Ikrar Cinta Bersulam Surga

Ikrar Cinta Bersulam Surga
BAB 97. Jebakan (3)


__ADS_3

Ketika perlahan kesadaranku mulai terkumpul kembali. Dengan kondisi mata yang masih terpejam rapat, aku mencoba meresapi suara lantunan merdua suara seseorang yang melantunkan ayat-ayat suci Allah. Bahkan aku merasakan sebuah tangan dengan lembut memegang kepalaku, sesekali ia menaik turunkan tangannya untuk mengelus-elus kepalaku.


Sang pemilik suara saat ini benar-benar bisa membuat perasaanku tenang. Aku sangat yakin suara yang mengalun begitu lembut dan indah saat melafalkan ayat ayat Allah itu adalah suara Azzam.


Saat pertama kali membuka bola mata. Pandanganku belum seutuhnya fokus memandang sebuah objek. Sebelum aku mencoba menfokuskan pandanganku, aku berusaha membaca situasi, keadaan di sekitarku. Aku tahu saat ini aku berada di tempat yang asing bagiku. Di sini, bau obat-obatan begitu menyengat.


Dalam diam, aku mencoba mengingat kejadian yang mungkin aku alami sebelum ini. Aku menoleh ke sebelah kanan tempat di mana laki-laki tadi yang aku dengar melantunkan ayat suci Al-Qur'an setelah sebelumnya dalam beberapa menit mataku memandang lurus pada langit-langit plafon.


"Bang," panggilku lemah.


Azzam menghentikan bacaannya saat melihatku telah sadarkan diri. Itu yang bisa aku tangkap. Aku menduga aku telah tak sadarkan diri dalam waktu beberapa jam. Dan sebelumnya aku tidak berada di tempat ini.


Ya. Aku ingat sebelumnya aku berada di rumah Rara, dan Ridho. Ridho telah memasang perangkap untukku. Kemudian, Ridho berniat melukai Azzam tapi aku, aku terjatuh ketika Ridho mendorong keras tubuhku. Hingga kepalaku terbentur ke sudut meja. Aku tak tahu lagi. Kesadaranku semangkin menipis sampai semuanya menggelap.


"Sayang, sudah siuman?" tanya laki-laki yang masih setia duduk kursinya, menemani aku yang ada dipembaringan.


Berniat ingin bangun dari posisiku saat ini. Tapi rasa sakit di tubuhku masih terasa.


"Nisa jangan banyak bergerak dulu ya." Azzam menahan tubuhku yang sebanrnya aku hendak bangun.


"Nisa dimana?"


"Di rumah sakit sayang," ucapnya. Setelah itu ia mengambil menum yang telah diberi sedotan. Ia memintaku untuk meminum air mineral lebih dulu.


"Ayo sayang minum dulu."


Aku menurut kehendaknya. Kebetulan memang rasa tenggorakanku serak dan kering.


"Nisa di rumah sakit," jawabnya setelah itu.


Tanganku mengusap perut, merasakan sosok bernyawa di dalam perutku.


"Sayang, Nisa baik-baik sajakan? Bagaimana dengan anak kita, dia juga tidak apa-apa kan?" tanyaku beruntun, bukannya apa, aku sangat takut saja. Masalahnya ini kali kedua insiden yang sama menimpaku.


Tangan kanan Azzam menimpa tangan kananku yang tadinya mengusap pelan area perut.


"Tidak apa-apa sayang. Hanya untuk beberapa minggu kedepan dokter meminta Nisa untuk mengenakan kursi roda saja. Sebelum keadaan Nisa benar-benar pulih."


Aku bernapas lega.


"Jika ada sesuatu terjadi dengan kalian maka abang tidak akan bisa memaafkan diri abang sendiri. Terlebih perlakuan biadab laki-laki itu. Abang tidak akan segan-segan memberikan pelajaran berharga untuknya supaya Ridho bisa menyadari perbuatannya yang salah telah menganggu istri orang."


