Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 59. Honey


__ADS_3

"Nis, kamu sudah sampai mana?" tanya Jihan sambil memijat tangannya yang pegal.


"Aku baru sampai bagian C. Hukum dan syarat rukun gadai," sahutku sambil menulis.


"Kamu, Jihan?" Aku menyudahi aktivitas menulisku sebentar untuk melihat hasil resuman Jihan.


"Nih. Aku baru sampai B. Hukum dan ketentuan hutang piutang." Jihan menunjuk hasil tulis tangannya.


"Masih mending kalian. Aku baru baru mulai resume bagian syarat-syarat pinjam meminjam," Jovan ikut menimpali.


"Ih, itu mah karena kamu main gadget mulu. Kalau ada Ustadz Azzam baru tau rasa. Disita rasain!" cerca Jihan, melihat kesal tingkah Jovan sedaritadi menunda-menunda kegiatan menulisnya.


Saat ini, tepatnya di perpustakaan aku dan sahabat and the genk sedang mengerjakan tugas meresume mata pelajaran Fiqih yang ditugaskan Ustadz Azzam.


Mataku mengekor ke buku tulis Jovan yang terlihat baru berhasil menuliskan setengah dari lembarannya. Aku hanya bisa menghela napas melihat Jovan, dia tidak berubah masih sama. Masih sama malasnya.


"Kalau handphone ini disita. Aku tinggal memohon dengan Nisa," Jo menyahut seraya mengangkat ponselnya.


Aku mengangkat kepala. "Kenapa aku?"


"Kan kau istrinya," celetuk Jovan.


"Memangnya kenapa kalau aku istrinya?"


"Kan aku bisa minta bantu denganmu supaya Ustadz Azzam mengembalikan handphone-ku. Ya nggak Fey?" Jo menyikut dada Fey pelan. Jo hanya berusaha mencairkan suasana. Melihat sikap Fey masih dingin.


"Hm," sahut Fey dingin.


Mataku turut mengekor ke arah Fey, saat Jo mengusiknya.


"Aih payah betul kawan kita yang satu ini," sambung Sadam.


Mata Fey mengekor ke sebelah, tepatnya ke arah Sadam.


Sadam mendehem, ia mencoba merapatkan kursinya sedikit di dekat Jihan. Dengan suara sedikit dikeraskan Sadam bersuara. "Jihan apa hukum orang yang mendiami saudaranya sendiri selama lebih dari tiga hari?"


"Ya nggak boleh dong, malah nambah dosa. Jadi itu haram," jawab Jihan.


"Tuh dengar tuh, HARAM. H.A.R.A.M!" Sadam mempertegas.


Islam menjaga persaudaraan sesama muslim. Karena itu, Allah memotivasi agar kaum muslimin berupaya menjadikan muslim yang lain sebagai saudara. Allah berfirman:


“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih)..” (QS. Al-Hujurat: 10)


Dalam menjalin hubungan tidaklah selalu berjalan mulus, tak jarang terjadi perselisihan, kekhilafan, dan kekeliruan dalam suatu hubungan. Sebagai agama yang bersifat universal, Islam pun mengatur adanya perselisihan di dalam suatu hubungan. Yaitu jika terjadi perselisihan atau kekeliruan maka tidak boleh mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari. Rasulullah bersabda:


“Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam, mereka bertemu yang satu berpaling ke sana dan yang satu berpaling ke sini. Dan yang terbaik diantara mereka adalah yang lebih dahulu mengucapkan salam.” (Bukhari : 8/20, Muslim : 4/1984 )


Dari hadits ini kita dapat menyimpulkan bolehnya mendiamkan seseorang tidak melebihi tiga hari. Baik karena saling marah, saling hasad, atau prasangka buruk.


Dalam hadits lain Rasulullah juga bersabda:


“Pintu-pintu Surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun akan diampuni dosa-dosanya, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan. Lalu dikatakan, ‘Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai.” (Muslim, 4/1987)


Fey menghentikan kegiatan menulis. Menggerakkan kepalanya menoleh ke Sadam, Jovan, Jihan dan tatapan terakhirnya dijatuhkan ke aku.


Sadam mengangkat tangan Fey dan mengarahkannya ke arahku. Tapi, Fey malah menepis sambil berujar, "Nggak perlu begituan, aku bisa sendiri!" celetuk Fey datar.


