
Aku menepuk-nepuk kedua tanganku. "Sudah beres," seruku bersemangat.
Sekarang mataku mengedar ke seluruh hidangan yang telah tersusun rapi di meja makan. Sudah siap seluruhnya.
Sekarang rencana pertama sudah aku buat, lanjut rencana dua. Aku melangkah masuk ke kamar dengan senyum terus mengembang.
Aku meraih tas yang tergeletak di meja belajar. Merobek selebaran kertas dan menuliskan kalimat indah untuk Azzam. Sepanjang aku menulis tiada hentinya aku mengumbar senyum. Aku lucu sendiri ketika membaca rangkaian kalimat yang aku buat. Ah bodoh amat! Aku berharap semoga Azzam suka. He-he...
Sudah selesai. Sekarang giliran kertas yang aku tulis diselipkan di antara rangkaian tangkai bunga yang sudah aku siapkan. Sumpah! Ini kali pertama aku melakukan ini. Dengan Fey pun aku belum penah membuat hal yang seperti ini.
Aku belum pernah merangkai huruf dengan kepercayaan diri yang luar biasa. Untuk membuat rangkaian kalimat ini benar-benar membuatku berpikir keras. Mengungkapkan perasaan yang diterjemahkan dalam rangkaian kalimat yang indah agaknya lebih sulit, daripada diminta Ustadz Azzam untuk menerjemahkan arti dalam bahasa Arab.
"Assalamu'alaikum... " suara Azzam dari luar, nampaknya ia sudah pulang usai melaksanakan sholat magrib berjamaah.
Hah abang sudah pulang!
Aku melangkah cepat keluar kamar, sebelumnya aku menyembunyikan bunga yang telah aku siapkan ke dalam lemari.
"Wa'alaikumsalam, abang udah pulang ya?" Aku menyambutnya dengan raut wajah merona.
Azzam tidak menyahut, hanya dia manarik sudut bibirnya samar. Ia meninggalkanku yang masih berdiri di ambang pintu. Azzam masuk ke dalam kamar.
Sebenarnya perasaanku sakit, saat Azzam bersikap dingin dan tidak mau memperdulikan aku seperti ini. Tapi aku mencoba tegar dengan menyingkirkan perasaan itu jauh-jauh.
Aku hanya ingin, Azzam tahu bahwa aku benar telah menerimanya. Aku menyerahkan sepenuhnya hatiku untuk dia saat ini. Hanya itu.
Aku melangkah mengekor di belakang Azzam yang telah berjalan lebih dulu masuk ke kamar. Azzam melepas peci dan menaruhnya di atas meja.
"Abang, makanan sudah siap. Ayo kita keluar, makan sama-sama." Senyumku kemudian mengigit bibir bagian bawah demi menghilangkan kegugupan.
Azzam diam di tepian ranjang. Entah apa yang dia lihat di handphone-nya. Aku mendekat dan merebut benda pipih itu dari tangan Azzam ketika aku merasa di abaikan.
"Abang, ayo makan!" ucapku yang terdengar seperti perintah, otomatis membuat Azzam mau tidak mau mengikuti keinginanku.
Aku menyimpan ponsel milik Azzam di atas nakas dan menggandeng tangannya menuju meja makan.
Azzam diam memandang apa yang ada di hadapannya. Makanan begitu banyak tersaji, dan rata-rata makanan kesukaannya. Azzam mengambil piring hendak menyendok nasi.
"Abang biar Nisa aja?" Aku mengambil alih piring yang dipegang Azzam, menyedokkan nasi untuknya.
"Abang, mau makan apa? Abang suka ayam panggangkan. Biar Nisa ambilkan."
Azzam belum mengiyakan, tapi aku sudah mengambil duluan satu potong ayam dan lauk lainnya ke piring Azzam.
Azzam hanya diam memandang tentang apa yang dilihatnya saat ini. Tentang apa yang dilakukan istrinya.
Dalam hati, sebenarnya Azzam senang saat melihat Nisa memperhatikan dirinya seperti itu. Azzam masih terus menatap wanita yang telah mengisi hidupnya beberapa bulan ini.
"Ayo dimakan," pintaku, seraya duduk di sebelah Azzam. "Ini Nisa yang buat spesial buat abang. Ya, meskipun dibantu ibu, sih," jujurku.
Azzam meraihnya. Namun netra mata memandang pada kursi di hadapannya yang kosong harusnya ada ayah dan ibu di sini ikut makan bersama.
"Mana ayah dan ibu?"
"Tadi ada pertemuan mendadak katanya. Jadi setelah setelah maghrib langsung buru-buru berangkat."
Azzam lanjut menyedok sejumput nasi dengan lauknya.
Aku duduk bertopang dagu sambil leka menatap Azzam. Aku belum menyentuh piring sedikit pun.
Azzam menoleh sebentar. "Kenapa tidak makan?" tanya Azzam saat aku diam, memperhatikan makanan yang ada di depan.
Aku menggeleng. "Nggak. Nisa udah kenyang liat abang makan," kataku tersenyum.