"Bang, maafkan Nisa ya atas kecerobohan ini. Kenapa tidak sadar kalau itu adalah jebakan Ridho," ucapku merasa bersalah.


Ia menggenggam jemariku, seperti berusaha menyalurkan energi positif dalam diriku. "Nisa tidak salah. Kita tidak tau apa yang akan terjadi. Termasuk kejadian ini, sayang."


"Sepertinya abang akan memberi pelajaran dengan Ridho."


"Memangnya melakukan apa pada Ridho?" tanyaku mengernyit. "Sayang, Nisa nggak mau abang dan Ridho adu fisik begitu ahh! Ridho itu orangnya nekat4an. Lihat tadi, Ridho hampir saja menusuk abang dengan pisau ditangannya. Nisa nggak mau, Udah biarin aja."


"Tidak bisa Nisa. Abang bukan ingin mengajaknya untuk ribut begitu. Lagi pula abang tidak suka pula hendak berbuat keributan seperti itu. Hanya akan mengotori tangan saja."

__ADS_1


"Lalu, apa?"


"Abang, akan laporkan kejadian ini ke polisi dengan bukti-bukti yang kuat supaya hukuman untuk Ridho sesuai dengan perbuatannya."


"Abang yakin akan melakukan itu?"


"Kenapa tidak. Dia sudah membuat keresahan dengan mengganggu rumah tangga orang lain," cebik Azzam.


Aku diam. Hanya tengah memikirkan sesuatu. Kalaupun Azzam melakukan itu. Bagaimana dengan nasib Rara sementara nasib rumah tangga mereka tengah di ujung tanduk. Aku bahkan belum tahu bagaimana dan apa keputusan yang akan diambil Rara terkait pilihan yang diberikan Ridho itu.


"Nisa? Apa yang sedang Nisa pikirkan?" tanya Azzam membuyarkan lamunan.


"Kalau abang melakukan itu, tapi bagaimana dengan nasib Mbak Rara. Nisa kasihan dan prihatin dengan Mbak Rara, Bang."


Azzam pun turut pula tercenung, mungkin ia mencoba mempertimbangkan kembali keputusannya.


"Tapi sayang, tidak ada cara lain untuk membuat laki-laki itu jera untuk menyadari perbuatannya. Jika nasihat sudah tak mampu menyadarkannya mungkin dengan ini dia bisa berubah."


Kami berdua terdiam beberapa detik sampai sebuah suara muncul. "Kalian tidak perlu memikirkan nasibku."


Dengan bersamaan aku dan Azzam menoleh pada sumber suara.


Rara. Ternyata pemilik suara itu adalah Mbak Rara.


"Mbak Rara?" ucapku dengan lirih sekaligus kaget melihat kemunculan Rara yang tiba-tiba.


"Bagaimana kabarmu? Aku sangat takut kau kenapa-kenapa Dhanisa." Rara saat ini telah berdiri di samping kananku. Melihat kehadiran Rara, Azzam berdiri dan mempersilahkan Rara duduk ditempat ia duduk tadi.


Rara menggeleng. "Tidak. Aku kemari sendirian. Lagi pula aku tidak akan mengizinkan dia untuk kemari. Itu hanya akan membuat hati Dhanisa, istrimu merasa trauma jika mengingat kejadian tadi." Rara menghela. "Aku atas nama suamiku meminta maaf sedalam-dalamnya atas perbuatan Ridho pada istrimu, Zam" ucap Rara tulus dan merasa bersalah.


Azzam menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan. "Meminta maaf itu mungkin mudah Ra. Tapi ingatan akan perbuatan Ridho mungkin akan terus membekas dalam ingatan terutama Istriku," tutur Azzam setelahnya memandang sendu ke arahku. "Lagi pula kenapa menjadi lelaki pengecut! Kenapa bukan dia saja yang meminta maaf!" geram Azzam.