"Kalau gitu ayo dong," pinta Sadam. "Seminggu lagi, kita ujian lho, sudah itu kita bakalan jarang kumpul lagi. Dan aku yakin, setelah ini kita bakalan sibuk masing-masing."


Aku lihat Fey menghela napas berat. "Nis, selama ini sebenarnya aku nggak marah dengan kamu. Cuman mereka aja yang salah tangkap." Fey mendelik para sahabatnya, lalu menatapku lagi. "Aku senang saat aku melihatmu bahagia. Selama beberapa hari ini. Aku mengamati wajahmu yang selalu tersenyum dan aku tau itu senyum bahagia. Aku senang melihat kau begini, Nisa," ucap Fey tulus.


"Terima kasih Fey. Aku tau kamu laki-laki yang tak kala baik. Maaf kalau aku pernah melukai hatimu."


Fey tersenyum singkat. "Mungkin sudah begini takdir dan jalannya, Nis. Kita terima saja. Dengan begini mungkin akan membuat kita sama-sama bahagia."


Aku lihat Fey masih memainkan bulpoin yang dipegangnya dengan mengetuk-ngetuk ke atas meja berkali-kali. Tapi matanya tampak bermain, melirik. Aku hanya pura-pura menulis saja.


"Nisa, tidak tau kenapa aku nampak kau semangkin cantik," goda Fey. "You look so beautiful." Fey menarik hidungku gemas, sama seperti apa yang selalu dia lakukan ketika kami masih pacaran dulu.


"Eh jujur Nis kau memang nampak lain," tutur Jihan.


"Apanya yang lain?" tanyaku bingung.


"Iya, aku lihat kau makin happy. Sepertinya bahagia sekali ya hidup berdua dengan Ustad Azzam," ucap Jihan mengerling mata. Ia melempar tatapan jahil.


"Kamu kayak nggak tau aja Jihan, Nisa itu sudah sangat... sangat.. Fall in love dengan Ustadz Azzam." Sadam turut menimpali perkataan Jihan.


Aku hanya tersenyum simpul, dan merasa kalau pipiku sudah merah merona bak tomat matang.


"Hmm... Sweet-nya. Gimana rasanya Nisa tidur dengan ustadz Azzam?" tanya Jovan, lebih usil.


"Jo!" Aku mengeram kesal, mencubit pergelangan tangan Jovan keras-keras karena kerap berbicara asal-asalan.


"Setelah menikah ini, apa harapan kau, Nisa?" Fey kembali menyoal.


"Entahlah Fey, aku belum berpikiran tentang apapun. Cuman aku berharap sih menikah bukan akhir dari segala. Well, kau tau kan? Aku masih punya cita-cita. Terlebih lagi umur kita yang masih muda masih banyak harapan dan cita-cita yang ingin kita raih," ungkapku.

__ADS_1


"Insyaallah. Aku yakin Ustadz Azzam akan mengatur semua dengan baik, termasuk masa depanmu. Dia pasti akan mendukung cita-citamu, Nisa," ujar Fey semangat.


Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, melihat situasi ruang perpustakaan. Satu per satu siswa mulai mengumpulkan tugasnya pada Rivan, yang kami sebut sebagai Pak ketua kelas.


"Udahlah ceritanya yuk kita lanjut nulisnya," kataku sambil meraih bulpoin hitam. Tapi baru ingin menulis, Jo merampas bulpoinku begitu saja.


"Nanti aja dulu. Kita fotbar yuk. Kenang-kenangan gitu, karena minggu depan kita sudah ujian. Dan nggak akan ada waktu lagi untuk kumpulkan?" ajak Jovan semangat '45.


Sadam memukul meja pelan. "Setuju. Yuk." katanya seraya merapikan rambut hitamnya.


"Oke. Aku juga setuju." Fey juga setuju.


Sepertinya aku harus mengalah dan menuruti keinginan mereka semua. Huft.


JEPRET!


JEPRET!


Berkali-kali Jovan memotret dengan kamera ponselnya.


"Jangan selfie trus dong. Suruh siapa gitu yang fotoin?" cetus Jovan.


Jovan memberikan ponselnya pada Rivan yang sedang menyusun dan merapikan buku-buku temannya yang tertumpuk di atas meja.


Tampaknya dengan susah payah Jo membujuk Rivan sampai akhirnya dia bersedia juga.


JEPRET! JEPRET.