Azzam balik meraih sebuah piring dan turut juga mengambilkan nasi untukku. "Nah, makan. Abang nggak makan nanti Nisa sakit."
__ADS_1
Aku kira dia tidak akan peduli denganku lagi.
Piring kotor aku angkut ke dapur, kemudian lanjut membersihkan meja makan usai kami menyelesaikan makan.
Setelah piring yang dicuci tadi ditata di rak piring dan meja juga sudah kinclong. Aku berjalan ke ruang tengah mengintai Azzam yang tengah menonton televisi di sana.
Aku sebenarnya bingung melihat apa yang dilakukannya. Televisi di depan menyala. Tapi, ditangannya memegang buku. Dia sebenarnya sedang membaca atau menonton sih? Tapi rasanya tidak penting memikirkan itu. Yang jelas sekarang aku ingin melanjutkan rencana keduaku.
Melangkah masuk kamar dan mengambil bunga rose yang masih segar dengan untaian kalimat yang sudah aku buat.
Aku membaca sebentar kalimat yang aku buat.
Sungguh tidak menarik, gumamku sendiri.
Aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan.
"Huft! Bisa!" Aku menyemangati diri mencoba untuk tegar, jantungku sekarang sudah berdebar hebat. Aku takut. Melebihi ketakutanku ketika Bapak Herwin, guru super galak meneriaki kami yang melanggar aturan lalu dihukum dengan membersihkan toilet sekolah.
"Bang," perlahan aku memanggilnya.
Azzam menoleh. Buku di tangannya disingkirkannya, kacamata minus ber-frame hitam yang melekat pun dilepas dan ditaruh di atas buku. Aku mengambil posisi duduk di dekatnya.
"Abang, Nisa mau minta maaf tentang kejadian waktu itu." Aku mengulurkan bunga dihadapannya.
Azzam hanya memandang bunga yang aku ulurkan dalam diam. Lalu tatapannya dijatuhkan ke wajahku lagi, dalam beberapa detik mata kami saling menatap.
Ia pelan meraih bunga yang aku ulurkan. Dalam hati, aku mulai senang tapi sedetik kemudian semua berubah ketika Azzam melempar bunga itu ke depan meja.
"Abang tidak membutuhkan ini," celetuknya kemudian.
Rasanya aku ingin menangis saat Azzam berbuat seperti itu. Terasa sia-sia usahaku. Yang susah payah aku persiapkan dari tadi. Sampai aku rela tanganku teriris pisau ketika aku membersihkan ayam dan memotongnya menjadi beberapa bagian.
Aku tidak ingin lagi mendengarkan apa yang dia ucapkan. Hatiku teramat sakit. Dia tidak menghargai usahaku sama sekali. Azzam selalu bersikap dingin, acuh tak acuh.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, aku langsung berdiri. Meninggalkannya di ruang tengah dengan televisi yang masih menyala.
Apakah yang terindah dihidupmu?
Apakah yang terindah dihidupku?
Dua pasang manusia yang terikat Akad Allah
Masihkah dipertanyakan lagi sesuatu yang paling terindah di luar itu?
Bagiku, hal yang terindah dihidupku
Adalah dirimu...
Salam cinta dan sayang,
Istrimu, Dhanisa.
Azzam baru saja menyelesaikan membaca secarik kertas yang melekat di bunga mawar merah pemberian Dhanisa, istrinya.
Rasa tak kuasa ia membaca untaian kalimat indah yang ditulis Dhanisa untuknya. Sederhana tapi begitu berkesan untuknya.
Mata Azzam berkaca-kaca, senyum merekah terpancar dari wajahnya. Saat ini hatinya memang masih menaruh duka dan luka. Tapi, bukan berarti ia marah dan menutup kembali cinta untuk istrinya.
"Nisa, asal kau tahu. Aku masih tetap mencintai dan menyayangimu. Aku hanya mencoba mencari tahu sepeduli apa dirimu dengan laki-laki sepertiku, yang tidak kau harapkan kehadirannya dalam hidupmu. Hanya itu. Jika kau berpikir aku tlah melupakan semuanya. Kau salah Nisa. Sedikit pun perasaan itu tidak akan pernah luntur. Aku akan tetap bersamamu. Sedetik pun aku tidak akan kuasa jika harus menjaga jarak seperti ini."
Azzam menyeka matanya yang sedikit berair. Ia meraih bunga itu kembali dan menyelipkan tulisan tangan Dhanisa di bunga itu lagi.
Berjalan masuk ke kamar dengan derap langkah sangat dipelankan, membuka kenop pintu pun dengan sangat hati-hati supaya Nisa tidak menyadari kehadirannya. Saat pintu pertama kali di buka. Gelap. Sepertinya Nisa sengaja mematikan lampu.
Dari jarak satu meter Azzam bisa mendengar isak tangis Nisa. Yang bersembunyi dibalik bed cover.
__ADS_1
Dia tidak tidur. Hanya menangis di sana. Lagi pula ini masih pukul 19.30 malam.
