihat sebuah mobil melaju kecang seperti mau menabrak mobil yang abang kemudikan. Saat itu pula aku berusaha melepaskan sabuk pengaman yang melekat di tubuh abang, begitu juga dengan Rara. Namun waktu dan jarak mobil yang kian dekat membuat abang harus segera melompat keluar," lanjut Azzam


"Abang sangat merasakan bagaimana tubuh abang terhempas dengan keras ke tanah, sementara darah terus mengucur deras dari wajah abang. Sampai situ abang tak mampu mengingat apa-apa lagi."


Ustadzah Nilam ikut menambahkan. "Nak Azzam mengalami cedera patah tulang serta pendarahan di belakang lensa matanya hingga mengganggu penglihatannya. Semula Azzam mengatakan bahwa penglihatannya yang semula hanya kabur, lama kelamaan meremang, lalu gelap."


Aku menarik napas panjang. Rasa sedih masih tak dapat dibendung saat mendengar cerita suaminku. Au sandarkan kepalaku di bahu sang suami, air mata berlinang. Tak bisa membayangkan bagaimana paniknya suamiku kala itu, namun Allah masih memberi keajaiban.


"Ya Allah, Maha Besar Allah, Laa Haula wa la Quwata illa Billah," lirihku.


"Mungkin itu semua adalah wujud pertolongan dari Allah karena istiqomahnya Nisa yang terus mendoakan abang. Terima kasih ya, Sayang," tuturnya.


"Nisa yakin itu semua adalah barokah dari keistiqomahan Abang juga yang tak henti-hentinya membaca sholawat serta kegemaran abang bershodaqoh kemanapun abang pergi atau juga karena barokah dari baktinya abang Azzam pada orang tua," ujarku.


"Juga barokah doa darimu, Sayang. Tanpa kuatnya doa, abang tak mungkin masih berada disini sekarang."


Dan Azzam kembali bertanya setelah itu. "Bagaimana dengan Rara, Nisa?"


"Rara tak mengalami nasib mujur dengan yang abang alami. Ia meninggal di lokasi kejadian" jawabku dengan berat.


"Innalillahi wa innailahi roji'un"


"Sebenar masalah rem mobil Abang yang tak berfungsi itu. Ada orang yang ingin mencelakai abang. Tapi, Nisa tak ingin mengungkit itu kembali. Karena hanya akan membuka luka lama. Biar kita tata kembali kehidupan kita, dengan hidup yang akan kita lalui selanjutnya."


"Masyaallah sayang begitu besar Kuasa Allah,“ ucapku sembari menitikkan air mata.


"Kita patut bersyukur bahwa Allah masih menginginkan kita untuk bersama. Nyatanya Allah belum enggan memisahkan kita dalam waktu yang sesingkat ini. Mudah-mudahan kita masih diberikan limpahan rezeki dan nikmat sehat agar kita bisa menikmati waktu bersama hingga waktu senja kita menyapa." Harap Azzam.


"Amimin, sayang. Sekarang kita fokus untuk kesembuhan abang ya. Abang harus percaya bahwa abang akan kembali bisa melihat. Setelah pulang dari sini kita akan cari pengobatan untuk sayang."


Kami sama-sama menggenggam erat, berusaha untuk saling menguatkan.


_____

__ADS_1


__ADS_2