"Zam, jika kau ingin melakukan suatu hal pada Ridho lakukan saja. Aku tau dia telah melakukan kesalahan besar dan aku bahkan tidak mengerti kenapa dia berubah menjadi seperti saat ini. Dulu aku sangat paham sikap dan sifat Ridho yang sangat pengertian, perhatian serta penyayang. Tapi akhir-akhir ini sikapnya berubah arogan, keras dan pemarah. Aku bahkan berpikir ia terpengaruh oleh teman sepergaulannya. Tapi entahlah, aku tidak tau pasti dan hanya menduga-duga," kata Rara mengutarakan apa yang menjadi tanda tanya dalam pikirannya selama ini.


"Rara, maaf sebelumnya tadi bahkan aku berpikir untuk melap. .. "


"Bang!" Aku memotong cepat ucapan Azzam. Menyipitkan mata, memberikan isyarat supaya Azzam tidak melanjutkan kalimat itu. Aku tahu pula saat ini hati Mbak Rara terluka. Terluka oleh sikap Ridho padanya. Aku tak ingin menambah beban pikirannya.


Aku memijit keningku pelan. Saat mulai merasa pusing kembali. "Mbak, kita coba untuk tidak membicarakan ini lagi."


"Baiklah. Maafkan aku, nampaknya kau perlu banyak istirahat Dhanisa, demi pemulihan kondisimu dan anakmu juga," senyum khawatir memgembang di sudut bibir Rara. Ia meletakkan parcel buah di atas meja sebelahku.


"Iya, Mbak. Terima kasih."


Rara menarik kursi plastik dan mendudukkan tubuhnya di atas kursi.


"Dhanisa, seperti yang pernah aku ceritakan padamu kemarin itu. Sekarang, aku sudah mengambil keputusan. Meski ini berat, tapi aku sudah membulatkan keputusanku, Sa." Rara menghela napas berat, mungkin seberat beban dan menghimpit dadanya. Rasa sakit dan patah hati, semuanya menjadi satu.


"Keputusan apa memangnya?"


"Keputusanku sudah bulat, aku memilih untuk bercerai dengan Ridho." Rara menatap aku dan Azzam secara bergantian. Setelah itu, Rara tertunduk dalam-dalam, air matanya meluruh membasahi pipi mulusnya.

__ADS_1


Aku dan Azzam berpandangan satu sama lain. Tanganku kemudian mengelus lengan Rara, naik turun. Aku paham perasaan Rara yang hancur berkeping-keping saat ini.


Azzam melangkahkan kakinya selangkah mendekat pada Rara. "Rara, maaf bukan bermaksud ingin ikut campur. Hanya sedikit memberi saran, supaya memikirkan kembali keputusan itu, karena perkara perceraian itu salah satu yang pekara yang dibenci Allah."


Rara terisak, mungkin juga berat baginya memutuskan hal ini. "Mau bagaimana lagi, dua pilihan mertuaku itu membuat aku tak mampu berbuat apa-apa, Azzam. Aku tidak bisa jika harus bermadukan wanita lain dari Ridho. Maka, bercerai adalah pilihan terbaik bagiku. Mungkin ini jalan allah untuk keluarga kami."


"Iya ini situasi yang berat bagimu, jika masih bisa diperbaiki dan dibicarakan baik-baik dengan kedua keluarga kalian siapa tau semua ini bisa berubah, Ra. Jika kau menginginkan kami bisa menjadi penengahnya untuk membicarakan perihal ini kembali."


"Iya, Mbak. Aku setuju dengan ucapan Azzam," kataku menyetujuinya.


Rara menghapus jejak air matanya. Ia menggeleng pelan. Dan mengangkat kepalanya. "Tidak Dhanisa, Azzam, mau bagaimanapun, beginilah keadaannya. Keputusanku sudah final," ucapnya dengan bibir gemetar.


Mendengar keputusan Rara, membuat aku dan Azzam terdiam dan tak bisa membantu banyak pada keluarga Rara. Kami pula tak bisa memaksakan diri untuk mencampuri urusan keluarga mereka.


"Semoga, Mbak diberikan kekuatan mbak untuk melalui ini semua." Kedua tanganku mengenggam tangan Rara.