Perlahan-lahan Azzam menaiki ranjang dan memeluk erat perempuan yang sedang menyembunyikan setengah tubuhnya dalam selimut di ranjang. Ia berbaring dengan posisi tubuh miring membelakangi dirinya.
Azzam masuk ke dalam selimut dan mencerukan wajah ke leher istrinya. Ia merasa bahu wanita itu bergetar tapi suara tangisnya mereda.
"Nisa?" panggil Azzam pelan.
Aku diam menahan napasku saat tahu Azzam datang mendekat. Tiba-tiba saja ia datang dengan memeluk erat tubuhku dari belakang. Aku pura-pura tidak peduli saja. Panggilannya pun tidak aku hiraukan.
"Nisa, are you oke?" tanya Azzam masih berada di posisinya.
Azzam melepas kembali kaitan tangannya yang semula melingkar di tubuhku. Ia kemudian menyentuh saklar lampu tidur. Jadi cahaya di kamar ini tidak terlalu gelap. Tapi, sedikit remang-remang.
"Nisa, bangunlah. Abang tau Nisa tidak sedang tidur," ujar Azzam dengan suara teredam.
Aku membalikkan tubuhku kemudian berusaha meringsut bangun dengan mata masih sembab dan raut muka muram. Saat ini aku mencoba menenangkan perasaanku.
"Mengakui kesalahan tidak melulu dengan kata maaf," ucap Azzam memandangku.
Aku tertunduk dalam-dalam saat air mata terasa jatuh perlahan di pipiku. Silih berganti tanganku mengusapnya, saat buliran itu mencelos jatuh membasahi wajahku.
"Nisa, Kadang-kadang tidak semua masalah bisa diselesaikan hanya dengan kata maaf," Tekan Azzam sekali lagi dengan nada melemah dan lembut.
Aku diam saja mendengar dia bersuara.
"Satu hal yang abang ingin tau dari Nisa, apa Nisa masih menyimpan perasaan dengan Fey sampai saat ini?"
Aku menggeleng pelan. "Tidak."
"Lalu?"
Aku mengangkat muka dan memandang wajah Azzam.
"Nisa, tidak punya perasaan apapun dengan Fey saat ini. Nisa hanya salah dalam memahami perasaan. Sekarang Nisa tau perasaan untuk Fey bukan perasaan cinta hanya rasa membutuhkan. Tapi perasaan cinta itu justru hadir dalam diri Nisa untuk abang." Di akhir kalimat, suaraku tercekat karena segugukan.
"Apa benar yang Nisa katakan saat ini? Bagaimana kalau Nisa membohongi abang lagi?" Azzam mengamati wajahku dengan intens.
Aku menghela napas. "Akan Nisa tunjukkan pada abang perasaan cinta Nisa sesungguhnya. Meskipun itu hal yang tidak pernah abang pikirkan sebelumnya."
Aku tidak bisa mencegah, setiap aku berucap air mata pun turut menyertainya. "Maafkan, Nisa," aku bersuara dengan sangat lirih. Entah Azzam mendengar atau tidak suaraku.
"Sudah jangan menangis." Azzam mengusap pelan air mataku yang berderai deras. Menyingkap rambut yang sedikit berantakan. "Abang, maafkan Nisa."
Semangkin Azzam mengusap pipiku untuk menyeka air mata yang terus jatuh. Semakin sering pula cairan itu tumpah dengan mudah.
Laki-laki itu mengecup singkat keningku. Kemudian menatap dengan tulus dan senyum yang menenangkan.
Bahuku bergetar, aku masih segugukan.
"Sudah, sudah, jangan sedih lagi." Azzam membenamkan kepalaku di dadanya, dengan teratur Azzam mengelus lembut kepalaku.
Pelukan Azzam adalah tempat yang paling tenang untukku saat ini. Rumah yang paling nyaman aku tempati adalah rumah yang di dalamnya dipenuhi cinta dan rahmat. Lalu, kenapa harus berbuat suatu kesalahan yang bisa meruntuhkan rumah yang didalamnya seharusnya dipenuhi rahmat dan cinta dari Allah.
Aku akan merubah semuanya. Rumah ini akan kami penuhi kasih dan cinta dari sepasang insan manusia yang diikat dalam satu ikatan, persembahan sebuah ikrar bahwa sebenarnya inilah cinta yang akan membawaku menuju jannahmu.
"Terima kasih untuk kalimat indah itu untuk abang." Azzam kembali bersuara. "Dan bunga ini sangat cantik dan harum."
"Tapi bukannya abang bilang tadi tidak butuh, kenapa diambil lagi."
"Kan itu tadi, kalau sekarang tidak." Azzam tertawa sambil mengacak gemas kepalaku.
"Setelah ini Nisa mau temani abang ke rumah sakit? Kita jenguk umi di sana."
Aku mengiyakan ajakan Azzam.
__ADS_1
"Kalau begitu kita siap-siap sholat isya, setelahnya kita berangkat ke rumah sakit." Azzam mengerling.