Bermacam-macam pose lucu dan aneh kami abadikan sebagai momen yang paling menyenangkan. Tak peduli dengan hasil jepretan Rivan bagus atau tidak, kami yakinkan semua hasilnya dengan Rivan meskipun aku lihat wajah Rivan yang masam ketika mengambil gambar. Terserah, yang jelas hari ini kami ingin mengambil momen kebersamaan kami berlima.


"Hap!" Sebuah tangan merampas cepat ponsel yang dipegang Rivan.


"Apa yang saya suruh tadi?" tanya Azzam dengan tatapan tajam mengarah ke kami.


"Meresume, Ustadz." Jo berani membuka suara.


Azzam mengecek hasil resuman kami satu per satu. Setelah usai, ia balik menatap pada muka kami berlima.


"Tugas kalian belum ada yang selesai saya lihat. Apa yang kalian lakukan selama dua jam pelajaran?"


Aku menyenggol lengan Jo, ini semua karena ide dia. Alhasil kita harus dimarahi.


"Handphone siapa ini? " Azzam mengangkat benda pipih itu tinggi-tinggi.


Jo mengangkat jari dramatis.


"Ustadz, handphone saya jangan disita dong, Ustadz?" mohon Jovan.


Jo mencuri pandang menoleh ke arahku dengan takut-takut. "Nis, bantu aku dong?" ucapnya dengan sangat lirih.


"Gimana aku bantu, orang yang sita dia bukan aku. Udah kamu ikhlasin aja. Palingan ntar dikiloin dengan ustadz," balasku dengan berbisik, sedikit mengusik Jo.


Jo mendengus kesal.


Ustadz Azzam berjalan ke tengah-tengah muridnya sambil berujar, "Sekarang silahkan kumpulkan tugas yang telah saya berikan baik itu sudah atau pun belum selesai," perintah Azzam. "Bagi yang belum menyelesaikan akan mendapatkan pengurangan nilai."


Kami hanya bisa menatapi nasib kemalangan kami harus mendapatkan pengurangan nilai dari ustadz Azzam.


"Baiklah karena saya tau kalian semua sudah tidak sabar mau pulang. Jadi, pembelajaran hari ini kita cukupkan sekian. Saya harap kalian semua tetap semangat dalam menuntut ilmu, dan pesan saya jangan lupa belajar... belajar... dan belajar, karena ujian sudah semangkin dekat," nasehat Ustadz Azzam sebelum menutup kegiatan pembelajaran hari ini.


Buku-buku yang berserak di atas meja, aku rapikan dan jejal masuk ke dalam tas, bersiap untuk segera pulang.


"Guys!"


Aku mengangkat muka sedikit, supaya bisa melihat Sadam. "Apa?" sahut Jovan.


"Lima hari lagi kita ujian," ujar Sadam.


Jihan menghela napas pelan. "Trus?"


"Yuk kita belajar sama-sama," ajak Sadam.


Jihan turut mencebik. "Alahh, giliran waktu mepet baru mau ngajak belajar sama-sama, kemarin-kemarin kemana aja?"


"Heh, aku sudah pernah ngajak lah, cuman kau aja yang lupa!" cebik Sadam.


"Iya-iyalah, malas aku berdebat." Jihan mengalah. "Ya udah atur aja jamnya. Aku ngikut kalian selama itu hal yang positif."


***


Pukul sembilan malam.


Sudah dua jam lamanya mataku leka mengerjakan simulasi-simulasi latihan soal. Sekarang aku meletakkan kepala di atas meja kalau aku merasa sudah penat dengan sederet angka yang terpampang di soal. Mataku sudah mulai terkatup. Hendak terpejam.


Di depan, tepatnya di ruang keluarga televisi masih menyala. Azzam menonton televisi sambil menemaniku untuk belajar persiapan ujian yang tinggal menghitung hari.


Kali ini mataku sudah benar-benar berat. Melihatku demikian, Azzam menguncang tubuhku pelan. Aku mendengus geram.

__ADS_1


"Bang, beri Nisa waktu istirahat sebentar. Nisa letih satu hari belajar di sekolah, trus malam ini Nisa mesti lanjut lagi. Rasanya kepala Nisa sekarang sudah mengepul asap tebal, Abang!"


"Ayo," suara Azzam mengajak saat aku memalingkan muka dari menatap wajahnya.