***


Azzam mengajak Ridho untuk bertemu di suatu rempat yang jauh dari keramaian.


"Apa maksudmu mengganggu istriku bahkan berani menyatakan perasaanmu padanya?"


"Aku mencintainya, Zam."


"Persetan dengan perasaanmu, apa kau lupa siapa Dhanisa?"


"Aku tau sebab dari itu aku ingin merebutnya darimu." Ridho menyeringai lalu tertawa puas.


Azzam yang semula berusaha tenang menghadapi Ridho seketika berubah memanas, ucapan Ridho membuat tensi darah Azzam seperti naik seketika. Wajahnya merah padam, aliran darah bak mengalir deras. Azzam mengertap rahangnya keras, dibarengi tangan mengepal kuat.


Beberapa detik kemudian layangan tinju mendarat keras dibibir Ridho, hingga membuat lelaki berkumis tipis di depannya jatuh tersungkur mencium tanah, darah segar menguncur dari bibirnya.


Setiap manusia memiliki batas kesabaran, Azzam tak mampu lagi menahan gejolak amarah yang meluap pada laki-laki yang telah menggoda istrinya.


Siapa laki-laki yang tidak marah bahkan emosi saat perempuan ataupun istri sahnya yang sudah terikat penikahan diganggu oleh pria lain, yang jelas-jelas bukan makhramnya. Terlebih Ridho pula telah memiliki istri.


Azzam bergerak maju, menarik kerah baju Ridho.


"Jangan sekali-kali kau mengganggu istriku lagi! Atau aku akan melaporkan segala perbuatanmu ini ke kantor polisi."


Ridho mengusap sudut bibirnya yang berdarah sembari menatap tajam pada Azzam dari sudut matanya.


"Bagaimana sakitkah? Itu belum ada apa-apa dengan sakitnya perasaanku sebagai suami saat melihat kau berusaha menggoda istriku. Bahkan bisa jadi ada orang yang lebih sakit. Dia Rara, istri mu. Tapi kau tidak pedulikan?" Azzam tersenyum miris. Sangat miris dengan keadaan yang terjadi saat ini.


"Sebenarnya aku sangat ingin membawamu saat ini pula ke kantor polisi, mempertanggungjawabkan semua perbuatan yang sudah kau lakukan pada istriku tapi aku masih berpikir akan nasib Rara yang semangkin hancur bila kau harus mendekam dalam buih."


Azzam sedikit membungkukkan badannya, demi menatap mata Ridho dengan sangat jelas.


"Ridho dengan sikapmu begini, tidakkah kau kasihan melihat istrimu. Saat di depanmu mungkin kau melihat Rara sebagai wanita kuat. Tapi, di belakangmu dia menangis Ridho, dia terluka karena sikapmu. Aku tau itu, saat Rara datang menemui istriku, dan menyampaikan keluh kesahnya. Sebagai suami harusnya kamu seharus mengerti akan hal begini." Suara Azzam memelan. "Orang tua menyerahkan anaknya pada laki-laki yang mempersunting anaknya, karena dia yakin bahwa pria itu adalah pria terbaik yang akan menjaga anaknya, menggantikan posisi dia untuk melindungi putri kesayangannya. Jangan kira siapa yang paling sedih saat anak perempuannya dikhitbah oleh seorang laki-laki. Yang paling sedih adalah ayahnya. Ayah yang menjaga, menyayangi, melindungi dan memberikan segala yang mampu membuat putrinya senang dan bahagia. Hanya itu. Kau mungkin belum tau, tapi kau bisa merasakannya ketika kelak kalian dianugrahkan seorang anak. Kau akan tau sendiri bagaimana rasanya. Jadi, aku harap jangan sia-siakan Rara. Dialah istri terbaik bagimu Ridho." Setelah panjang lebar Azzam pergi meninggalkan Ridho yang masih duduk beralasakan tanah. Masih menahan perih pula dari pukulan yang baru ia terima.


***

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2