"Mau ajak kemana? Nisa capek... "


Gendang telingaku menangkap suara Azzam yang sedang tertawa. "Abang bukan mau ajak jalan. Lagi pula mana mungkin jam segini abang mengajak Nisa keluar."


Aku menoleh. Mata sudah terasa berat. "Terus?" tanyaku lemas, menahan kantuk tak berkesudahan.


Azzam menggelengkan kepala. "Sudah capek sekali ya sayang sampai angkat kepala pun tidak kuat," ledek Azzam.


"Hmmm ayo sini!" Ia mengajak kembali. Tangannya ditepuk ke sofa panjang di sebelah, tempatnya duduk saat ini.


Aku melangkah dengan lunglai, duduk di dekat Azzam.


"Apa?" aku menatapnya dengan kondisi mata sudah mirip lampu yang cahayanya tinggal 5 watt.


Azzam menarik lembut badanku, kemudian diletakkan di atas pahanya. Aku tidak menolak. Malah merasa nyaman.


Tangannya mengusap lembut kepalaku. "Sayang?" panggilnya lembut.


"Apa?"


"Nisa ada rencana tidak setelah ujian?"


Aku menutup mulut apabila aku menguap.


Rencana? Aku belum memikirkan apapun setelah ujian ini. Yang jelas aku baru mau fokus menghadapi ujian sekolah. batinku.


"Nggak ada," kataku sambil menggeleng.


Azzam tersenyum merekah, "Kita honeymoon sayang"


Aku mengubah posisi kepala tidur menyamping menjadi lurus menatap Azzam. "Hm, honeymoon?"


Azzam mengangguk. "Setelah kita menikahkan kita belum melakukan itu."


Ish, apalah dipikiran abang nih!


"Kira-kira dimana tempat yang indah, yang Nisa suka?" Azzam menanyaiku untuk meminta pendapat.


"Abang suka yang mana? Kalau abang suka Nisa pun suka karena Nisa tau pilihan abang yang terbaik." Aku menyunggingkan senyum manis untuknya.


Sebenarnya bukan malas aku menanggapi atau memberi usul tempat yang bagus untuk honeymon kami. hanya saja saja saat ini aku benar-benar letih. Aku butuh istirahat. Kepala sesekali aku pijit karena merasa pening.


Azzam menyudahi mengelus kepalaku saat, melihat tanganku yang memijit kening berkali-kali. "Kenapa sayang, sakit?"


"Kepala Nisa pusing," balasku datar.


"Ini pasti karena Nisa kecapean. Sini biar abang pijitkan." Tangan Azzam bergantian memijit-mijit area kepalaku.


Tak sampai semenit mata aku sudah tertutup rapat.


"Nisa tidurkah?"


Aku tersadar apabila mendengar suara ayah. Mataku mengerjap-ngerjap kaget memandang muka Azzam di atas wajahku. Perlahan-lahan aku bangun.


"Abang, itu tadi ayah ya?" Aku bertanya saat melihat tidak ada siapa-siapa. Bahkan aku berpikir tadi aku mimpi.


Azzam mengangguk. "Iya tadi ayah Ahsan."


"Lama ya Nisa tadi tidur?" Aku mengusap wajahku.


"Ada sekitar setengah jam."


"Kasian abang. Pasti abang capek kan?" Aku mengelus pahanya yang aku gunakan sebagai bantal tadi.


"Tidak, abang tidak masalah sayang." Tangannya diletakkan di bahuku. Terasa tangan Azzam mengelus pundakku.


"Terima kasih sayang. Kalau gitu Nisa boleh baring lagi?"


Tanpa Azzam mengiyakan aku sudah berbaring dipahanya lagi. Dia lanjut mengusap kepalaku. Diam-diam aku menyembunyikan senyum, aku merasa senang kalau dimanja Azzam begini.


Aku menatap wajah Azzam yang masih terus mengelus kepalaku.


"Kenapa menatap abang begitu?"


Aku tersenyum sambil mengusap pipinya perlahan turun ke dagu. "Selama ini ternyata Nisa buta."


Azzam mengernyit.


"Ternyata suami Nisa sangat tampan. Pantes saja abang banyak fans," komentarku.


"Istri abang pun sangat cantik. Sangat pantas kalau abang tidak bisa berpaling." Azzam balik menggoda.


Aku tersipu malu. Sudah aku duga saat ini pasti pipiku memerah karena digoda Azzam. Humm..

__ADS_1


***


__ADS_2